Senin, 03 Oktober 2011

Bermasalah Dengan Bawahan

 Oleh:  Dadang Kadarusman
 
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
 
Kita semua tahu bahwa hubungan antara atasan dengan bawahan sangat menentukan keutuhan unit kerja dan efektivitas kepemimpinan. Maka membangun hubungan yang baik dengan bawahan atau atasan merupakan kondisi yang tidak bisa ditawar lagi. Masalahnya, ego sering mengungguli semua pertimbangan akal sehat. Jadi, meski mengerti, kita sering tetap terjebak dalam hubungan yang tidak sehat. Bagaimana seandainya Anda mengalami hal ini?
 
Chatting di blackberry sering berisikan topik tentang ketidakpuasan bawahan kepada atasannya. Atau kekesalan atasan kepada bawahannya. Bisa dibayangkan jika atasan merasa tidak cocok dengan bawahannya, dan sebaliknya. Hampir bisa dipastikan jika hubungan mereka cepat atau lambat akan berakibat pada memburuknya kinerja yang dihasilkan. Itu jika hubungan yang buruk tidak segera diperbaiki. Makanya, penting untuk segera mengupayakan perbaikan hubungan. Khususnya jika Anda berperan sebagai atasan. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memperbaiki hubungan dengan bawahan, saya ajak memulainya dengan menerapkan 5 prinsip Natural Intellligence berikut ini:
 
1.      Yang butuh harus lebih proaktif. Jika kita berada pada posisi ‘membutuhkan’, maka kitalah yang harus lebih gigih mengusahakan pemulihan hubungan. Lho, kalau saya tidak butuh, bagaimana? That’s your call. Tapi, apakah iya Anda tidak membutuhkan orang lain? Sebagai atasan, Andalah yang lebih membutuhkan baiknya hubungan dengan bawahan. Kalau Anda tidak bisa membangun hubungan yang baik dengan bawahan, kinerja mereka bisa berantakan. Bukankah kinerja Anda sangat dipengaruhi kinerja bawahan? Lantas, kalau saya bawahan, bagaimana? Its your call juga. Tapi, sebagai bawahan, Andalah yang lebih membutuhkan terjalin baiknya hubungan dengan atasan. Kalau Anda tidak bisa membangun hubungan yang baik dengan atasan, penilaian dan masa depan karir Anda dipertaruhkan. Bukankah atasan Anda mempunyai kewenangan yang lebih besar dari Anda? Makanya, fokus saja pada usaha memperbaiki hubungan. Tanpa mempermasalahkan posisi dan jabatan.  
 
2.      Mawas diri atas semua tindakan.  Tidak mudah untuk mengaku salah kepada orang lain. Meski hati kecil menyadarinya kita sering merasa berat untuk menyatakannya. Apalagi jika kita sendiri pun tidak menyadari telah melakukan kesalahan. Makanya, dibutuhkan kebesaran hati untuk mawas diri atau mengevaluasi jangan-jangan tindakan atau perlakuan kita kepada orang lain memang belum tepat. Sama seperti halnya Anda yang sebal kepada orang yang ngotot dengan kebenarannya sendiri, maka orang lain juga sebal jika kita tidak mau mawas diri. Jadi, biasakanlah untuk mawas diri supaya bisa memastikan bahwa kita sudah bersikap dan bertindak secara tepat dalam hubungan yang sedang bermasalah itu.  
 
3.      Meminta maaf jika memang kita salah. Menyadari kesalahan adalah sebuah tindakan yang besar. Namun, belum cukup besar jika tidak didukung oleh kesediaan untuk meminta maaf. Kesadaran itu baru akarnya, sedangkan keberanian untuk meminta maaf adalah batangnya. Perdamaian adalah daunnya. Ketentraman adalah salah satu buahnya. Tanpa permintaan maaf, kita tidak bisa mendapatkan kebaikan yang kita harapkan. Bukan mohon maaf ketupat lebaran maksud saya, melainkan maaf yang memang Anda lakukan secara khusus tepat pada saat Anda menyadarinya. Jangan menyepelekan kesalahan kepada bawahan, karena boleh jadi apa yang kita lakukan 10 tahun lalu masih terasa segar dalam ingatannya. Apalagi jika sekarang Anda masih bersama sang bawahan. Maka meminta maaf bisa menjadi sarana untuk mencairkan suasana yang kaku. Dan boleh jadi, kinerja team segera pulih kembali.
 
