Oleh: Michael Hardi Hadinoto
Beberapa saran buat temen2 yang nyari kerja.
Nyari kerja bukan hanya sekedar 'kirim CV'.
Coba deh elo nyari kerja tapi based on your networking bro.
Saran gue..,
Kalo elo sekarang sdg bekerja, bangun networking bukan dari temen2 kerja elo aja/ temen2 seprofesi, tapi berdasarkan entah 'customer elo', 'supplier elo', atau siapa aja yang pernah elo temuin...
Build your own 'brand image'.
Jadi bro, elo harus bisa munculin diri elo yang terbaik dalam segala hal.
Kalo misalnya elo 'someday' gak ada kerjaan, gue yakin elo bs mendapatkan kerja 'lagi' based on your networking.
Sebagus2nya dan semantap2nya karier elo, jangan pernah elo berada didalam comfort zone yang meninggikan diri elo, tetep low profile, bangun network mulai dari orang 'terendah' sampai mrk yang super sukses....
Luangkan waktu elo. Elo bukan hanya bisa berbagi waktu di pekerjaan tapi di semua 'aspek' termasuk persahabatan dengan networking elo.
Mencari kerja dengan sending CV sebanyak-banyaknya memang GOOD but not SMART enough. Preparation harus dimulai sekarang saat elo sedang berada di puncak karier....!
Ingat, namanya kerja ikut orang, tidak ada batasan "AMAN"...dimanapun sewaktu2 bisa "FIRED"... Jadi berjaga2lah bro.
Start building your network NOW, before its too late.
Michael
Selasa, 13 September, 2011 17:24
Kamis, 29 September 2011
Bunga Rampai Artikel: Muhamad Agus Syafii
1. Lover of Wisdom
By: M. Agus Syafii
Secara psikologis orang yang sehat adalah orang yang mampu mendermakan cinta pada sesamanya. Sedangkan orang yang hatinya dipenuhi rasa permusuhan, dengki, cemburu dan kebencian semuanya merupakan beban mental yang menjurus pada penyakit kejiwaan bersifat patologis. Dalam Islam, penghayatan kasih sayang digunakanlah istilah ridha. Pengertian ridha adalah sikap yang didasari pengetahuan, kesadaran dan keyakinan bahwa kasih sayang Allah meluap memenuhi ruang dan waktu. Sesungguhnya hidup kita dalam lingkup kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sikap ridha akan selalu berpikir positif terhadap hidup karena dibalik fragmen kehidupan terkadang ada adegan-adegan yang pahit dan buram mekipun terkandung hikmah dari pancaran kasih sayang Allah.
Bagi orang yang mencapai derajat ridha akan selalu melihat hikmah dibalik musibah maupun cobaan. Setiap musibah menyimpan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, Allah melimpahkan kasih sayangNya. Dan kemungkinan kedua, karena kelalaian manusia itu sendiri. Dengan demikian ritme hidup kita ditandai dengan dialektika rasa syukur dan sikap sabar. antara harapan dan kecemasan, antara kelegaan dan penyesalan. Namun semua itu bagi orang yang ridha akan dihadapinya dengan sikap optimis dan pandangan positif karena begitu yakinnya akan kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang dibentangkan melalui sayap Rahman dan RahimNya dan disisi lain melalui tawaran taubat dan maghfiroh atau ampunan. Menurut al-Quran dijelaskan bahwa kehidupan dunia itu baik tetapi jauh lebih baik kalau kebaikan di dunia dijadikan wahana atau tangga untuk menuju kehidupan akherat yang lebih baik. 'The will to love' yang secara intrinsik dimiliki oleh kita akan menyesatkan kalau hanya mencintai yang fana atau semu. Maka bentuk ancaman dan perintah Allah yang tertuang di dalam kitab suci semuanya dalam konteks kasih sayang Allah untuk menyelamatkan kita agar tidak terjatuh menjadi hawa nafsunya sendiri atau menjadi hamba makhluk yang lebih rendah atau sama derajatnya dengan diri kita.
Rasa keterasingan, kesunyian ditengah keramaian, merasa kesepian dalam kesendirian akan terkikis secara emosional apabila kita memiliki hubungan yang hangat dengan Yang Maha Kasih. Ketiadaan hubungan kepada yang Maha Kasih inilah yang menimpa banyak orang sehingga begitu mudahnya terseret pada situasi putus asa bahkan sampai bunuh diri. Berdasarkan survei penyebab bunuh diri ditengah masyarakat justru bukanlah masalah yang teramat berat. Diantaranya karena kekecewaan akibat putus cinta, perselisihan rumah tangga, gagal dalam karier telah membuat seseorang melakukan tindakan bunuh diri. Hal ini menunjukkan betapa dangkal dan lemahnya iman seseorang dalam menghayati hidup.
Dalam pandangan Islam, mereka telah terperosok dalam 'pinggiran' dimensi spiritual yang mampu menangkap dan merasakan kehadiran Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam dirinya tidak bisa berfungsi. Hatinya telah tertutupi oleh nafsu bagi masuknya cahaya dan kasih sayang Allah sehingga mereka juga kehilangan kasih sayang yang ada pada dirinya. Demikianlah bila dunia hanya pendekatan sistem, teknis dan teknologi semata akan memunculkan kehidupan yang kering, mekanik dan tidak manusiawi. Produk sistem dan teknologi tanpa visi cinta dan kasih sayang Ilahi Robbi maka menjadikan hidup kita tak ubahnya seperti robot, kesepian dalam keramaian, kesendirian tak berteman. Paradigma kasih sayang akan menuntun kita sikap arif dan konsisten untuk mengembangkan potensi kemanusiaan maka realitas dunia tampak begitu indah sekaligus challenging, bukan fringtening. Seorang Mukmin adalah 'Lover of Wisdom' atau Cinta Kearifan. Karena cinta kearifan dan semangatnya pada kemanusiaan maka Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Salam semakin nampak tegar dan anggun ditengah cobaan dan tantangan yang selalu menghadang dan mengitarinya. Kita tentunya patut meneladani Rasulullah sebagai "Lover of Wisdom" Lebih peduli dengan persoalan-persoalan kemanusiaan disekeliling kita. Insya Allah.
Wassalam,
M. Agus Syafii
Sahabatku, banyak orang menghabiskan masa mudanya untuk mencoba mengabaikan masa lalu, ingin melupakan, seandainya peristiwa itu tidak terjadi, seandainya luka yg menganga dapat disembuhkan seketika. Untuk mencoba bertahan, kita mencari ribuan cara untuk menutupi sakit hati itu, mengabaikan bayangan & perasaan terluka yang mengikuti kemana saja kita pergi. Kita mencoba untuk menutupi dengan berbagai kesibukan, kita mencoba untuk menyangkal, menghardik, menyingkirkan, begitu semua usai luka itu semakin bertambah perih. Kita bertanya-tanya, apakah sesungguhnya akan ada kesembuhan bagi kita dari peristiwa menyakitkan pada masa lalu?
Padahal Kesembuhan itu hanya terjadi bila kita menerima masa lalu itu sebagai ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang harus disyukuri sebab dengan menerima apapun ketetapan Allah dan bersyukur maka hidup kita menjadi tenteram, aman, penuh dengan cinta dan kasih sayang serta tawakal kepadaNya.“… Barangsiapa bertawakal kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq 2-3).
