Senin, 17 Oktober 2011

Mendesak! Segera Rancang "Social Media Policy"

Oleh: Budi Setiawan

Teknologi internet makin maju saja. Sekat penghalang kini makin tipis yang membuat siapa saja begitu mudah terhubung dengan internet, terlebih social mediaSocial media ibarat bintang yang sedang terang benderang cahayanya. Dan social media, apapun bentuknya saat ini sudah tidak bisa dihindari lagi.
Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah social media ini sudah diatur penggunaannya di perusahaan atau malah belum terpikirkan sama sekali. Apakah memang social media ini sudah menjadi concern bagi para praktisi HR? Juga apakah social media sudah perlu untuk dimasukkan ke dalam aturan perusahaan secara tertulis?
Kita tentu masih mendengar hingga saat ini, di beberapa perusahaan masih diberlakukan pemblokiran akses ke social media. Atau pun kalau tidak diblokir, penggunaan akses tersebut dibatasi pada jam-jam tertentu. Apakah ini menjadi solusi tepat, tentu tidak. Boleh jadi akses internet di kantor dengan menggunakan PC (personal computer) memang diblokir, tapi apakah perusahaan bisa melakukan hal yang sama ketika karyawannya asyik ber-social media melalui gadget-gadget pribadinya.
Atas fakta inilah, hal yang mendesak untuk dilakukan oleh para praktisi HR, bukannya pada persoalan pemblokiran akses, akan tetapi lebih kepada bagaimana karyawan bisa menggunakantools-tools social media secara lebih aman (safely). Alasan lainnya, batasan antara aktivitas seorang karyawan di social media, apakah dia mewakili dan bertindak selaku pribadi-pribadi, ataukah dia sekaligus menjadi duta brand dari perusahaan tempat ia bekerja, sekarang sudah sangat kabur. Bisa saja, urusan pribadi merembet ke urusan perusahaan.
Nah, aturan ber-social media bagi karyawan atau social media policy, sepertinya tinggal menunggu waktu saja. Pilihannya, apakah praktisi HR mulai aware dari sekarang, ataukah menunggu kasus terlebih dahulu baru dibikin, tentu masing-masing ada harganya. Sebagai langkah awal, Budi Setiawan, Fasilitator Perubahan Kreatif (Bukik.com),  telah mencatat 10 hal yang bisa dijadikan rujukan di dalam menyusun social media policy. Berikut ini poin-poinnya.
  1. Perjelas tujuan penggunaan social media. Penggunaan social media di perusahaan sebatas fasilitas bersosialisasi, terintegrasi dengan marketing, organisasi pembelajaran atau budaya organisasi. Karyawan perlu tahu harapan dari perusahaan terhadap pengggunaan social media.
  2. Bangun kesadaran bahwa social media dilihat banyak orang. Kadang karyawan merasa menulis hanya untuk dirinya sendiri. Untuk itu, penting mengingatkan bahwa informasi yang kita posting di social media bisa dilihat banyak orang dan bertahan dalam waktu lama.
  3. Bersikap jujur. Informasi berlimpah di dunia online, semua orang bisa dengan mudah memverifikasi kebenaran suatu informasi. Oleh karena itu, penting untuk bersikap jujur dan tidak manipulatif.
  4. Menjaga rahasia dan informasi penting perusahaan. Pastikan informasi yang diposting berstatus bisa disebarluaskan. Bila belum ada kepastian, lebih baik tidak diposting.
  5. Menghargai hak cipta ketika memposting sebuah karya. Pastikan sudah mendapat persetujuan atau mempunyai hak untuk menggunakan sebuah karya.
  6. Tunjukkan sikap respek terhadap siapa pun. Respek terhadap orang lain maka orang lain akan respek terhadap diri kita.
  7. Jaga privacy diri sendiri maupun orang lain. Tidak ada yang suka privacy-nya dibeberkan begitu saja.
  8. Bangun rasa percaya dan tanggung jawab. Setiap karyawan adalah model yang dipercaya penuh oleh perusahaan untuk tampil di media sosial.
  9. Perjelas pandangan karyawan hanya mewakili diri sendiri. Pastikan kapasitas berpendapat sebagai personal atau mewakili perusahaan. Bila menulis pendapat pribadi di blog, berilah catatan bahwa itu tidak mewakili pendapat perusahaan.
  10. Dorong untuk mengekspresikan nilai budaya perusahaan. Social media adalah tempat mengekspresikan siapa diri kita dan sekaligus di mana kita bekerja.
Bukik, panggilan Budi Setiawan, mengatakan sepuluh poin itu merupakan hal-hal yang perlu dimasukkan dalam social media policy. “Perlu diingat bahwa dalam penyusunannya, buatlah secara cukup singkat yang memudahkan karyawan dalam membacanya. Dengan kebijakan yang tepat, social media justru bisa bermanfaat banyak buat perusahaan maupun karyawan. Tantangannya kembali lagi, kesediaan karyawan dan manajemen bersedia belajar menggunakan social media,” tukas Bukik lagi. (rudi@portalhr.com)
Sumber: http://www.portalhr.com/berita/mendesak-segera-rancang-social-media-policy/

Catatan:  Artikel ini bersumber dari media lain. Segala hal yang menyangkut sengketa atasHak atas kekayaan Intelektual menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari Kontributor
Jum'at, 30 September 2011  11:26

Mengatasi Bawahan yang Sulit

Oleh:  Dadang Kadarusman

Hore, Hari Baru! Teman-teman.
 
Orang-orang yang sulit biasa disebut sebagai difficult people. Bagi seorang atasan, menangani bawahan yang sulit merupakan sebuah tantangan tersendiri. Hal ini bukan hanya bisa meruntuhkan wibawanya, tetapi sangat melelahkan hati. Merusak reputasi, dan membikin frustrasi. Dalam banyak kasus, orang yang dikira sulit itu tidak selalu benar-benar sulit. Melainkan atasannya yang belum tahu bagaimana cara memimpinnya. Begitu menerapkan cara memimpin yang tepat, mereka ’berubah’ menjadi orang-orang yang sangat koperatif. Apakah Anda memiliki bawahan yang sulit? Ataukah justru Anda adalah bawahan yang sulit bagi atasan Anda?
 