4.      Terus berinisiatif berbuat baik. “Saya sudah berusaha memperbaiki hubungan, tapi bawahan saya tidak menunjukkan itikad untuk memperbaiki dirinya juga.” Seperti halnya unconditioned love, usaha memperbaiki hubungan dengan bawahan juga membutuhkan ketulusan. Jika Anda melakukannya dengan harapan bawahan Anda akan melakukan hal yang sama, maka Anda tidak berlebihan. Tapi, jika Anda berhenti bersikap atau berbuat baik hanya karena bawahan Anda tidak merespon balik dengan perilaku baik yang Anda harapkan, mungkin Anda belum benar-benar tulus.  Tugas kita bukanlah untuk menjadikan orang lain baik, melakinkan menghimbau dan memberi keteladanan kepada mereka. Jika kita berhenti baik karena mereka buruk, maka mereka tidak melihat alasan yang kuat untuk mengikuti ajakan kita. Tapi, kalaupun mereka ngotot dengan keburukannya, maka minimal; kita tidak terpancing untuk menjadi pribadi yang buruk juga. So? Teruslah berinisiatif untuk berbuat baik.
 
5.      Berfokus kepada kinerja. Hubungan dengan bawahan berbeda dengan hubungan yang terjalin dengan orang yang tidak memiliki ikatan kerja. Maka apapun yang terjadi, sikap profesional harus terus dijaga. Sekalipun bawahan Anda tidak merespon pesan dan perilaku baik Anda selama ini, maka soal kinerja Anda tidak bisa memberinya toleransi. Jika memang hubungan pribadi Anda sudah menjadi sedemikian buruknya dengan bawahan, sudah tidak usah dipikirkan terlalu panjang. Asal Anda bisa pastikan bahwa biang keburukan hubungan itu bukan dari Anda sambil tetap membuka diri untuk berdamai. Tapi soal kinerja? Maaf, itu tidak boleh terganggu oleh masalah antara Anda dan bawahan Anda. Ada SOP dan ada tuntutan kerja sesuai dengan kesepakatan dengan perusahaan.
 
Hubungan antara atasan dengan bawahan tidak bisa dibangun hanya satu arah. Dua-duanya harus memiliki komitmen. Tetapi bagaimanapun juga, Anda harus menjadi orang yang teguh memegang komitmen untuk membangun hubungan baik itu. Jika Anda tetap gagal mengajaknya untuk membangun komitmen yang sama, tugas Anda sudah tuntas. Dan kewajiban Anda, sudah ditunaikan hingga lunas.
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman  20 September 2011
Penulis buku ”Natural Intelligence Leadership” (jadwal terbit Oktober 2011)
 
Catatan Kaki:
Memimpin bukan sekedar mencapai hasil, tetapi juga soal membangun hubungan. Jika Anda memiliki kesediaan untuk selalu memperbaiki hubungan dengan orang lain, maka Anda memang layak untuk menjadi seorang pemimpin.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahalanya Anda dapat secara penuh.
 
Jika pertanyaan-pertanyaan Anda belum mendapatkan jawaban dari saya, silakan untuk mengeceknya di  Frequently Asked Question (FAQ) dalam website kami.

Manajemen Kinerja

Oleh: Andre Vincent Wenas


...demi meningkatkan kinerja perusahaan yang semakin besar (dalam
jumlah orang), banyak yang mulai mencoba menerapkan manajemen kinerja, demi berusaha melakukan pengukuran seobyektif mungkin terhadap kinerja tim. Namun tidak jarang pula malah terjadi keresahan dan ketidakpuasan di antara anggota tim dengan para manajernya. Karenanya perlu diperhatikan prakondisi yang diperlukan agar penerapan manajemen kinerja ini bisa berdampak positif.

Salah satu tantangan terberat pemimpin bisnis adalah mengelola dan menyambungkan kinerja anggota timnya dengan kinerja organisasi secara keseluruhan. Baiklah disadari sejak mula, bahwa Anda sebagai pimpinan seorang diri hanya dapat meningkatkan kinerja sedikit saja. Para karyawan masing-masing juga hanya bisa memperbaiki kinerja sedikit saja. Namun demikian, ketika Anda bersama karyawan Anda bersatu dalam pihak yang sama dan bekerja bahu-membahu, maka Anda pasti mampu meningkatkan kinerja secara signifikan. Hukum sinergi menjanjikan pertumbuhan eksponensial.