Wassalam,
M. Agus Syafii
3.
By: M. Agus Syafii
Secara psikologis orang yang sehat adalah orang yang mampu mendermakan cinta pada sesamanya. Sedangkan orang yang hatinya dipenuhi rasa permusuhan, dengki, cemburu dan kebencian semuanya merupakan beban mental yang menjurus pada penyakit kejiwaan bersifat patologis. Dalam Islam, penghayatan kasih sayang digunakanlah istilah ridha. Pengertian ridha adalah sikap yang didasari pengetahuan, kesadaran dan keyakinan bahwa kasih sayang Allah meluap memenuhi ruang dan waktu. Sesungguhnya hidup kita dalam lingkup kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sikap ridha akan selalu berpikir positif terhadap hidup karena dibalik fragmen kehidupan terkadang ada adegan-adegan yang pahit dan buram mekipun terkandung hikmah dari pancaran kasih sayang Allah.
Bagi orang yang mencapai derajat ridha akan selalu melihat hikmah dibalik musibah maupun cobaan. Setiap musibah menyimpan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, Allah melimpahkan kasih sayangNya. Dan kemungkinan kedua, karena kelalaian manusia itu sendiri. Dengan demikian ritme hidup kita ditandai dengan dialektika rasa syukur dan sikap sabar. antara harapan dan kecemasan, antara kelegaan dan penyesalan. Namun semua itu bagi orang yang ridha akan dihadapinya dengan sikap optimis dan pandangan positif karena begitu yakinnya akan kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang dibentangkan melalui sayap Rahman dan RahimNya dan disisi lain melalui tawaran taubat dan maghfiroh atau ampunan. Menurut al-Quran dijelaskan bahwa kehidupan dunia itu baik tetapi jauh lebih baik kalau kebaikan di dunia dijadikan wahana atau tangga untuk menuju kehidupan akherat yang lebih baik. 'The will to love' yang secara intrinsik dimiliki oleh kita akan menyesatkan kalau hanya mencintai yang fana atau semu. Maka bentuk ancaman dan perintah Allah yang tertuang di dalam kitab suci semuanya dalam konteks kasih sayang Allah untuk menyelamatkan kita agar tidak terjatuh menjadi hawa nafsunya sendiri atau menjadi hamba makhluk yang lebih rendah atau sama derajatnya dengan diri kita.
Rasa keterasingan, kesunyian ditengah keramaian, merasa kesepian dalam kesendirian akan terkikis secara emosional apabila kita memiliki hubungan yang hangat dengan Yang Maha Kasih. Ketiadaan hubungan kepada yang Maha Kasih inilah yang menimpa banyak orang sehingga begitu mudahnya terseret pada situasi putus asa bahkan sampai bunuh diri. Berdasarkan survei penyebab bunuh diri ditengah masyarakat justru bukanlah masalah yang teramat berat. Diantaranya karena kekecewaan akibat putus cinta, perselisihan rumah tangga, gagal dalam karier telah membuat seseorang melakukan tindakan bunuh diri. Hal ini menunjukkan betapa dangkal dan lemahnya iman seseorang dalam menghayati hidup.
Dalam pandangan Islam, mereka telah terperosok dalam 'pinggiran' dimensi spiritual yang mampu menangkap dan merasakan kehadiran Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam dirinya tidak bisa berfungsi. Hatinya telah tertutupi oleh nafsu bagi masuknya cahaya dan kasih sayang Allah sehingga mereka juga kehilangan kasih sayang yang ada pada dirinya. Demikianlah bila dunia hanya pendekatan sistem, teknis dan teknologi semata akan memunculkan kehidupan yang kering, mekanik dan tidak manusiawi. Produk sistem dan teknologi tanpa visi cinta dan kasih sayang Ilahi Robbi maka menjadikan hidup kita tak ubahnya seperti robot, kesepian dalam keramaian, kesendirian tak berteman. Paradigma kasih sayang akan menuntun kita sikap arif dan konsisten untuk mengembangkan potensi kemanusiaan maka realitas dunia tampak begitu indah sekaligus challenging, bukan fringtening. Seorang Mukmin adalah 'Lover of Wisdom' atau Cinta Kearifan. Karena cinta kearifan dan semangatnya pada kemanusiaan maka Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Salam semakin nampak tegar dan anggun ditengah cobaan dan tantangan yang selalu menghadang dan mengitarinya. Kita tentunya patut meneladani Rasulullah sebagai "Lover of Wisdom" Lebih peduli dengan persoalan-persoalan kemanusiaan disekeliling kita. Insya Allah.
Wassalam,
M. Agus Syafii
Senin, 12 September, 2011 20:43
========== ============
2. Menerima Masa lalu Itu Menyembuhkan
Sahabatku, banyak orang menghabiskan masa mudanya untuk mencoba mengabaikan masa lalu, ingin melupakan, seandainya peristiwa itu tidak terjadi, seandainya luka yg menganga dapat disembuhkan seketika. Untuk mencoba bertahan, kita mencari ribuan cara untuk menutupi sakit hati itu, mengabaikan bayangan & perasaan terluka yang mengikuti kemana saja kita pergi. Kita mencoba untuk menutupi dengan berbagai kesibukan, kita mencoba untuk menyangkal, menghardik, menyingkirkan, begitu semua usai luka itu semakin bertambah perih. Kita bertanya-tanya, apakah sesungguhnya akan ada kesembuhan bagi kita dari peristiwa menyakitkan pada masa lalu?
Padahal Kesembuhan itu hanya terjadi bila kita menerima masa lalu itu sebagai ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang harus disyukuri sebab dengan menerima apapun ketetapan Allah dan bersyukur maka hidup kita menjadi tenteram, aman, penuh dengan cinta dan kasih sayang serta tawakal kepadaNya.“… Barangsiapa bertawakal kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq 2-3).
Wassalam,
M. Agus Syafii
Selasa, 13 September, 2011 10:22
============= ==========
Core Values Perusahaan – Penting Untuk Siapa?
Oleh: Dadang Kadarusman
Senin, 12 September, 2011 18:45
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Salah satu aspek terpenting dalam bisnis adalah membangun visi perusahaan yang disokong oleh nilai-nilai inti atau budaya perusahaan yang menjadi fondasinya. Setiap perusahaan maju pasti memiliki visi dan nilai-nilai inti budaya kerjanya. Dengan visi dan budaya kerja itulah mereka menggerakkan roda bisnisnya menuju kearah yang jelas dengan tuntunan dan panduan atau cara mencapainya. Setiap orang yang ada dalam perusahaan harus bahu membahu untuk mewujudkan visi itu, serta patuh pada aturan main yang sudah digariskan oleh perusahaan. Maka disinilah letak pentingnya penerapan nilai-nilai perusahaan.
