Senin, 17 Oktober 2011

The MONEYnLOVE Inspires 28.09.2011:MENIKAH itu...

Oleh;  Freddy Pieloor

Dear Sahabat,
Selamat siang dan salam sejahtera,
Apa kabar Anda?
Semoga Anda dan keluarga dalam keadaan sehat selalu.
Saya siang hari ini ingin share tentang:

MENIKAH itu ... mengikatkan
(bukan mengikat)

Selama ini saya sering mendengar sebuah ungkapan:
"Kamu milikku, jadi kamu tidak boleh melakukan ini itu!"
"Dia istriku"
"Kamu adalah suamiku, so kamu saya ikat!"
Disini seolah-olah ada subyek (pemilik) dan 
ada obyek (yang dimiliki)
------
Bagi Anda yang memakai cincin kawin,
silahkan Anda melihat tulisan yang ter-ukir dalam
lingkaran dalam cincin yang Anda kenakan tersebut.
Apa yang Anda baca di sana?
Tulisan nama pasangan Anda dan tanggal ikrar Anda berdua?
Apa arti tulisan itu?
Bagaimana kala Anda pertama kali mengenakannya?
Apakah cincin tersebut dipasangkan oleh pasangan, di jari Anda?
--------------------------
Sebelum Anda saling mengenakan (atau tepatnya dipasangkan oleh)
cincin yang melingkar di jari Anda dan pasangan Anda,
jari Anda kosong yang berarti Anda belum terikat.

Saat cincin yang bertorehkan nama Anda, 
yang siap Anda pasangkan pada jari manis pasangan Anda, 
sebaiknya Anda berpikir ulang dahulu.
Mengapa?


Karena ARTI pengenaan cincin bertuliskan nama Anda adalah sbb.:
"Saya mengenakan cincin bertuliskan nama diriku pada jari manismu,
berarti saya mengikatkan diri padamu sebagai suami/istri, 
dan saya bersumpah untuk selalu setia mendampingimu dalam
keadaan Susah dan Senang, Sakit dan Sehat"
Jadi makna pengenaan cincin di jari manis Anda adalah:
"Anda mengikatkan diri secara ikhlas dan tulus,
kepada pasangan"
dan bukan "Anda mengikat pasangan Anda"
Dan pasangan Anda mengikatkan dirinya kepada diri Anda.
--------------------------
"Anda mengikatkan diri" berarti Anda sebagai SUBYEK, 
karena Anda yang melakukannya (aktif). 
Berbeda dengan
"Anda mengikat pasangan Anda" berarti Anda sebagai SUBYEK, 
sedangkan pasangan Anda sebagai OBYEK, 
karena Anda yang melakukan (aktif) dan
pasangan Anda menerima tindakan (pasif/pasangan diikat)
--------------------------
Jadi bila Anda memberikan cincin yang bertuliskan nama Anda,
itu berarti Anda mengikatkan diri.
---------------------------
So, bukan Anda yang memiliki pasangan Anda,
melainkan Anda yang dimiliki pasangan Anda,
karena Anda menyerahkan diri (mengikatkan diri)
kepada pasangan Anda dengan sadar dan ikhlas.
Demikian sharing saya, terkait makna "MENIKAH".

Semoga bermanfaat.

Salam,

Freddy Pieloor
Marriage Financial Planner
Managing Money with Love

Minggu, 16 Oktober 2011

Menghargai Diri Sendiri

Oleh:  Dadang Kadarusman

Hore, Hari Baru! Teman-teman.
 
Menghargai diri sendiri, kedengarannya agak egois ya? Tidak juga. Toh artinya tidak sama dengan narsis. Harga diri seseorang justru bisa meningkatkan nilai-nilai moral dan budaya umat manusia. Seseorang yang dikenal berperilaku buruk – misalnya – sering dinilai merendahkan martabat lingkungan tempat tinggalnya. Faktanya, komunitas yang terdiri dari orang-orang yang mampu menjaga harga dirinya jauh lebih terhormat dari komunitas lain yang terdiri dari orang-orang yang tidak pandai menjaganya. Makanya, orang yang dinilai tidak punya harga diri sering disisihkan dari lingkungan yang baik. Jadi menghargai diri sendiri itu bukan sekedar mementingkan diri sendiri, melainkan bentuk penghargaan kita kepada lingkungan dimana kita berada juga. Sekalipun demikian, harga diri seseorang tidak mungkin terbentuk jika dia sendiri tidak menghargainya. Maka setiap orang perlu belajar untuk menghargai dirinya sendiri.
 
Harga diri seseorang bukanlah barang komoditas yang nilainya ditentukan oleh kesepakatan transaksi antara penjual dan pembeli. Nilai sebuah harga diri semakin tinggi bukan karena dia tidak mau menjualnya. Jika turun sampai ke tingkat serendah-rendahnya pun  bukan karena dia mau menjualnya. Nilai sebuah harga diri tergantung kepada bagaimana orang itu memberi nilai kepada hidupnya sendiri. Makanya hukum supply & demand tidak berlaku disini. Hukum itu sangat dipengaruhi oleh kuantitas. Maka meski kualitasnya buruk, kalau supplynya tidak bisa memenuhi demand, pasti harganya jadi tinggi. Sedangkan manusia itu unik, dan hanya satu-satunya sehingga harga diri tidak mengenal kuantitas. Dia hanya memiliki satu dimensi, yaitu kualitas. Kualitas diri seseoranglah yang paling menentukan harga dirinya. Jika orang itu berkualitas baik, maka harga dirinya juga baik. Jika perilakunya buruk, maka harga dirinya pasti jatuh terpuruk. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar meningkatkan harga diri, saya ajak memulainya dengan mempraktekkan 5 pemahaman Natural Intellligence berikut ini:
 
