Kamis, 13 Oktober 2011

Bunga Rampai Artikel: M. Agus Syafii

1.  Orang Yang Paling Cerdas

Sahabatku, Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia? ternyata jawabannya menurut Rasulullah adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling siap menghadapinya sebab mereka itulah yang membawa kemuliaan di dunia & kemuliaan di akhirat. Ibnu Umar ra. berkata, Aku datang menemui Rasulullah bersama sepuluh orang, lalu salah seorang dari kaum Anshar bertanya, “Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, ’Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah orang-orang cerdas. Mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kemuliaan akhirat.”  (HR Ibnu Majah).
Seberapa banyak kita mengingat kematian dalam hidup kita? Hanya diri kita sendirilah yang tahu berapa kali kita bertanya.  Jika kenyatannya kita masih sangat sedikit dalam mengingat kematian di tengah kesibukan dan semua urusan duniawi kita.  Maka perkenankan saya mengajak kepada teman2 semua, sekali waktu kita mengingat bahwa suatu saat kita akan mati. karena kita tidak pernah tahu, kapan kematian mendatangi kita. Apa kita mau disaat kita dalam keadaan lalai, kematian datang menjemput?
Karena mengingat mati akan membuat kita seakan punya rem dari berbuat dosa. hingga di mana saja dan kapan saja kita akan senantiasa akan selalu terarahkan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat kita. Mengingat kematian juga merupakan satu cara yang sangat efektif untuk dapat menaklukan dan mengendalikan diri kita. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad ’Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian.’ (HR. Tirmidzi).
Wassalam,
M. Agus Syafii
========= ========

2.

Rabu, 12 Oktober 2011

Bunga Rampai Artikel: M. Agus Syafii

1.  Orang Yang Paling Cerdas


Sahabatku, Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia? ternyata jawabannya menurut Rasulullah adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling siap menghadapinya sebab mereka itulah yang membawa kemuliaan di dunia & kemuliaan di akhirat. Ibnu Umar ra. berkata, Aku datang menemui Rasulullah bersama sepuluh orang, lalu salah seorang dari kaum Anshar bertanya, "Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, 'Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah orang-orang cerdas. Mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kemuliaan akhirat."  (HR Ibnu Majah).

Seberapa banyak kita mengingat kematian dalam hidup kita? Hanya diri kita sendirilah yang tahu berapa kali kita bertanya.  Jika kenyatannya kita masih sangat sedikit dalam mengingat kematian di tengah kesibukan dan semua urusan duniawi kita.  Maka perkenankan saya mengajak kepada teman2 semua, sekali waktu kita mengingat bahwa suatu saat kita akan mati. karena kita tidak pernah tahu, kapan kematian mendatangi kita. Apa kita mau disaat kita dalam keadaan lalai, kematian datang menjemput? 

Karena mengingat mati akan membuat kita seakan punya rem dari berbuat dosa. hingga di mana saja dan kapan saja kita akan senantiasa akan selalu terarahkan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat kita. Mengingat kematian juga merupakan satu cara yang sangat efektif untuk dapat menaklukan dan mengendalikan diri kita. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad 'Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian.' (HR. Tirmidzi).

Wassalam,
M. Agus Syafii
========= ========

2.

Nyanyi Rindu Pohon Randu…

Oleh: Ietje Sri Umiyati Guntur

Dear Allz….
 
Hehehe…belum menyapa, saya sudah nyengir duluan…Kebiasaan yang sulit dihilangkan niiih….Aaaah, mau Tanya-tanya dulu aja , ya : Apa kabar semua teman dan sahabatku ?
 
Semogaaaa…di hari baik dan bulan baik ini, semua teman dan sahabatku dalam keadaan yang sehat-sehat dan ceria. Sehat dan ceria itu kan artinya sehat lahir batin. Tidak hanya sehat di luar, sehat fisiknya, hatinya juga riang gembira….Kata para ahli, hati yang gembira membuat kita sehat dan awet muda. Percaya khaaan ? Jadi memang sebaiknya, kita berusaha untuk selalu gembira…paling tidak ya, tersenyumlah kepada saya…J
 
Eeeeh, lama juga ya kita nggak ngobrol-ngobrol ? Seminggu…dua minggu…waaah, hampir sebulan saya tidak mengudara. Nggak usah pakai maklum-maklum deh…sudah ketahuan alasannya…hehehe. Alasan si kaki seribu yang suka pergi kemana saja…mengikuti arah angin…Hmmh…asalkan arah anginnya tetap terarah, tidak asal jalan dan asal terbang kian kemari…Seperti serat pohon randu yang diterbangkan angin…
 
Ahaaaa….mumpung ngomong tentang serat pohon…eh, maksud saya serat buah randu. Sudah pernah tahu ? Itu lhooo…si kapuk yang jadi teman tidur kita, pengisi bantal dan pengantar ke alam mimpi. Si kapuk randu ini punya banyak cerita, yang barangkali terlewatkan oleh kita. Kali ini, boleh saya sampaikan cerita tentang sebatang pohon randu ?
 
Kalau boleh….mariiiiiii…kita duduk-duduk dulu…santai dulu…sambil menunggu waktu bergulir. Sambil menunggu akhir pekan yang sudah di depan mata. Beginilah ceritanya….hehe…
 
Selamat menikmati…semoga berkenan….
 