Kebanyakan orang kegirangan ketika mendapatkan promisi jabatan. Tak jarang yang kemudian ’makan hati’ saat menjalani hari-hari sulit dalam memimpin orang. Bahkan tidak sedikit yang menutupi ketidakmampuannya dalam memimpin orang lain dengan memberi label bawahannya sebagai orang sulit. Secara objektif, memang ada orang-orang yang sangat sulit diatur hingga tidak segan untuk melakukan pembangkangan. Mereka pada dasarnya orang-orang yang tidak mau menerima kepemimpinan  atasannya. Namun secara sukyektif, tidak jarang juga ’kesulitan’ itu ditimbulkan oleh ketidakmampuan atasan untuk menyesuaikan gaya kepemimpinannya dengan sifat dan karakter bawahan.  Situasi serupa ini bisa terjadi di perusahaan apapun dan dialami oleh pemimpin yang manapun. Maka sebagai seorang pemimpin, kita perlu belajar mengatasinya. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar mengatasi bawahan yang sulit, saya ajak memulainya dengan mempraktekkan 5 prinsip Natural Intelligence (NatIn) berikut ini:
 
1.      Perlihatkan kematangan.

Salah satu alasan klasik orang-orang sulit adalah menilai atasannya sebagai orang yang tidak layak memimpin mereka. Apakah karena mereka merasa lebih senior, atau lebih berpengalaman, atau sekedar merasa lebih berhak mendapatkan jabatan itu. Makanya kalimat favorit mereka berbunyi;”Elu kira elu itu siape?” Cara terbaik menghadapi mereka adalah dengan memperlihatkan kematangan kita. Usia, masa kerja, dan pengalaman kita boleh saja tidak lebih banyak dari mereka. Namun, kepemimpinan  bukanlah semata-mata ditentukan oleh hal-hal semacam itu. Ironisnya, banyak atasan yang menghadapi tantangan seperti ini dengan menggunakan kekuatan jabatan alias position power dengan prinsip ’Gua boss elu. Suka atau tidak, elu musti nurut sama gua!” Efektifkah? Bisa ya, bisa tidak. Tetapi saya memiliki keyakinan dan pengalaman bahwa kekuatan jabatan itu bisa tidak selalu diandalkan. Malah sebaliknya bisa semakin menimbulkan penolakan orang-orang sulit. Beda dengan kematangan. Cukup banyak bukti yang menunjukkan bahwa bawahan yang awalnya sulit dan menyepelekan atasannya, kemudian berubah menjadi respek kepadanya. Bukti bahwa kematangan seseorang dalam memimpin mempunyai dampak langsung kepada rasa hormat anak buahnya.
 
2.      Tunjukkan rasa hormat.

Setiap orang berhak untuk menunjukkan ekspresinya. Termasuk perasaannya terhadap pemimpinnya. Anda tidak akan pernah bisa memaksa seseorang menyukai Anda. Mengapa? Karena perasaan suka dan penghormatan adalah bagian yang tidak bisa diintervensi oleh orang lain. Bukankah Anda juga tidak dapat menghormati orang-orang yang menurut pendapat Anda layak dihormati? Masalahnya, banyak atasan yang karena kedudukannya merasa dirinya layak dihormati. Padahal, bukan hanya atasan yang layak mendapatkan penghormatan. Bawahan juga memiliki hak yang sama. Maka gagasannya adalah; bagaimana antara atasan dan bawahan bisa ‘saling menghormati’. Siapa yang harus terlebih dahulu menunjukkan rasa hormat itu jika demikian? Kita. Apalagi jika posisi Anda lebih tinggi dari mereka. Maka Anda perlu memberi keteladan dengan terlebih dahulu memberi rasa hormat kepada bawahan. Apakah ini tidak memancing mereka merasa diatas angin lalu lebih melecehkan? Hey, tak seorang pun bisa melecehkan orang yang memiliki kematangan dan rasa hormat. Pada akhirnya, mereka akan menyadari jika sikap hormat Anda kepada mereka layak dibalas dengan penghormatan yang sama.
 
3.      Berikan penyadaran.

Banyak sekali bawahan yang lupa bahwa sikap sulitnya hanya akan membuat pekerjaan dan karir mereka semakin sulit. Mereka sering keliru mengira bahwa kalau bisa melawan atasan berarti mereka adalah orang-orang yang kuat.  Dalam banyak kasus, hal itu berhasil juga. Cukup banyak atasan yang frustrasi karena bawahannya sehingga kepemimpinannya tidak efektif. Dampaknya, team yang dipimpinnya tidak menghasilkan kinerja baik. Walhasil, akhir tahun semuanya mendapatkan penilaian yang buruk. Bawahan sulit sering mengira dia menang. Padahal dalam situasi seperti itu, semua orang adalah pecundang. Atasannya loose, mereka sendiri juga loose. Makanya, sebagai atasan Anda perlu memberi penyadaran kepada bawahan yang sulit bahwa sikap buruknya hanya akan merugikan diri mereka sendiri. Sebagai atasan, Anda memiliki kewajiban untuk memberi penyadaran ini. Dan mereka berhak untuk mendapatkannya. Anda juga memiliki kewenangan untuk menilai. Maka jika mereka ingin mendapatkan penilaian yang baik, mereka harus memperlihatkan sikap dan kinerja yang baik. Jika mereka ngotot bertindak sulit, maka itu pilihannya sendiri. Jika sadar soal ini, Anda tidak akan ikut terpuruk. Sebab dari awal Anda tahu harus melakukan apa.
 
4.      Tegakkan kedisiplinan.

Sikap dan perilaku seseorang sepenuhnya menjadi pilihan dia sendiri. Anda hanya bisa melatihnya, membimbingnya, dan terus menerus mengingatkannya. Namun, Anda tidak bisa memaksanya. Tapi tidak demikian dengan kedisiplinan. Itu adalah hak perusahaan. Sedangkan karyawan wajib memenuhinya. Oleh sebab itu, meski Anda wajib memberi ruang kepada bawahan untuk menentukan sikapnya sendiri, namun soal kedisiplinan tidak ada tawar menawar lagi. Ini bukan soal ego Anda, melainkan tanggungjawab Anda dan mereka sendiri sebagai seorang profesional. Anda tidak bisa menghukum seseorang hanya karena tidak mau bersikap ramah kepada Anda. Namun Anda bisa menjatuhkan sanksi kepada bawahan yang tidak disiplin. Dan soal kewenangan itu, merupakan bagian dari paket amanah kepemimpinan yang Anda emban. Jika bawahan Anda tidak disiplin, perusahaan akan meminta Anda pertanggungjawaban. Maka dari awal kepemimpinan, Anda harus mempunyai kesepekatan soal menegakkan kedisiplinan. Soal menegakkan kedisiplinan ini bukanlah jalan satu arah. Artinya, Anda sendiri harus disiplin. Jika Anda sendiri tidak disiplin, wajar kalau anak buah Anda semakin melecehkan. Dan ketidakdisiplinan Anda itu menunjukkan bahwa Anda, memang tidak layak menjadi pemimpin. Menegakkan kedisiplinan berarti menjadikan diri sendiri dan orang-orang yang Anda pimpin sama-sama berdisiplin.
 