Sebagai langkah awal, perlu di    pahami serta diwaspadai sungguh-sungguh
terlebih dahulu, apa yang seharusnya dilakukan dalam manajemen kinerja dan apa yang tidak seharusnya dilakukan olehnya.

Kita mulai saja dari yang tidak seharusnya dilakukan dalam pelaksanaan manajemen kinerja. Bahwa manajemen kinerja bukanlah cara untuk mengancam dan mengintimidasi karyawan supaya kinerjanya lebih produktif. Juga, manajemen kinerja bukanlah suatu metode untuk menyalahkan dan mencari-cari kesalahan karyawan. Dan yang penting sekali, bahwa manajemen kinerja bukan sarana untuk menyerang kepribadian dan sikap karyawan.

Jadi, apa itu manajemen kinerja? Ringkasnya, manajemen kinerja adalah
seperangkat alat dalam aspek pengelolaan SDM yang digunakan untuk mengoptimalkan tingkat keberhasilan tiap karyawan. Bahkan bukan hanya setiap karyawan, tetapi ia juga berfungsi untuk mengoptimalkan kinerja setiap unit kerja, kinerja para manajernya dan akhirnya kinerja organisasi secara menyeluruh.

Perlu pembaharuan cara pikir, bukan dengan menoleh ke belakang (kita sering
menyebutnya: menajemen kaca spion), namun dengan suatu gagasan cerdas untuk membangun kesuksesan sekarang ini dan terus ke masa depan. Kunci keberhasilan penerapan manajemen kinerja adalah komitmen keseharian para pimpinan bersama dengan seluruh tim untuk membuka jalur komunikasi dua arah, alias dialog. Bukan monolog (satu arah) atau duolog (dua pihak saling bicara tanpa ada yang mendengar!). Hati-hati, manajemen kinerja bukanlah suatu perkara yang ramai dibicarakan hanya di akhir semester pada saat penilaian karya. Namun, manajemen kinerja adalah proses komunikasi terus-menerus (on going communication process).

Beberapa prakondisi untuk menerapkan manajemen kinerja dari Robert Bacal
(bukunya: How to Manage Performance, McGraw-Hill, 2004) baik disimak: pertama, manajemen kinerja butuh investasi Anda sebagai pimpinan. Investasi waktu, pikiran dan kehadiran Anda. Manajemen kinerja di satu sisi sebetulnya tidaklah terlalu sukar. Memang ada bagian-bagian yang membutuhkan keterampilan tertentu, misalnya menterjemahkan dan menurunkan tujuan strategis perusahaan beserta indikasi ukuran keberhasilannya sampai menjadi indikasi ukuran keberhasilan tiap unit kerja, dan akhirnya diturunkan menjadi indikasi ukuran keberhasilan setiap individu karyawan. Berjenjang dari atas sampai karyawan di lapangan.

Kedua, adalah rasa tanggung-jawab bersama (shared responsibility). Agar rasa
tanggung-jawab bersama ini muncul, syaratnya adalah keterbukaan atau
transparansi, komunikasi dua arah. Jangan ada informasi yang terdistorsi oleh
pelbagai kepentingan yang de facto bisa berakibat kontra-produktif. Distorsi
informasi ini misalnya: laporan ABS, laporan tentang kejelekan karyawan lain
(tanpa didukung data) sehingga mengakibatkan keharmonisan kerja terganggu.
Ajak dan gugah tim Anda agar jadi bagian dari solusi (problem solver), bukan
sekedar jadi pelapor masalah (problem reporter). Apa lagi kalau yang dilaporkan cuma keburukan atau kekurangan seseorang atau unit kerja tertentu. Sepakati bersama, bahwa yang didefinisikan sebagai suatu masalah dalam organisasi adalah: adanya kesenjangan (gap) antara target (standar) dengan kenyataan yang ada. 
Sehingga setiap orang disemangati untuk berani mengemukakan masalah, bukan menyembunyikannya.

Ketiga, senantiasa hargai dan dorong tim agar berani menyampaikan pendapat,
berargumentasi dan bahkan memakai hikmat (wisdom)nya masing-masing. Apalagi jika Anda memimpin tim yang berpengetahuan serta berketerampilan tinggi. Mereka perlu apresiasi bukan sinisme.

