Jumat, 21 Oktober 2011

Tugas Kecil Hanya Akan Membuat Anda Kerdil

Oleh:  Dadang Kadarusman

Hore, Hari Baru! Teman-teman.
 
Jika boleh memilih antara gaji besar dan gaji kecil, apa pilihan Anda? Pertanyaan yang kurang cerdas. Jika dihadapkan pada 2 pilihan antara mengerjakan sesuatu yang sudah biasa Anda lakukan dengan baik atau sesuatu yang Anda belum terampil melakukannnya; Anda pilih yang mana? Tidak usah khawatir, ini bukan soal pilihan antara benar dan salah kok. Kebanyakan orang mendahulukan kenyamanan. Maka wajar jika mereka memilih mengerjakan tugas-tugas yang mudah. Selain memberi rasa nyaman, pekerjaan gampang tidak memerlukan kerja keras dan bisa menghemat banyak keringat. Tak heran jika banyak orang yang merasa berat hati ketika mendapatkan penugasan yang sulit. Bahkan tidak sedikit yang rela karirnya tidak berubah karena merasa sudah sangat nyaman dengan pekerjaan yang dilakukannya selama bertahun-tahun. Boleh saja jika memang itu sudah menjadi pilihan hidup kita. Tapi, jika kita masih mengeluhkan hasilnya, itu pertanda ada yang salah dengan pilihan kita.
 
Dua minggu lalu sahabat saya menunjukkan pohon beringin bonsai yang dimilikinya. Lalu saya teringat kepada pohon beringin besar yang tumbuh dihalaman belakang rumah kakek saya di kampung ketika saya masih kecil dulu. Membayangkan kedua beringin itu, tiba-tiba saya merasa miris sendiri. Jangan-jangan saya ini sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar. Namun, saya membiarkan diri sendiri kerdil seperti beringin bonsai itu. Seolah tersadar dari keterlenaan yang telah bertahun-tahun ini saya alami, saya melihat betapa banyak potensi diri yang saya sia-siakan selama ini. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memaksimalkan potensi diri, saya ajak memulainya dengan mempraktekkan 5 prinsip Natural Intelligence (NatIn) berikut ini:
 
 
1.      Behentilah bermain di arena kecil. Jika Anda sudah tidak lagi mengalami kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaan yang Anda tangani, boleh jadi sebenarnya Anda sudah tidak cocok lagi dengan pekerjaan itu. Huhu, bukankah justru sebaliknya? Bukan. Salah satu alasan mengapa pohon beringin di rumah teman saya itu menjadi bonsai adalah karena dia secara sengaja ditempatkan pada pot beton yang sangat kecil. Beda dengan beringin raksasa di kebun kakek saya. Tanahnya luas, nutrisinya banyak, ruang geraknya leluasa. Maka jadilah beringin teman saya kerdil. Dan jadilah pohon beringin kakek saya menjulang tinggi dengan akar gantungnya yang besar dan kekar. Begitu pula dengan pekerjaan. Jika Anda masih terus bertahan dalam pekerjaan yang sudah menjadi tugas cetek dan celepete itu, bisa jadi Anda membiarkan diri sendiri menjadi bonsai. Kita sering mengkalim diri sebagai orang yang berjiwa besar dan berkehormatan besar. Namun, kita membiarkan diri sendiri ngendon di ruang kecil yang hanya cocok untuk mereka yang memiliki kapasitas kerja yang juga kecil. Terlalu mudahnya pekerjaan yang Anda tangani itu adalah indikasi jika kapasitas diri Anda sudah lebih besar. Maka datanglah kepada atasan Anda untuk penugasan yang lebih menantang. Karena seperti pot mungil; tantangan kecil hanya cocok untuk orang kecil, atau orang besar yang ingin menjadi kerdil.
 
2.      Tumbuhkanlah keinginan untuk menjadi orang besar. Kalau merasa takut keluar dari arena kecil untuk memasuki arena bermain yang lebih besar itu wajar. Namun kita memiliki pilihan apakah akan menjadikan rasa takut itu sebagai alasan untuk tetap diam ditempat, ataukah sebagai daya dorong untuk mengembangkan diri agar bisa menjadi pribadi yang lebih besar. Pilihan itu menghasilkan sebuah perbedaan bermakna. Orang-orang yang terkurung dalam ketakutan tidak akan pernah keluar dari penjara aman yang dibuatnya sendiri. Sedangkan orang-orang yang terdorong oleh rasa takut proporsional justu semakin bersemangat untuk terus mengembangkan diri. Saya melihat akar bonsai itu memberontak keluar dari pot kecilnya. Bahkan ada bagian pot yang retak. Terlihat sekali jika sebenarnya bonsai itu ingin tumbuh membesar seperti yang seharusnya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita menggeliat mencari tantangan lebih besar ataukah justru diam saja ditempat berhambatan kecil? Kita kalah oleh tanaman jika demikian. Tantangan besar sering tidak datang dengan sendirinya. Maka seperti akar bonsai itu, kita sendirilah yang harus mencarinya keluar dari tempat persembunyian. Banyak atasan yang enggan memberi penugasan besar kepada orang-orang tertentu. Mengapa? Karena kebanyakan orang memiliki seribu satu alasan untuk menolaknya. Kita? Karus seperti akar itu. Mendatanginya. Dan mempersiapkan keterbukaan diri untuk menerima tantangan besar.
 