1.      Menerima diri apa adanya.

Sebagian besar manusia dilahirkan dengan bentuk fisik yang utuh. Tapi, masih saja merasa kurang dan mengeluhkan tentang ini dan itu. Memang banyak orang yang dianugerahi keindahan bentuk dan tampilannya. Tetapi kesempurnaan manusia tidak terletak pada keindahan fisiknya semata, melainkan perilaku, tabiat dan kemuliaan akhlaknya. Banyak orang yang tidak mengimbangi keutuhan fisiknya dengan keteguhan, dan daya juang. Sehingga meskipun tubuhnya lengkap, tetapi mentalnya lembek. Padahal, kita melihat banyak teladan yang ditunjukkan oleh mereka yang anggota badannya tidak selengkap kita. Dalam segala keterbatasan fisiknya, mereka terus berkarya dan memberi makna. Banyak juga contoh orang yang terjerumus kepada hal-hal nista justru karena dikaruniai ketampanan atau kecantikan yang mempesona. Padahal dengan kenistaan itu, nilai kemanusiaannya dicemari ciri hewani. Sedangkan seseorang yang lahir dengan keterbatasan fisik justru terjaga kesucian dirinya. Jelas sekali jika kesempurnaan fisik bukanlah segala-galanya. Maka pantas jika kita menerima saja diri kita apa adanya, lalu menghiasinya dengan semangat, perilaku, dan akhlak yang baik.
 
2.      Menghindari perilaku yang merusak diri.

Tanpa disadari, kita sering melakukan sesuatu yang merusak diri sendiri, lho. Misalnya, cara berkendara yang ugal-ugalan. Tidak usah mengalami insiden dulu dong untuk menyadarinya. Jika dikantor bertindak selenge’an dan semaunya sendiri, itu juga berarti merusak diri sendiri. Jangan berharap karir Anda akan bagus jika berperilaku demikian. Sebaliknya, cara berkendara yang santun itu bukan hanya menunjukkan penghormatan kepada orang lain, melainkan wujud betapa kita menghargai diri sendiri. Begitu pula dengan perilaku baik di kantor. Bukan semata-mata takut kepada atasan, segan pada pelanggan atau enggan berurusan dengan teman. Itu semua Anda lakukan untuk menjaga diri Anda sendiri. Mengapa? Jika kulit Anda sampai lecet tergores aspal, Anda sendiri yang rugi. Masih untung jika cuma lecet, ya kan? Jika penilaian kerja Anda buruk karena perilaku yang tidak koperatif, kan Anda juga yang merasakan dampak negatifnya. Soal ini, tidak ada orang yang bisa menghindarinya selain diri Anda sendiri. Maka, penting bagi kita untuk selalu menghindari perilaku yang merusak diri.
 
3.      Memupuk rasa malu.

Rasanya tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa rasa malu itu merupakan salah satu indikasi utama yang membedakan antara orang yang waras dengan para penderita skizofrenia. Coba saja, Anda pasti malu kan untuk jalan-jalan didepan umum tanpa busana? Normalnya, kita akan merasa malu jika perbuatan buruk kita diketahui oleh orang lain. Kita malu jika ketahuan berbohong. Kita malu jika kepergok mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Kita juga malu kalau diekspose oleh media karena tindakan-tindakan tidak pantas yang kita lakukan. Bayangkan jika kita tidak memiliki rasa malu. Kita pasti akan melakukan semua hal yang tidak sesuai dengan norma. Jika sudah demikian, masih adakah harga diri kita? Orang justru dihargai karena penempatan rasa malunya secara tepat. Malu jika harus melakukan keburukan, sehingga dia berusaha berperilaku baik. Malu jika cepat menyerah sehingga dia terdorong untuk menjadi pribadi tangguh. Malu jika harus membebani orang lain sehingga dia berusaha keras untuk lebih mandiri. Sedangkan kepada orang yang tidak tahu malu? Tak seorang pun menghargainya. Maka memupuk rasa malu adalah kebutuhan mutlak untuk menjaga harga diri kita sendiri.  
 
4.      Menjaga nama baik.

Tidak ada yang mau menghargai orang-orang yang tidak mempunyai nama baik. Jika nama Anda sudah tercemar, maka orang pun akan segera menjauhi Anda. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya untuk menjaga nama baik. Jika sudah tercemar, bukan saja Anda akan tersingkir, tetapi juga sangat sulit untuk membangunnya kembali. Sekarang, coba perhatikan; apa saja sih yang bisa merusak nama baik seseorang? Perilaku buruk, tindakan asusila, dan pelanggaran terhadap norma umum lainnya. Maka menjaga nama baik itu sebenarnya sederhana saja. Cukup dengan berperilaku baik saja, pasti kita bisa menjaga nama baik. Bagaimana dengan perbuatan asusila? Setiap orang yang ‘ketahuan’ telah melakukannya pasti kehilangan nama baiknya. Maka, sebaiknya hindari hal itu. Jika sudah pernah kejadian? Masih ada kesempatan untuk tidak mengulanginya, bukan? Apalagi jika kita sadar bahwa ketika melakukan suatu perbuatan melanggar norma, sesungguhnya kita tidak hanya mempertaruhkan nama baik kita sendiri, melainkan juga nama baik keluarga, kantor, dan orang-orang terdekat kita.
 