 
Jakarta, 29 September 2011
Salam hangat,
 
 
Ietje S. Guntur
 
♥♥♥

 
 
NYANYI  RINDU  POHON  RANDU…
 
Saya sedang berlibur. Eeeh…tepatnya sedang bertugas, sambil menikmati suasana…Mirip liburan.  Biasa begitu…sambil menyelam minum air…hehe…  Menikmati kebersamaan dengan sahabat-sahabat saya.  Sambil menjalankan tugas, kami pun dapat bersantai menikmati suasana dari atas bukit. Maklum tempatnya juga asyik untuk berlibur. Namanya Bukit Randu, di Lampung.
 
Sesuai dengan namanya, lokasi tempat saya dan sahabat-sahabat saya menginap memang merupakan kawasan yang banyak pohon randu. Pohon yang tinggi menjulang, dengan buah-buah yang bergantung seperti lampu hias berwarna kehijauan. Di bulan Agustus seperti ini, pohon randu atau dikenal juga dengan sebutan pohon kapuk, memang sedang musim buah. Tapi berbeda dengan pohon lain yang enak dimakan buahnya, justru pohon randu ini lebih bermanfaat serat buahnya untuk pengisi kasur dan bantal.
 
Entah kenapa, setiap kali melihat pohon randu, dengan buah-buahnya yang rapi berjejer di dahan dan rantingnya, saya selalu merasa terharu.  Pohon yang tampak kokoh, tidak banyak berhias daun. Sekilas  tampak gersang, namun selalu dipenuhi dengan buah yang bermanfaat. Angan saya pun melayang…melewati lembah dan bukit…melewati puncak bukit Randu yang temaram di dalam pelukan malam….
 
 
 
Ingat pohon randu, saya jadi ingat ketika pertama kali melihat buah randu pecah dan seratnya bertebaran seperti salju. Sebagai anak yang dibesarkan di Sumatra saya nyaris tidak pernah memperhatikan kehadiran pohon randu  di sekitar saya. Maklum, di Sumatra terlalu sering musim hujan, sehingga buah kapuk selalu tampak hijau, tapi tidak menarik untuk dipetik. Bagi saya, dan sebagian besar anak-anak pada masa itu, pohon yang menarik adalah pohon yang bisa dipanjat dan dipetik buahnya. Pohon randu ? Apanya yang mau dipanjat ? Buah apanya yang mau dipetik ?
 
Ketika liburan sekolah saat masih SD, kami berkunjung ke kampung halaman ayah saya di Jawa . Saat itu bulan Agustus, dan sedang terik-teriknya cuaca di sebagian besar pulau Jawa. Saya melihat ada sebatang pohon  yang tinggi sekali. Dan tiba-tiba ketika angin bertiup, buahnya seperti meledak…lalu serat kapuk itu bertaburan.  “ Itu pohon randu. Pohon kapuk ! Yang isinya untuk bantal di rumah,” kata ibu saya menjelaskan, melihat saya terheran-heran.
 
Betul. Saat itu saya  hanya terpana. Kagum. Belum pernah saya melihat pohon kapuk yang berbuah dan pecah seperti ini . Dalam hitungan detik, saya tersadar. Terbakar oleh kegembiraan. Lalu bersama dengan anak-anak kecil lainnya, kami berlarian mengejar serat-serat kapuk yang beterbangan kian kemari . Rasanya sangat senang ketika serat kapuk mendekat, lalu ketika hampir mencapai ketinggian yang terjangkau, ditiup lagi dengan sekuat tenaga….Serat kapuk  akan terbang lagi semakin tinggi…dan kami tidak bosan mengejarnya sampai kelelahan sendiri…hehehe…
 
Begitulah…masa libur saya di Jawa, dan di sudut-sudut kota Jakarta yang kala itu masih mirip dengan kampung besar  hampir setiap hari saya isi bersama teman-teman sebaya, sambil berkejar-kejaran dengan kapuk yang beterbangan. Saat itu juga saya baru tahu, bahwa kapuk yang setiap malam menemani saya tidur di dalam buntalan kasur dan bantal serta guling berasal dari buah pohon randu.
 
 
Memang kapuk, atau randu yang nama kerennya Ceiba pentandra adalah bahan utama pengisi kasur atau tilam untuk tidur. Kapuk ini memang tanaman tropis, dan berasal dari Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Karibia. Mungkin kedatangannya ke Indonesia juga berkat perjalanan para penjelajah samudra, yang kemudian mengembangkannya di Nusantara.
 
Seratnya yang empuk dan dapat menahan berat tubuh serta mengalirkan udara di antara tumpukan seratnya membuat kapuk menjadi pilihan utama yang cukup aman dan nyaman dibandingkan dengan bahan sintetis. Kapuk ini dapat bertahan cukup lama sebelum dia menjadi dingin atau mengeras. Biasanya, untuk membuat kasur dan bantal kapuk menjadi empuk dan gembur, maka kita harus sering menjemurnya di bawah sorotan panas matahari. Setelah kapuk di dalam buntalan atau sarung kasur menjadi kering, maka udara akan mengalir lagi di sela-selanya, dan kasur pun empuk kembali.
 
Jadi ingat juga niiiiih….duluuuu banget, jaman saya SMP dan SMA, tugas menjemur kasur setiap minggu adalah tugas saya. Kadang dibantu oleh salah seorang adik saya. Entah karena saya kelebihan tenaga, atau karena memang jatah anak sulung…( hahaha)…ayah saya selalu menyuruh saya mengangkut kasur kapuk itu untuk dijejer di halaman dan dijemur. Lalu…sambil menunggu kapuk mengering, maka  kami akan memeriksa celah-celah jahitan buntelan atau sarung kasur. Biasanya di situ suka bersarang kepinding atau tumbila, yang mirip kutu, dan kadang iseng menggigiti manusia.
 