5.      Tunjukkan keadilan.

Guru kehidupan saya mengatakan bahwa diantara orang-orang yang paling disayang Tuhan dihari perhitungan amal adalah pemimpin yang adil. Bukan pemimpin yang salesnya paling tinggi atau yang bonusnya paling banyak. Mengapa? Karena keadilan itu bukan soal yang gampang untuk diterapkan. Jika Anda merasa bawahan Anda tidak sopan, hati Anda berbisik;’tahu rasa nanti lu ya!’. Padahal boleh jadi kinerjanya justru paling baik. Namun karena Anda lebih suka pada bawahan yang ABS maka penilaian Anda tetap buruk. Penilaian juga dipengaruhi banyak faktor subyektif lainnya. Bahkan ada juga pemimpin yang mengancam bawahan untuk melakukan hal-hal yang tidak relevan dengan pekerjaan. Jika tidak? Hmmh, tahu sendiri akibatnya. Jabatan tinggi itu dekat sekali dengan penindasan dan kesewenang-wenangan. Keadilan Anda itu menimbulkan rasa hormat bawahan. Termasuk orang-orang yang Anda anggap paling sulit. Maka sikap adil, sangat dihargai oleh bumi dan dijunjung tinggi oleh langit. Secara pribadi, Anda boleh tidak suka atau tidak cocok dengan bawahan Anda. Namun soal keadilan, Anda tidak memiliki hak untuk mempermainkannya. Mengapa? Karena keadilan adalah amanah yang dititipkan Tuhan kepada setiap orang yang menyandang gelar sebagai pemimpin.
 
Memimpin manusia itu berbeda dengan menggembalakan domba-domba. Anda cukup menggiring mereka kepadang rumput yang subur, lalu membawanya pulang ke kandang setelah mereka kenyang. Manusia, setiap individunya mempunyai kehendak yang berbeda-beda. Bukan sekedar perut belaka. Bahkan diantara mereka ada yang menginginkan kursi kita. Maka tentu pendekatannya jauh berbeda. Saya dulu pernah menjadi gembala domba. Saya juga pernah dan sedang mengemban amanah untuk memimpin manusia. Kedua pengalaman nyata itu membuat saya semakin sadar bahwa manusia bukanlah domba. Manusia adalah mahluk yang setara dengan kita. Makanya, mereka menuntut perlakuan yang bermartabat dan rasa hormat dari atasannya. Saat martabat dan rasa hormat itu mereka dapat, maka mereka tidak lagi berselera untuk menjadi bawahan yang sulit.
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - Deka –  30 September 2011
Penulis buku ”Natural Intelligence Leadership” (jadwal terbit Oktober 2011)
 
Catatan Kaki:
Bawahan yang kita kira sulit mungkin sebenarnya bukan orang yang sulit. Melainkan orang yang belum kita fahami, bagaimana cara mengatasinya.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.

Jum'at, 30 September 2011  08:28

Nyanyi Rindu Pohon Randu

Oleh:  Ietje Sri Umiyati Guntur

Dear Allz….
 
Hehehe…belum menyapa, saya sudah nyengir duluan…Kebiasaan yang sulit dihilangkan niiih….Aaaah, mau Tanya-tanya dulu aja , ya : Apa kabar semua teman dan sahabatku ?
 
Semogaaaa…di hari baik dan bulan baik ini, semua teman dan sahabatku dalam keadaan yang sehat-sehat dan ceria. Sehat dan ceria itu kan artinya sehat lahir batin. Tidak hanya sehat di luar, sehat fisiknya, hatinya juga riang gembira….Kata para ahli, hati yang gembira membuat kita sehat dan awet muda. Percaya khaaan ? Jadi memang sebaiknya, kita berusaha untuk selalu gembira…paling tidak ya, tersenyumlah kepada saya…J
 
Eeeeh, lama juga ya kita nggak ngobrol-ngobrol ? Seminggu…dua minggu…waaah, hampir sebulan saya tidak mengudara. Nggak usah pakai maklum-maklum deh…sudah ketahuan alasannya…hehehe. Alasan si kaki seribu yang suka pergi kemana saja…mengikuti arah angin…Hmmh…asalkan arah anginnya tetap terarah, tidak asal jalan dan asal terbang kian kemari…Seperti serat pohon randu yang diterbangkan angin…
 
Ahaaaa….mumpung ngomong tentang serat pohon…eh, maksud saya serat buah randu. Sudah pernah tahu ? Itu lhooo…si kapuk yang jadi teman tidur kita, pengisi bantal dan pengantar ke alam mimpi. Si kapuk randu ini punya banyak cerita, yang barangkali terlewatkan oleh kita. Kali ini, boleh saya sampaikan cerita tentang sebatang pohon randu ?
 
Kalau boleh….mariiiiiii…kita duduk-duduk dulu…santai dulu…sambil menunggu waktu bergulir. Sambil menunggu akhir pekan yang sudah di depan mata. Beginilah ceritanya….hehe…
 
Selamat menikmati…semoga berkenan….
 
 
Jakarta, 29 September 2011
Salam hangat,
 
 
Ietje S. Guntur
 
 
♥♥♥
 
NYANYI  RINDU  POHON  RANDU…
 
Saya sedang berlibur. Eeeh…tepatnya sedang bertugas, sambil menikmati suasana…Mirip liburan.  Biasa begitu…sambil menyelam minum air…hehe…  Menikmati kebersamaan dengan sahabat-sahabat saya.  Sambil menjalankan tugas, kami pun dapat bersantai menikmati suasana dari atas bukit. Maklum tempatnya juga asyik untuk berlibur. Namanya Bukit Randu, di Lampung.
 
Sesuai dengan namanya, lokasi tempat saya dan sahabat-sahabat saya menginap memang merupakan kawasan yang banyak pohon randu. Pohon yang tinggi menjulang, dengan buah-buah yang bergantung seperti lampu hias berwarna kehijauan. Di bulan Agustus seperti ini, pohon randu atau dikenal juga dengan sebutan pohon kapuk, memang sedang musim buah. Tapi berbeda dengan pohon lain yang enak dimakan buahnya, justru pohon randu ini lebih bermanfaat serat buahnya untuk pengisi kasur dan bantal.
 
Entah kenapa, setiap kali melihat pohon randu, dengan buah-buahnya yang rapi berjejer di dahan dan rantingnya, saya selalu merasa terharu.  Pohon yang tampak kokoh, tidak banyak berhias daun. Sekilas  tampak gersang, namun selalu dipenuhi dengan buah yang bermanfaat. Angan saya pun melayang…melewati lembah dan bukit…melewati puncak bukit Randu yang temaram di dalam pelukan malam….
 
 
 
Ingat pohon randu, saya jadi ingat ketika pertama kali melihat buah randu pecah dan seratnya bertebaran seperti salju. Sebagai anak yang dibesarkan di Sumatra saya nyaris tidak pernah memperhatikan kehadiran pohon randu  di sekitar saya. Maklum, di Sumatra terlalu sering musim hujan, sehingga buah kapuk selalu tampak hijau, tapi tidak menarik untuk dipetik. Bagi saya, dan sebagian besar anak-anak pada masa itu, pohon yang menarik adalah pohon yang bisa dipanjat dan dipetik buahnya. Pohon randu ? Apanya yang mau dipanjat ? Buah apanya yang mau dipetik ?
 
Ketika liburan sekolah saat masih SD, kami berkunjung ke kampung halaman ayah saya di Jawa . Saat itu bulan Agustus, dan sedang terik-teriknya cuaca di sebagian besar pulau Jawa. Saya melihat ada sebatang pohon  yang tinggi sekali. Dan tiba-tiba ketika angin bertiup, buahnya seperti meledak…lalu serat kapuk itu bertaburan.  “ Itu pohon randu. Pohon kapuk ! Yang isinya untuk bantal di rumah,” kata ibu saya menjelaskan, melihat saya terheran-heran.
 