3.      Pancinglah kesempatan besar dengan umpan yang besar. Bayangkan jika Anda berharap bisa menangkap hiu, namun Anda menggunakan sampan kecil. Dengan kondisi seperti itu, didatangi oleh hiu justru sangat berbahaya. Banyak kejadian yang patut kita ambil hikmahnya. Misalnya orang-orang yang mendapatkan jabatan atau tanggungjawab yang ‘terlalu besar’ dibandingkan dengan kapasitas dirinya yang kecil. Mereka berambisi untuk mendapatkan ikan besar, tapi lupa untuk memperbesar alat pancingnya. Mereka berambisi mendapatkan jabatan tinggi, tapi lalai mengimbanginya dengan kapasitas dan kemampuan diri yang juga tinggi. Akhirnya? Kinerjanya buruk. Frustrasi. Dilecehkan kolega dan bawahan. Lalu, melarikan diri ke tempat lain karena sudah tidak sanggup lagi mengatasi tantangan yang dihadapinya. Ditempat baru, kejadiannya tidak jauh berbeda. Pasti akan terulang lagi. Kecuali jika mereka kembali memasuki kolam kecil yang sesuai dengan kapasitas dirinya. Sebaliknya jika penugasan besar itu diberikan kepada orang-orang yang memiliki kapasitas diri yang besar. Dia tentu bisa mengembannya dengan sebaik-baiknya. Jadi, jika ingin mendapatkan tanggungjawab yang besar, kita mesti belajar untuk terlebih dahulu membuat kapasitas diri kita tambah besar. Karena, hanya orang besar yang layak mendapatkan kesempatan besar.
 
4.      Besarkanlah kapasitas diri dengan kemauan sendiri. Saya berani mengatakan bahwa Anda tidak bisa mengandalkan proses pengembangan kapasitas diri Anda kepada atasan Anda. Mengapa? Karena proses pengembangan diri itu harus dimulai dari kesadaran yang datang dari diri Anda sendiri. Atasan Anda hanya bisa memfasilitasi prosesnya, atau merekomendasikan program pelatihannya, atau sekedar menyediakan budgetnya. Apakah Anda berhasil mengembangkan kapasitas diri itu atau tidak, atasan Anda tidak memiliki kuasa untuk itu. Faktanya? Banyak orang yang ikut suatu pelatihan namun tidak menerapkan ilmu yang diperolehnya di tempat kerja. Banyak juga bawahan yang mengelak untuk mendapatkan penugasan menantang yang sebenarnya merupakan kesempatan bagi mereka untuk berkembang lebih cepat. Bukankah kita sering mengomel kalau diberi tugas yang sulit? Padahal kita tahu bahwa pengalaman adalah bekal yang paling relevan, berdampak, dan berdaya guna. Dan itu tidak bisa kita raih selain dengan menjalaninya sendiri. Kebanyakan orang langsung nyantai begitu pekerjaannya selesai. Banyak juga yang sengaja melambat-lambatkan pekerjaanya dengan maksud menghindari penugasan lainnya. Tapi seorang staff memiliki kemauan yang sedemikian kuat untuk berkembang lebih pesat. Dia beristirahat hanya pada waktunya istirahat. Lalu berpindah dari tugas yang satu kepada tugas yang lain. Setahu saya, karir orang ini melejit sangat cepat. Bahkan melampaui posisi mantan atasannya. Mengapa hanya dia yang begitu? Apakah atasannya pilih kasih? Tidak. Itu karena memang dia memiliki kemauan untuk memperbesar kapasitas dirinya sendiri.
 
5.      Raihlah kesempurnaan dengan proses pencarian tanpa henti. Orang-orang yang merasa dirinya sudah sempurna pasti jauh dari kesempurnaan. Mengapa? Karena tidak ada satu hal pun dimuka bumi ini yang benar-benar statis. Semua bergerak secara dinamis. Bahkan benda-benda yang terlihat diam pun sebenarnya bergerak. Apakah secara absolut pada tingkatan atomiknya, maupun secara relatif dalam tingkatan kosmiknya. Segala sesuatu yang hari ini kita kira sebagai puncak pecapaian, akan segera kadaluarsa lalu digantikan oleh pencapaian lain yang jauh lebih bernilai. Kesempurnaan pencapaian diri kita itu laksana undakan anak tangga. Setiap kali kita menanjak naik, posisi kita memang menjadi lebih tinggi. Namun kita tidak benar-benar sampai ke puncak tertinggi. Jika kita berhenti pada anak tangga itu, maka kita hanya akan bisa mencapai setinggi itu. Lihatlah satu anak tangga lagi, maka kita akan tahu bahwa meski sudah tinggi tapi kita belum cukup tinggi. Naiklah lagi, dan posisi kita lebih tinggi lagi. Naiklah lagi, dan naiklah lagi. Itulah satu-satunya cara untuk menapaki ketinggian nilai-nilai kemanusiaan diri kita sendiri. Yaitu dengan pencarian yang tanpa henti. Sebagai imbalannya, setiap penemuan yang kita dapatkan itu semakin mendekatkan diri kita pada kesempurnaan diri. Karenanya, kesempurnaan hanyalah milik para pencari tanpa henti.
 