Sambil menjemur  kami juga harus menebah-nebah kasur. Dipukuli dengan tebah terbuat dari jalinan rotan yang mirip dengan raket bulutangkis. Tujuannya agar debu yang melekat dan segala mahluk penghuni kasur akan pergi…hehe…Selain itu tentu agar kasur menjadi empuk. Memang…setelah dijemur dan dipukuli, malamnya saya akan tidur lebih nyenyak. Dengan kasur lembut dan hangat. Dan tentu saja…dengan mimpi yang lebih berwarna…hmh….
 
Dipikir-pikir, lucu juga yaaaa…rekreasi hari libur kok menjemur dan memukuli kasur kapuk…hahahaha…
 
 
Ngomong-ngomong tentang pohon randu , memang sekilas pohon ini biasa saja. Bukan pohon idaman produktif yang bisa diambil kayunya , semisal pohon jati atau kayu yang dapat dimanfaatkan untuk rumah dan perabotan lainnya . Atau seperti pohon beringin  rindang yang sering menjadi tempat berteduh.
 
Pohon randu yang nyaris gersang, dan berdaun agak jarang, membuat dia hanya ditanam untuk dipanen sekali setahun. Sebagai pengisi kasur dan bahan pelapis lainnya. Baru belakangan, setelah diketahui manfaatnya, dia mulai ditanam secara komersial dan menjadi komoditi andalan untuk meningkatkan ekonomi. Di beberapa daerah di Jawa, kapuk merupakan salah satu penyumbang ekonomi bagi perkembangan daerah. Sehingga namanya pun dikenal sebagai kapuk Jawa.
 
Khusus di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, para petani sering memanfaatkan siklus pohon randu sebagai penanda musim. Yaitu musim tanam dan musim panen. Biasanya di bulan-bulan Januari-Maret pohon randu akan mulai berdaun hijau, karena dia banyak menyerap air dari musim hujan. Para petani yang mengamatinya akan  mulai bercocok tanam, terutama padi mengikuti siklus daun pohon randu ini.
 
Dan ketika pohon randu mulai merontokkan daun-daunnya, saat buahnya mulai matang, maka pada saat itulah petani akan memanen hasil sawahnya. Musim panen biasanya dilakukan pada bulan Juli sampai September atau awal Oktober,  pada saat kemarau,  di mana matahari sedang memancar dengan teriknya .
 
Berabad-abad kebiasaan mengikuti siklus randu ini membuat para petani di Jawa juga menanam pohon randu di halaman rumahnya, atau di tegalan sawahnya. Bahkan hingga saat ini, ketika musim sudah berubah-ubah, dan jenis padi yang ditanam tidak membutuhkan waktu panjang, para petani masih bersahabat dengan pohon randu. Unik juga, ya…
 
 
Bertahun kemudian, selama tinggal di Jakarta, saya masih suka mengamati pohon randu. Memang sekarang jumlahnya tidak sebanyak bertahun-tahun lalu. Pohon randu dan banyak pohon lainnya harus berebut tempat dengan perumahan penduduk. Tapi seringkali, di sela-sela rumah yang berhimpitan, tampak sebatang pohon randu menjulang, dan sesekali melepaskan serat kapuknya yang mirip salju. Dan di antara ranting-rantingnya biasanya burung-burung akan berkicau riang, sambil mematuk ulat-ulat pohon randu yang konon cukup lezat cita rasanya…
 
Ahaaa…Barangkali juga, karena bentuknya yang gersang itu, pohon randu atau kapuk justru banyak member ilham bagi seniman. Banyak puisi dan lagu yang menceritakan tentang pohon randu ini. Kadang-kadang sisi jiwa seni saya pun tergerak melihat pohon randu. Entah mengapa, kegersangan pohon randu terkadang membuat hati tergelitik. Seperti melihat seseorang yang sedang kesepian di tengah keramaian. Aaachh…romantis sekali…
 
Itu sebabnya juga saya sering merasa sedih bila melihat pohon randu ditebang tanpa alasan yang jelas. Mungkin dia memang tidak produktif. Tapi saya yakin burung-burung masih suka bertengger dan bernyanyi di dahannya sambil mematuk-matuk ulat yang menjadi makanannya.
 
Seperti saat ini, ketika melihat sebatang pohon randu di Jakarta Selatan, yang ditebang dengan semena-mena. Hati saya rasanya teriris. Ingat burung-burung yang bernyanyi riang. Ingat petani yang mengandalkan siklus randu untuk penanda musim , ingat keceriaan masa kanak-kanak ketika berlarian mengejar serat-serat buahnya…oooh…
 
Menatap pohon randu yang telah rebah, hati saya pun tergugah. Usia perjalanannya memang telah usai. Tapi selama dia berdiri gagah di sana, dia telah memberikan kehidupan banyak sekali kepada mahluk lain di sekitarnya. Bahkan ketika dia telah menjadi potongan kayu-kayu kecil, ia masih kuat untuk dibuat pagar atau bahan bakar untuk masak.
 
Saya termenung. Sebatang pohon randu yang biasa-biasa saja telah memberi hidupnya dengan banyak manfaat. Sekarang…apa yang sudah kita berikan kepada kehidupan ini ? Apakah kita sudah memberikan kegembiraan kepada lingkungan kita ? Apakah kita sudah menjadi panutan bagi sekitar kita ? Apakah kita cukup kuat untuk menjadi pelindung dan pagar bagi orang yang kita sayangi dan kita cintai ???...