Senin, 19 September, 2011 06:46

============= =========
Catatan:  Artikel ini dikontribusikan oleh Kontributor ke milis The Managers Indonesia setelah pemuatan di salah satu media cetak. Jika di kemudian hari terdapat sengketa Hak atas Kekayaan Intelektual menjadi tanggung jawab sepenuhnya oleh Kontributor

Tidak Melakukan Apapun – Bisakah Anda?

Hore, Hari Baru! Teman-teman.
 
Today is Monday. And I swear I am not going to do anything. Why? Because people says that Monday is hari malas sedunia katanya ya kan? Males banget mau pergi kekantor hari senin. Makanya we don’t like Monday. Biasanya kita disarankan untuk mengubah kalimat itu menjadi I like Monday!. Memang, kalimat-kalimat positif bisa membantu kita untuk menaikkan kadar energi positif juga. Namun, apa salahnya sih jika sesekali kita males-malesan juga? Kalau saya mau tidak melakukan apapun, so what? Sebentar dulu, masalahnya…; apakah benar saya bisa tidak melakukan apapun juga?
 
Ketiga ABG kami sangat menggemari lagunya Bruno Mars, The Lazy Song. Kalau ada lagu itu, mereka ikut menyanyikannya juga. Saya? Secara kita kan mantan vocalis paduan suara SMA, gitu loh. Nyanyi juga dong. Kan lagunya asyik banget. Anehnya, setiap kali saya mendengar lagu itu, sama sekali tidak ada rasa malas. Saya malah menjadi lebih bersemangat, meneruskan apa yang sedang saya lakukan sambil ikut bersenandung. Ternyata, motivasi bisa didapatkan dimana saja. Bahkan ketika kita sedang menyanyikan lagu tentang kemalasan. Jangan-jangan, dengan berperilaku malas pun kita bisa bersemangat, kali ya? Soal ini saya serius. Marilah sesekali kita melihat ‘kemalasan’ dari sisi positifnya. Pasti ada pelajaran yang bisa kita petik.  Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar males-malesan (bukan males beneran), saya ajak memulainya dengan menerapkan 5 prinsip Natural Intellligence berikut ini:
 
1.      Kita tidak bisa tidak melakukan apapun. Today, I don’t feel like doing anything. Sungguh, saya sudah mencoba melakukannya. Tapi, ternyata saya tidak tahu bagaimana cara ’tidak melakukan apapun’ itu. Saat saya diam, saya ’sedang melakukan sesuatu’. Waktu melamun, saat luntang-lantung, sebut saja apa. Semua itu adalah ’doing thing’, melakukan sesuatu. Jadi bagaimana sih ’tidak melakukan apapun’ itu? Kasih tahu saya jika Anda berhasil menemukannya. Saya ingin mencoba ’tidak melakukan apapun’. Karena sampai sekarang saya percaya bahwa kita, tidak bisa tidak melakukan apapun.
 
2.      Penuhi komitmen kepada orang lain.  Apapun yang kita lakukan atau tidak kita lakukan adalah hak kita. Terserah kita dong. Yang penting, kita kan tidak mengganggu atau merugikan orang lain. Betul tidak? Iya, kan. Kita sepakat soal itu. Nah, kalau kita sepakat, berarti kita juga setuju untuk mencegah jangan sampai orang lain terganggu ketika kita sedang ‘tidak melakukan apapun’. Makanya, sebelum mulai ‘tidak melakukan apapun’ itu, mari kita tunaikan dulu kewajiban kita kepada orang lain. Mungkin atasan kita. Mungkin bawahan kita. Mungkin kolega kita. Mungkin pelanggan kita. Siapapun. Pokoknya, mari tuntaskan dulu tanggungjawab kita kepada orang lain, sebelum kita memulai program ‘not doing anything’ itu. Why? Kan kita sudah sependapat untuk memenuhi komitmen kita kepada orang lain.    
 
3.      Berbaring tidak berarti tidak melakukan apapun. Sudah ditunaikan semua komitmen pada orang lain. What next? I just wanna lay in my bed. Yuhuuu, itu adalah lirik terfavorit saya. Kayaknya asyik banget deh kalau cuma berbaring ditempat tidur. Tapi, berbaring di tempat tidur tidak berarti tidak melakukan apapun. You can bring your botebook along. Dan melakukan sesuatu yang memberi nilai pada hidup. Meskipun Anda bukan penyair, sesekali boleh juga menorehkan sebait puisi yang bisa menginspirasi. Malas membawa desktop PC ke tempat tidur? Wajarlah. Berat, Bok! Ambil pensil dan kertas kosong. Goreskan  gagasan apapun meski masih samar-samar. Lagi gak bisa mikir! Tak apa juga. Tidak usah mikir deh, kalo gitu. Mendingan merenung aja. Melihat kedalam diri. Berkata jujur pada nurani. Lalu bikin komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Semuanya itu, bisa kita lakukan sambil ’I just wanna lay in my bed....”
 
