Sabtu, 07 April 2012

Dampak Tidak Memenej Waktu


Oleh: 


Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah saw bersabda,
“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara :
[1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,
[2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
[3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
[4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,
[5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.”
(HR. Al Hakim
)



Tidak ada kebetulan

Hari ini (Selasa, 28 februari 2012). Adalah hari diantara hari-hari luar biasa dan bermakna bagi saya. Karena, saya mendapat pelajaran langsung tentang mengelola waktu. Terutama waktu luang menjadi waktu sempit. 

Entah sebuah kebetulan? Tapi, saya termasuk orang-orang seperti Anda yang tidak mempercayai namanya kebetulan. Karena, setiap waktu terjadi dengan aturan dan tanda-tandanya masing. Adapun kebutulan, adalah tanda, kalau kita sedang tidak menyadari peristiwa sekitar kita. Seperti hari ini, secara bersamaan, saya terdesak oleh deadline, semuanya penting.

Jatuh tempo

Pertama, saya mendapat telf dari teman, dia mengabari, program pelatihan dengan sebuah perusahaan besar di kepulauan timur, akan berlangsung pertengahan maret. Oleh karena itu, saya segera membuat proposal lanjutan. Proposal yang berisi deskripsi singkat, mengenai pelatihan yang akan kami laksanakan. 

Taklama kemudian, handpone saya berdering kembali. Saya lihat di layar ada pesan baru masuk. Pengirimnya, PIC project buku sedang saya garap dengan sebuah penerbit di Bandung. Saya baca isi pesan tersebut “Mas kapan bab lanjutan dapat kami terima, karena proses edit dan layout sedang kita jalankan”. 
Sungguh, saya menarik nafas sejenak membaca isi pesan tersebut. Karena secara bersamaan, kondisinya penting dan mendesak bagi saya. Dalam waktu itu juga, saya mesti mengirimkan proposal dan naskah tulisan untuk buku pertama saya. 

Pentingnya jadwal (rencana)

Kejadian ini membuat saya merenung sejenak. Saya berusaha memahami, apa maksud dari peristiwa ini? Karena, saya mempunyai pemikiran. Sebenarnya, setiap peristiwa yang terjadi, di dalamnya tersirat berjuta makna. Tergantung, apakah saya bisa belajar dan mengambil hikmahnya? Atau membiarkan hikmah tersebut terbang bersama awan.

Adapun yang terpikirkan oleh saya. Keterdesakan waktu ini terjadi karena saya kurang memenej waktu dengan baik. Persisnya tidak menjadwalkan secara periodik. Seperti saya membuat alarm di BB untuk jadwal pelatihan, waktu dan tempatnya. Serta siapa PIC program pelatihan tersebut.

Prioritas itu penting

Selain itu, efek dari membiarkan waktu berjalan tanpa perencanaan matang. Sayapun menjadi tidak bisa memilah. Apa saja kegiatan penting tapi tidak mendesak. Hal mendesak namun penting. Atau kebalikan keduanya. Penting sangat mendesak. Dan tidak penting juga tidak mendesak sama sekali.

Akhirnya, dalam waktu itu juga, saya memutuskan untuk mendahulukan naskah buku. Lalu proposal. Selanjutnya, mengikat makna sehari-hari. Baik itu pembelajaran dari kejadian yang saya hadapi. Atau, pemikiran-pemikiran terlintas dalam benak saya. Saya segera menuangkan dengan memilah kata, frasa, hingga membentuk kalimat ke dalam tulisan.

Peristiwa ini pula, mengingatkan saya akan pesan Rasulllah tentang waktu. Supaya mengingat 5 perkara sebelum datang yang lima. Seperti pada penggalan pembukaan goresan ini.

Ciganjur, Selasa, 28 februari 2012 
Mari bersilaturahim,

Rahmadsyah Mind-Therapist
Selasa, 3 April, 2012 00:01

Fetisisme Komoditas



Oleh: Andre Vincent Wenas

“A commodity appears, at first sight, a very trivial thing, and easily understood. Its analysis shows that it is, in reality, a very queer thing, abounding in metaphysical subtleties and theological niceties.”– Karl Marx, Capital: A Critical Analysis of Capitalist Production, Vol.1, Moscow 1959.