5.      Menjaga perilaku tetap baik.

Hadiah paling indah yang bisa kita berikan kepada diri sendiri adalah amal baik yang kita lakukan selama hidup. Mengapa? Karena amal baik tidak pernah rusak atau musnah. Semuanya akan tetap menjadi milik kita di dunia maupun di akhirat. Dengan perilaku baik, kita disukai oleh orang-orang yang merasakan manfaat dari amalan kita. Maka hidup kita didunia menjadi lebih bernilai. Dengan perilaku baik itu, kita juga disayang oleh Tuhan. Bayangkan jika Anda bisa mendapatkan penghargaan dari sesama manusia sekaligus kasih sayang dari Tuhan. Bukankah ini yang menjadikan hidup Anda sempurna? Aneh juga jika kita mengharapkan kebaikan didunia dan diakhirat sambil terus berbuat nista. Mungkin kita merasa aman karena tak seorang pun tahu perbuatan kita, sehingga mereka tetap menaruh hormat. Mungkin kita juga tenang-tenang saja karena uang kita bisa membeli pengampunan para penjual keadilan. Tapi, apa yang bisa Anda lakukan dihadapan Tuhan yang tidak pernah lengah mengawasi dan tidak membutuhkan apapun dari Anda? Sungguh, perilaku yang baik itulah yang bisa mengantarkan kita kepada pengkabulan doa untuk bisa meraih kebahagiaan didunia dan diakhirat kelak.
 
Semua orang dimuka bumi ini mempunyai satu sifat baik yang berlaku secara universal, yaitu; menghargai pribadi-pribadi yang baik. Maka jika Anda ingin dihargai oleh orang lain, Anda tidak perlu membelinya. Anda hanya perlu memastikan diri Anda sendiri sebagai orang yang baik. Jagalah harga diri Anda dengan perilaku baik. Bersikap baik. Bekerja dengan baik. Bergaul dengan orang-orang yang baik. Memperlakukan orang lain dengan cara yang baik. Maka harga diri Anda akan dengan sendirinya menanjak naik.  Dengan cara itu, Anda bukan hanya menghargai diri sendiri. Tetapi telah menunjukkan kepada orang lain, bahwa Anda adalah seorang pribadi yang layak untuk dihargai.  
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman –  28 September 2011
Penulis buku ”Natural Intelligence Leadership” (jadwal terbit Oktober 2011)
 
Catatan Kaki:
Cara terbaik untuk menjaga harga diri kita adalah dengan hanya melakukan tindakan-tindakan baik, dan menjauhi perbuatan buruk.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
Rabu, 28 September 2011  10:34

The FINE DAY 28.09.2011: FinancialPlanning 65 tahun...Ngopi yuk !!!

Oleh:  Freddy Pieloor

Dear Rekan,

Selamat pagi,
Saya mohon maaf muncul terlambat pagi ini,
karena biasanya saya menulis di BB saya,
dalam perjalanan ke kantor.
Namun pagi ini sopir kantor, kakinya keseleo
hari ini dia absen. Jadi menyupirlah saya sendiri.
Saya ingin share pagi hari ini kepada Rekan2 sekalian,
dan tema yang saya pakai adalah:

"FINANCIAL PLANNING..65 tahun"

Sering saya perhatikan kawan-kawan saya yang berusia
30 - 50 tahun, saat ini mereka mampu makan di mana saja
dan nongkrong minum kopi di cafe mana saja.
Sebut saja Resto DIN TAI FUNG, SUSHI TEI atau 
Crystal Jade atau yang lainnya, mereka mampu sambangi.
Atau STARBUCKS, COFFEE BEAN atau KOPI LUWAK
sekalipun mampu mereka bayar.

Namun saya ragu, aktifitas konsumtif tersebut mampu
mereka lakukan kala berusia 65 tahun, dengan memakai
uang mereka sendiri.

Sehingga kepada beberapa sahabat dekat, saya seringkali
meniupkan VIRUS Financial Planning, dengan mengatakan:

"Saya ingin minum kopi dengan kamu seperti sekarang,
kala kita telah berusia 65 tahun, dengan menggunakan uang
kita sendiri. Saya ingin kita sering berkumpul seperti sekarang
untuk bernostalgia dan bercerita tentang indahnya kehidupan.
Juga kita akan bercerita tentang keberhasilan kita mengantar
dan mendidik anak-anak menjadi manusia mandiri dan bermoral"

"Saya dan kamu akan memiliki jadwal pertemuan rutin 
di tempat-tempat nyaman seperti sekarang yang kita lakukan"
---------------------
Sekarang saya ingin mengajak Anda juga, untuk mempersiapkan
aktifitas nyaman seperti yang kita lakukan selama ini, untuk kita
ulangi kembali saat berusia 65 - 70 tahun dengan menggunakan
uang kita sendiri.

MAMPUKAH Anda mengulang masa keemasan seperti saat ini
kala berada di rentang usia produktif, untuk dilakukan kembali
pada rentang usia 65 - 70 tahun?