Banyak karyawan yang sangat senang dengan penugasan ringan. Mereka merasa nyaman dengan segala kemudahan dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Padahal, justru kondisi itu sangat membahayakan karir mereka sendiri. Tugas-tugas ringan yang kita dapatkan dari pekerjaan tidak ubahnya seperti pot-pot kecil yang akan menghalangi pertumbuhan akar, dahan dan ranting-ranting kapasitas diri yang besar. Jika pohon beringin yang bisa tumbuh puluhan meter pun bisa dikerdilkan untuk menjadi hanya 15 senti, maka kapasitas diri kita yang sangat besar itu pun pasti bisa dikerdilkan hanya dengan cara memberinya tugas-tugas yang kecil. Maka mulai sekarang, berhentilah merasa nyaman dengan tugas-tugas kecil.  Dan mulailah untuk memberikan pohon kapasitas diri Anda tanah yang luas dan besar agar bisa tumbuh hingga sebesar-besarnya.
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - Deka –  4 Oktober 2011
Penulis buku ”Natural Intelligence Leadership” (jadwal terbit Oktober 2011)
 
Catatan Kaki:
Mengembangkan diri itu hanya bisa berhasil dengan kesediaan untuk bermain dengan peran dan tanggungjawab yang lebih besar.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.

Selasa, 4 Oktober 2011  11:07

The FINE DAY 05.10.2011: "Investasi Paper Assets versus Real Assets"

Oleh:  Freddy Pieloor

Dear Rekan,


Selamat pagi,


Kita jumpa lagi dalam momen The Fine Day tanggal 5 Oktober 2011.

Kali ini saya ingin berbagi dengan tema:

"Paper Assets versus Real Assets"

Paper assets : harta tdk "real" dalam bentuk kertas, seperti deposito, reksadana, saham, obligasi dll.

Real assets : business, emas, properti dll. Ada phisiknya dan dikuasai oleh pemilik.

Kekurangan paper assets:
Tdk ada phisik
Penguasaannya ditangan orang lain
Dikenakan biaya (oleh pihak ke 3)
Return-nya terbatas, dan ditentukan pihak ke 3
Tidak bisa di-refinancing
Fluktuatif (saham)

Kelebihan Paper assets:
Mudah penyimpanan, namun harus lebih berhati2 (mudah keselip atau hilang)
Biaya pemeliharaan yang murah

Kekurangan Real Assets:
Perlu pemeliharaan
Kurang Likuid

Kelebihan Real Assets:
Returnnya ditentukan pemilik (bisnis-profit dan properti-disewakan), lebih tinggi
Bisa di-refinancing (properti)
Bisa dibiayai oleh bank (bisnis dan properti)

Unit Link saya tidak kategorikan sebagai investasi, karena UL adalah asuransi ber-ajinomoto investasi.

----

Sebelum memasuki Paper Assets sebaiknya Anda memiliki Real Assets terlebih dahulu, seperti Logam Mulia dan Rumah pribadi.

Perbandingan Paper Assets dan Real Assets : +/- 30% : 70%, sesuaikan dengan profil risiko diri, tujuan keuangan, pengetahuan dan pengalaman diri.

-----

Investasi bukan ikut-ikutan dan ingin cepat-cepat sampai (kaya instant).

Investasi adalah sebuah rencana dan harus memiliki "peta" sebelum melakukannya.

Investasi adalah proses dan monitoring serta adjustment.

Dalam buku saya "Investasi Cerdas", saya sampaikan:
Penipuan Investasi adalah "Orang Pintar yang ingin cepat-cepat kaya membodohi Orang Goblok yang ingin cepat-cepat kaya pula!".

Keserakahan (tidak sabar dan tidak mau kerja keras), kebodohan, sok pintar (takut diketahui kurang pandai), takut ketinggalan kereta (emang mau pulang kampung), mudah percaya teman/saudara (uang tidak kenal saudara), perasaan tidak enak menolak (lebih tidak enak kalo uang sudah melayang) adalah beberapa penyebab timbulnya penipuan investasi.


-----

Demikian sharing saya, semoga bermanfaat.