***

     Setelah IJ-EPA (Indonesia – Japan Economic Partnership Agreement) berlaku dan secara bertahap, sejak 2008 diterapkan, maka dampaknya mulai dirasakan oleh para pecinta mobil mewah buatan Jepang. Dampaknya adalah menurunnya harga jual beberapa jenis mobil mewah Jepang, baik untuk jenis MPV (multi purpose vehicle) maupun sedan di bawah 3000 cc. Joko Trisanyoto, direktur pemasaran PT Toyota Astra Motor sudah mengatakan bahwa, “Untuk Toyota Alphard di bawah 300 cc, harga berkurang sekitar Rp.50 juta hingga Rp.80 juta per unit.” Dalam kerangka kerjasama IJ-EPA, maka ATPM (agen tunggal pemegang merek) mobil Jepang sudah mendapat pengurangan bea masuk impor secara bertahap. Sejak diratifikasi 1 Juli 2008, tariff bea masuk mobil mewah di atas 3000 cc sudah turun dari 45% menjadi hanya 4%. Dan sejak 1 Januari 2012, kendaraan mewah di bawah 3000 cc yang diimpor secara CBU (completely build up) tarif bea masuknya turun dari 40% menjadi 20%.

     Di bawah bendera Loterria, konglomerasi asal Korea Lotte Holdings Co Ltd menggandeng PT Mondial Risjad Fastana sebagai master franchise-nya untuk membuka bisnis gerai restoran cepat saji. Dengan berselancar diatas demam pop Korea mereka berencana untuk mengapitalisasi gemerlapnya trend atau mungkin fad ini. Dengan persiapan modal kerja sebesar US$ 20 juta mereka siap berekspansi di Indonesia, targetnya 40-50 gerai resto fast-food hingga tahun 2015. Tahun ini, bakal ada 15 gerai di Jakarta, dengan biaya pembangunan per gerai sekitar Rp.3 miliar, dan target penjualan per bulan nantinya sekitar Rp.500 juta sampai Rp.1 miliar. Presiden Direktur Mondial, Handi Irawan, yakin bahwa demam pop Korea serta dikombinasi dengan menu restoran yang cocok dengan lidah masyarakat Asia akan menjadi keunggulan resto cepat saji asal Korea ini. Ambisinya adalah untuk menjadi resto cepat saji terbesar ketiga di Indonesia pada tahun 2020. Diperkuat oleh sinyalemen
Adhi Siswaja Lukman yang Ketua GAPMMI (Gabungan Pengusaha
Makanan dan Minuman Indonesia), “Menurut World Bank, 135 juta penduduk Indonesia adalah kelas menengah dan generasi muda yang selalu ingin mencoba hal baru. Ini yang dilihat oleh waralaba asing, sehingga mereka mau masuk ke Indonesia.”

     Sementara itu, di sektor produk electronic consumer-goods, Panasonic lewat PT Panasonic Gobel Indonesia merasa optimis pendapatannya bakal naik tahun ini sejalan dengan pertumbuhan pasar di Indonesia. Target pertumbuhannya dua digit (di atas 10%), tahun lalu (2011) penjualannya tercatat Rp.5,2 triliun, dan itu adalah peningkatan 30% dibanding penjualan tahun sebelumnya (2010) yang sebesar Rp.4 triliun. Presiden Direktur Panasonic Gobel Indonesia, Ichiro Suganuma, menjustifikasi keyakinannya sebagai
berikut, “Ke depan, pasar elektronik juga akan terus tumbuh karena ada kebijakan pemerintah yang menargetkan pada tahun 2020 seluruh wilayah Indonesia sudah dapat mengonsumsi listrik.”

***

     Dalam argumentasinya dulu, Karl Marx mengatakan bahwa di dalam masyarakat dimana banyak produsen swasta independen berinisiatif untuk memperdagangkan produk-produknya satu sama lain maka volume produksi dan aktivitasnya hanya bisa disesuaikan satu sama lain lewat fluktuasi nilai-nilai dari produk-produk tersebut tatkala dipertukarkan di pasar. Lalu koeksistensi sosial mereka dan maknanya, diekspresikan melalui aktivitas perdagangan dan transaksi yang terjadi di pasar. Di sini, setiap orang tidak punya relasi satu sama lain terkecuali untuk keperluan transaksi diantara mereka. Sehingga, relasi sosial mereka secara konstan dimediasi dan diekspresikan oleh benda-benda (komoditi dan uang). Dalam kelanjutannya terjadilah dominasi benda-benda dan obyektifikasi dari nilai (the objectivication of value).