Aaaah…semoga saja…Ada ilmu yang dapat kita pelajari dari sebatang pohon randu yang bernyanyi rindu…
 
 
Jakarta, 29 September 2011
 
Salam hangat,
 
 
Ietje S. Guntur
 
 
Special note :
Terima kasih untuk sahabat perjalananku…mb Irma dan Mey…Ingat saat yang lucu di Bukit Randu, ya….hehehehe…sangat inspiratif…J…Terima kasih juga untuk sebatang pohon randu di Senayan, yang menjadi inspirasi tulisan ini…


Senin, 03 Oktober 2011

Bottle-neck!

Oleh: Andre Vincent Wenas


“Ambition is the main driving power of men. A man expends his abilities as long
as he hopes to rise. One can never set limits to one’s capacity.” – Napoleon
Bonaparte, Memoirs.

***

“Ekonomi mendorong terjadinya globalisasi, terutama melalui turunnya biaya
komunikasi dan transportasi. Namun politiklah yang membentuknya. Aturan
permainan secara luas telah ditetapkan oleh negara-negara industri maju – dan
biasanya ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu dari negara-negara
tersebut – dan, tak perlu heran, mereka telah membentuk globalisasi demi
mengembangkan kepentingan mereka sendiri.” – Joseph E. Stiglitz, Making
Globlization Work, 2006.

***

    Dalam perdagangan internasional siapa pun tahu bahwa fungsi pelabuhan laut
sangatlah imperatif. Seperti mulut dan leher botol ia merupakan pintu keluar dan
masuk barang-barang impor maupun ekspor. Kapasitas besaran “mulut/leher botol”
(baca: pelabuhan) akan menentukan kecepatan aliran dan besaran arus barang yang
pada akhirnya akan menentukan besaran total (volume) perdagangan di suatu
periode tertentu.

    Dan mengenai kinerja “mulut botol” ini, kita coba tilik satu kasus
bisnis yakni Tanjung Priok yang merupakan landmark pelabuhan di Indonesia yang
bertanggungjawab atas sekitar 65 persen arus impor-ekspor nasional. Di pelabuhan
utama Indonesia ini – menurut data Pelindo (Jakarta Post, March 22, 2011) – ada
tiga terminal container yang masing-masing pengelolanya sebagai berikut:
Terminal 1 dan 2 dikelola oleh JICT (Jakarta International Container Terminal)
dan Terminal kontainer Koja. Kecepatan aliran container di ketiga terminal ini
hanyalah 9-10 kontainer per jam, sehingga kapal jadi mesti menunggu paling cepat
empat hari untuk loading/unloading muatan kontainernya. Sehingga ALI (Asosiasi
Logistik Indonesia) menyebutkan bahwa biaya logistik di Indonesia adalah salah
satu yang tertinggi di ASEAN, yakni pada angka 25-30 persen dari GDP. Bahkan
hasil survey Bank Dunia tentang Logitic Performance Index (LPI) telah
menempatkan Indonesia diurutan ke-75 dari 155 negara yang disurvey. Sebagai
perspektif, Malaysia di posisi ke-29, Thailand ke-35, Filipina ke-44, dan Vietnam
ke-53. Survey Bank Dunia mengenai indeks kinerja logistik negara ini diantaranya
mencakup beberapa faktor: efisiensi custom-clearance dan period of shipment
deliveries yang sebagiannya tergantung pada efisiensi pengoperasian pelabuhan.

    Saat ini di Indonesia ada empat operator pelabuhan: Pelindo I berbasis di
Medan Sumatera Utara, Pelindo II di Jakarta, Pelindo III di Surabaya dan Jawa
Timur, serta Pelindo IV di Makassar Sulawesi Selatan.

    Dilatarbelakangi oleh lemahnya infrastruktur/peralatan penanganan material
di pelabuhan (port materal-handling equipments)  ini lah akhirnya PT Pelindo II
berencana merealisasikan US$342 juta (atau sekitar 3 trilyun rupiah) dalam
belanja modal (capital expenditure)nya demi mendongkrak kapasitas
terminal-terminalnya. Misalnya Tanjung Priok akan menyerap 2,7 trilyun rupiah
demi membeli 47 unit peralatan berat seperti luffing-cranes, dan
quay-container-cranes untuk menunjang kecepatan aktivitas bongkar-muat kontainer
di pelabuhan. Sementara ini, Tanjung Priok menangani sekitar 4,61 juta TEU
(twenty-foot equivalent units) kontainer  selama tahun 2010 kemarin. Kinerja
2010 ini adalah peningkatan signifikan (21%) dari kinerja tahun 2009 yang
sebesar 3,8 juta TEU. Lompatan di tahun 2010 kemarin cukup fenomenal lantaran
dibanding tahun-tahun sebelumnya tingkat pertumbuhannya cuma 2-3 persen.
Rehabilitasi besar-besaran di kawasan Tanjung Priok  demi mengejar
ketertinggalannya juga akan diikuti dengan ekspansi container-piling-yards yang
bakal mentransformasikan keberadaan 13 gudang yang ada sekarang dengan biaya
115,1 milyar rupiah. Penguatan dermaga-dermaga seluas total 20 hektar juga mesti
dilakukan dengan anggaran 82,9 milyar rupiah. 

    Selain itu, demi melebarkan kapasitas pelabuhan, Pelindo II juga segera
bakal memulai mega-proyeknya membangun konstruksi terminal kontainer Kalibaru
Utara sebagai bagian dari pengembangan jangka panjang pelabuhan Tanjung Priok.
Investasi proyek Kalibaru Utara ini bernilai 22 trilyun rupiah! Terminal ini
bakal mempunyai panjang total 3500 kilometer dan dialokasikan untuk kargo minyak
dan gas. Terminal baru ini juga bakal melipatgandakan kapasitas terminal yang
saat ini sekitar  6 juta TEU menjadi 11 sampai 12 juta TEU di tahun 2016.
Peningkatan kapasitas pelabuhan ini bukan hanya di Jakarta (Tanjung Priok) tapi
juga akan merambah ke pelabuhan-pelabuhan di Palembang, Pontianak dan Bengkulu,
dengan total dana investasi yang disiapkan sebesar 1,5 trilyun di tahun depan.