Dalam karir profesional saya, ada beberapa eposide dimana saya terlibat langsung dalam proses perumusan nilai inti perusahaan, dan bagaimana membangun kesadaran seluruh elemen perusahaan untuk menerapkannya. Sebagai trainer dan konsultan pun saya telah berkali-kali berhadapan dengan tugas menantang untuk membantu perusahaan-perusahaan mengupayakan terciptanya pemahaman dan pengamalan nilai-nilai budaya perusahaan dikalangan karyawannya. Sejauh pengamatan saya, sebagian besar perusahaan mempunyai masalah serius dalam penerapan system nilainya. Silakan cek di perusahaan Anda; Apakah di dinding tembok atau buku putih perusahaan terdapat ‘Core Values’? Lalu, dapatkah Anda MENGINGAT core values perusahaan Anda itu apa saja? Saya bisa pastikan jika sebagian bersar karyawan bahkan tidak mampu untuk sekedar mengingat item-itemnya. Inilah yang menjadi tantangan terbesar saya dalam membantu perusahaan-perusahaan merumuskan Nilai Inti dan melatih karyawannya. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menerapkan Core Values perusahaan, saya ajak memulainya dengan menerapkan 5 teknik Natural Intellligence berikut ini:
1. Mengingat. Anda mungkin mentertawakan saya. Mengingat? Bukankah ini hal yang sangat sederhana? Ya. Sangat sederhana. Namun dibalik kesederhanaannya, kata ’mengingat’ ini menyimpan berjuta makna. Bayangkan, Anda wajib menerapkan nilai-nilai inti perusahaan dimana Anda bekerja. Tetapi Anda tidak dapat mengingat nilai-nilai inti itu apa saja. Mungkinkah Anda dapat menerapkannya? Tidak. Banyak fakta yang menunjukkan bahwa ’tugas sederhana’ menjadi sedemikian rumitnya bagi sebagian besar karyawan. Walhasil, Core Values hanya menjadi hiasan dinding kantor belaka. Semacam asesoris korporasi tanpa makna. Anda, hanya bisa menerapkan nilai-nilai inti itu jika dan hanya jika terlebih dahulu Anda mampu mengingatnya.
2. Memahami. Apalah artinya Core Values jika kita hanya bisa mengingat tanpa memahami maknanya? Ironis. Karena tanpa pemahaman itu, kita menempatkan diri kita sendiri setara dengan burung beo. Dia bisa mengatakan apa saja, namun tidak benar-benar faham apa sih sebenarnya isi kata-katanya. Begitu banyak orang yang hanya sekedar mengingat tapi kalau ditanya apa maknanya mereka menjadi gelagapan. Coba sekali lagi introspeksi, apakah kita sudah benar-benar memahami makna dari setiap poin nilai-nilai budaya perusahaan? Jika belum, maka ini adalah saat yang tepat untuk memulainya. Karena memahami nilai-nilai itu, membantu Anda untuk bukan sekedar melakukan pekerjaan. Melainkan menemukan esensi dari pekerjaan yang Anda lakukan.
3. Meresapi. Orang yang memahami sesuatu belum tentu melaksanakannya dalam praktek sehari-hari. Bahkan, banyak orang yang faham, namun secara sengaja melanggarnya. Misalnya, mereka faham apa artinya nilai ‘Kejujuran’. Namun, berkubang dalam praktek-praktek yang justru berkebalikan. Mengapa begitu? Karena mereka tidak memasukkan pemahaman itu kedalam hati sanubari mereka. Mereka tidak meresapi maknanya. Sedangkan ‘meresapi’ itu sama artinya dengan menerima dengan ketulusan hati. Orang-orang yang bersedia menerima system nilai itu dengan ketulusan hati adalah mereka yang rela untuk tunduk pada aturan main perusahaan sebagai pemandu dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari.
4. Mempraktekkan. Sistem nilai perusahaan adalah pembeda utama antara perusahaan yang menerapkan cara berbisnis yang baik dengan cara yang buruk. Banyak cara untuk mencapai tujuan, tetapi ada yang etis dan ada yang tidak. Dengan semakin tingginya kesadaran manusia untuk melakukan tindakan-tindakan etis, maka tuntutan terhadap cara berbisnis yang etis pun menjadi semakin menguat. Di zaman ini; perusahaan-perusahaan yang tidak etis bisa tersingkir dari arena. Mengapa? Karena konsumen menuntut cara berbisnis yang etis, regulasi mengharuskan tata kelola yang bermartabat, dan para pesaing saling berlomba untuk menjadi lebih baik. Maka tidak ada pilihan lain selain mempraktekkan core values perusahaan dengan sebaik-baiknya. Jika tidak, maka reputasi perusahaan dipertaruhkan. Sebagai karyawan, Anda memiliki tanggungjawab untuk berperan secara aktif. Dengan cara itu, Anda menambahkan nilai moral, etika, dan spiritual kedalam pekerjaan yang Anda lakukan.
5. Membiasakan. Mengapa sesuatu disebut sebagai budaya? Alasannya adalah karena hal itu sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging dikalangan semua elemen masyarakatnya. Makanya kemudian kita menyebutnya ‘sudah membudaya’ atau sudah ‘menjadi budaya’. Semua poin dalam Core Values hanya akan benar-benar menjadi budaya kerja perusahaan jika dan hanya jika sudah menjadi kebiasaan dalam setiap aspek bisnis yang dilakukan. Jikapun ada penyimpangan, mungkin itu hanya oknum. Tetapi jika system nilai itu sudah membudaya, maka kehadiran para oknum selalu bisa segera diidentifikasi dan dieliminasi. Membiasakan penerapan nilai-nilai inti bukan hanya sekedar bisa menjadikan identitas perusahaan. Lebih dari itu, pembiasaan juga membantu setiap karyawan untuk melakukannya dengan nyaman. Tidak perlu ‘mikir’ lagi, karena secara refleks mereka bisa melakukannya. Maka berlatih untuk membiasakan penerapan nilai-nilai itu merupakan sebuah kebutuhan.
Core values bukanlah semata-mata milik pendiri perusahaan atau para eksekutif puncak yang merumuskannya. Core values adalah milik setiap individu dalam perusahaan. Mengapa? Karena tidak ada perusahaan baik yang mencanangkan nilai-nilai yang buruk. Setiap karyawan yang berkomitmen menerapkan nilai-nilai baik yang dirumuskan oleh perusahaan tempat kerjanya, akan merasakan manfaat dan efek positifnya. Dimana saja, dan kapan saja. Maka siapapun Anda, dan apapun jabatan Anda. Belajarlah untuk mengingat, memahami, dan meresapi nilai-nilai luhur yang terpampang di dinding tembok kantor Anda. Lalu mempraktekkannya. Dan menjadikannya kebiasaan yang baik dalam hidup Anda. Karena core values itu, penting untuk perusahaan kita. Penting untuk pelanggan kita. Juga penting untuk diri kita sendiri. Dan penting untuk orang-orang yang terkait dengan kita. Core values, penting bagi kita semua.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 13 September 2011
Penulis buku ”Natural Intelligence Leadership” (jadwal terbit Oktober 2011)
Catatan Kaki:
Core values perusahaan itu bisa menjadi sarana bagi setiap karyawan untuk melatih dan menanamkan nilai-nilai pribadi yang berkualitas tinggi.
Jika pertanyaan-pertanyaan Anda belum mendapatkan jawaban dari saya, silakan untuk mengeceknya di Frequently Asked Question (FAQ) dalam website kami.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain. Tapi tolong, jangan diperjualbelikan ya. Dan tolong, indahkan norma umum.