     Pemikiran ini dikembangkan lebih lanjut oleh Georg Lukacs, yang melihat bahwa reifikasi adalah sebagai kendala utama kesadaran kelas lantaran pertumbuhan kapitalisme telah mengonversi seluruh lapisan kehidupan manusia menjadi semata-mata “produk” yang bisa dipasarkan, bisa dibeli dan bisa dijual. Maka bentuk komoditi (mengomodifikasi segalanya) menginvasi semua jenis kesadaran manusia. Lalu Guy Debord maju lebih jauh dengan teori ‘society of the spectacle’ dimana relasi antar manusia dipandang sebagai relasi antar citraan (relations among images). Dengan tajam Debord menyindir, “The spectacle is the form taken by society once the instrument of cultural production have become wholly commoditized, and subject to commercial trade, so that aesthetic value becomes ruled by commercial value, and artistic expressions are shaped by their ability to attract market sales.” Sehingga dalam perkembangannya dikemudian hari, “…the whole sphere
of personal consumption is reorganized according to commercial principles.” Bahkan, “…as in modern society even the deepest intimacies of inter-subjective and personal self-relating become subject to commodification and are turned into separate ‘experiences’ which can be bought and sold as a ‘product’ for a price.” Maka, puncak dari alienasi manusia terjadi tatkala orang mulai memandang seluruh keberadaannya sebagai komoditas yang bisa dipasarkan, serta menganggap bahwa setiap interaksi antar manusia sebagai transaksi (potensi transaksi) belaka.

***

     Sebagai pemasar dan sebagai konsumen, kita semua pertama-tama adalah manusia. Dalam peran sebagai aktor dalam panggung pemasaran kita masuk dalam skenario besar yang bisa saja mencabut hakekat kemanusiaan kita dari yang esensial untuk kemudian terjerembab terus ke yang aksidentalia terhadap totalitas kemanusiaan. Bahaya alienasi akibat fetisisme komoditas nampaknya sudah kronik dan semakin akut di blantika postmodern ini.

----------------------------------------------------------
Artikel ini  sebelumnya telah dikontribusikan oleh Kontributor ke Majalah MARKETING edisi April 2012.  Untuk itu segala hal yang berkaitan dengan sengketa atas Hak Kekayaan Intelektual menjadi tanggung jawab sepenuhnya oleh Kontributor artikel ini.

STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Senin, 2 April, 2012 23:46

Natin Meluruskan Niat Dalam Bekerja




Menakjubkan.
Semua orang di kubikal sudah menunjukkan semangat untuk belajar. Semangat yang terlihat seperti ketika mereka baru masuk ke sekolah. Serba antusias. Sekarang, mereka siap untuk belajar lagi.
 
Hihi, seperti anak sekolahan aja.
Apa nggak salah ya? Ini kan kantor. Bukan taman kanak-kanak...he....
Para ladies yang paling modis. Dengan gayanya yang glamor mereka menunjukkan bahwa belajar itu memang menyenangkan. Nggak peduli di rumah mereka sudah punya 1 atau 2 anak. Mulai hari ini, di mereka jadikan kantor tempat untuk belajar.
 
Long life education.
Nggak ada istilah berhenti belajar.
Makanya, orang-orang yang berhenti belajar seringkali karirnya juga berhenti berkembang. Sementara mereka yang terus belajar, karirnya juga terus menanjak naik. Meski tidak selalu berarti jabatan yang naik. Tapi keterampilan mereka. Minimal semangat kerja mereka selalu up to date.
 
Tidak di semua pojok kubikal ada keceriaan.
Di bagian lain ada mendung yang menggelayut.
Opri, Aiti, Fiancy, dan Sekris sedang mengerumuni seorang working lady. Untuk menjaga nama baiknya, namanya dirahasiakan saja. Biar gampangnya sebut saja ’Mrs X’.
Ada beberapa tetes air mata yang menitik di pipinya.
 