4.      Putus hubungan dengan dunia luar. Terlalu banyak interupsi yang kita alami sepanjang hari-hari yang kita lalui. Meski tidak bertemu dengan orangnya. Don’t like picking up your phone!. Bukan sekedar telepon, tetapi semua alat komunikasi yang memberi celah kepada orang lain untuk memasuki ruang pribadi kita. Coba saja, cek sekali lagi; berapa kali pekerjaan yang sedang Anda lakukan terkena interupsi oleh bunyi ‘beeep…’ dari blackberry Anda? Berbahaya lho itu. Pekerjaan Anda berkali-kali tertunda. Lalu kita menyalahkan pekerjaan yang terlalu banyak, atau gaji kecil, atau atasan yang kurang membimbing sebagai biang keladi kegagalan kita menyelesaikan tugas itu. Saat kita ingin sendiripun begitu. Tidak akan berhasil, jika ditengah kesendirian yang kita bangun itu, kita masih membiarkan pesan-pesan tak penting dari orang lain menembus dinding kamar kita. So, putuskan hubungan dengan dunia luar. Sampai Anda benar-benar siap untuk membangunnya kembali.
 
5.      Anda boleh melakukan apapun. No body’s gon’ tell me I can’t. Oh, yes I said it ‘cause I can. Tak seorang pun bisa melarang kita untuk melakukan apapun yang kita inginkan. Toh sebagai orang dewasa kita memiliki tanggungjawab penuh atas semua tindakan yang kita lakukan. Hal positif maupun negatif. Terserah deh, pokoknya. Asal sanggup saja menanggung konsekuensi dari semua pilihan dan tindakan yang kita ambil. Bahkan Ayah dan Ibu kita pun tidak lagi berhak untuk melarang. Namun, mereka juga tidak akan dimintai pertanggunjawaban atas semua yang kita lakukan. Semuanya sudah menjadi tanggungan kita sendiri. Ketika menyadari hal ini, maka Anda boleh melakukan apapun.
 
Jangan terlalu percaya pada orang yang mengatakan tidak pernah kehilangan semangat. Bisa jadi dia tidak mengatakan yang sebenarnya. Atau derajat orang itu sudah terlalu tinggi untuk bisa kita teladani. Maqamnya sudah sulit dijangkau manusia biasa seperti kita. Mending kita jalani hidup layaknya manusia saja. Jangan takut untuk menjadi orang malas. Karena tidak semua kemalasan bernilai buruk. Malas meniru perilaku negatif. Malas ikut-ikutan mereka yang tidak produktif. Malas terlibat dalam urusan yang tidak bernilai. Dan begitu banyak lagi kemalasan yang kita butuhkan lainnya. Bahkan, kemalasan untuk melakukan apapun; ternyata memiliki nilai positif jika kita bisa memberinya makna yang berguna untuk menjadikan hidup kita lebih baik.  
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman – 19 September 2011
TRAINER & PUBLIC SPEAKER
Penulis buku ”Natural Intelligence Leadership” (jadwal terbit Oktober 2011)
 
Catatan Kaki:
Jika Anda sedang ingin malas-masalan, ikuti saja kemalasan itu. Lalu arahkan dia menuju ke jalur positif.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahalanya Anda dapat secara penuh.
 
Jika pertanyaan-pertanyaan Anda belum mendapatkan jawaban dari saya, silakan untuk mengeceknya di  Frequently Asked Question (FAQ) dalam website kami.

Minggu, 18 September, 2011 21:22

Kamis, 29 September 2011

Opini dan Diskusi: "BB Ditarik ke Indonesia ?"

1.  Ade  Irfan 46:


The managers,

ada fenomena apa sehingga RIM meletakkan pabrik mereka di Malaysia ???, dilihat dari pengguna jelas sekali Indonesia lebih besar dibanding Malaysia. Tahun 2010 Malaysia penjualan hanya 400 ribu unit/year, sementara di Indonesia 4 juta unit/tahun. Sementara BB yang beredar di Indonesia 5.18 juta unit, banding dengan Malaysia yang hanya 600 ribu unit.