Betul. Saat itu saya  hanya terpana. Kagum. Belum pernah saya melihat pohon kapuk yang berbuah dan pecah seperti ini . Dalam hitungan detik, saya tersadar. Terbakar oleh kegembiraan. Lalu bersama dengan anak-anak kecil lainnya, kami berlarian mengejar serat-serat kapuk yang beterbangan kian kemari . Rasanya sangat senang ketika serat kapuk mendekat, lalu ketika hampir mencapai ketinggian yang terjangkau, ditiup lagi dengan sekuat tenaga….Serat kapuk  akan terbang lagi semakin tinggi…dan kami tidak bosan mengejarnya sampai kelelahan sendiri…hehehe…
 
Begitulah…masa libur saya di Jawa, dan di sudut-sudut kota Jakarta yang kala itu masih mirip dengan kampung besar  hampir setiap hari saya isi bersama teman-teman sebaya, sambil berkejar-kejaran dengan kapuk yang beterbangan. Saat itu juga saya baru tahu, bahwa kapuk yang setiap malam menemani saya tidur di dalam buntalan kasur dan bantal serta guling berasal dari buah pohon randu.
 
 
Memang kapuk, atau randu yang nama kerennya Ceiba pentandra adalah bahan utama pengisi kasur atau tilam untuk tidur. Kapuk ini memang tanaman tropis, dan berasal dari Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Karibia. Mungkin kedatangannya ke Indonesia juga berkat perjalanan para penjelajah samudra, yang kemudian mengembangkannya di Nusantara.
 
Seratnya yang empuk dan dapat menahan berat tubuh serta mengalirkan udara di antara tumpukan seratnya membuat kapuk menjadi pilihan utama yang cukup aman dan nyaman dibandingkan dengan bahan sintetis. Kapuk ini dapat bertahan cukup lama sebelum dia menjadi dingin atau mengeras. Biasanya, untuk membuat kasur dan bantal kapuk menjadi empuk dan gembur, maka kita harus sering menjemurnya di bawah sorotan panas matahari. Setelah kapuk di dalam buntalan atau sarung kasur menjadi kering, maka udara akan mengalir lagi di sela-selanya, dan kasur pun empuk kembali.
 
Jadi ingat juga niiiiih….duluuuu banget, jaman saya SMP dan SMA, tugas menjemur kasur setiap minggu adalah tugas saya. Kadang dibantu oleh salah seorang adik saya. Entah karena saya kelebihan tenaga, atau karena memang jatah anak sulung…( hahaha)…ayah saya selalu menyuruh saya mengangkut kasur kapuk itu untuk dijejer di halaman dan dijemur. Lalu…sambil menunggu kapuk mengering, maka  kami akan memeriksa celah-celah jahitan buntelan atau sarung kasur. Biasanya di situ suka bersarang kepinding atau tumbila, yang mirip kutu, dan kadang iseng menggigiti manusia.
 
Sambil menjemur  kami juga harus menebah-nebah kasur. Dipukuli dengan tebah terbuat dari jalinan rotan yang mirip dengan raket bulutangkis. Tujuannya agar debu yang melekat dan segala mahluk penghuni kasur akan pergi…hehe…Selain itu tentu agar kasur menjadi empuk. Memang…setelah dijemur dan dipukuli, malamnya saya akan tidur lebih nyenyak. Dengan kasur lembut dan hangat. Dan tentu saja…dengan mimpi yang lebih berwarna…hmh….
 
Dipikir-pikir, lucu juga yaaaa…rekreasi hari libur kok menjemur dan memukuli kasur kapuk…hahahaha…
 
 
Ngomong-ngomong tentang pohon randu , memang sekilas pohon ini biasa saja. Bukan pohon idaman produktif yang bisa diambil kayunya , semisal pohon jati atau kayu yang dapat dimanfaatkan untuk rumah dan perabotan lainnya . Atau seperti pohon beringin  rindang yang sering menjadi tempat berteduh.
 
Pohon randu yang nyaris gersang, dan berdaun agak jarang, membuat dia hanya ditanam untuk dipanen sekali setahun. Sebagai pengisi kasur dan bahan pelapis lainnya. Baru belakangan, setelah diketahui manfaatnya, dia mulai ditanam secara komersial dan menjadi komoditi andalan untuk meningkatkan ekonomi. Di beberapa daerah di Jawa, kapuk merupakan salah satu penyumbang ekonomi bagi perkembangan daerah. Sehingga namanya pun dikenal sebagai kapuk Jawa.
 
Khusus di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, para petani sering memanfaatkan siklus pohon randu sebagai penanda musim. Yaitu musim tanam dan musim panen. Biasanya di bulan-bulan Januari-Maret pohon randu akan mulai berdaun hijau, karena dia banyak menyerap air dari musim hujan. Para petani yang mengamatinya akan  mulai bercocok tanam, terutama padi mengikuti siklus daun pohon randu ini.
 
Dan ketika pohon randu mulai merontokkan daun-daunnya, saat buahnya mulai matang, maka pada saat itulah petani akan memanen hasil sawahnya. Musim panen biasanya dilakukan pada bulan Juli sampai September atau awal Oktober,  pada saat kemarau,  di mana matahari sedang memancar dengan teriknya .
 
Berabad-abad kebiasaan mengikuti siklus randu ini membuat para petani di Jawa juga menanam pohon randu di halaman rumahnya, atau di tegalan sawahnya. Bahkan hingga saat ini, ketika musim sudah berubah-ubah, dan jenis padi yang ditanam tidak membutuhkan waktu panjang, para petani masih bersahabat dengan pohon randu. Unik juga, ya…
 
 
Bertahun kemudian, selama tinggal di Jakarta, saya masih suka mengamati pohon randu. Memang sekarang jumlahnya tidak sebanyak bertahun-tahun lalu. Pohon randu dan banyak pohon lainnya harus berebut tempat dengan perumahan penduduk. Tapi seringkali, di sela-sela rumah yang berhimpitan, tampak sebatang pohon randu menjulang, dan sesekali melepaskan serat kapuknya yang mirip salju. Dan di antara ranting-rantingnya biasanya burung-burung akan berkicau riang, sambil mematuk ulat-ulat pohon randu yang konon cukup lezat cita rasanya…
 
Ahaaa…Barangkali juga, karena bentuknya yang gersang itu, pohon randu atau kapuk justru banyak member ilham bagi seniman. Banyak puisi dan lagu yang menceritakan tentang pohon randu ini. Kadang-kadang sisi jiwa seni saya pun tergerak melihat pohon randu. Entah mengapa, kegersangan pohon randu terkadang membuat hati tergelitik. Seperti melihat seseorang yang sedang kesepian di tengah keramaian. Aaachh…romantis sekali…
 
Itu sebabnya juga saya sering merasa sedih bila melihat pohon randu ditebang tanpa alasan yang jelas. Mungkin dia memang tidak produktif. Tapi saya yakin burung-burung masih suka bertengger dan bernyanyi di dahannya sambil mematuk-matuk ulat yang menjadi makanannya.
 