Jelas sekali sedang terjadi sesuatu dengan Mrs X. Galau.
Para ladies membujuknya untuk menjelaskan apa yang menyebabkan kegalauan itu. Siapa tahu mereka bisa membantu meringankan bebannya. Setelah berkali-kali dibujuk, akhirnya Mrs X bersedia untuk mengungkapkan sumber galau dihatinya.
 
Biasanya, masalah working ladies yang sudah dewasa kan cuman di seputar itu-itu saja. Resah karena masalah keuangan. Atau, galau karena suaminya sudah jarang memuji lagi. Atau..., gelisah karena bentuk tubuhnya sudah nggak seindah dulu lagi.
 
Sungguh diluar dugaan.
Sumber kegalauan Mrs X bukanlah hal-hal semacam itu.
Ada satu penyebab yang diungkapkannya. Yang sungguh di luar dari perkiraan.
 
”Gue baru nyadar sekarang....” katanya.
”Setelah belasan tahun gue kerja ya..” diusapkan basah di pipinya. ”Gue baru nyadar hari ini,” katanya. ”Kalau selama ini gue salah.” lanjutnya.
Semua orang saling pandang. Salah apa?
Mrs X kemudian menceritakan betapa dia telah salah memasang niat saat pergi bekerja. Yang penting ada kegiatan aja. Daripada suntuk di rumah. Yang penting dapat bayaran aja. Enak banget rasanya punya uang sendiri. Bisa menggunakannya untuk apa saja. Nggak tergantung pada pemberian dari suami yang jatahnya memang untuk dapur dan keperluan sehari-hari.
 
”Gue merasa merdeka dengan bekerja,” imbuhnya.
 
”Jadi Mbak nyesel jadi wanita karir, Mbak....?” Sekris bertanya sambil meringis. Dia tidak ingin membayangkan sepuluh tahun lagi menyesali diri seperti Mrs X. Setelah punya suami nanti, dia masih ingin bekerja. Tapi nggak mau dipaksa. Setelah punya anak kelak. Dia ingin tetap berkarya. Tapi nggak mau galau seperti Mrs X.
 
”Oh, bukan begitu.” Mrs X buru-buru menimpali.
”Gue justru bahagia jadi wanita karir, Kris.” lanjutnya. ”Dan gue pikir, semua perempuan seharusnya punya penghasilan sendiri, Kris. Biar dia bisa menjaga dirinya sendiri.”
 
”BETTTUUUUUUUULLLLLL!!!!!!!” Opri melompat sambil berteriak. ”Ups!” katanya, ketika sadar semua orang memelototi dirinya.
 
”Yang gue sesali adalah....” Mrs X meneruskan. ”Kenapa gue baru sekarang ini mengenal Natin,” lanjutnya.
 
”Selama ini gue merasa pergi kerja ya cuman gitu doang. Datang ke kantor jam 8 – kerja ini itu – terus pulang jam 5 sore. Setiap tanggal 25 gajian. Teruuus aja gitu.”
 
”Lho, bukannya semua orang juga begitu Mbak?” tanya Fiancy.
”Ternyata kita salah Fi,” balas Mrs X. ”Kita nggak akan dapat apa-apa kalau mikirnya cuman begitu doang.”
 
Emmmh....uh...oh... rada berat nih.
Keempat gadis itu tatap-tatapan. Tapi nggak mau ambil resiko jika mengakhiri pembicaraan itu. Kesatu, karena takut mengecewakan Mrs X. Kedua – ini yang lebih mereka takutkan – gimana kalau sudah ’dewasa’ kelak mereka mengalami galau seperti Mrs X? Hiiiy..., amit-amit.
 
”Uang yang kita dapatkan pasti habis-habis juga kan?” Mata Mrs X berkeliling menatap para gadis itu satu demi satu.
 
Sekris menujukkan tas dan sepatunya.
Aiti mengangkat gadgetnya yang canggih.
Fiancy, menyodorkan kedua tangannya yang penuh cincin dan gelang.
Opri? Memperlihatkan fotonya ketika bermain soft gun bersama para cowok macho.
Lalu mereka tertawa bersama-sama. Tapi cuman sebentar. Karena setelah itu mereka sadar jika Mrs X benar.
 