Bisnis yang Menjanjikan
Oleh: Hadi Poernomo
Peluang Bisnis Yang Sangat Menjanjikan
A. TUKANG PARKIR
Modal: Nol, yang penting berani malu dan tahu lokasi strategis.
Penghasilan:
Jika diasumsi bahwa :
1.. Parkir mobil: Rp 1,000/ mobil/ jam
2.. Parkir motor: Rp 500/ motor/ jam
Maka jika diasumsikan Anda bekerja 8 jam sehari di mana tempat parkir
Anda dapat memuat 20 mobil atau 40 motor, maka
Anda akan memperoleh:
8 jam x 20 mobil x Rp 1,000 = Rp 160,000/ hari.
Jika Anda bekerja 26 hari perbulan, maka penghasilan Anda menjadi
Rp 160.000 x 26 hari = Rp 4,160.000/ bulan (bebas pajak).
Keuntungan yang diperoleh :
1.. Bebas pajak
2.. Jam kerja tidak mengikat
3.. Masih bisa mengerjakan pekerjaan sambilan (jualan rokok di warung)
4.. Tingkat stress rendah
5.. Tidak beresiko. Kalau pun ada (klaim, tuntutan karena kendaraaan yang diparkir hilang / rusak), tinggalin ajah.
B. PENGAMEN
Modal : Gitar, kencrengan, atau nol sama sekali. Yang penting berani malu.
Penghasilan :
Tergantung tempat dan sasaran. Jika sasaran yang dituju adalah mobil angkot mungkin bisa lebih besar. Jika diasumsikan tempat yang dituju adalah lampu merah dengan durasi 2 menit, dan pendapatan Rp 300/ angkot, dan bekerja 8 jam, maka:
8 jam x (60/ 2 menit) x Rp 300 = Rp 72.000/ hari.
Jika bekerja 26 hari perbulan, maka pemasukan minimum yang diperoleh adalah : Rp 72.000 x 26 hari = Rp 1.872.000.
Keuntungan yang diperoleh :
1.. Bebas pajak
2.. Waktu kerja tidak mengikat
3.. Tidak butuh keahlian. Cuap-cuap tanpa suara pun pasti dapat.
4.. Stress nyaris tidak ada. Justru bisa menghibur diri.
5.. Tidak beresiko, asal hati-hati kalo menyeberang atau mengamen di tengah jalan ramai.
6.. Jika gesit (misalnya dalam satu durasi lampu lalu lintas dapat menyambangi 2-3 angkot), penghasilan bisa meningkat 2-3 kali lipat.
C. TUKANG BERSIH-BERSIH KACA MOBIL
Modal : Kain rombeng, pembersih bulu ayam, busa dan sabun detergen
Penghasilan :
Nyaris sama dengan pengamen, malah dapat 3-4 kali lipat, karena dalam 1 durasi lampu lalu lintas, dapat menyambangi 5-10 mobil sekaligus, tergantung kegesitan kerja.
> Keuntungan yang diperoleh :
> 1.. Bebas pajak
> 2.. Waktu kerja tidak mengikat.
> 3.. Tidak butuh keahlian. Yang penting kerja cepat saja.
> 4.. Hasil kerja bukan tujuan akhir.
> 5.. Tingkat stress tidak ada.
D. PENGEMIS
Modal : Baju kusut, dekil, dan tidak mandi seminggu. Dan yang terutama: berani malu!
Penghasilan :
Tergantung kemampuan menarik hati orang. Semakin memelas, maka penghasilan semakin besar.
Pada tahun 1997, seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta Jakarta pernah mengadakan penelitian dan menemukan bahwa seorang pengemis di Jakarta rata-rata mampu mengumpulkan Rp 500.000 perhari, atau Rp 15 juta perbulan.
Bahkan baru-baru ini ada seorang ibu asal Garut yang mengakui di sebuah media Bandung, bahwa dengan menjadi pengemis selama 1 bulan saja, dia telah mampu pulang kampung dengan membawa Baleno keluaran terbaru yang bernilai 200-an juta rupiah, plus oleh-oleh untuk keluarga di kampungnya.
Sebuah hasil yang luar biasa. So jangan heran bahwa pekerjaan menjadi pengemis primadona banyak orang yang datang ke kota-kota besar.
Keuntungan yang diperoleh :
> 1.. Bebas pajak
> 2.. Waktu kerja tidak mengikat
> 3.. Hanya butuh keahlian menarik hati orang.
> 4.. Tingkat stress tidak ada
> 5.. Dapat prioritas pertama dari Pemerintah kalo ada program bantuan bagi kaum dhuafa.
Nah, Anda berminat dengan peluang-peluang bisnis yang luar biasa ini?
Always eager to achieve happiness in life together in peace
Hadi Poernomo
Senin, 12 September, 2011 16:57
========== ============
Dear Bung Mods,
Entah pak Hadi ini serius atau bergurau, tapi e-mail ini sungguh sangat tidak layak dibroadcast.
Kalaupun Pak Hadi niatnya bergurau, gurauannya sungguh sangat tidak lucu.
Sementara kita berusaha keras "membantu" pemerintah membukakan lapangan pekerjaan untuk saudara-saudara kita yang kurang beruntung, ini pak Hadi malah memprovokasi orang untuk mengambil profesi yang tidak layak.
Lain kali mohon difilter dengan serius karena milist ini tempat bertukar pengetahuan yang bermanfaat, tempat berbagi semangat, peluang, dan harapan.
Jangan sampai milist yang sudah susah payah didevelop dan mulai dapat nama ini jadi milist sampah.
Maaf jika kritik saya tajam.
M Sri Sadono
PT Sempurna Sukses
Consumer Goods Specialist
Email dari Sdr. hadi Pornomo sungguh tidak bermartabat, tidak membangun bangsa yg cerdas bahkan merusak moral bangsa yang kurang edukatif. makanya banyak metal orang indonesia cenderung lemah ... inginnya enak tidak mau kerja keras .... Huffff
Senin, 12 September, 2011 23:12
========== ============
Kalau sy melihat email beliau itu sbg challenge. Bgmana kita para pengusaha dituntut utk berkiprah utk meminimalkan/menghapuskan "profesi/peluang yg menjanjikan tsb".
Kita buka lapangan kerja buat mrk2, secara perlahan kita ajak utk sesuatu yg lbh positif dr pada pekerjaan yg dianggap oleh sbgian org sbg pekerjaan org2 malas.
Regards
-̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Thank You•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶
Eko
Langkah kedua, jangan beramal di jalan, bukalah lapangan kerja, gajilah prt, tukang, tukang ketoprak dll dengan layak.
MYAnto
Saya setuju dengan ide Pak Eko, sebetulnya apa yang di paparkan oleh pak Hadi tidak semuanya buruk, akan tetapi itu adalah paparan fakta yang kita temui bukan hanya di kota-kota besar saja tapi juga hampir diseluruh pelosk negri.
yang perlu masyarakat terutama pengusaha tindak lanjuti adalah bagaimana melakukan bukan hanya memberikan lapangan kerja bagi para personal berpendidikan tapi juga personal yang cerdik, unik, dan berdaya juang tinggi seperti mereka, dimana ditengah keterbatasan pendidikan dan ekonomi yang mereka peroleh, masih bisa mengais rupiah dari kantong2 kita.