Seperti saat ini, ketika melihat sebatang pohon randu di Jakarta Selatan, yang ditebang dengan semena-mena. Hati saya rasanya teriris. Ingat burung-burung yang bernyanyi riang. Ingat petani yang mengandalkan siklus randu untuk penanda musim , ingat keceriaan masa kanak-kanak ketika berlarian mengejar serat-serat buahnya…oooh…
 
Menatap pohon randu yang telah rebah, hati saya pun tergugah. Usia perjalanannya memang telah usai. Tapi selama dia berdiri gagah di sana, dia telah memberikan kehidupan banyak sekali kepada mahluk lain di sekitarnya. Bahkan ketika dia telah menjadi potongan kayu-kayu kecil, ia masih kuat untuk dibuat pagar atau bahan bakar untuk masak.
 
Saya termenung. Sebatang pohon randu yang biasa-biasa saja telah memberi hidupnya dengan banyak manfaat. Sekarang…apa yang sudah kita berikan kepada kehidupan ini ? Apakah kita sudah memberikan kegembiraan kepada lingkungan kita ? Apakah kita sudah menjadi panutan bagi sekitar kita ? Apakah kita cukup kuat untuk menjadi pelindung dan pagar bagi orang yang kita sayangi dan kita cintai ???...

Aaaah…semoga saja…Ada ilmu yang dapat kita pelajari dari sebatang pohon randu yang bernyanyi rindu…
 
 
Jakarta, 29 September 2011
 
Salam hangat,
 
 
Ietje S. Guntur
 
 
Special note :
Terima kasih untuk sahabat perjalananku…mb Irma dan Mey…Ingat saat yang lucu di Bukit Randu, ya….hehehehe…sangat inspiratif…J…Terima kasih juga untuk sebatang pohon randu di Senayan, yang menjadi inspirasi tulisan ini…
 Kamis, 29 September 2011   19:18

Lego Jangkar Kompetensi Kelas Dunia!

Oleh: Andre Vincent Wenas


  Kompleksitas lanskap bisnis yang digambar lewat survey The McKinsey Quarterly pada bulan November 2007 memperlihatkan tiga kecenderungan global yang perlu disikapi secara memadai oleh setiap pelaku usaha. Trend pertama adalah semakin tajamnya persaingan perebutan talenta (baca: human capital) terbaik di dunia.

Kedua, terjadinya pergesaran pusat-pusat aktifitas ekonomi dunia. Kecenderungan global ketiga, adalah makin maraknya lingkungan networked-business (ala Li & Fung yang mampu mengorkestrasi puluhan bahkan ratusan anggota jaringannya secara harmonis dan menguntungkan).

  Selain itu, ada dua tema besar yang kerap muncul dan jadi concern dari hampir
setiap pelaku usaha disamping ketiga tantangan global tadi yang datang
bergulung-gulung. Pertama, bagaimana menggerakkan organisasi dengan lincah. Dan kedua, bagaimana menyikapi dengan tepat kenyataan keanekaragaman geografis dan regional.

  Ironisnya, tatkala ditanya soal kesiapan menghadapi tantangan dan keprihatinan global ini, lebih dari dua per tiga eksekutif mengatakan bahwa organisasinya tidak (belum) punya pandangan  jernih tentang perubahan apa yang perlu dilakukan demi meyelaraskan diri dengan kebutuhan pelbagai pembangunan ekonomi dan sosial yang menyeruak.

***

  Pernah diprediksi oleh para pemikir di Yayasan Indonesia Forum, bahwa
Indonesia di tahun 2030 bakal menempati posisi kelima (dengan ukuran PDB sekitar US$5.1 trilyun) setelah China ($28.2T), Amerika Serikat ($26.1T), Uni Eropa ($20.7T) dan India ($17.0T). Road-map menuju posisi 5 besar di tahun 2030 dibagi menjadi 3 tahap.

  Tahap 1, adalah perjalanan menuju tahun 2015 dengan laju pertumbuhan 5-7
persen per tahun. Ini disebut tahap Pembenahan (yang dibenahi adalah sistem dan pola pembangunan), di mana kita belajar dengan mengadopsi teknologi luar negeri sembari mengembangkan teknologi lokal. Tahap 2, adalah tahap Akselerasi (dengan pertumbuhan sekitar 9-11 persen per tahun). Cirinya, pertumbuhan sektor jasa lebih tinggi dibanding sektor industri. Tahap 3, adalah tahap Keberlanjutan, di mana tingkat pertumbuhan dijaga pada kisaran 7-9 per sen per tahun. Sekedar catatan bagi para professional Indonesia, di tahun 2030 perkiraannya PDB per kapita kita sudah mencapai US$18,000 dengan jumlah penduduk berkisar 285 juta orang. Dan perlu ingat, prestasi itu bisa tercapai jika rata-rata pertumbuhan 2006 – 2030 ada pada kisaran 8,5 persen per tahun, dengan rata-rata inflasi sebesar 3 persen, dan laju pertambahan penduduk rata-rata 1,12 persen per tahun.

***

  Dengan melihat ukuran-ukuran ekonomi sebagai lag-indicators (akibat), maka
perlu dipahami betul faktor-faktor apa saja yang merupakan lead-indicators-nya (penyebab). Kerangka balanced-scorecard membantu kita untuk melihat cause & effect dari asumsi-asumsi pertumbuhan itu. Urut-urutan dari faktor financial yang disebabkan faktor customer, di mana customer ini pada gilirannya hanya terjamin kepuasannya jika internal-process kita bisa menghasilkan produk atau jasa yang paling bernilai tambah. Dan pada analisa berikutnya, proses-proses bisnis (dan pembangunan) hanya bisa berjalan baik jika – pada ujungnya – faktor modal manusia bisa optimal dalam dimensi learning & growth-nya.

  Ini merupakan management-toolkit sederhana namun powerful bagi setiap kita
untuk secara sadar melihat dan mulai membangun kompetensi. Perlu sikap
pembelajaran sebagai profesional sejati yang berani hidup otentik agar
kontribusinya positif dan konstruktif bagi proses pengelolaan pembangunan.
Sehingga siapa pun yang dilayani oleh produk industri maupun jasa kita dapat
terpuaskan dan akhirnya target-target ekonomi bisa tercapai demi kemaslahatan bangsa.