Salam,
Freddy Pieloor
Rabu, 5 Oktober 2011  06:46

Petualangan "Safety" untuk Anak

Oleh:  Lorco Safety

Home Safety Council mengeluarkan buku tentang petualangan anak anak dalam mengutamakan keselamatan di rumah.
The Home Safety Council (HSC) adalah sebuah orgnisasi non profit di Amerika Serikat yang mendedikasikan gerakannya untuk mencegah kecelakaan di rumah. Menurut hasil pendataan mereka, ada 20.000 kematian dan 21 juta kecelakaan yang terjadi di rumah. Diantara korbannya adalah anak anak.
HSC mengeluarkan sebuah buku elektronik dalam bentuk pdf yang bisa diunduh gratis berisi pesan pesan safety untuk keselamatan anak di rumah dalam bentuk permainan bergambar. Anak diajak berpetualang ke seluruh bagian rumah untuk belajar identifikasi potensi bahaya dengan cara yang sederhana dan menyenangkan. Berikut ini adalah reviewnya.
  • Anak diajak berpetualang di ruang tamu untuk melihat gambar suasana ruang tersebut yang berantakan dan banyak potensi bahaya seperti koran yang berpotensi terbakar karena diletakan dekat perapian yang menyala dan bola yang diletakan di tangga.
  • Anak diajak berpetualang mencari benda benda di sekitar rumah yang bisa menyebabkan terbakar, terjatuh, beracun, dan tersedak.
  • Anak diajak untuk berpetualang mencari kata kata tersembunyi yang berhubungan dengan safety dalam rangkaian  huruf acak.
  • Anak diajak berpetualang untuk membandingkan aktivitas keseharian di rumah antara yang bahaya dan yang aman.
  • Anak diajak berpetualang ke dapur untuk mencari dan mewaspadi potensi bahaya disana.
  • Gambar gambar lain serta puzzle yang mengajak anak untuk mengenal safety di rumah dengan cara yang menyenangkan melalui permainan bergambar.
Ayo kita sosialisasikan secara menyenangkan, berbagai tips safety untuk anak anak kita dan keluarga di rumah.

Salam Safety untuk Anda dan Keluarga di Rumah
Sumber: Lorco.co.id  dan diadaptasi juga dari berbagai sumber
Download Gratis  2 Halaman Safety for Kids (dalam Bahasa Indonesia) dan Ebook dari HSC tersebut (dalam Bahasa Inggris) dengan klik  di sini
(Silahkan membagikan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber aslinya)
By Kang Aa Widi Safari

Rabu, 5 Oktober 2011   09:27

Blogger Nusantara Blogpreneur Nasional

Oleh:  Budi Setiawan

Kopdar 1000 Blogger Nusantara adalah awal kebersamaan blogger, sekaligus langkah maju untuk melahirkan semakin banyak bloggerpreneur di Indonesia. 
Aku dan mungkin kebanyakan orang Indonesia lainnya, awalnya menulis di blog hanya sekedar untuk menyalurkan hobi nulis sekaligus pelampiasan rasa galau yang menyesakkan. *uhuk* Aku sendiri menulis di blog sejak 2007 dengan menggunakan free blog dari WordPress.com. Sempat beralih ke blogspot.com atau blogger.com tapi kembali lagi menggunakan wordpress.com. Wajar karena hanya sekedar penyaluran, maka lebih memilih layanan gratis dari pada menggunakan hosting sendiri yang berbayar.
Selama 4 tahun ngeblog, tulisanku sifatnya lebih seperti onani atau bertendesi memuaskan diri sendiri. Tulisan tentang apa yang terlintas dipikiran, apa yang dirasakan, atau apa yang dialami. Tidak peduli struktur tulisan, pemilihan kata atau bahkan keinginan untuk berinteraksi dengan pembaca. Blogger semacam ini, sebut saja blogger pemula, mungkin kategori terbesar dari blogger di Indonesia.
Selain blogger pemula, ada beberapa kategori blogger yang menghuni dunia blogging Indonesia berdasarkan intensitasnya yaitu blogger bisnis gelap, blogger perusahaan, blogger personal, blogger profesional dan bloggerpreneur.  Blogger bisnis gelap adalah mereka yang ngeblog untuk mencari uang dengan jalan pintas. Cirinya penggunaan SEO tanpa disertai mutu posting yang memadai. Blogger perusahaan adalah mereka yang menghidupkan blog buat perusahaan tempatnya bekerja. Blogger personal adalah mereka yang ngeblog untuk mengekspresikan hobi dan kehidupannya serta menjalin relasi dengan mereka yang mempunyai kesamaan.
Blogger profesional adalah mereka yang menangani blognya berdasarkan pada suatu profesi tertentu. Terakhir, bloggerpreneur adalah blogger yang menjadikan blog sebagai bisnis dengan memberikan manfaat tertentu pada orang banyak. Manfaat tertentu itu diberikan secara gratis atau dengan suatu persyaratan tapi tetap relatif gratis.
Aku yakin bagi banyak blogger pemula, gagasan mendapatkan uang dari blog itu tidak terbayangkan dan mengejutkan. “Loh ngeblog bisa dapat uang?” “Enak sekali ya?!” “Bisa ya? Gimana caranya?” “Berarti blogger itu bisa jadi profesi?” Demikian respon-respon mereka terhadap ide mengenai bloggerprenur. Padahal ide bloggerpreneur semakin matang dengan adanya kehadiran IDblognetwork yang memungkinkan blogger mendapatkan penghasilan dengan cara yang absah.
Mengapa tanggapan terhadap ide bloggerprenur seperti itu? Meski sudah ada banyak komunitas blogger lokal, tapi masih belum ada komunitas pada tingkatan nasional. Akibatnya, jangankan pengenalan tentang blogpreneur, bahkan pengenalan blog sebagai media informasi alternatif kepada masyarakat luas pun terasa kurang menggigit. Blog masih dianggap sebagai media pinggiran yang tidak begitu penting. Meskipun kenyataannya, blog telah berperan sebagai penyeimbang bagi pemberitaan media konvensional yang seringkali timpang.