Jangan hanya Mampu Sekarang, Melarat Besok!
---------------------
Pengalaman ini saya petik saat berkunjung di sebuah cafe ternama di CITOS,
dan saya menyaksikan 3 orang kakek dalam rentang usia 65 - 75 tahun,
dan mereka terlihat rapi dan cerah. Mereka berbincang, sambil tertawa bahagia. 
Dalam pikiran saya, keadaan keuangan mereka sangat memadai, dan
makan dan jalan-jalan bukan menjadi persoalan utama mereka.
--------------------- 
Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.
Bersakit-sakit dahulu (sederhana), bersenang-senang kemudian (sejahtera).
NGOPI yuk!!!
Salam,
Freddy Pieloor
Rabu, 28 September 2011  09:52

Mensyukuri Pekerjaan

Oleh:  Dadang Kadarusman

Hore, Hari Baru! Teman-teman.
 
Banyak sekali orang yang mengeluhkan tentang pekerjaannya. Alasannya pun beragam macam. Ada yang soal gaji rendah. Teman yang tidak bersahabat. Atasan yang pilih kasih. Karir yang tidak naik-naik. Dan seribu satu alasan lainnya. Makanya, tidak heran jika setiap pagi rasanya berat sekali untuk berangkat ke kantor. Setelah tiba di kantor juga tidak bersungguh-sungguh mencurahkan seluruh kemampuan. Datang kesiangan, pulang kegesitan. Seakan-akan kita ini tidak membutuhkan pekerjaan itu. Sekarang, coba bayangkan; bagaimana seandainya besok pagi kita kehilangan pekerjaan itu? Apakah hidup Anda akan tetap baik-baik saja? Hmmmh, barangkali ini adalah saat yang tepat untuk kembali mensyukuri pekerjaan yang saat ini kita miliki. Sudahkah Anda mensyukuri pekerjaan pagi ini?
 
Kehidupan kerja kita tidak selamanya menyenangkan. Kadang Anda dimarahi pelanggan. Kadang diomeli atasan. Kadang dijegal oleh teman. Dan masih banyak situasi sulit lainnya yang bisa menimbulkan kekecewaan. Kita sering keliru melampiaskan kekesalan dengan membenci pekerjaan. Padahal, semakin benci Anda pada pekerjaan, semakin memburuklah keadaannya. Semakin memburuk keadaannya, semakin jauhlah Anda dari rasa syukurnya. Semakin jauh dari rasa syukur? Semakin benci Anda pada pekerjaan. Dan terjebaklah Anda dalam kegelisahan tanpa ujung. Maka, tidak ada pilihan lain selain menysukuri pekerjaan yang kita miliki. Karena rasa syukur, membimbing kita untuk menemukan makna terdalam dari pekerjaan. Memang mudah untuk dikatakan, tapi bersyukur itu sungguh tidak gampang untuk dilakukan. Kita butuh pemahaman yang tepat tentang makna syukur itu bagi hidup kita. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memahami makna rasa syukur pada pekerjaan, saya ajak memulainya dengan memahami 5 prinsip Natural Intellligence berikut ini:
 
1.      Rasa syukur menentukan kebahagiaan.

Rasa syukur kepada pekerjaan adalah obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan setiap kekecewaan. Seberat apapun beban pekerjaan yang Anda hadapi, pasti akan terasa ringan jika Anda memiliki rasa syukur yang lebih besar dari beban itu. Sebaliknya, seenak apapun suasana dan imbalan yang dapatkan dari pekerjaan Anda; maka Anda akan tetap mengeluhkannya jika rasa syukur Anda atas semua kenikmatan kerja itu terlalu kecil untuk menghidupkan lentera nikmat dalam hati Anda. Makanya, banyak orang dengan kedudukan dan imbalan tinggi yang masih mengeluhkan pekerjaannya. Dan banyak orang yang pekerjaannya bejibun namun tetap gembira meski bayarannya ’tidak seberapa’. Keluhan bukanlah monopoli orang-orang berkedudukan rendah. Kegembiraan juga bukan monopoli mereka yang jabatannya tinggi. Malah kita sering menyaksikan hal yang sebaliknya. Jika kita tidak kunjung bahagia dengan kehidupan kerja, mungkin kita perlu bersyukur lebih banyak lagi. Mengapa? Karena rasa syukur pada pekerjaan sangat menentukan apakah kita bahagia dengan pekerjaan itu atau tidak.  
 
2.      Rasa syukur memberi ketabahan.

Jika boleh memilih, apakah Anda lebih menyukai pekerjaan yang berat secara fisik, atau berat tanggungjawabnya? Normalnya, orang-orang berpendidikan tinggi tidak menyukai pekerjaan fisik yang berat. Meski tidak terlalu suka pada tanggungjawab yang berat, tetapi itu adalah pilihan terbaiknya. Pekerjaan fisik itu melelahkan dan imbalannya rendah. Sedangkan tanggungjawab besar pada pekerjaan non fisik diimbangi dengan ruang kerja yang nyaman nyaris tanpa keringat, pakaian perlente, dan tentunya; bayaran yang jauh lebih tinggi. Maka, kemungkinan besar; Anda akan memilih tangggungjawab besar daripada kerja fisik yang berat. Normal. Tapi, mengapa banyak orang yang memegang tanggunjawab besar justru sering ingin berhenti, atau lari ke tempat lain hanya karena merasa beban yang harus kita pikul terasa sangat berat? Mengapa banyak pegawai biasa-biasa saja yang justru lebih kuat dan lebih tabah? Ternyata orang-orang biasa itu lebih banyak bersyukur daripada kita. Dengan rasa syukur itu mereka membangun kekuatannya. Karena rasa syukur memberi kita ketabahan.
 