Dari segi komitmen dengan pemerintah, Malaysia lebih ketat untuk sensor dibanding di Indonesia, aturan perpajakan mereka lebih tinggi dibanding di Indonesia. So, konon kabarnya RIM lebih memilih Malaysia karena SDM lebih bagus, infrastruktur lebih mudah, birokrasi lebih simple, kepastian perpajakan sesuai dengan aturan (no pungli), dan stabilitas politik.

salam
Ade Irfan
Selasa, 13 September, 2011 19:11

============== ========

OPINI & DISKUSI:



1.  Ameris Consultant & Development (Davy):


Ikutan berpendapat ya,

Sebenarnya, factor SDM lebih bagus, apabila dalam arti biaya SDM atau potensi SDM yang: (mohon maaf) kurang tepat.
Karena dari segi biaya produksi: biaya SDM, dapat diperhitungkan costnya sehingga dapat diloading dalam production cost.
Tetapi yang menjadi masalah bagi pengusaha adalah: adanya pungli/biaya-biaya siluman membuat production cost sulit diperhitungkan.
Juga fasilitas serta infrastructure, dalam arti keberadaan listrik, air layak minum serta jalan dan sarana transportasi, selain juga perijinan masih menjadi kendala utama (selain daripada biaya-biaya siluman tsb).

Best regards'
Davy
Ameris Consultant & Development
Integrated HR Management & Psychological Consultant & Development
Selasa, 13 September, 2011 19:2
================= ====

2.  BERSAMBUNG

The MONEYnLOVE Inspires 14.09.2011 : "Money in Marriage"

Oleh:  Freddy Pieloor

Dear Sahabat,


Selamat pagi dan salam sejahtera,

Saya senang jumpa Anda kembali dalam momen The MONEYnLOVE Inspires pada hari ini tanggal 14 September 2011.

Hari ini saya ingin share dengan tema:

"MONEY in MARRIAGE"

Kemarin saya bertemu dengan sahabat dan relasi saya di Pancious PIM 2.

Kami bercerita tentang pekerjaan dan keluarga. Akhirnya kita bicara mengenai uang dalam perkawinan.

Dia telah menikah selama 12 tahun dan memiliki 2 putra dan putri.

Dia sudah membaca buku saya berjudul: "Money, Love & Marriage", dan menyampaikan kondisi atau konsep pengelolaan keuangan dalam keluarganya.

Ternyata sistim pengelolaan keuangan yang dijalankannya adalah: masing-masing.
Gaji sahabat saya untuk bayar cicilan rumah dan jalan2.
Gaji istrinya untuk kebutuhan rumah tangga.
Sisanya terserah masing2.
Mereka belum saling memberi tahu berapa gaji masing2 dan kemana saja aliran gaji dipergunakan.

Saya pikir dalam hati: "Ini gila!!!"

Lalu saya menyampaikan dan meyakinkan dirinya terkait konsep keuangan yang ada dalam buku saya tsb.

-----

Sesuai dengan konsep keuangan general yang saya anut:
Buka Hati : Love
Buka Dompet : Money
Buka Celana : Sex

Selayaknya dompet atau uang dikomunikasikan secara transparan, jauh lebih transparan dari pada buka celana. (Maaf).

Sekarang mereka sudah membuka hati dan sepakat untuk hidup berkeluarga, selayaknya apapun yang mereka terima dijadikan satu dan dipergunakan untuk keperluan keluarga (membuka dompet).

-----

Memang benar tidak ada konsep keuangan suami istri yang baku dan berlaku bagi semua pasangan.
Namun ada norma-norma dasar yang berlaku dalam merencanakan keuangan suami istri antara lain:
1. Rejeki suami dan istri adalah rejeki bersama
2. Rejeki adalah hak anak-anak dan keluarga inti
3. Rejeki harus dipergunakan bagi keperluan keluarga inti

Sehingga unsur "bersama" di sini harusnya dikelola bersama, dengan azas keterbukaan dan kepercayaan, saling mengingatkan dan mendukung.

Bila ada pasangan suami istri yang belum menganut azas keterbukaan, maka akan menimbulkan berbagai potensi yang kurang konstruktif bagi keberlangsungan perjalanan pasangan suami istri.

Akan banyak uang keluarga yang mengalir keluar hanya untuk kesenangan diri pribadi sendiri, dan cukup sering yang menjurus ke hal-hal yang kurang positif.