***

    Pelabuhan merupakan mulut/leher botol di mana kegiatan ekonomi khususnya
perdagangan antar pulau dan antar negara terjadi dalam kenyataannya. Arus fisik
barang bakal bergerak melalui pelabuhan satu ke pelabuhan yang lain. Kemacetan
di leher/mulut botol di pelabuhan-pelabuhan Indonesia ini merupakan tantangan
besar perdagangan domestik (inter-islands) maupun perdagangan antar-bangsa
(inter-nations). Janganlah sampai kita mencekik leher kita sendiri!

-----------------------------------------------------------------------
(artikel dari Majalah MARKETING edisi April 2011)



STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Business Advisory & Management Consulting

Bermasalah Dengan Bawahan

 Oleh:  Dadang Kadarusman
 
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
 
Kita semua tahu bahwa hubungan antara atasan dengan bawahan sangat menentukan keutuhan unit kerja dan efektivitas kepemimpinan. Maka membangun hubungan yang baik dengan bawahan atau atasan merupakan kondisi yang tidak bisa ditawar lagi. Masalahnya, ego sering mengungguli semua pertimbangan akal sehat. Jadi, meski mengerti, kita sering tetap terjebak dalam hubungan yang tidak sehat. Bagaimana seandainya Anda mengalami hal ini?
 
Chatting di blackberry sering berisikan topik tentang ketidakpuasan bawahan kepada atasannya. Atau kekesalan atasan kepada bawahannya. Bisa dibayangkan jika atasan merasa tidak cocok dengan bawahannya, dan sebaliknya. Hampir bisa dipastikan jika hubungan mereka cepat atau lambat akan berakibat pada memburuknya kinerja yang dihasilkan. Itu jika hubungan yang buruk tidak segera diperbaiki. Makanya, penting untuk segera mengupayakan perbaikan hubungan. Khususnya jika Anda berperan sebagai atasan. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memperbaiki hubungan dengan bawahan, saya ajak memulainya dengan menerapkan 5 prinsip Natural Intellligence berikut ini:
 
1.      Yang butuh harus lebih proaktif. Jika kita berada pada posisi ‘membutuhkan’, maka kitalah yang harus lebih gigih mengusahakan pemulihan hubungan. Lho, kalau saya tidak butuh, bagaimana? That’s your call. Tapi, apakah iya Anda tidak membutuhkan orang lain? Sebagai atasan, Andalah yang lebih membutuhkan baiknya hubungan dengan bawahan. Kalau Anda tidak bisa membangun hubungan yang baik dengan bawahan, kinerja mereka bisa berantakan. Bukankah kinerja Anda sangat dipengaruhi kinerja bawahan? Lantas, kalau saya bawahan, bagaimana? Its your call juga. Tapi, sebagai bawahan, Andalah yang lebih membutuhkan terjalin baiknya hubungan dengan atasan. Kalau Anda tidak bisa membangun hubungan yang baik dengan atasan, penilaian dan masa depan karir Anda dipertaruhkan. Bukankah atasan Anda mempunyai kewenangan yang lebih besar dari Anda? Makanya, fokus saja pada usaha memperbaiki hubungan. Tanpa mempermasalahkan posisi dan jabatan.  
 
2.      Mawas diri atas semua tindakan.  Tidak mudah untuk mengaku salah kepada orang lain. Meski hati kecil menyadarinya kita sering merasa berat untuk menyatakannya. Apalagi jika kita sendiri pun tidak menyadari telah melakukan kesalahan. Makanya, dibutuhkan kebesaran hati untuk mawas diri atau mengevaluasi jangan-jangan tindakan atau perlakuan kita kepada orang lain memang belum tepat. Sama seperti halnya Anda yang sebal kepada orang yang ngotot dengan kebenarannya sendiri, maka orang lain juga sebal jika kita tidak mau mawas diri. Jadi, biasakanlah untuk mawas diri supaya bisa memastikan bahwa kita sudah bersikap dan bertindak secara tepat dalam hubungan yang sedang bermasalah itu.  
 
3.      Meminta maaf jika memang kita salah. Menyadari kesalahan adalah sebuah tindakan yang besar. Namun, belum cukup besar jika tidak didukung oleh kesediaan untuk meminta maaf. Kesadaran itu baru akarnya, sedangkan keberanian untuk meminta maaf adalah batangnya. Perdamaian adalah daunnya. Ketentraman adalah salah satu buahnya. Tanpa permintaan maaf, kita tidak bisa mendapatkan kebaikan yang kita harapkan. Bukan mohon maaf ketupat lebaran maksud saya, melainkan maaf yang memang Anda lakukan secara khusus tepat pada saat Anda menyadarinya. Jangan menyepelekan kesalahan kepada bawahan, karena boleh jadi apa yang kita lakukan 10 tahun lalu masih terasa segar dalam ingatannya. Apalagi jika sekarang Anda masih bersama sang bawahan. Maka meminta maaf bisa menjadi sarana untuk mencairkan suasana yang kaku. Dan boleh jadi, kinerja team segera pulih kembali.
 