Senin,3 Oktober 2011  23:38

Sebelum Segalanya Serba Terlambat

Oleh:  Dadang Kadarusman


Hore, Hari Baru! Teman-teman.
 
Kita mengenal istilah ini; ’setinggi-tingginya bangau terbang, pasti kembali ke sarang.’ Makna pepatah itu bukanlah soal fisik belaka, melainkan soal tata nilai. Kita selalu percaya bahwa setiap orang yang pergi tentu akan ingat pulang. Kita juga pecaya bahwa setiap orang yang melakukan langkah yang salah selalu memiliki kesempatan untuk berubah dan kembali memperbaiki diri. Termasuk orang-orang yang terpenjara dalam kebiasaan yang buruk. Kita percaya bahwa mereka, mempunyai kesempatan untuk insyaf dan bertaubat. Lalu kembali mengadopsi kebiasaan baik. Tetapi kita juga punya istilah ini; ’sudah terlanjur basah, ya nyebur saja sekalian’. Mereka yang suka istilah asing menyebutnya ’the point of no return’ yaitu titik, dimana kita tidak bisa kembali. Dengan idiom itu, kita diingatkan untuk segera memperbaiki diri selagi masih ada kesempatan untuk melakukannya.
 
Langit terik tiba-tiba berubah menjadi gelap. Hujan lebat disertai angin dan guntur turun tak lama kemudian. Ketika hujan reda, kami pun kembali meneruskan perjalanan. Di jalur utama terlihat deretan panjang kendaraan. Untungnya saya tahu ’jalur rahasia’ untuk memotong jalan. Maka saya pun membelokkan kendaraan melintasi jalan yang tidak banyak diketahui orang. Sungguh nyaman ada di jalur itu. Hanya sedikit kendaraan, sama sekali tidak ada kemacetan. Namun perlahan tapi pasti, permukaan jalan yang kami lintasi mulai ditutupi oleh air. Saat istri saya mengingatkan untuk kembali, saya bilang; tenang saja, semuanya masih dalam kendali. Tapi semakin melaju kedepan, genangan air ternyata semakin dalam. Saya masih tidak juga peduli. Menjelang jembatan, barulah saya sadar jika sungai meluap dan airnya membanjir hingga tidak bisa dilintasi. Sekarang, kendaraan kami terjebak diantara genangan air yang dalam di depan dan mobil lain yang sama-sama bandel di belakang. Saya berada pada the point of no return. Maka seperti itulah juga jadinya jika kita ngotot untuk terus melakukan kebiasaan buruk. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar berbalik arah sebelum terlambat, saya ajak memulainya dengan mempraktekkan 5 prinsip Natural Intelligence (NatIn) berikut ini:
 
1.      Sadar diri.

Belum ada kekuatan yang bisa mendorong seseorang melakukan sesuatu secara suka rela dan suka cita selain kesadaran yang datang dari diri sendiri. Dengan kesadaran diri, dia tidak perlu dipaksa oleh siapapun atau apapun. Sebaliknya, sangat sulit mengharapkan perubahan perilaku dari orang-orang yang tidak memiliki kesadaran diri. Jika Anda ingin memaksa seseorang untuk meninggalkan kebiasaan buruk bisa saja. Tetapi, apakah orang itu senang atas paksaan Anda atau tidak? Bisa jadi dihadapan Anda orang itu tidak melakukannya. Tapi dibelakang? Itu tidak hanya berlaku bagi orang lain, karena kita pun akan bersikap demikian jika tidak memiliki kesadaran yang datang dari dalam diri kita sendiri. Anda tidak akan bisa menikmati proses  meninggalkan kebiasaan buruk dibawah paksaan atasan, orang tua, suami atau istri atau siapapun. Karena sekujur tubuh Anda hanya tunduk patuh kepada perintah diri Anda sendiri. Jika Anda tidak dengan sukarela melakukannya, maka tubuh Anda akan menolaknya. Segala sesuatunya hanya akan dilakukan dalam keterpaksaan. Hal ini berlaku di kantor, di rumah, dan di lingkungan manapun yang Anda tinggali. So, milikilah kesadaran diri. Karena hanya dengan kesadaran itulah Anda akan bisa menikmati prosesnya.
 