Thanks & Regard
Senin, 12 September, 2011 23:49
========== ============
kalau menurut saya apa yang disampaikan oleh pak Hadi Poernomo adalah gambaran reality di lingkungan sekitar kita, bukannya mengarahkan kita untuk memilih pekerjaan tersebut tetapi malah membukakan kita kenapa banyak orang memilih jadi juru parkir, pengemis ataupun ngamen.
Apabila kita pernah bertanya kepada yang mempunyai profesi tersebut kenapa memilih pekerjaan itu, saya yakin pasti jawabannya "ga ada kerjaan lain pak atau mungkin mau kerja apa pak".
Bila kita punya lapangan kerja, saya yakin mereka mau menerima pekerjaan tersebut bila kita menawarinya.
Kesimpulan saya, postingan pak hadi bukan untuk merendahkan martabat yang mempunyai profesi tersebut akan tetapi membukakan mata kita bahwa lapangan kerja yang belum merata.
Sebagai contoh juru parkir, baik di kota maupun didaerah juru parkir malah resmi dari pemerintah daerah setempat atau mungkin perusahaan swasta yang mengelola parkiran mall. Baik pria ataupun wanita mereka bekerja di perusahaan swasta tetapi hanya sebagai juru parkir di mall.
Apakah rendah pekerjaan jukir tersebut??
Saya rasa PR kita semua untuk membuka lapangan kerja sebanyak banyaknya bila kita tidak ingin melihat pengemis atau pengamen dijalanan
Salam
Anjar Budi
Selasa, 13 September, 2011 00:12
========== =============
Peluang Bisnis Yang Sangat Menjanjikan
A. TUKANG PARKIR
Modal: Nol, yang penting berani malu dan tahu lokasi strategis.
Penghasilan:
Jika diasumsi bahwa :
1.. Parkir mobil: Rp 1,000/ mobil/ jam
2.. Parkir motor: Rp 500/ motor/ jam
Maka jika diasumsikan Anda bekerja 8 jam sehari di mana tempat parkir
Anda dapat memuat 20 mobil atau 40 motor, maka
Anda akan memperoleh:
8 jam x 20 mobil x Rp 1,000 = Rp 160,000/ hari.
Jika Anda bekerja 26 hari perbulan, maka penghasilan Anda menjadi
Rp 160.000 x 26 hari = Rp 4,160.000/ bulan (bebas pajak).
Keuntungan yang diperoleh :
1.. Bebas pajak
2.. Jam kerja tidak mengikat
3.. Masih bisa mengerjakan pekerjaan sambilan (jualan rokok di warung)
4.. Tingkat stress rendah
5.. Tidak beresiko. Kalau pun ada (klaim, tuntutan karena kendaraaan yang diparkir hilang / rusak), tinggalin ajah.
B. PENGAMEN
Modal : Gitar, kencrengan, atau nol sama sekali. Yang penting berani malu.
Penghasilan :
Tergantung tempat dan sasaran. Jika sasaran yang dituju adalah mobil angkot mungkin bisa lebih besar. Jika diasumsikan tempat yang dituju adalah lampu merah dengan durasi 2 menit, dan pendapatan Rp 300/ angkot, dan bekerja 8 jam, maka:
8 jam x (60/ 2 menit) x Rp 300 = Rp 72.000/ hari.
Jika bekerja 26 hari perbulan, maka pemasukan minimum yang diperoleh adalah : Rp 72.000 x 26 hari = Rp 1.872.000.
Keuntungan yang diperoleh :
1.. Bebas pajak
2.. Waktu kerja tidak mengikat
3.. Tidak butuh keahlian. Cuap-cuap tanpa suara pun pasti dapat.
4.. Stress nyaris tidak ada. Justru bisa menghibur diri.
5.. Tidak beresiko, asal hati-hati kalo menyeberang atau mengamen di tengah jalan ramai.
6.. Jika gesit (misalnya dalam satu durasi lampu lalu lintas dapat menyambangi 2-3 angkot), penghasilan bisa meningkat 2-3 kali lipat.
C. TUKANG BERSIH-BERSIH KACA MOBIL
Modal : Kain rombeng, pembersih bulu ayam, busa dan sabun detergen
Penghasilan :
Nyaris sama dengan pengamen, malah dapat 3-4 kali lipat, karena dalam 1 durasi lampu lalu lintas, dapat menyambangi 5-10 mobil sekaligus, tergantung kegesitan kerja.
> Keuntungan yang diperoleh :
> 1.. Bebas pajak
> 2.. Waktu kerja tidak mengikat.
> 3.. Tidak butuh keahlian. Yang penting kerja cepat saja.
> 4.. Hasil kerja bukan tujuan akhir.
> 5.. Tingkat stress tidak ada.
D. PENGEMIS
Modal : Baju kusut, dekil, dan tidak mandi seminggu. Dan yang terutama: berani malu!
Penghasilan :
Tergantung kemampuan menarik hati orang. Semakin memelas, maka penghasilan semakin besar.
Pada tahun 1997, seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta Jakarta pernah mengadakan penelitian dan menemukan bahwa seorang pengemis di Jakarta rata-rata mampu mengumpulkan Rp 500.000 perhari, atau Rp 15 juta perbulan.
Bahkan baru-baru ini ada seorang ibu asal Garut yang mengakui di sebuah media Bandung, bahwa dengan menjadi pengemis selama 1 bulan saja, dia telah mampu pulang kampung dengan membawa Baleno keluaran terbaru yang bernilai 200-an juta rupiah, plus oleh-oleh untuk keluarga di kampungnya.
Sebuah hasil yang luar biasa. So jangan heran bahwa pekerjaan menjadi pengemis primadona banyak orang yang datang ke kota-kota besar.
Keuntungan yang diperoleh :
> 1.. Bebas pajak
> 2.. Waktu kerja tidak mengikat
> 3.. Hanya butuh keahlian menarik hati orang.
> 4.. Tingkat stress tidak ada
> 5.. Dapat prioritas pertama dari Pemerintah kalo ada program bantuan bagi kaum dhuafa.
Nah, Anda berminat dengan peluang-peluang bisnis yang luar biasa ini?
Always eager to achieve happiness in life together in peace
Hadi Poernomo
Senin, 12 September, 2011 16:57
========== ============
DISKUSI:
1. Muhammad Sri Sadono:
Dear Bung Mods,
Entah pak Hadi ini serius atau bergurau, tapi e-mail ini sungguh sangat tidak layak dibroadcast.
Kalaupun Pak Hadi niatnya bergurau, gurauannya sungguh sangat tidak lucu.
Sementara kita berusaha keras "membantu" pemerintah membukakan lapangan pekerjaan untuk saudara-saudara kita yang kurang beruntung, ini pak Hadi malah memprovokasi orang untuk mengambil profesi yang tidak layak.
Lain kali mohon difilter dengan serius karena milist ini tempat bertukar pengetahuan yang bermanfaat, tempat berbagi semangat, peluang, dan harapan.
Jangan sampai milist yang sudah susah payah didevelop dan mulai dapat nama ini jadi milist sampah.
Maaf jika kritik saya tajam.