3.      Rasa syukur melahirkan keikhlasan.

Jangan salah kaprah. Ikhlas itu tidak sama artinya dengan tidak dibayar. Kita semua berhak untuk mendapatkan bayaran yang sepadan atas pekerjaan atau kontribusi yang kita berikan. Ikhlas juga bukan berarti menerima saja perlakukan tidak senonoh orang lain. Ikhlas itu berkaitan dengan sikap mental ketika kita menerima penugasan atau kondisi-kondisi tertentu yang belum tentu sesuai dengan keinginan kita. Ini bisa berkaitan dengan jenis pekerjaan, lingkungan kerja, atau orang-orang yang bekerja dengan kita. Orang ikhlas itu jarang mengeluh. Tidak ada yang bisa kita dapatkan dari keluhan pada pekerjaan. Justru dengan keluhan itu hati kita semakin lelah. Produktivitas kita semakin rendah. Dan performance appraisal kita semakin payah. Maka marilah kita belajar untuk ikhlas menerima penugasan atau tuntutan kerja. Marilah belajar ikhlas pada lingkungan kerja dan orang-orang yang bekerja bersama kita. Lalu kita alokasikan energy yang biasa kita gunakan untuk mengeluh itu menjadi daya dorong bagi pencapaian dan prestasi tinggi kita.  Dan untuk bisa ikhlas, kita butuh rasa syukur. Mengapa? Karena keikhlasan dilahirkan dari rasa syukur atas setiap anugerah yang kita terima melalui pekerjaan yang kita dapatkan.
 
4.      Rasa syukur mendorong untuk berprestasi.

Bayangkan Anda adalah orang yang memiliki ketiga indikator ini; bahagia, tabah, dan ikhlas. Apakah dengan ketiga indikator itu Anda bisa mencapai prestasi tertinggi di tempat kerja? Yes, tanpa keraguan sedikitpun. Mengapa? Orang-orang yang bahagia bekerja tanpa beban sehingga semua energy yang dimilikinya didedikasikan tanpa gangguan. Mereka yang tabah tidak mudah menyerah saat berhadapan dengan tugas-tugas sulit, melelahkan dan menantang. Sedangkan keikhlasan yang dimilikinya membuat mereka bersedia melakukan tugasnya dengan sepenuh hati sehingga tidak ada kesempatan, peluang, energy maupun dedikasi yang disia-siakan. Maka wajar jika orang yang bahagia, tabah dan ikhlas itu bisa melampaui kinerja kebanyakan orang. Dan kita sudah membahas dimuka bahwa, kebahagiaan ditempat kerja, ketabahan dalam menjalani pekerjaan, dan keikhlasan menerima keadaan dihasilkan dari rasa syukur kepada pekerjaan. Maka nyata sekali jika rasa syukur itu mendorong kita untuk berprestasi tinggi. Maka bersyukurlah atas pekerjaan Anda, karena dengan rasa syukur itu Anda bisa mengukir prestasi yang lebih tinggi lagi.
 
5.      Rasa syukur memberi lebih banyak nikmat.

Guru kehidupan saya mengatakan jika Tuhan sangat menyukai orang-orang yang bersyukur sehingga Dia tidak segan-segan untuk menambah kenikmatan bagi mereka yang senang bersyukur. Boleh saja jika Anda mengira hal itu hanya berlaku untuk aspek-aspek spiritual yang langsung berhubungan dengan Tuhan. Tapi, coba bayangkan situasi ini. Anda mempunyai 2  anak buah. Yang pertama adalah si jago komplain, tukang mengeluh, dan tidak pernah puas atas apa yang Anda berikan kepadanya. Yang satu lagi adalah orang yang tahu berterimakasih, lalu membalas kebaikan Anda kepadanya dengan kesungguhan dalam bekerja, memberikan yang terbaik dari dirinya sehingga prestasinya selalu memuaskan Anda. Saya tidak perlu bertanya orang yang mana yang menjadi kesayangan Anda. Saya juga tidak perlu bertanya kepada siapa Anda akan memberi lebih banyak lagi. Sudah jelas sekali jika Tuhan menyukai orang-orang yang bersyukur. Atasan atau pemilik perusahaan tempat kita bekerja juga demikian. Maka rasa syukur kita kepada pekerjaan, benar-benar memberi kita lebih banyak lagi. Mungkin penghasilan. Mungkin kesempatan. Mungkin kepercayaan. Atau mungkin, hal-hal lain yang tidak pernah kita bayangkan.
 
Pekerjaan merupakan salah satu anugerah terbesar dalam hidup. Dengan pekerjaan, bukan saja kita mendapatkan nafkah untuk memenuhi kebutuhan fisik belaka. Dengan pekerjaan, kita bisa mendapatkan ketentraman jiwa dan ketenangan hati. Pekerjaan juga memberi kita kebanggaan dihadapan orang lain. Bisa jadi pekerjaan kita tidak gampang untuk dijalani. Bisa jadi juga pekerjaan kita tidak selalu menyenangkan. Mungkin pekerjaan kita belum menghasilkan imbalan yang tinggi. Tapi percayalah, memiliki pekerjaan itu jauh lebih baik daripada kondisi sebaliknya. Maka bagaimanapun juga, pekerjaan yang hari ini kita miliki, sangat layak untuk kita syukuri.
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman –  27 September 2011
Penulis buku ”Natural Intelligence Leadership” (jadwal terbit Oktober 2011)
 
Catatan Kaki:
Jangan menunggu kehilanggan dulu untuk benar-benar menyadari betapa berharganya pekerjaan yang kita miliki itu.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.