Marilah terbuka dalam keuangan dengan pasangan Anda!!!
Bukankah Anda berniat berkeluarga untuk membahagiakan pasangan dan anak-anak?
Bukankah Anda mencintai pasangan dan keluarga Anda?

Saya percaya Anda adalah orang yang baik hati dan sungguh mencintai keluarga Anda.
So, nyatakanlah cinta dan kasih Anda dalam bentuk yang nyata.


Demikian sharing saya, semoga bermanfaat.


Salam,
Freddy Pieloor
www.MONEYnLOVE.com

Selasa, 13 September, 2011 19:09

The FINE DAY 14.09.2011 : Mengapa saya menjadi Financial Planner?

Oleh:  Freddy Pieloor

Dear Rekan-rekan,


Selamat pagi,


Dan 1 minggupun berlalu, kita berjumpa kembali pada The FINE DAY hari ini tanggal 14.09.2011.

Kali ini saya ingin share sebuah pemikiran kepada Rekan2 dengan tema:

"Mengapa saya menjadi Financial Planner?"

Minggu lalu pada tanggal 9 September, seorang kerabat dekat keluarga saya ber-ulang tahun. Beliau berusia 77 tahun, dan saat ini hidup mandiri, sejahtera dan bahagia.

Beliau berjasa dalam hidup saya, karena Beliau saya mengenal dan bersekolah dan berkarir dalam bidang asuransi.

Beliau pula yang memberikan kesempatan pada saya untuk magang pada tahun 1987 di Mitra, Iswara & Rorimpandey sebuah Pialang Asuransi terkemuka dan disegani.

Pada saat kunjungan di rumahnya Taman Giri Loka BSD, Beliau sempat bertanya:
"Freddy, mengapa kau sekarang merubah haluan dari seorang Pialang Asuransi menjadi Financial Planner?"

Saya menjelaskan pada beliau beberapa alasan sbb.:
1. Saat ini lebih banyak para orang tua yang telah mencapai usia pensiun yang hidupnya miskin, sengsara dan menderita.
Saya memberikan contoh orang2 yg beliau kenal sekarang hidupnya berantakan tidak karuan. Bahkan untuk makan hari-hari saja, harus meminta belas kasihan.
Saya juga menyampaikan bahwa ada dalam keluarga besar saya, yang memiliki kehidupan yang serupa.
2. Saat ini begitu banyak para karyawan, eksekutif dan profesional muda, yang memiliki pola hidup konsumtif dan konsumerisme, dan hanya mementingkan gaya hidup mewah. Mereka hanya sekadar hidup di hari ini.
3. Saat ini banyak anak-anak yang tidak bersekolah, karena tidak tersedianya dana pendidikan. Hal ini disebabkan orang tua yang tidak merencanakan keuangan mereka.

Itu alasan saya mengapa saya beralih jalur.

Sesungguhnya saya tergugah sejak tahun 2001, setelah membaca buku2 keuangan dan self help dari beberapa penulis seperti:
Robert T Kiyosaki
Brian Tracy
Safir Senduk
Suze Orman
Anthony Robbins dll

Saya membaca untuk pengetahuan dan pemahaman diri, lalu saya aplikasikan bagi keluarga saya. Itu tujuan awal saya.

Namun setelah berpikir lebih jernih, mengapa saya tidak "memberi" apa yang saya pahami kepada sesama?
Bukankah bila saya berbagi akan lebih banyak keluarga yang dapat mencapai hidup mandiri dan sejahtera?

Akhirnya saya mulai menulis di beberapa milis sejak 2006 dan menerbitkan buku di 2008.

---

Apakah Anda bisa menjadi Financial Planner? Setidaknya bagi diri Anda sendiri dan keluarga.
Ya, harus bisa!!!
Karena itu kewajiban Anda dalam hidup ini, untuk mencapai hidup mandiri dan sejahtera, guna mampu berbagi.
Anda ditakdirkan hidup bahagia!

Anda harus belajar untuk hidup mandiri, sejak kali pertama Anda bekerja dan memperoleh gaji (UMANJI = U manusia makan gaji). Anda harus mandiri pada saat usia dewasa dan selesai sekolah. Anda dan saya layak hidup mandiri sampai kita mati.

Kita bukanlah benalu atau parasit, karena kita punya otak dan hati, serta tangan untuk bekerja.
Cukup banyak pekerjaan yang mampu kita lakukan.