M Sri Sadono
PT Sempurna Sukses
Consumer Goods Specialist
Senin, 12 September, 2011 23:04
============= =========
2. Adriansyah Hermawan Sutejo:
Email dari Sdr. hadi Pornomo sungguh tidak bermartabat, tidak membangun bangsa yg cerdas bahkan merusak moral bangsa yang kurang edukatif. makanya banyak metal orang indonesia cenderung lemah ... inginnya enak tidak mau kerja keras .... Huffff
Senin, 12 September, 2011 23:12
========== ============
3. Eko Kantor:
Kalau sy melihat email beliau itu sbg challenge. Bgmana kita para pengusaha dituntut utk berkiprah utk meminimalkan/menghapuskan "profesi/peluang yg menjanjikan tsb".
Kita buka lapangan kerja buat mrk2, secara perlahan kita ajak utk sesuatu yg lbh positif dr pada pekerjaan yg dianggap oleh sbgian org sbg pekerjaan org2 malas.
Regards
-̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Thank You•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶
Eko
Senin, 12 September, 2011 23:38
============== ========
4. M Yanto:
Langkah kedua, jangan beramal di jalan, bukalah lapangan kerja, gajilah prt, tukang, tukang ketoprak dll dengan layak.
MYAnto
Senin, 12 September, 2011 23:48
================= =====
5. Abdurrachman Miladdina:
Saya setuju dengan ide Pak Eko, sebetulnya apa yang di paparkan oleh pak Hadi tidak semuanya buruk, akan tetapi itu adalah paparan fakta yang kita temui bukan hanya di kota-kota besar saja tapi juga hampir diseluruh pelosk negri.
yang perlu masyarakat terutama pengusaha tindak lanjuti adalah bagaimana melakukan bukan hanya memberikan lapangan kerja bagi para personal berpendidikan tapi juga personal yang cerdik, unik, dan berdaya juang tinggi seperti mereka, dimana ditengah keterbatasan pendidikan dan ekonomi yang mereka peroleh, masih bisa mengais rupiah dari kantong2 kita.
Thanks & Regard
Senin, 12 September, 2011 23:49
========== ============
6. Anjar Budi:
kalau menurut saya apa yang disampaikan oleh pak Hadi Poernomo adalah gambaran reality di lingkungan sekitar kita, bukannya mengarahkan kita untuk memilih pekerjaan tersebut tetapi malah membukakan kita kenapa banyak orang memilih jadi juru parkir, pengemis ataupun ngamen.
Apabila kita pernah bertanya kepada yang mempunyai profesi tersebut kenapa memilih pekerjaan itu, saya yakin pasti jawabannya "ga ada kerjaan lain pak atau mungkin mau kerja apa pak".
Bila kita punya lapangan kerja, saya yakin mereka mau menerima pekerjaan tersebut bila kita menawarinya.
Kesimpulan saya, postingan pak hadi bukan untuk merendahkan martabat yang mempunyai profesi tersebut akan tetapi membukakan mata kita bahwa lapangan kerja yang belum merata.
Sebagai contoh juru parkir, baik di kota maupun didaerah juru parkir malah resmi dari pemerintah daerah setempat atau mungkin perusahaan swasta yang mengelola parkiran mall. Baik pria ataupun wanita mereka bekerja di perusahaan swasta tetapi hanya sebagai juru parkir di mall.
Apakah rendah pekerjaan jukir tersebut??
Saya rasa PR kita semua untuk membuka lapangan kerja sebanyak banyaknya bila kita tidak ingin melihat pengemis atau pengamen dijalanan
Salam
Anjar Budi
Selasa, 13 September, 2011 00:12
========== =============
7. Dono Prihadi:
Menurut saya tidak ada pekerjaan yang rendah dan hina, sepanjang profesi itu ditekunin dengan serius dan pa Hadi sangat informatif serta layak dan pantas untuk memberitakannya atau sharing dalam forum dan media ini.
Kenapa harus malu kalau memang bangsa ini situasinya saat ini memang seperti ini dan kalian yang mengaku sedang membangun bangsa dengan memberikan peluang kerja, coba ukur dan hitung efektifitasnya, memadai kah???
Pointnya adalah Pemerintah dan negara saja yang mempunyai power dan tanggungjawab tidak mampu mengatasi hal ini, apalagi ente-ente yang ngomong sebagai entepreneur membuka kesempatan kerja untuk mereka, maaf itu penyataan yg BS.
Saya sering bepergian ke Pulau Bangka dan Belitung, dan saya tidak pernah menemukan pengemis, tukang lap kaca mobil, dll. , kenapa demikian?? Karena mereka tidakpunya profesi seperti itu dan kebanyakan profesi itu hanya di daerah tertentu. Coba cek di Wonosari atau Mojokerto, juga tiidak ada tuh Pengemis, tukang lap kaca mobil.
Jadi saya tidak merasa terhina apabila pa Hadi memuat hal seperti itu dan bahkan ia menggugah sanubari ente-ente yang mengaku entepreneur untuk lebih membuka cakrawala agar sadar bahwa ini lho keadaan kota besar terutama di pulau Jawa dan beruntung lah ente-ente yang juga aslinya bukan dari Jakarta ato kota besar tidak memiliki profesi ini karena nasibnya lebih baik, jadi jangan sia-sia kan keadaan yg lebih baik ini untuk hidup mu kelak dan jangan lupa untuk berbagi rejeki dengan mereka yang kurang beruntung.
Salam Damai,
Dono Prihadi
Selasa, 13 September, 2011 00:12
========== =============
8. Nugroho Setiatmadji:
Managers
Bandingkan petugas parkir sama pak Ogah yang memungut jasa putar balik kendaraan di jalan.
Mungkin tidak edukatif, namun di sinilah letak keadilan. Ada seorang bantu pengendara agar lancar dan dia dapat upah ala kadarnya. Sosialisme a la Nusantara.
Menurut hemat saya kita tidak perlu kaku. Malah seyogianya mampu menyesuaikan diri dengan alam sekitarnya.
Terima kasih untuk berbagi pendapat.
Salam
Nugroho S
Konsultan jasa kehumasan & Penerjemah
Selasa, 13 September, 2011 00:43
============== ========
9. Ali Purwantoro M:
Dear Managers,
Ulasan yang sangat jeli dan menarik untuk di cermati.
Ini adalah fakta2 kehidupan sehari-hari di dalam lingkungan kita.
apakah kita sudah bisa menjadi bagian untuk merubah itu semua??
apakah ini bisa menjadikan diri kita lebih bisa mensyukuri apa yang sudah kita dapat??
apakah kita bisa melihat dari posisi kita saat ini kebawah-keatas-kesamping??
apakah kita sudah belajar dari mereka??
apakah betul mereka tidak ada organisasinya/terorganiser??
dan sebetulnya masih banyak lagi apakah dalam benak saya.
Jujur saja kadang saya tidak mau kasih uang untuk para Gepeng yang ada di sekitar saya,
bukan karena saya tidak mampu, tapi saya tidak ingin mereka ada di jalanan selamanya.
marilah sama2 kita perbaiki mental dan moral bangsa kita, kalau bukan saya, kita, anda, lantas siapa lagi??.
jangan biasakan memberi gepeng di jalanan, ini sudah bisa mengurangi mereka sedikit demi sedikit.