Selasa, 27 September 2011  09:22

Inspirasi Sukses Home Depot

Inspirasi Sukses Home Depot

Oleh: Andre Vincent Wenas


  Apakah Anda pernah dengar Home Depot? Coba lihat: www.homedepot.com. Usaha toko bangunan yang dirintis Bernie Marcus & Arthur Blank ini dimulai tahun 28 tahun yang lalu di Atlanta, Georgia, bergerak dalam perdagangan segala macam kebutuhan rumah (papan kayu, paku, handle-pintu, gordyn, semen, ubin, cat, perkakas, dll.). Waktu itu belum ada toko, dan bersama 20 orang rekan kerja (associates) mereka memulai bisnisnya. Setahun kemudian (1979), mereka punya 3 toko dengan 200 associates, dan membukukan penjualan 7 juta dollar.

  Konsep bisnisnya adalah toko gudang besar yang nyaman dikunjungi orang-orang yang ingin memperbaiki sendiri rumah atau meningkatkan kenyamanan rumah (home improvement). Saat ini Home Depot sudah membukukan penjualan lebih dari 80 milyar dollar.

  Layanan di dalam toko, selain kejelasan informasi barang, kebersihan dan
keramahan layanan, juga diselenggarakan how-to-clinics (semacam pelatihan
praktis) untuk meningkatkan ketrampilan memperbaiki sendiri dan meningkatkan kenyamanan dan penampilan rumah. Jasa konsultasi membangun atau merenovasi eksterior-interior pun disediakan.

  Ide lain yang menarik adalah Kids Workshop (pelatihan untuk anak-anak) dengan didampingi orangtua masing-masing. Ini program yang diselenggarakan sebulan sekali di hari sabtu pertama. Mulai jam 9 pagi sampai siang. Dengan pendampingan orang tua, anak-anak bisa mengolah ketrampilannya untuk menciptakan obyek yang bisa digunakan di sekitar rumah atau lingkungannya. Program ini melatih kemandirian anak-anak untuk mengerjakan  hal-hal konstruktif, dan menanamkan sense of accomplishment (mengerjakan sesuatu dengan tuntas), dan self esteem (kebanggaan). Obyek yang dibangun anak-anak ini misalnya: membuat kotak penyimpanan perkakas, kotak surat, sangkar burung, pigura, dll. Dengan membiasakan anak-anak untuk rajin dan terampil mengerjakan sendiri (do-it-yourself), Home Depot telah mulai membangun pasar masa depan yang loyal dan bakal menjamin keberlangsungan hidup usahanya.

  Konsep toko penyedia barang & bahan bangunan, termasuk interior-eksterior
rumah merupakan bagian dari konsep retailer. Dan sebagai retailer, Handito Hadi Joewono (bukunya: 7 in 1 Strategy Toward Global Competitiveness, 2006) ada enam aspek yang perlu diperhatikan:

1. Lokasi. Ada yang ektrim bilang bahwa kunci sukses bisnis property termasuk
retailer adalah: lokasi, lokasi dan lokasi. Singktatnya, lokasi adalah segalanya. Lokasi memang penting, tapi bukan harga mati.

2. Merchandise management. Peritel perlu menyediakan selengkap mungkin ragam kebutuhan konsumen, tetapi sekaligus juga harus menyediakan barang atau jasa eksklusif.

3. Vendor relation. Bagi peritel, hubungan dengan pemasok merupakan kunci bisnis penting karena akan mempengaruhi kelancaran pasokan barang dan berlangsungnya beragam progam promosi.

4. Human resource management. Mengelola usaha ritel bukan sekedar menyiapkan gedung dan infrastruktur fisik. Toko besar jika tidak ada kegairahan pekerjanya akan membuatnya menjadi tidak menarik dan bahkan dijauhi karena ‘keangkerannya’. Pengelolaan SDM menjadi pilar penting keberhasilan bisnis ritel.

5. Operational excellence. Mengelola usaha ritel serupa dengan menampilkan
atraksi operet. Dan panggung dramanya adalah bisnis ritel itu sendiri.
Penampilan mesti prima melalui store management yang berkualitas. Operational excellence berperan vital untuk efisiensi yang merupakan kunci memenangkan persaingan saat ini.

6. Customer relationship. Mengelola pelanggan, apalagi yang loyal adalah
krusial. Penyediaan reward point dengan hadial undian atau hadiah langsung
seperti free parking, dan juga fasilitas khusus untuk pelanggan VIP akan membuat konsumen nyaman dan ma uterus berbelanja.

  Kita bisa belajar dari ketekunan Bernie Marcus & Arthur Blank (Home Depot)
merintis bisnis, melayani dan mempertahankan pelanggan, bahkan sampai
menciptakan pelanggan masa-depan. Begitulah pebisnis sejati. Berjuang dan
berpikir jauh kedepan.

  Bersiaplah untuk sukses.

----------------------------------------------------
(artikel dari Tabloid Bisnis KONTAN)


STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Business Advisory & Management Consulting

Catatan: Artikel ini pernah dipublikasikan oleh media lain. Segala masalah yang timbul, yang berkaitan dengan Hak atas Kekayaan Intelektual,menjadi tanggung jawab kontributor.
Selasa, 27 September 2011 17:53

Kamis, 13 Oktober 2011

Opini & Diskusi: Hidup Masih Susah Walau Banyak Sedekah




1.  Krishnamurti:
Pak, hidup sy kok msh
susah walau sy banyak
sedekah?

Emang, ada hubungannya
sedekah dg hidup susah? 