2.      Kontrol diri.

Setiap perilaku dan perbuatan buruk yang sudah memberikan kenikmatan memiliki efek adiktif. Kita terdorong untuk melakukannya lagi dan lagi. Tentu kita masih ingat efeknya jika seseorang sudah mengalami ketagihan. Dia bisa mengabaikan segala-galanya hanya untuk mendapatkan kenikmatan yang sama. Kita sudah merasa enak, nyaman dan kerasan dengan segala kenikmatannya. Kalau sudah begitu, kita tidak lagi peduli jika hal itu melanggar norma, merugikan orang lain, bahkan mengabaikan kesusilaan. Kita menyebutnya sebagai keadaan ‘lepas kontrol’. Dalam keadaan lepas kontrol, dia tidak lagi memiliki kendali atas hidupnya. Tidak lagi tertarik untuk mengindahkan aturan. Bahkan mengabaikan keyakinan yang pernah dipegang teguhnya. Hanya dengan kontrol diri itu kita bisa mengatasinya. Kontrol diri itu teori. Kongkritnya bagaimana? Sederhana. Satu kata saja, yaitu BERHENTI. Sama seperti saat Anda sedang berkendara. Untuk bisa berbalik arah, Anda harus terlebih dahulu berhenti, meski hanya dalam hitungan sepersekian detik. Dengan ‘berhenti’ itu Anda memiliki momentum untuk mengganti gigi, memutar setir, maju dan mundur, lalu melaju lagi dengan arah yang 180 derajat berbeda dari sebelumnya.
 
3.      Komitmen diri.

Ketika hendak menghentikan suatu kebiasaan buruk, sisi baik dan sisi buruk didalam diri kita saling berebut pengaruh. Sebenarnya sisi baik dan sisi buruk itu memiliki kekuatan yang sama. Tetapi, setiap kebiasaan menghasilkan pengalaman fisikal dan emosional yang membekas didalam diri kita. Jika kita hendak menghentikan kebiasaan buruk, maka pengalaman fisik dan emosi itu menjadi referensi penting bagi sisi buruk untuk mengalahkan sisi baik. “Seperti biasanya, dengan melakukan itu kita mendapatkan kenikmatan,”  begitu kata sisi buruk. Sekujur tubuh kita akan mengamini karena memiliki pengalaman nyata atas apa yang dikatakan sang sisi buruk. Sedangkan argumentasi normatif sisi baik sering digoyahkah oleh resistensi kita terhadap perubahan. “Kalau tidak begitu lagi, nanti kerja kita lebih berat. Nanti uang kita berkurang. Nanti kenikmatan kita hilang.….” Makanya, untuk bisa membuat sisi baik menang, kita perlu mendukungnya dengan komitmen. Hanya orang-orang yang memiliki komitmen tinggi saja yang sanggup melawan bisikan dan rayuan sisi buruk. Lalu mendengarkan nasihat sang sisi baik. Bersedia mengorbankan kenikmatan sementara, dan bersungguh-sungguh memperbaiki diri.
 
4.      Konsistensi diri.

Orang bilang, menjadi orang baik di zaman ini bukan perkara gampang. Kelihatannya ada benarnya juga memang. Khususnya, jika lingkungan pergaulan kita terdiri dari orang-orang yang memiliki kebiasaan buruk yang hendak kita tinggalkan itu. Mereka tidak membiarkan kita berhenti begitu saja sehingga  rayuan untuk balik lagi tidak akan pernah surut menggoda kita. Makanya, kita sering melihat orang-orang insyaf sebentar lalu kembali lagi kepada kebiasaan lamanya yang buruk. Kita pun tidak akan pernah kehilangan alasan untuk melakukan itu lagi. “Tahu rasa lu susah sendiri tuh. Makanya, elu jangan coba-coba sok suci….” Merasakan betapa perihnya usaha untuk keluar dari kebiasaan buruk itu, sering ingin membuat kita berhenti lalu menyerah saja. Hey, ingatlah; mengganti kebiasaan buruk dengan kebiasaan baik itu mungkin berat. Tapi kesulitan itu timbul karena kita belum menjadikan perilaku baik itu menjadi sebuah kebiasaan. Alah bisa karena biasa. Kalau kita sudah biasa melakukannya, maka pasti kita juga tidak akan merasakan pedih perihnya lagi. Nanti, kita juga akan terbiasa berperilaku baik. Tanpa paksaan. Dan kita, hanya akan bisa membangun kebiasaan baru yang lebih baik itu jika kita melakukannya secara konsisten. Karena dengan konsistensi, kita melakukannya secara terus menerus hingga sekujur tubuh kita mengadopsinya menjadi sebuah kebiasaan yang baru.  
 