***

  Di abad ke-14 China adalah negara paling maju di dunia, super-power. Gavin
Menzies (dalam bukunya: 1421, Saat China Menemukan Dunia, Pustaka Alvabet,
cetakan ke-3, 2007) mencatat: “Kapal yang paling kuat di dunia pada abad
keempatbelas dan awal abad kelimabelas, dan bahkan terbesar adalah kapal layar China. Ibnu Battuta, pengelana dan penulis dari Maroko yang juga menjelajahi Asia di abad keempatbelas, menulis bahwa perdagangan di seluruh dunia antara pantai Malabar di India dan China dilakukan oleh kapal-kapal China.” Kunci kemajuan mereka adalah faktor learning & growth bangsa China dan politik pintu terbuka. Sehingga tersedia pelataran yang lebar bagi pelbagai diskursus peradaban intelektual, sastra dan kebudayaan pada umumnya. Jangkar pembangunan seyogianya dilego pada eksploitasi potensi dan optimalisasi kompetensi human-capital yang otentik. Bukan disangkutkan pada artifisialitas, yang menggiring orang pada budaya instan dengan kecenderungan
koruptif, kolutif dan nepotis.
   
-------------------------------------------------
(artikel dari Majalah MARKETING)


STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Business Advisory & Management Consulting

Catatan:  Artikel ini pernah dipublikasikan di salah satu media. Segala hal yang menyangkut sengketa atas Hak Kekayaan Intelektual menjadi tanggung jawab Kontributor
Kamis,29 September 2011  14:14

Pertamax vs Shell

Oleh:   Agus Woro

Dear Moderator,
Mohon dimuat artikle saya ini sebagai inputan buat Pemerintah kita dari
pemikiran para manager.

Pertamax vs Shell

Gara gara pertengahan tahun lalu mobil saya mogok dikerjain Premium yg
bermasalah, terpaksa saya pindah ke Shell.
Saya memakai Hyundai Avega th. 2009 akhir, dan pada saat kejadian di dealer
resmi ternyata inden ratusan mobil sejenis yg hancur pompa bensinnya
dikerjain sama Premium dan dianjurkan menggunakan Pertamax. Mobil BMW saya
yg biasa saya kasih premium nggak ada masalah, juga hancur pompa bensinnya.

Bukan karena saya cinta produk Malaysia, tapi terutama karena dendam kesumat
terhadap ulah Pertamina yg seenaknya secara tidak bertanggung jawab
mengeluarkan produk yg tidak berkualitas yg merugikan jutaan customer (saat
itu sangat santer isu `black campaign` pertamina dg menurunkan secara
drastis produk Premium sehingga untuk jenis jenis tertentu akan terjadi
kerusakan di pompa bensinnya.

Siapa yg mengambil keuntungan dari kasus ini ? ternyata justru dg adanya
kejadian tsb., tempat tempat pengisian bahan bakar impor (Shell, Total) yg
sebelumnya sepi pembeli jadi ramai, karena harga mereka sama dg atau dibuat
sedikit lebih mahal (Rp.50) dari Pertamax.
Selain harga yg sama, juga pelayanannya jauh lebih bagus, mulai dari
fasilitas SPBU, keramahan pegawainya, service tambahan yg diberikan (cuci
kaca depan), dan yg tidak kalah penting kualitas BBM yg menurut saya jauh
lebih bisa dihandalkan dibandingkan Pertamax (saya benci produk Malaysia
tapi saya jauh lebih benci produk Pertamina yg tidak terjaga kualitasnya).

Hal yg menggelitik adalah harga.
Shell atau Total atau produk impor lainnya dijual dg harga sama dg produk
lokal.
Produk Impor melalui proses dan biaya yg lebih panjang untuk sampai di SPBU
Indonesia, termasuk proses custom di Bea Cukai, Inventory, dll kok bisa
dijual sama dg harga produk lokal. Harga mereka naik justru karena mengikuti
harga Pertamax, saya yakin kalau dibebaskan, mereka pasti bisa menjual lebih
murah dari Pertamina.
Alasan mengikuti harga minyak dunia jadi klasik dan berkesan membodohin
konsumen.

Lalu siapa yg Rugi? Yg rugi tentunya negara, karena akhirnya banyak devisa
yg kesedot keluar. Himbauan untuk menggunakan Pertamax jadi sesuatu yg lucu,
karena harganya naik terus dan gap dg Premium makin tinggi.
Kalau mau seharusnya Premium sedikit dinaikkan dan Pertamax diturunkan,
sehingga Gap tidak jauh, tentunya dg menjaga kualitasnya kalau tidak mau
dihabisin oleh produk impor.

Ada pendapat ? yuk kita berikan inputan ke Pertamina (moga moga aja didengar
dan diperhatikan dan ada keinginan untuk berubah). Kasihan rakyat yg selalu
dijadikan korban.

Salam

Agus W
Kamis, 29 September 2011  11:18

Membangun Hubungan yang Sehat

Oleh:  Dadang Kadarusman

Hore, Hari Baru! Teman-teman.
 
Salah satu istilah umum yang nyaris menghilang dari kamus kita adalah kata ’kuper’ alias ’kurang pergaulan’. Kemajuan teknologi memungkinkan kita untuk berteman dengan semakin banyak orang dalam jumlah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Dulu, jika memiliki teman sampai 100 orang saja Anda termasuk orang yang supel. Padahal, tidak mudah untuk mendapatkan teman sebanyak itu. Untuk berhubungan dengan mereka kita mesti menulis surat lalu mengirimkannya melalui kantor pos. Dan kita, harus menunggu hingga seminggu untuk mendapatkan balasannya. Itu dulu. Sekarang? Bahkan orang paling ’kuper’ pun bisa memiliki teman ribuan. Orang pintar bilang;’kita semakin terkoneksi’. Pertanyaannya adalah; apa yang kita dapatkan dari kesalingterhubungan itu?
 
Pertanyaan itu sama sekali tidak bertendensi untuk mementingkan diri sendiri. Kita memang berhak untuk mendapatkan manfaat dari setiap hubungan yang kita bangun, kok. Sebaliknya, pertanyaan itu juga mengingatkan kita untuk memastikan bahwa hubungan itu bisa memberi manfaat kepada teman kita juga. Lantas, bagaimana kita bisa membangun hubungan yang saling memberi manfaat seperti itu? Salah satu model paling sempurna yang ditunjukkan oleh alam adalah hubungan yang terjalin antara kupu-kupu dengan bunga-bunga yang bermekaran. Kupu-kupu itu mendapatkan nektar, sedangkan bunga-bunga berhasil melakukan penyerbukan. Proses saling memberi manfaat itu berlangsung dalam koridor dan norma-norma positif, sehingga mereka berhasil membangun hubungan yang sehat. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar membangun hubungan yang sehat, saya ajak memulainya dengan mempraktekkan 5 prinsip Natural Intelligence (NatIn) berikut ini:
 
1.      Memberi manfaat kepada orang lain.

Ini adalah prinsip mendasar yang perlu kita miliki dalam membangun hubungan yang sehat. Karena sebuah hubungan yang produktif itu selalu ditandai oleh adanya perolehan manfaat, maka dalam membangun hubungan dengan orang lain, kita perlu memastikan; manfaat apa yang bisa kita berikan kepada orang lain. Kesediaan untuk ’memberi manfaat’ kepada orang lain bukanlah sekedar cermin dari kemurahan hati. Hal ini juga menunjukkan bahwa orang ini memiliki harga diri. Sedangkan harga diri hanyalah milik orang-orang yang bermental sehat. Tahukan Anda bahwa salah satu ciri orang yang terkena depresi itu adalah; merasa dirinya tidak berguna? Makanya, kemampuan untuk memberi manfaat kepada orang lain juga merupakan indikasi apakah seseorang sehat secara mental atau tidak. Apakah Anda sehat secara mental? Tentu saja. Maka, berfokuslah kepada upaya-upaya untuk memberi manfaat kepada orang lain. Atau, apakah Anda ingin terbebas dari depresi? Sederhana; berikan manfaat yang lebih banyak kepada orang lain. Karena kesehatan mental kita terlihat dalam kemampuan kita memberi manfaat kepada orang lain.
 