(Ha ha ha Words)

Krishnamurti
Selasa, 11 Oktober 2011
=========== ========
DISKUSI:
2.  M. Yanto:
Di kuliah subuh, para kyai menganjurkan untuk banyak sedekah agar murah rejeki dari Alloh.
MYanto
Selasa, 11 Oktober 2011 jam 17:47
=========== =========
3.  Emmy Iriani Kassim:
Pak Kris, ada hub antara sedekah dgn hidup susah.... Dalam Islam, bisa saja niat sedekahnya karena ingin pamer ke orang lain, shg tujuan sedekah hanya sebatas itu. Tapi bila sedekah tujuannya dalam rangka menjalankan ibadah, Insyaallah mendapatkan apa yg yang diinginkan. Namun bisa juga dia bersedekah ikhlas karena ingin mendapatkan ridho Allah...dan ujian keimanannya oleh Tuhan dengan memberikan kehidupan yg dialaminya saat ini. 
Wass. 
Emmy
Selasa, 11 Oktober 2011  19:17
========== ==========
4.  Krishnamurti:
Dear Yanto,
Iya, benar sekali. Keyakinan sy-pun demikian:

"Semakin banyak sedekah,
Semakin banyak rejeki..."

Thanks,
Krishnamurti
Selasa, 11 Oktober 2011 
=============== ========
6.  Arya Karyanto:
Susah tidaknya hidup ini tergantung dari pikiran kita memandang hidup ini, ada yang menurut kita mereka hidup miskin dan susah tapi bagi mereka hidup seperti itu sudah sangat baik dari kehidupan sebelumnya.
Masalah sedekah bukan banyaknya tapi niat di hati dan keikhlasan diri untuk memberi, dengan memberi kepada yang benar-benar butuh akan memberi efek orang tersebut mendoakan kita agar di limpahkan rizeki kita, jadi ada dua doa yang dipanjatkan yaitu dri orang yang memberi dengan ikhlas dan yang menerima sedekah karena memang sangat butuh, doa orang yang menerima dan memberi akan di terima dan di kabulkan oleh Tuhan YME, nah yang menjadi persoalan kenapa masih susah, karena kita tidak yakin 1000% akan apa yang telah di janjikan TUHAN
Dan semua agama juga menganjurkan berderma/ bersedekah buat orang lain secara IKHLAS dan YAKIN

Semoga bermanfaat
Karyanto
Selasa, 11 Oktober 2011  20:20
=========== ===========
7.  Thomas Nick:
Bersedekah itu artinya kita berlatih melepas keterikatan kita pada harta duniawi. Melatih diri untuk mengikis rasa serakah dan lebih peduli pada orang yang butuh belas kasih. 

Kalau bersedekah untuk mendapat sesuatu, well, ngga salah sih karena tetap orang susah yang mendapatkan bantuan. 

Tapi sayang sekali diri sendiri tidak mendapat manfaat sedekah, malah makin serakah #karena anggap bersedekah akan dapat balasan lebih 

Anyway, kalau kita semakin melepas rasa terikat pada materi, maka rasa syukur atas nikmat yang kita terima makin besar. Miskin/ kaya, susah/berlebih bukan lagi fokus utama hidup. 

My two cents,
Thomas
Selasa, 11 Oktober 2011  20:24
=========== =============
8.  Krishnamurti:
Dear Emmy,

Thanks atas sharingnya, mmg pertanyaan sy adalah strategi utk mengajak si penanya berpikir atau reflektif. Sebenarnya tentu terkait krn value sy sendiri...

"Semakin banyak sedekah,
semakin banyak rejeki"

Krishnamurti
Selasa, 11 Oktober 2011  22:39
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Dear Karyanto,

Ya, IKHLAS dan YAKIN adalah jawabannya. Nah, repotnya keyakinan bisa goyah, bisa rapuh, bisa kacau, shg muncullah pertanyaan tadi pd pelatihan sy di Hong Kong kemarin...

Thanks,
Krishnamurti
Selasa, 11 Oktober 2011  22:42
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Dear Thomas,

Itulah hikmah lain ttg bersedekah, melepaskan keterikatan. Thanks for this.

Dan, spt yg Anda katakan "karena anggap bersedekah akan dapat balasan lebih" akan berdampak transaksional, bukan lagi sedekah...

Itu benar sekali, thanks.
Krishnamurti
Selasa, 11 Oktober 2011  22:46
=========== ==============
9.  Fishbed Warlord:
Emang ada yg nanya kayak gitu??? Kalo nanya pada tempatnya dong, nanya sedekah sama ustadz, kalo sama orang yg ga tepat cuman bisa bikin ketawa doang. ha..ha..ha...

Piss.
Rabu, 12 Oktober 2011  07:19
=========== ==============
10.  Krishnamurti:
Betul sekali,
Nanya ama sy Motivator,
ya salah sendiri ha ha ha...

Piss,
Krishnamurti
Rabu, 12 Oktober 2011  07:43
=========== ===========
11.  Fishbed Warlord:
kalo direnungkan kembali, kita jadi termotivasi untuk mengubah sudut pandang tentang sedekah. bagi saya makna sedekah itu memiliki dimensi yang tidak dapat dinalar dengan logika, karena secara rasional pun tidak bisa diambil benang merahnya. banyak riwayat dari berbagai macam keyakinan (agama) tentang hal ini, memiliki esensi yg sama dengan sedekah hanya namanya saja yg berbeda. topik pembahasan yg sensitif, bahkan alim ulama pun jika salah menafsirkan, akan hanya mengaburkan makna dari sedekah itu sendiri.