5.      Mawas diri.

Kita ini siapa sih? Kita ini mahluk yang lebih mulia dari binatang. Jika binatang mati, maka selesailah semua urusannya. Tapi jika kita mati, apakah urusannya bisa menghilang begitu saja? Untuk urusan duniawi, memang bisa hilang dengan kematian. Vonis hakim di pengadilan pun tidak bisa menjangkau orang mati. Semua urusan dunia dianggap sudah selesai. Tetapi, hati-hati. Saat kita mati. Apakah nanti. Kita bisa lari. Dan sembunyi. Dari tatapan mata Ilahi? Apakah Anda berani untuk berhadapan dengan Sang Maha Adil. Lalu berdiri tegak mempertanggungjawabkan semua perbuatan buruk yang semasa hidup Anda lakukan? Kelihaian kita dalam bersilat lidah. Kekuatan pengaruh uang dan jabatan yang kita sandang. Kekompakan koneksi  dan pengacara yang membela kita. Apakah cukup untuk memutarbalikkan dakwaan yang dicatat oleh malaikat dalam buku kehidupan pribadi setiap insan? Terlalu beresiko jika kita menyombongkan diri dihadapanNya. Sekarang mungkin kita bisa sombong. Tetapi nanti, kesombongan itu sama sekali tidak memiliki arti. Makanya, kita perlu mawas diri. Bahwa hidup kita tidaklah abadi. Dan mawas diri itu hanya akan berarti jika kita memilikinya sebelum mati.
 
Banyak orang yang sudah sejak lama ingin menghentikan kebiasaan buruknya. Namun, tidak pernah memulainya dengan tindakan nyata. Mereka terus saja melakukannya, sampai akhirnya ‘tertangkap basah’. Tangis dan sesal tidak lagi memiliki makna apa-apa jika terlanjur ‘ketahuan’. Apalagi kalau sudah sampai diperkarakan. Semuanya sudah serba terlambat. Jika kita hanya bersedia berhenti kalau sudah ketahuan, maka ketahuilah bahwa; Tuhan sudah sejak lama mengetahui semua perilaku buruk yang kita lakukan. Jadi, ini adalah saat yang tepat untuk memutar arah. Mumpung masih ada kesempatan.
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - Deka –  3 Oktober 2011
Penulis buku ”Natural Intelligence Leadership” (jadwal terbit Oktober 2011)
 
Catatan Kaki:
Selama memiliki kesungguhan hati untuk bertaubat, maka pintu maaf selalu terbuka lebar untuk kita.  Tetapi, akan ada saatnya pintu itu terkunci dan tidak bisa dibuka lagi.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.

Senin, 3 Oktober 2011   10:41

Ada Ular di Perusahaan Mereka

Oleh:  Lorco Safety

Sebuah perusahaan migas menggunakan cara baru dalam kampanye K3 mereka.
Setelah melihat banyak kecelakaan kerja yang dialami oleh para kontraktornya, sebuah perusahaan migas di Afrika Selatan menggunakan cara baru dalam mengkampanyekan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lingkungan kerja mereka. Dibawah spanduk bertuliskan "Snakes for Safety", ada ular hidup yang digunakan sebagai symbol dalam kampanye K3 untuk mengurangi angka kecelakaan kerja di perusahaan. Hasilnya cukup dapat menarik perhatian para karyawan di perusahaan tersebut, sehingga mereka jadi lebih memperhatikan keselamatan ketika bekerja.
Ide kampanye K3 dengan menggunakan ular tersebut berasal dari Rick Melvill, seorang creative director dari sebuah perusahaan komunikasi kreatif di Afrika Selatan. Ia berpikir bahwa dari beberapa kasus yang ia temui di perusahaan migas,  kampanye K3 di perusahaan  perusahaan tersebut sangat kurang mendapat perhatian dan tanggapan dari para karyawannya. Dengan memanfaatkan "rasa takut celaka yang mengancam kapan pun", ia menggunakan symbol atau metafora  ular dalam kampanye K3 di perusahaan perusahaan untuk lebih menarik perhatian lalu mengingatkan para karyawan selalu berperilaku selamat dan mewaspadai  potensi bahaya di tempat kerja yang bisa mengancam siapapun . Aplikasinya adalah  dengan membawa ular hidup (beserta pawang yang menanganinya)  dalam seminar interaktif untuk sosialisasi pesan pesan K3 atau sebagai pelengkap kampanye K3 yang sudah ada di perusahaan.
Kampanye K3 dengan menggunakan ular tersebut menyampaikan 3 pesan K3 terkait dengan potensi bahaya yang berpotensi mengakibatkan kecelakaan kerja. 3 pesan "Snakes for Safety" tersebut adalah:
Beberapa potensi bahaya di tempat kerja seperti Puff Adder (jenis ular berbisa dari Afrika) yang diam diam tidak terlihat sampai suatu saat tanpa disadari kita menginjaknya lalu ular berbisa itu mulai beraksi.
Beberapa potensi bahaya lainnya seperti ular Black Mamba (Jenis ular hitam yang sangat berbisa dan agresif dari Afrika), mereka agresif mengejar Anda (seperti api atau gas methana).
Beberapa potensi bahaya juga seperti ular piton, ketika masih berukuran kecil mereka memang tidak berbahaya, namun ketika tumbuh besar, ular yang tidak berbisa tersebut  perlu diwaspadai (karena berbahaya dan kuatnya lilitan mereka).
Tetap utamakan keselamatan saat bekerja dan semoga kita dapat tetap lebih kreatif dalam kampanye K3 di tempat kerja untuk keselamatan kita sendir dan rekan rekan kerja kita. 