4.      Terus berinisiatif berbuat baik. “Saya sudah berusaha memperbaiki hubungan, tapi bawahan saya tidak menunjukkan itikad untuk memperbaiki dirinya juga.” Seperti halnya unconditioned love, usaha memperbaiki hubungan dengan bawahan juga membutuhkan ketulusan. Jika Anda melakukannya dengan harapan bawahan Anda akan melakukan hal yang sama, maka Anda tidak berlebihan. Tapi, jika Anda berhenti bersikap atau berbuat baik hanya karena bawahan Anda tidak merespon balik dengan perilaku baik yang Anda harapkan, mungkin Anda belum benar-benar tulus.  Tugas kita bukanlah untuk menjadikan orang lain baik, melakinkan menghimbau dan memberi keteladanan kepada mereka. Jika kita berhenti baik karena mereka buruk, maka mereka tidak melihat alasan yang kuat untuk mengikuti ajakan kita. Tapi, kalaupun mereka ngotot dengan keburukannya, maka minimal; kita tidak terpancing untuk menjadi pribadi yang buruk juga. So? Teruslah berinisiatif untuk berbuat baik.
 
5.      Berfokus kepada kinerja. Hubungan dengan bawahan berbeda dengan hubungan yang terjalin dengan orang yang tidak memiliki ikatan kerja. Maka apapun yang terjadi, sikap profesional harus terus dijaga. Sekalipun bawahan Anda tidak merespon pesan dan perilaku baik Anda selama ini, maka soal kinerja Anda tidak bisa memberinya toleransi. Jika memang hubungan pribadi Anda sudah menjadi sedemikian buruknya dengan bawahan, sudah tidak usah dipikirkan terlalu panjang. Asal Anda bisa pastikan bahwa biang keburukan hubungan itu bukan dari Anda sambil tetap membuka diri untuk berdamai. Tapi soal kinerja? Maaf, itu tidak boleh terganggu oleh masalah antara Anda dan bawahan Anda. Ada SOP dan ada tuntutan kerja sesuai dengan kesepakatan dengan perusahaan.
 
Hubungan antara atasan dengan bawahan tidak bisa dibangun hanya satu arah. Dua-duanya harus memiliki komitmen. Tetapi bagaimanapun juga, Anda harus menjadi orang yang teguh memegang komitmen untuk membangun hubungan baik itu. Jika Anda tetap gagal mengajaknya untuk membangun komitmen yang sama, tugas Anda sudah tuntas. Dan kewajiban Anda, sudah ditunaikan hingga lunas.
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman  20 September 2011
Penulis buku ”Natural Intelligence Leadership” (jadwal terbit Oktober 2011)
 
Catatan Kaki:
Memimpin bukan sekedar mencapai hasil, tetapi juga soal membangun hubungan. Jika Anda memiliki kesediaan untuk selalu memperbaiki hubungan dengan orang lain, maka Anda memang layak untuk menjadi seorang pemimpin.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahalanya Anda dapat secara penuh.
 
Jika pertanyaan-pertanyaan Anda belum mendapatkan jawaban dari saya, silakan untuk mengeceknya di  Frequently Asked Question (FAQ) dalam website kami.

Manajemen Kinerja

Oleh: Andre Vincent Wenas


...demi meningkatkan kinerja perusahaan yang semakin besar (dalam
jumlah orang), banyak yang mulai mencoba menerapkan manajemen kinerja, demi berusaha melakukan pengukuran seobyektif mungkin terhadap kinerja tim. Namun tidak jarang pula malah terjadi keresahan dan ketidakpuasan di antara anggota tim dengan para manajernya. Karenanya perlu diperhatikan prakondisi yang diperlukan agar penerapan manajemen kinerja ini bisa berdampak positif.

Salah satu tantangan terberat pemimpin bisnis adalah mengelola dan menyambungkan kinerja anggota timnya dengan kinerja organisasi secara keseluruhan. Baiklah disadari sejak mula, bahwa Anda sebagai pimpinan seorang diri hanya dapat meningkatkan kinerja sedikit saja. Para karyawan masing-masing juga hanya bisa memperbaiki kinerja sedikit saja. Namun demikian, ketika Anda bersama karyawan Anda bersatu dalam pihak yang sama dan bekerja bahu-membahu, maka Anda pasti mampu meningkatkan kinerja secara signifikan. Hukum sinergi menjanjikan pertumbuhan eksponensial.

Sebagai langkah awal, perlu di    pahami serta diwaspadai sungguh-sungguh
terlebih dahulu, apa yang seharusnya dilakukan dalam manajemen kinerja dan apa yang tidak seharusnya dilakukan olehnya.

Kita mulai saja dari yang tidak seharusnya dilakukan dalam pelaksanaan manajemen kinerja. Bahwa manajemen kinerja bukanlah cara untuk mengancam dan mengintimidasi karyawan supaya kinerjanya lebih produktif. Juga, manajemen kinerja bukanlah suatu metode untuk menyalahkan dan mencari-cari kesalahan karyawan. Dan yang penting sekali, bahwa manajemen kinerja bukan sarana untuk menyerang kepribadian dan sikap karyawan.

Jadi, apa itu manajemen kinerja? Ringkasnya, manajemen kinerja adalah
seperangkat alat dalam aspek pengelolaan SDM yang digunakan untuk mengoptimalkan tingkat keberhasilan tiap karyawan. Bahkan bukan hanya setiap karyawan, tetapi ia juga berfungsi untuk mengoptimalkan kinerja setiap unit kerja, kinerja para manajernya dan akhirnya kinerja organisasi secara menyeluruh.