2.      Menjembatani hubungan orang lain.

Pada umumnya, benang sari dan putik terdapat pada bunga yang berbeda. Bunga-bunga itu membutuhkan bantuan dari pihak lain untuk mempertemukan antara tepung sari dengan putiknya. Disekitar kita, begitu banyak orang baik yang membutuhkan penghubung. Saat Anda tahu tentang kebutuhan itu, maka Anda bisa mengambil peran untuk menjembatani terbentuknya hubungan itu. Hal ini tidak hanya berlaku soal mencari teman hidup atau soul mate.  Melainkan juga berlaku pada aspek kehidupan lainnya. Saya pribadi telah banyak berhutang budi kepada orang-orang yang bersedia menjadi penghubung seperti itu. Sebagian besar order program pelatihan saya diperoleh atas jasa mereka bahkan tanpa saya minta. Mereka tahu saya punya jasa pelatihan yang baik dan unik. Mereka juga tahu ada orang yang membutuhkan pelatihan itu. Sayangnya, saya tidak terhubung dengan orang atau perusahaan yang membutuhkannya. Sedangkan teman-teman saya berada diantara kami berdua. Lalu mereka dengan sukarela menghubungkan kami. Sungguh, rasa terimakasih dan respek saya kepada orang-orang yang telah berjasa ini tetap abadi didalam hati. Mereka selalu bersedia untuk menjembatani hubungan orang lain.  
 
3.      Membantu orang lain untuk lebih produktif.

Mungkin Anda pernah mempunyai tanaman yang tidak pernah berbuah. Meskipun pohon itu selalu berbunga dengan jumlah yang sangat banyak, tetapi bunga-bunga itu terus berguguran dan berserakan diatas permukaan tanah. Hal itu pasti terjadi jika proses penyerbukan gagal dilakukan. Padahal, sebagian besar tanaman dimuka bumi ini baru disebut produktif jika buah yang dihasilkannya banyak. Manusia juga begitu. ‘Apa yang kita hasilkan’ merupakan ukuran produktivitas kita. Dizaman ini, nyaris tidak ada produktivitas yang dihasilkan dari usaha dan kerja keras sendirian. Justru produktivitas kita semakin tinggi ketika kita ditolong oleh orang lain. Sebaliknya, pertolongan yang kita berikan kepada orang lain juga bisa membantu mereka untuk menjadi pribadi yang lebih produktif lagi. Tanpa penyerbukan, tidak akan pernah ada buah yang dihasilkan. Banyak pohon yang ditebang karena tidak pernah bisa berbuah. Padahal, pohon itu butuh bantuan untuk proses penyerbukannya. Banyak orang yang merana karena produktivitasnya rendah. Bahkan ada yang sampai kehilangan perkerjaan. Padahal sebagai seorang teman, kita memiliki kesempatan dan kemampuan untuk membantu mereka agar lebih produktif. Bersediakah Anda menolongnya?
 
4.      Mendapatkan imbalan yang sepadan.

Kupu-kupu mendapatkan nektar yang dijadikannya sebagai makanan. Hal ini mengisyaratkan bahwa kita perlu belajar menghargai kontribusi orang lain. Juga tidak usah sungkan menerima ucapan terimakasih dari orang lain. Tidak terlalu penting apakah take dulu baru give, atau sebaliknya. Selama memberi dan menerima itu terjalin secara seimbang dalam batas-batas kewajaran, maka hal itu bisa membuat hubungan yang kita bangun jauh lebih sehat. Apakah imbalan selalu dalam bentuk uang? Tidak. Ada kalanya imbalan itu berupa rasa puas yang menelusup kedalam kalbu. Meski hedonisme mengukur segalanya secara materialistik, tapi hati sanubari kita membisikkan bahwa kita membutuhkan lebih dari sekedar pemenuhan aspek fisik. Kita, membutuhkan pemenuhan atas dorongan untuk memberi manfaat kepada orang lain. Bukankah Anda merasa sangat bahagia ketika bisa menolong orang lain mendapatkan kebahagiaan yang dibutuhkannya? Saat bersedakah, Anda merasa senang. Waktu menolong, Anda merasakan kepuasan batin. Ketika berbuat baik, Anda merasakan kedamaian. Itu menunjukkan bahwa meskipun tidak selalu mendapatkan uang, kita pasti mendapatkan imbalan yang sepadan.
 
5.      Harapkan imbalan yang paling hakiki.

Selain dilakukan oleh kupu-kupu, penyerbukan juga dibantu oleh angin. Jika kupu-kupu, lebah dan kumbang mendapatkan manfaat dari interaksi dan kontribusinya kepada bunga; apa yang didapatkan oleh angin? Meski tidak mendapat apapun, angin tetap memberikan bantuan untuk mempertemukan tepung sari dengan putiknya. Inilah contoh tindakan tanpa pamrih. Kita juga bisa berkontribusi kepada orang lain tanpa harus selalu menuntut pamrih. Ada kalanya kita membantu teman menemukan pekerjaan idamannya. Atau merekomendasikan seseorang yang memiliki produk dan jasa yang baik.  Atau sekedar menjadi penghubung agar orang-orang baik saling terkoneksi. Jika Anda tidak mengharapkan imbalan, maka nilai kebaikannya sangatlah tinggi. Lantas, apa yang didapatkan oleh angin? Dia memperoleh fitrahnya untuk menjalankan fungsi sebagai mahluk Tuhan. Lalu, apa yang Anda dapatkan dari tindakan tanpa pamrih itu? Nanti, jika Anda membutuhkan bantuan; teman-teman Anda akan dengan senang hati menolong Anda, bahkan dengan cara yang tidak terduga. Dan buat Anda yang tidak pamrih, ada pahala yang sangat besar dihadapan Tuhan. Bagi setiap insan yang mau berkontribusi tanpa pamrih, tidak ada imbalan yang lebih baik daripada pahala yang disediakan Tuhannya.
 