Merdekalah bangsaku!!!
Salam,
Ali P.Selasa, 13 September, 2011 01:15
============== ========
10.
Mengapa Mereka Menolak Anda ? Seri 2
Oleh: Thomas Joseph
Melanjuti bahasan artikel saya yang kemarin mengapa mereka menolak Anda, dimana kita telah membahas aspek price dan aspek manfaat, maka saya akan melanjuti 3 aspek lainnya: yaitu Authority, Timing dan Value.
Authority
Seringkali kita melakukan pemasaran yang sia-sia karena kita menawarkan produk kepada orang yang tidak memiliki wewenang dalam memutuskan pembelian. Untuk itu kita wajib untuk melakukan mapping sebelum kita melakukan pemasaran. Dalam sebuah perusahaan umumnya terdapat beberapa bagian yaitu:
Timing
Seringkali kita gagal dalam menawarkan sesuatu sebenarnya bukan karena orang tersebut tidak membutuhkan produk kita melainkan karena kita menawarkan pada waktu yang kurang tepat. Seringkali kita tidak memperhatikan hal tersebut. Sebagai seorang pemasar Anda wajib mengetahui kapan waktu yang tepat untuk menawarkan sebuah produk. Sebuah solusi yang baik adalah kita menggunakan program Email, dimana kita dapat mengatur sendiri kapan waktu, email penawaran tersebut kita kirim.
Value
Seringkali kita mengukur segala sesuatu dengan tolak ukur kita padahal setiap orang memiliki value yang berbeda. Buat seseorang yang memiliki level pendapatan tinggi kadang harga bukan merupakan suatu yang penting melainkan pelayanan, sedang untuk orang yang memiliki pendapatan kecil maka harga menjadi sangat penting. Bahkan kini value telah berkembang bukan lagi sekedar harga dan pelayanan, tetapi muncul beberapa value baru seperti apakah produk kita ramah lingkungan, dan berbagai nilai social lain misalnya apakah brand yang mereka beli berasal dari perusahaan yang social. Dengan berkembangnya begitu banyak nilai/value maka untuk itu kita harus mengetahui apa value target kita. Cara mengetahu value seseorang maka kita bertanya apa yang penting untuk mereka.
Senin, 12 September, 2011 11:02
Melanjuti bahasan artikel saya yang kemarin mengapa mereka menolak Anda, dimana kita telah membahas aspek price dan aspek manfaat, maka saya akan melanjuti 3 aspek lainnya: yaitu Authority, Timing dan Value.
Authority
Seringkali kita melakukan pemasaran yang sia-sia karena kita menawarkan produk kepada orang yang tidak memiliki wewenang dalam memutuskan pembelian. Untuk itu kita wajib untuk melakukan mapping sebelum kita melakukan pemasaran. Dalam sebuah perusahaan umumnya terdapat beberapa bagian yaitu:
- Decision Maker: Pengambil keputusan dia adalah orang teratas dalam mengambil keputusan, yang terpenting bagi decision maker adalah keuntungan atau manfaat yang dapat ditawarkan oleh Anda, tapi untuk bisa sampai kesana kita terkadang perlu untuk menghadapi beberapa lapis bagian lain.
- Influencer: Influencer adalah orang yang mempengaruhi pengambil keputusan, terkadang posisi Influencer memiliki pengaruh sangat besar. Influencer biasanya adalah orang-orang yang dipercaya oleh Decision Maker, bisa internal perusahaan mereka atau bahkan teman dari Decision Maker.
- User: User adalah orang yang menggunakan produk yang dibeli, hal yang terpenting bagi user kemudahan dalam memakai produk Anda.
- Integrator: Integrator adalah orang yang menghubungkan antara satu dengan yang lain.
- Gatekeeper: Gatekeeper adalah posisi orang pertama yang kita harus lewati diawal kita masuk ke perusahaan tersebut.
- Pro: Pro adalah orang yang pro terhadap kita, biasa orang yang kita kenal didalam perusahaan tersebut.
- Contra: Contra adalah orang yang contra terhadap kita, biasanya orang yang memiliki kenalan competitor kita.
Timing
Seringkali kita gagal dalam menawarkan sesuatu sebenarnya bukan karena orang tersebut tidak membutuhkan produk kita melainkan karena kita menawarkan pada waktu yang kurang tepat. Seringkali kita tidak memperhatikan hal tersebut. Sebagai seorang pemasar Anda wajib mengetahui kapan waktu yang tepat untuk menawarkan sebuah produk. Sebuah solusi yang baik adalah kita menggunakan program Email, dimana kita dapat mengatur sendiri kapan waktu, email penawaran tersebut kita kirim.
Value
Seringkali kita mengukur segala sesuatu dengan tolak ukur kita padahal setiap orang memiliki value yang berbeda. Buat seseorang yang memiliki level pendapatan tinggi kadang harga bukan merupakan suatu yang penting melainkan pelayanan, sedang untuk orang yang memiliki pendapatan kecil maka harga menjadi sangat penting. Bahkan kini value telah berkembang bukan lagi sekedar harga dan pelayanan, tetapi muncul beberapa value baru seperti apakah produk kita ramah lingkungan, dan berbagai nilai social lain misalnya apakah brand yang mereka beli berasal dari perusahaan yang social. Dengan berkembangnya begitu banyak nilai/value maka untuk itu kita harus mengetahui apa value target kita. Cara mengetahu value seseorang maka kita bertanya apa yang penting untuk mereka.
Senin, 12 September, 2011 11:02
Hasilnya Berapa?
Oleh: Zach
Zach
Pernah lihat tukang sol sepatu?
Berapa jauh dia berjalan untuk menawarkan jasa sol sepatunya?
Juga ada pernah bikin saya takjub...pedagang lemari keliling.....
Memanggul lemari ukuran sedang, berjalan berkeliling komplek perumahan....
dan masih banyak profesi 'menakjubkan' lainnya.
Coba dipikir, berapa hasil yang mereka dapat?
dan apa setiap hari ada yang membeli dagangan atau jasa mereka?
apakah mereka termasuk orang yang bodoh? malas berusaha?
i dont think so....
Hanya saja, setiap kali saya melihat mereka yang kurang beruntung, membuat saya semakin bersyukur atas segala apa yang saya dapat.
Berapapun hasilnya, baik lebih maupun kurang...
Syukur akan membuat kita lebih kuat dalam menjalani hidup.
Dan kita akan menemukan bahwa dibalik kesulitan, selalu akan ada kemudahan.
O Tempora! O Mores!
Oleh: Andre Vincent Wenas
Itu adalah kata pembukaan orasi dari senator Cicero saat berdebat melawan Catilina, seorang politikus Roma di hadapan Senat Romawi tahun 63 SM. Oh zaman apakah ini! Akhlak macam apakah ini! Kutipan lengkapnya seperti ini: “O tempora! O mores! Senatur haec intellegit, consul videt; hic tamen vivit. Vivit? Immo vero etiam in senatum venit, vit publici consili particeps, notat et designat oculis ad caedem unum quemque nostrum. Nos autem, fortes viri, satisfacere rei publicae videmur, si istius furorem ac tela vitamus. Ad mortem te, Catilina, duci iussu consulis iam pridem oportebat, in te conferri pestem, quam tu in nos machinaris.”