Perlu pembaharuan cara pikir, bukan dengan menoleh ke belakang (kita sering
menyebutnya: menajemen kaca spion), namun dengan suatu gagasan cerdas untuk membangun kesuksesan sekarang ini dan terus ke masa depan. Kunci keberhasilan penerapan manajemen kinerja adalah komitmen keseharian para pimpinan bersama dengan seluruh tim untuk membuka jalur komunikasi dua arah, alias dialog. Bukan monolog (satu arah) atau duolog (dua pihak saling bicara tanpa ada yang mendengar!). Hati-hati, manajemen kinerja bukanlah suatu perkara yang ramai dibicarakan hanya di akhir semester pada saat penilaian karya. Namun, manajemen kinerja adalah proses komunikasi terus-menerus (on going communication process).

Beberapa prakondisi untuk menerapkan manajemen kinerja dari Robert Bacal
(bukunya: How to Manage Performance, McGraw-Hill, 2004) baik disimak: pertama, manajemen kinerja butuh investasi Anda sebagai pimpinan. Investasi waktu, pikiran dan kehadiran Anda. Manajemen kinerja di satu sisi sebetulnya tidaklah terlalu sukar. Memang ada bagian-bagian yang membutuhkan keterampilan tertentu, misalnya menterjemahkan dan menurunkan tujuan strategis perusahaan beserta indikasi ukuran keberhasilannya sampai menjadi indikasi ukuran keberhasilan tiap unit kerja, dan akhirnya diturunkan menjadi indikasi ukuran keberhasilan setiap individu karyawan. Berjenjang dari atas sampai karyawan di lapangan.

Kedua, adalah rasa tanggung-jawab bersama (shared responsibility). Agar rasa
tanggung-jawab bersama ini muncul, syaratnya adalah keterbukaan atau
transparansi, komunikasi dua arah. Jangan ada informasi yang terdistorsi oleh
pelbagai kepentingan yang de facto bisa berakibat kontra-produktif. Distorsi
informasi ini misalnya: laporan ABS, laporan tentang kejelekan karyawan lain
(tanpa didukung data) sehingga mengakibatkan keharmonisan kerja terganggu.
Ajak dan gugah tim Anda agar jadi bagian dari solusi (problem solver), bukan
sekedar jadi pelapor masalah (problem reporter). Apa lagi kalau yang dilaporkan cuma keburukan atau kekurangan seseorang atau unit kerja tertentu. Sepakati bersama, bahwa yang didefinisikan sebagai suatu masalah dalam organisasi adalah: adanya kesenjangan (gap) antara target (standar) dengan kenyataan yang ada. 
Sehingga setiap orang disemangati untuk berani mengemukakan masalah, bukan menyembunyikannya.

Ketiga, senantiasa hargai dan dorong tim agar berani menyampaikan pendapat,
berargumentasi dan bahkan memakai hikmat (wisdom)nya masing-masing. Apalagi jika Anda memimpin tim yang berpengetahuan serta berketerampilan tinggi. Mereka perlu apresiasi bukan sinisme.

Senin, 19 September, 2011 06:46

============= =========
Catatan:  Artikel ini dikontribusikan oleh Kontributor ke milis The Managers Indonesia setelah pemuatan di salah satu media cetak. Jika di kemudian hari terdapat sengketa Hak atas Kekayaan Intelektual menjadi tanggung jawab sepenuhnya oleh Kontributor

Tidak Melakukan Apapun – Bisakah Anda?

Hore, Hari Baru! Teman-teman.
 
Today is Monday. And I swear I am not going to do anything. Why? Because people says that Monday is hari malas sedunia katanya ya kan? Males banget mau pergi kekantor hari senin. Makanya we don’t like Monday. Biasanya kita disarankan untuk mengubah kalimat itu menjadi I like Monday!. Memang, kalimat-kalimat positif bisa membantu kita untuk menaikkan kadar energi positif juga. Namun, apa salahnya sih jika sesekali kita males-malesan juga? Kalau saya mau tidak melakukan apapun, so what? Sebentar dulu, masalahnya…; apakah benar saya bisa tidak melakukan apapun juga?
 
Ketiga ABG kami sangat menggemari lagunya Bruno Mars, The Lazy Song. Kalau ada lagu itu, mereka ikut menyanyikannya juga. Saya? Secara kita kan mantan vocalis paduan suara SMA, gitu loh. Nyanyi juga dong. Kan lagunya asyik banget. Anehnya, setiap kali saya mendengar lagu itu, sama sekali tidak ada rasa malas. Saya malah menjadi lebih bersemangat, meneruskan apa yang sedang saya lakukan sambil ikut bersenandung. Ternyata, motivasi bisa didapatkan dimana saja. Bahkan ketika kita sedang menyanyikan lagu tentang kemalasan. Jangan-jangan, dengan berperilaku malas pun kita bisa bersemangat, kali ya? Soal ini saya serius. Marilah sesekali kita melihat ‘kemalasan’ dari sisi positifnya. Pasti ada pelajaran yang bisa kita petik.  Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar males-malesan (bukan males beneran), saya ajak memulainya dengan menerapkan 5 prinsip Natural Intellligence berikut ini:
 
1.      Kita tidak bisa tidak melakukan apapun. Today, I don’t feel like doing anything. Sungguh, saya sudah mencoba melakukannya. Tapi, ternyata saya tidak tahu bagaimana cara ’tidak melakukan apapun’ itu. Saat saya diam, saya ’sedang melakukan sesuatu’. Waktu melamun, saat luntang-lantung, sebut saja apa. Semua itu adalah ’doing thing’, melakukan sesuatu. Jadi bagaimana sih ’tidak melakukan apapun’ itu? Kasih tahu saya jika Anda berhasil menemukannya. Saya ingin mencoba ’tidak melakukan apapun’. Karena sampai sekarang saya percaya bahwa kita, tidak bisa tidak melakukan apapun.
 