Sudah menjadi fitrah setiap pribadi untuk berteman dengan individu lain. Saling mengenal. Saling berbagi. Saling berkontribusi. Jika kita bisa berfokus kepada hal-hal positif seperti itu, maka kesalingterhubungan kita akan menghasilkan berkah yang melimpah. Sekalipun demikian, tetap saja kita perlu waspada. Sebab, tidak semua orang berteman dengan tujuan konstruktif. Terbukalah terhadap pertemanan yang baik. Namun, tegaslah untuk selalu menjaganya dalam koridor yang tetap positif. Teman yang baik, bisa membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik. Jika itu terwujud, maka pertemanan kita tidak menghasilkan apapun selain kebaikan. Bersediakah Anda untuk membangun hubungan yang sehat bersama saya?
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - Deka –  29 September 2011
Penulis buku ”Natural Intelligence Leadership” (jadwal terbit Oktober 2011)
 
Catatan Kaki:
Teman terbaik adalah seseorang yang bersedia mengulurkan tangan ketika temannya membutuhkan bantuan, tanpa terlebih dahulu bertanya; what in it for me?
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.

Kamis, 29 September 2011  08:55

Caveat bagi Indonesia Inc.!

Oleh: Andre Vincent Wenas


“Sapere aude! (beranilah berpikir mandiri!)” – semboyan abad pencerahan Eropa.

***

    Disaat sukubunga simpanan rata-rata di kawasan Eropa ada di kisaran titik
nadir (sekitar 1%, bahkan kurang), maka – diduga – banyak “uang nganggur” dari para trilyuner Indonesia (juga pemodal asing) yang (kembali) diparkir di
Indonesia yang nota bene masih menawarkan suku bunga deposito yang jauh lebih menawan (sekitar 5%-6%). Likuiditas yang tinggi ini seyogianya segera
dimanfaatkan – terutama oleh pemerintah – lewat pelbagai instrumennya agar bisa disalurkan ke sektor riil.

    Derasnya capital-inflow ini mestilah segera “dijaga” dari bahaya pembalikan
modal (capital-outflow). Deputi Gubernur BI, Halim Alamsyah, mengatakan bahwa capital-outflow ini, “… bisa ditangani dengan penyerapan dana ke pembangunan infrastruktur, misalnya pembangunan jalan tol, pembangkit listrik, dan lain-lain.” Rencana ini bisa direalisasi lewat instrumen SUN (surat utang negara) imbuhnya, yang kemudian bisa dimediasi untuk pembangunan proyek infrastruktur. Juga, dunia usaha perlu terus didorong agar mau mencari dana ekspansi usahanya lewat pasar modal (initial public offering). Sehingga, dengan maraknya obligasi pemerintah serta ramainya event IPO di pasar modal maka kapasitas penawaran instrumen investasi bakal meningkat, dan ini pada gilirannya akan meminimalkan gejala penggelembungan (bubble) aset. Dampak multiplikasinya akan sangat kondusif untuk kesempatan kerja, naiknya produktivitas dan pengendalian inflasi.

***

    Dikabarkan (Koran Jakarta, 23 Oktober 2010) bahwa Menkeu Agus DW
Martowardojo bakal tidak menghadiri pertemuan kelompok G20 di Seoul Korsel 11-12 November 2010 ini. Tentang ini dikatakan bahwa Menkeu telah menunjukkan sikapnya yang tegas dan berani. Apa pasal? Rupanya dalam pertemuan itu IMF diprediksi akan mendikte (lagi) negara-negara Asia agar membiarkan kurs mata uangnya terapresiasi. Kebijakan ini berpotensi merugikan pihak Indonesia lantaran nilai tukar rupiah bakal dibiarkan menguat secara semu tanpa support yang jelas dari perbaikan perekonomian yang adekuat. Gesture Menkeu ini disinyalir mengisyaratkan tekad yang kuat untuk membuat kebijakan ekonomi yang mandiri.

    Berkata Menkeu Agus, “Kita dapat memahami apabila beberapa negara maju
merasa bahwa mata uang China yang terlalu lemah memang mempersulit. Namun, China juga tidak bisa begitu saja menaikkan mata uang mereka.” Menguatnya rupiah beberapa waktu belakangan ini telah dirasa berdampak kontraproduktif, di antaranya melonjaknya impor (terutama barang konsumsi!) yang diiringi dengan melemahnya ekspor.

***

    Kita tahu bahwa konsumsi (belanja) – di samping produksi – adalah daya
pendorong pertumbuhan ekonomi. Dan pos belanja yang cukup signifikan adalah belanja negara. Namun apa yang terjadi? Akibat gurita birokrasi yang menjerat leher sendiri, pertumbuhan ekonomi bakal sulit mengandalkan konsumsi negara.
Disinyalir bahwa salah satu masalah utama kelambanan belanja negara adalah soal pengadaan lahan. M.Chatib Basri (22 Oktober lalu) mengatakan bahwa per 15 Oktober, realisasi belanja negara tercatat Rp 681,69 trilyun atau baru 60,5%
dari pagu 2010.

    Selain kendala pembebasan lahan, isu realisasi penyerapan anggaran masih
juga seret. Kualitas kepemimpinan di daerah yang memprihatinkan telah membuat daerahnya sendiri kesulitan membangun infrastruktur, lantaran sebagian besar dananya ditempatkan di SBI (serfikat Bank Indonesia), padahal – dengan desentralisasi fiskal – daerah adalah ujung tombak pembangunan. Akibat dipilih langsung, maka pemerintah daerah tidak bisa begitu saja diatur oleh pemerintah pusat. Diduga, cara main aman (simpan dana di SBI) adalah akibat dari  rasa ketakutan yang eksesif terhadap KPK dan BPK, sehingga akhirnya malah memacetkan programnya sendiri.

    Peliknya gurita birokrasi ini juga membuat Prof.Bambang PS Brodjonegoro
pesimis, dikatakannya bahwa, “Pola belanja anggaran sulit berubah untuk
menyesuaikan diri dengan kondisi krisis. Prosedur birokrasi masih terlalu rigid,
cukup rumit… Perlu terobosan seputar pencairan dan penyerapan anggaran agar lebih optimal berfungsi sebagai stimulus fiskal.”

***

    Di tengah tekanan IMF yang mendesak agar kurs mata uang kita dibiarkan
menguat (yang konsekuensinya bakal melemahkan ekspor) serta derasnya aliran modal yang masuk ke Indonesia (yang seyogianya segera disiasati agar tersalur ke sektor riil) maka kita seolah sedang berpacu melawan waktu.

    Seberapa besar magnitude konspirasi IMF untuk “menekan” kita serta seberapa cepat kita bisa segera – secara kompak – memecut seluruh tenaga kuda perekonomian Indonesia Inc. untuk berpacu dalam sirkuit global, inilah yang seyogianya menjadi agenda utama dalam diskursus para pemikir/pelaku pembangunan.
Dalam situasi krisis, seperti telah dipicu oleh Menkeu Agus, beranikah kita
menentukan sikap mandiri. Seperti dulu saat Eropa memasuki abad pencerahannya, sapere aude! Selamat hari pahlawan.

-------------------------------------------------
(artikel dari Majalah MARKETING)


STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Business Advisory & Management Consulting

Catatan: Artikel ini sebelumnyapernah dikontribusikan di salah satu media. Segala yang yang timbul berkenaan dengan sengketa hak cipta menjadi tanggung jawab kontributor
Rabu, 28 September 2011  15:14