---

Saya seorang Financial Planner bagi diri dan keluarga saya, dan Andapun harus berpikir dan mulai bertindak menjadi FP bagi diri dan keluarga Anda.

Hidup hanya sekali, dan jangan hanya sekadar hidup dan bernapas, menyusuri jalan-jalan gelap kusam kumuh becek dan bau. Tidak!

Hiduplah dalam jalan terang bersih indah wangi dan bersahaja. Saya percaya Anda bisa, bila Anda bertindak!

Demikian sharing saya, semoga bermanfaat.


Salam,
Freddy Pieloor
Selasa, 13 September, 2011 18:44

7 Trik Kampanye K3 Via Email

Oleh:  Lorco  Safety

Bagaimana cara menggunakan media email sebagai media kampanye K3 ?
Selain media kampanye K3 yang sudah kita kenal seperti safety sign, safety poster, safety video, dll, kita juga dapat menggunakan email, baik dalam bentuk teks ataupun newsletter bergambar untuk mengirmkan berbagai materi menarik untuk meningkatkan kepedulian rekan kerja kita terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Berikut ini adalah berbagai trik yang diadaptasi dari teknik email marketing para Internet Marketer dalam mengirimkan email komunikatif  yang kemungkinan besar akan dibaca oleh penerima email:
1.      Pastikan kita mengenal orang yang kita kirimi email agar lebih terpercaya dan tidak dicap sebagai spam yang berujung pada pembuangan email kita ke folder spam/ junk mail. Hindari kata kata pada judul/ subject email yang dapat terdeteksi sebagai SPAM oleh aplikasi SPAM Filtering di email. Kata kata tersebut adalah "Free",  "Money",  kata dengan HURUF KAPITAL SEMUA, dsb.
2.      Kriteria Judul/ Subject email yang kemungkinan akan dibuka oleh penerima email adalah yang memiliki salah satu dari 7 kriteria sebagai berikut:
  • Singkat, contoh: " Tips Cepat Atasi Migrain"
  • Kontroversial, contoh: "Jangan Gunakan Safety Helmet Anda"
  • Frasa Bertanya, contoh: "Apa Media Terbaik untuk Kampanye K3 ?"
  • Memiliki Angka Jumlah Tips, contoh: "7 Cara Selamat Bekerja di Ketinggian"
  • Perintah Solutif, contoh: "Minimalkan Kecelakaan Kerja di Perusahaan Anda Sekarang!"
  • Memiliki Waktu terbatas , contoh: "Safety Helmet Gratis, Hanya untuk Hari ini "
  • Gaya Klasik, yaitu judul email yang cukup terkenal dan memiliki kemungkinan dibaca lebih besar, yaitu "You Are Not Alone" (Anda Tidak Sendirian) dan "Did You Get It ?" (Apakah Anda Sudah Mendapatkannya)
3. Personalisasikan email kita dengan menggunakan software email merge yang dapat memasukan nama penerima email di subject email, jadi walaupun dikirim secara masal, dengan software tersebut bisa menampilkan subject beserta nama penerima email. Contoh, kalau penerima emailnya bernama Pak Budi: Tips K3 di Rumah untuk Pak Budi
4.      Mulailah paragraf pembuka pada email Anda dengan salam penghormatan (seperti Dear Pak Budi), kemudian dilanjutkan dengan sesuatu yang menarik perhatian pembaca seperti kisahnyata/ cerita, data statistik (contoh: Data ILO menu jukkan bahwa Penyakit Jantung adalah Pembunuh No 1 di dunia), dsb.
5.      Gunakan bahasa ringan, sesingkat dan sejelas mungkin
6.       Perbanyak kalimat persusasif dan metafora (permisalan) dan hindari kalimat kalimat yang bernada menggurui.
7.      Tutup akhir email dengan kesimpulan, kalimat ajakan, kalimat himbauan untuk membalas email Anda (Contoh: Bagaiman menurut pendapat Anda tentang hal tersebut ?"), ucapan terima kasih, dan salam penghormatan .
Smoga trik tersebut bisa dipraktekan dalam kampanye K3 dengan menggunakan email kepada rekan rekan Anda di Kantor.
Anda memiliki tips lain untuk memperkaya trik kampanye K3 via email ini ?
Sumber: Lorco.co.id  dan diadaptasi juga dari berbagai sumber
(Silahkan membagikan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber aslinya)
By Kang Aa Widi Safari
Selasa, 13 September, 2011 00:23