Piss
Rabu, 12 Oktober 2011  07:43
================ =======
12.  Rahmadsyah Mind-Therapist
Untungnya orang tersebut bertanya kepada Minset Motivator, sehingga jawabannya ya gitu, mengobok-obok mindset supaya menjadi lebis aware (sadar).

 Tapi kalau tanya sama ustaz, ada tambahan mengenai penjelasan Syariah, akhlak dan secara akidahnya...

Rahmadsyah Mind-Therapist
Rabu, 12 Oktober 2011  08:17
============ ===========
13. Rizal Sheridan
Dear All:
Mari kita perluas mindset kita tentang rejeki.. Rejeki itu bukan hanya materi, tapi juga ilmu yg bertambah, anak2 yang shalih dan shaleha, rumah tangga yang yang aman tentram, sakinah, mawaddah warahmah dan kesehatan yang baik. Itu semua tak ternilai dibangdingkan materi.
Semoga ini bermanfaat.
Wassalam,
Rabu, 12 Oktober 2011  08:44
========== ============
14.  BERSAMBUNG

PERGESERAN PARADIGMA BBM KE RENEWABLE ENERGY

Saya cuplik artikel sederhana yang pernah saya bawakan saat pembahasan Energi di acara Business Summit IKA-ITS.
PERGESERAN PARADIGMA BBM KE RENEWABLE ENERGY
I.       Paradigma
Perkembangan pembangunan dan kemajuan perekonomian suatu daerah atau lebih luas negara Indonesia, dipengaruhi oleh ketersediaan energi listrik, berfungsi sebagai penerangan, menggerakkan mesin – mesin produksi, dan pada gilirannya akan menghasilkan suatu produk baik itu jasa atau barang, demikian pula sebaliknya pertumbuhan ekonomi masyarakat akan mempengaruhi kemampuan beli listrik masyarakat tersebut. Pertumbuhan ekonomi masyarakat ditetapkan dalam GDP sebagai satuan untuk melihat tingkat keekonomian suatu masyarakat, seperti tahun 1995 – 2003 tingkat GDP masyarakat tumbuh sebesar 7% ternyata memberikan pengaruh signifikans terhadap demand kelistrikan (Sugiyono, 2001). Ketersediaan energi listrik berkelanjutan merupakan indikator utama peningkatan perekonomian masyarakat.
Indonesia sebagai negara pengimpor minyak tergantung kepada pergerakan harga minyak dunia, ini disebabkan karena kebutuhan BBM harus dipenuhi dari produksi luar negeri. Praktis kebutuhan BBM sebagai penggerak sistem pembangkitan sangat tergantung kepada import dari negara lain terutama OPEC dan penentuan harga minyak tidak hanya dipengaruhi oleh pasar namun juga sentimen positif terhadap minyak dunia serta kondisi geopolitik negara penghasil minyak (Amineh et al, 2007). Ketercukupan BBM untuk kebutuhan dalam negeri dipengaruhi kemampuan Indonesia membeli BBM di pasar internasional atau pasar dunia. Ketersediaan BBM di Indonesia masih tergantung terhadap pasar dunia, sehingga harga dan ketersediaan BBM di Indonesia tergantung sepenuhnya kepada OPEC atau negara penghasil minyak lainnya, dan memberikan pengaruh cukup signifikan bagi anggaran dan belanja negara.
II.      Kondisi Penyediaan Listrik
Kondisi pemadaman listrik di Indonesia sejak 2008, disebabkan bukan hanya karena kurangnya pemeliharaan, namun juga disebabkan karena bahan bakar untuk pembangkit tidak dapat lagi disediakan karena keterbatasan pasokan dan pembelian BBM mulai menunjukkan tingkat kenaikan harga. Pembangkit listrik pada akhirnya menggunakan bahan bakar gas, namun ketersediaan gas belum dapat dipergunakan menggerakkan sepenuhnya pembangkit. Laporan subsidi listrik PLN mengalami kenaikan semula hanya dikisaran Rp 55 Triliun menjadi Rp 57,9 Triliun disebabkan tambahan Rp 2,4 Triliun untuk mengganti pasokan PLTGU Muara Tawar menggunakan BBM (RUPTL PLN 2010). Pemerintah Indonesia melalui KIB jilid II harus mengembangkan program pengurangan subsidi energi listrik dengan target tahun 2015, berdasarkan kenaikan subsidi listrik setiap tahun menyebabkan APBN semakin tahun semakin berat. Pengurangan subsidi listrik tahun 2015 akan menghasilkan pengurangan beban di APBN, dana subsidi tersebut akan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lain (PLN, 28 April 2010).
Teknologi pembangunan sistem pembangkit maju dengan pesat, terbukti dengan pembangunan pembangkit BBM sebagai bahan bakar mulai ditinggalkan dan beralih menggunakan batubara, gas, atau air (Sanyal, 2009). Research and Development (R&D) telah mengambil peranan mengembangkan pola sistem pembangkitan dengan menggunakan teknologi maju. US sebagai negara yang membutuhkan energi listrik cukup besar, telah mengembangkan sistem R&D untuk mempertahankan dan keberlangsungan energi listrik. Sistem tersebut dikemas dalam satu departemen energi, dimana akhirnya menghasilkan banyak penemuan untuk sistem pembangkitan tanpa menggunakan BBM. Kesempatan pembangunan pembangkit dengan menggunakan energi terbarukan sangat besar.
Salam
Ade Irfan
Selasa, 20 September 2011  07:19