Salam Safety

(Silahkan membagikan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber aslinya)
By Kang Aa Widi Safari

Jum'at, 30 September 2011  13:18

Senin, 17 Oktober 2011

Mendayagunakan Tim Penyelia

Oleh: Andre Vincent Wenas

Langsung bisa kita pahami bahwa peran penyelia ada dalam posisinya yang khas,
yaitu di tengah antara manajer dengan buruh atau pekerja di pabrik atau dengan
tim penjualan di lapangan. Ia adalah pemimpin (leader) sekaligus pengelola
(manajer) yang menjembatani dua sisi kepentingan (sisi manajer dan sisi buruh
atau pekerja). Ia juga kerap mewakili perusahaan dalam pelbagai interaksi
sosial, maka ia wajib menjaga citra diri dan perusahaan. 

Sebagai pemimpin perannya adalah untuk memberi arahan, menyemangati, membina dan
sekaligus memberdayakan agar anak buah mampu bekerja sesuai dengan apa yang
telah ditentukan. Sebagai pengelola ia mesti menjalankan prinsip-prinsip sistem
manajemen dengan disiplin. Rumusan umumnya adalah POAC,
planning-organizing-actuating-controlling. Atau PDCA, Plan-Do-Check-Act.

Kecakapan para penyelia (supervisors) berbanding lurus dengan kinerja
organisasi. Ketika para penyelia unjuk kerja secara optimal, perusahaan itu bisa
dipastikan punya kinerja yang optimal juga. Namun sebaliknya pun bisa terjadi,
manakalah kecakapan para supervisor buruk (disiplin & semangat belajar rendah)
bisa diramalkan perusahaan pun bakal punya kinerja yang sebangun, alias rendah.

Secara sederhana, seperti yang ditulis dengan jelas oleh A.M. Lilik Agung dalam
bukunya: Cara Cepat Menjadi Supervisor Unggul(Elex Media Komputindo, 2009),  ada
tiga ketrampilan dan tiga tugas yang dituntut dari seorang penyelia. 

Pertama adalah ketrampilan, ada tiga yang utama, yaitu: 

    1. Ketrampilan teknis, oleh karena itu seorang penyelia yang ideal
seyogianya berangkat dari orang lapangan. Sehingga paham betul seluk beluk
praktek di lapangan. Pemahaman mengenai produk dan proses bisnis di areanya
haruslah memadai. 

    2. Ketrampilan konseptual, ini dituntut lantaran perannya sebagai penerjemah
konsep dan strategi manajernya menjadi eksekusi nyata di lapangan. Ketrampilan
ini adalah juga tentang kecakapan dalam menjalankan fungsi-fungsi manajerial.
Yaitu meliputi: proses perencanaan, pengorganisasian, pendelegasian,
pengontrolan pekerjaan hingga evaluasi dan pemecahan masalah dari pekerjaan
tersebut. 

    3. Ketrampilan hubungan manusia (human relations). Oleh karena posisi
perannya di tengah antara manajer dengan tim di lapangan, maka ia harus merawat
suatu relasi komunikasi yang solid, artinya cepat, akurat serta menyemangati
(memotivasi) timnya untuk bergerak di medan kerja. Ketrampilan hubungan manusia
ini adalah sebentuk kemampuan dan kecerdasan untuk bersosialisasi dengan
manusia lain. Termasuk di sini adalah: komunikasi, semangat memotivasi,
menetapkan tujuan, dan memberdayakan anak buah (juga rekan kerja). Ketrampilan
hubungan manusia ini lebih fokus pada wilayah perasaan (hati).

Sedangkan tugas penyelia, juga ada tiga, yaitu: mengelola diri sendiri,
mengelola pekerjaan, dan mengelola anak buah. Secara skematik penjelasannya
masing-masing tugas itu adalah:

    1. Tugas mengelola diri sendiri, terdiri dari lima aspek, yaitu: disiplin,
    jujur dan berintegritas tinggi, semangat untuk terus belajar, pengelolaan
waktu, dan memikirkan karier ke depan.

    2. Tugas untuk mengelola pekerjaan, juga ada lima hal yang jadi konsentrasi:
    perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi serta
pemecahan masalah.

    3. Tugas untuk mengelola anak buah, atau sering juga disebut kepemimpinan,
    menitikberatkan pada lima soal: komunikasi, sasaran-tujuan-visi, kerjasama
kelompok, motivasi, dan pemberdayaan (empowering).

Memimpin artinya menunjukkan arah (visi), memotivasi dan menginspirasi dalam
eksekusi strategi dan program. Sementara yang dikelola adalah semua jadwal waktu
dan sumberdaya (resources)nya, sehingga tercapailah hasil penyelenggaraan
program yang paling efektif serta efisien.

Catatan:  Artikel ini pernah dikontribusikan di media lain. Segala hal yang menyangkut pertikaian Hak atas Kekayaan Intelektual, menjadi tanggung jawab Kontributor Artikel

Jum'at,  30 September 2011  12:54