(artikel dari Majalah MARKETING edisi September 2011)
STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Business Advisory & Management Consulting
Catatan: Artikel ini sebelumnya pernah dipublikasikan di media cetak tertentu. Untuk itu segala hal yang menyangkut sengketa atas Hak atas Kekayaan Intelektual menjadi tanggung jawab kontributor artikel ini di milis The Managers Indonesia dan atau Blog: themanagers.org.
Itu adalah kata pembukaan orasi dari senator Cicero saat berdebat melawan Catilina, seorang politikus Roma di hadapan Senat Romawi tahun 63 SM. Oh zaman apakah ini! Akhlak macam apakah ini! Kutipan lengkapnya seperti ini: “O tempora! O mores! Senatur haec intellegit, consul videt; hic tamen vivit. Vivit? Immo vero etiam in senatum venit, vit publici consili particeps, notat et designat oculis ad caedem unum quemque nostrum. Nos autem, fortes viri, satisfacere rei publicae videmur, si istius furorem ac tela vitamus. Ad mortem te, Catilina, duci iussu consulis iam pridem oportebat, in te conferri pestem, quam tu in nos machinaris.”
Artinya: Oh, zaman apakah ini! Oh, akhlak macam apakah ini! Senat sudah mengetahuinya, Konsul sudah melihatnya; namun orang ini (Catilina) masih juga hidup. Dia itu sungguh hidup? Ya, dia bahkan datang ke Senat, dia ikut serta merumuskan kebijakan publik, dengan pandangan matanya dia mencatat dan menentukan setiap orang dari kita semua untuk dibunuhnya. Sementara kita ini, orang-orang yang gagah berani, tampaknya sudah puas dengan mengurus kepentingan umum apabila kita berhasil menghindari kegilaan dan senjata orang ini. Dan engkau, Catilina, seharusnya sudah sejak lama, atas perintah Konsul, bencana kematian yang telah kau rancang untuk kami semua, ditimpakan kepadamu (dikutip dari Proverbia Latina, 2006).
***
“Marketing is not just one of the most important ideas in business. It has become the most dominant force in human culture,” begitu ujar Geoffrey Miller (dalam bukunya Spent: Sex, Evolution, and Consumer Behavior, Penguin Books, New York, 2009). Di jaman ini, hampir semua produk yang kita beli telah melalui suatu bentukan proses pemasaran tertentu. Para pemasar di era mutakhir ini terus berpikir keras untuk mencari jalan bagaimana menjual produk yang bakal semakin membahagiakan kita. Proses produksi bukan semata dipicu oleh angka pencapaian profitabilitas produk pada semester yang lalu, namun lebih di-drive oleh
pelbagai riset empiris tentang preferensi dan personalitas manusia, termasuk juga penghayatan dan pendalaman lewat riset kualitatif consumer-insight.
pelbagai riset empiris tentang preferensi dan personalitas manusia, termasuk juga penghayatan dan pendalaman lewat riset kualitatif consumer-insight.
Ekonomi nampaknya tidaklah diatur diam-diam oleh “tangan tak terlihat” (the invisible hands) ala Adam Smith, tetapi lebih karena rekayasa canggih melalui teknologi pemasaran para global-marketer di perusahaan-perusahaan transnasional. Hasrat manusia digiring ke arah pemujaan tanda (simbol) dewa-dewi jaman modern atau post-modern. Logo dan merek (brands) menjadi ideologi (diterima kebenarannya tanpa kritik). Dan yang dalam perspektif posmo, kebenaran itu tidak ada yang tunggal. Dengan mengideologikan merek-merek ini, proses penjualan telah dilapangkan jalannya, fanatisme (cara melihat dunia dengan kacamata kuda) telah menjadi cara pandang konsumen terhadap realitas dunianya. Tempat-tempat “ibadah” post-modern (mall, plaza, square, centre, situs internet, dll) telah menjadi suatu lokasi (place and space) dimana para jemaat merek (brand) mereguk kesegaran rohaniahnya paling tidak seminggu sekali. Di dalam mall ada banyak stasi-stasi dimana jemaat post-modern bisa berhenti sejenak untuk mendapatkan visi tentang citra dirinya di masa depan (jika membeli dan memakai merek dari stasi tertentu itu), meng-amin-inya, lalu bergerak ke stasi-stasi berikutnya demi mendapat “pencerahan” lebih lanjut. Begitulah ritual masyarakat pemuja merek mengolah kerohaniannya setiap minggu. Kalau perlu, sekali waktu diadakan semacam “kebangunan rohani” pemasaran (baca: Mega Sale! Diskon 70%), ala Crocs misalnya, yang telah berhasil membuat ribuan orang (tua-muda, pria-wanita) berbaris antri – beratus-ratus meter di dalam mall! – dengan tertib dan khusyuk demi memperoleh “berkat” dari merek sandal modis itu.
***
Halaman depan media massa kita beberapa waktu ini terus didominasi oleh kisah para pejabat yang tertangkap terang-terangan mengumbar hasratnya libidinal
dalam pelbagai kasus: Anggoro, Antasari, kasus Gayus serta rangkaiannya, Melinda, kasus Nurpati, sampai ke kasus Nazaruddin yang menyeret-nyeret anggota dewan perwakilan kita ke dalam transaksi pasar buah (apel Malang, apel Washington) yang rupanya adalah kata ganti benda untuk uang rupiah dan uang dollar, walahuallam! Mentalitas menerabas ke jalan pintas, tidak lagi menghargai proses, ketekunan dan disiplin, rasanya telah endemik di jaman ini. Mengapa kita semua bisa sampai di persimpangan jalan (tepatnya: kubangan) seperti ini? O tempora! O mores! Pertanyaan sederhana ini, dengan sedikit perenungan yang berjarak, bisa menjadi eksistensial.
dalam pelbagai kasus: Anggoro, Antasari, kasus Gayus serta rangkaiannya, Melinda, kasus Nurpati, sampai ke kasus Nazaruddin yang menyeret-nyeret anggota dewan perwakilan kita ke dalam transaksi pasar buah (apel Malang, apel Washington) yang rupanya adalah kata ganti benda untuk uang rupiah dan uang dollar, walahuallam! Mentalitas menerabas ke jalan pintas, tidak lagi menghargai proses, ketekunan dan disiplin, rasanya telah endemik di jaman ini. Mengapa kita semua bisa sampai di persimpangan jalan (tepatnya: kubangan) seperti ini? O tempora! O mores! Pertanyaan sederhana ini, dengan sedikit perenungan yang berjarak, bisa menjadi eksistensial.
Jika marketing begitu sentral perannya dalam kebudayaan manusia jaman modern, tentu ia membawa tanggung jawab sosial yang juga semakin besar. Dalam
konteks ini, kita sepakat bahwa etika pemasaran menjadi imperatif. Minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin.
--------------------------------------------------------------------------------konteks ini, kita sepakat bahwa etika pemasaran menjadi imperatif. Minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin.
(artikel dari Majalah MARKETING edisi September 2011)
STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Business Advisory & Management Consulting
Minggu, 11 September, 2011 23:25
Langganan:
Postingan (Atom)