2.      Penuhi komitmen kepada orang lain.  Apapun yang kita lakukan atau tidak kita lakukan adalah hak kita. Terserah kita dong. Yang penting, kita kan tidak mengganggu atau merugikan orang lain. Betul tidak? Iya, kan. Kita sepakat soal itu. Nah, kalau kita sepakat, berarti kita juga setuju untuk mencegah jangan sampai orang lain terganggu ketika kita sedang ‘tidak melakukan apapun’. Makanya, sebelum mulai ‘tidak melakukan apapun’ itu, mari kita tunaikan dulu kewajiban kita kepada orang lain. Mungkin atasan kita. Mungkin bawahan kita. Mungkin kolega kita. Mungkin pelanggan kita. Siapapun. Pokoknya, mari tuntaskan dulu tanggungjawab kita kepada orang lain, sebelum kita memulai program ‘not doing anything’ itu. Why? Kan kita sudah sependapat untuk memenuhi komitmen kita kepada orang lain.    
 
3.      Berbaring tidak berarti tidak melakukan apapun. Sudah ditunaikan semua komitmen pada orang lain. What next? I just wanna lay in my bed. Yuhuuu, itu adalah lirik terfavorit saya. Kayaknya asyik banget deh kalau cuma berbaring ditempat tidur. Tapi, berbaring di tempat tidur tidak berarti tidak melakukan apapun. You can bring your botebook along. Dan melakukan sesuatu yang memberi nilai pada hidup. Meskipun Anda bukan penyair, sesekali boleh juga menorehkan sebait puisi yang bisa menginspirasi. Malas membawa desktop PC ke tempat tidur? Wajarlah. Berat, Bok! Ambil pensil dan kertas kosong. Goreskan  gagasan apapun meski masih samar-samar. Lagi gak bisa mikir! Tak apa juga. Tidak usah mikir deh, kalo gitu. Mendingan merenung aja. Melihat kedalam diri. Berkata jujur pada nurani. Lalu bikin komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Semuanya itu, bisa kita lakukan sambil ’I just wanna lay in my bed....”
 
4.      Putus hubungan dengan dunia luar. Terlalu banyak interupsi yang kita alami sepanjang hari-hari yang kita lalui. Meski tidak bertemu dengan orangnya. Don’t like picking up your phone!. Bukan sekedar telepon, tetapi semua alat komunikasi yang memberi celah kepada orang lain untuk memasuki ruang pribadi kita. Coba saja, cek sekali lagi; berapa kali pekerjaan yang sedang Anda lakukan terkena interupsi oleh bunyi ‘beeep…’ dari blackberry Anda? Berbahaya lho itu. Pekerjaan Anda berkali-kali tertunda. Lalu kita menyalahkan pekerjaan yang terlalu banyak, atau gaji kecil, atau atasan yang kurang membimbing sebagai biang keladi kegagalan kita menyelesaikan tugas itu. Saat kita ingin sendiripun begitu. Tidak akan berhasil, jika ditengah kesendirian yang kita bangun itu, kita masih membiarkan pesan-pesan tak penting dari orang lain menembus dinding kamar kita. So, putuskan hubungan dengan dunia luar. Sampai Anda benar-benar siap untuk membangunnya kembali.
 
5.      Anda boleh melakukan apapun. No body’s gon’ tell me I can’t. Oh, yes I said it ‘cause I can. Tak seorang pun bisa melarang kita untuk melakukan apapun yang kita inginkan. Toh sebagai orang dewasa kita memiliki tanggungjawab penuh atas semua tindakan yang kita lakukan. Hal positif maupun negatif. Terserah deh, pokoknya. Asal sanggup saja menanggung konsekuensi dari semua pilihan dan tindakan yang kita ambil. Bahkan Ayah dan Ibu kita pun tidak lagi berhak untuk melarang. Namun, mereka juga tidak akan dimintai pertanggunjawaban atas semua yang kita lakukan. Semuanya sudah menjadi tanggungan kita sendiri. Ketika menyadari hal ini, maka Anda boleh melakukan apapun.
 
Jangan terlalu percaya pada orang yang mengatakan tidak pernah kehilangan semangat. Bisa jadi dia tidak mengatakan yang sebenarnya. Atau derajat orang itu sudah terlalu tinggi untuk bisa kita teladani. Maqamnya sudah sulit dijangkau manusia biasa seperti kita. Mending kita jalani hidup layaknya manusia saja. Jangan takut untuk menjadi orang malas. Karena tidak semua kemalasan bernilai buruk. Malas meniru perilaku negatif. Malas ikut-ikutan mereka yang tidak produktif. Malas terlibat dalam urusan yang tidak bernilai. Dan begitu banyak lagi kemalasan yang kita butuhkan lainnya. Bahkan, kemalasan untuk melakukan apapun; ternyata memiliki nilai positif jika kita bisa memberinya makna yang berguna untuk menjadikan hidup kita lebih baik.  
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman – 19 September 2011
TRAINER & PUBLIC SPEAKER
Penulis buku ”Natural Intelligence Leadership” (jadwal terbit Oktober 2011)
 
Catatan Kaki:
Jika Anda sedang ingin malas-masalan, ikuti saja kemalasan itu. Lalu arahkan dia menuju ke jalur positif.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahalanya Anda dapat secara penuh.
 
Jika pertanyaan-pertanyaan Anda belum mendapatkan jawaban dari saya, silakan untuk mengeceknya di  Frequently Asked Question (FAQ) dalam website kami.

Minggu, 18 September, 2011 21:22