”Apa yang kita dapatkan yang bisa kita bawa-bawa terus ladies?!” Pertanyaan Mrs X benar-benar menghentak dada mereka.
 
”Selama ini gue pasrah aja. Menjalani pekerjaan apa adanya.” Suara Mrs X melembut. ”Gue pikir, perempuan ini. Jadi ya seperti air mengalir aja....” suaranya melambat.
 
”Terus apa hubungannya dengan Natin Mbak?” Opri masih belum ’dong’. Ketiga centil lainnya juga sama nggak ’dong’ nya.
 
”Elo semua pada beruntung ketemu Natin sekarang,” sahut Mrs X. ”Jadi elo bisa nyadar kalau cara berpikir gue dan working ladies umumnya itu salah.”
 
”Kita nggak boleh kerja hanya untuk sekedar mengisi waktu. Kita nggak boleh kerja hanya sekedar nyari uang biar bisa belanja belanji.”
 
Para ladies merasa tersindir. Mereka hanya bisa nyengir.
 
”Apa lagi jika niat kita bekerja itu hanya untuk bantu-bantu penghasilan suami. Jangan pernah mau begitu!”
 
”HYYYYES!!!” teriak Opri. ”Kalau yang itu gue setuju banget!” semangatnya nyaris menggetarkan seisi kubikal.
 
Mrs X mengingatkan pesan Natin. Perbaiki niat kita dalam bekerja. Kata Natin, bekerjalah untuk membahagiakan diri sendiri. Bekerjalah untuk meraih kemuliaan diri sendiri. Bekerjalah untuk menunjukkan betapa berharganya diri kita ini.
 
Dengan niat yang tepat, maka tak seorang pun akan membiarkan reputasi dirinya buruk. Sehingga kita terdorong untuk mengerahkan semua kemampuan yang kita miliki. Tak mungkin ada yang bekerja asal-asalan. Tak mungkin ada yang menyia-nyiakan amanah dan kepercayaan. Karena semua orang berharga. Dan butuh dihargai.
 
Obrolan para ladies itu terhenti oleh suara isak tangis seseorang. Tanpa mereka sadari. Semua orang dikubikal berdiri disekeliling mereka. Menyaksikan dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Semua terdiam. Semua terpaku. Kecuali Jeanice yang tak kuasa menahan tangis.
 
Para ladies segera bangkit. Lalu memeluk Jeanice. ”Kamu masih muda Jean. Masih banyak waktu,” kata Mrs X.”Yuk, sama-sama dengan saya. Meski agak terlambat,”  lanjutnya. ”Tapi belum terlalu terlambat. Untuk memperbaiki niat kita dalam bekerja.”
 
Para cowok macho nggak mau ketinggalan.  Mereka saling berpelukan. Dan menepuk bahu teman-temannya. Meski nggak ada yang nangis. Tapi mereka merasakan keharuan yang sama.
 
”Saya ikutan pelukan juga dong.....” Pak Mergy berlari kedalam kerumunan.
Semua orang berhenti berpelukan. Lalu memandang ke arah Pak Mergy yang berdiri dengan senyumnya yang sumeringah.
 
Wajahnya segera berubah menjadi merah.
”Ohm..., so-sory....” katanya sembari membalikkan badan. ”Nggak ada yang mau memeluk saya.......” sambungnya.
 
Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..
 
Semua orang di kubikal mengejar Pak Mergy. Lalu memeluknya ramai-ramai.
 
Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa bekerja pun perlu niat yang tepat. Agar selama menjalani kehidupan kerja, kita tidak diombang-ambing oleh keadaan. Melainkan mampu mengendalikan keadaan apapun untuk mencapai tujuan. Dalam bekerja kita perlu niat yang tepat. Agar setelah memasuki masa pensiun kelak, kita tidak hanya sekedar mendapatkan sejumlah uang yang belum tentu akan bersisa banyak. Melainkan juga mendapatkan kesempatan untuk mengaktualisasikan diri. Hingga di puncak potensi yang paling tinggi.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman –  3 April 2012

Catatan Kaki:
Salah satu ciri jika niat kita dalam bekerja sudah benar adalah; kita tidak pernah mau berperilaku buruk atau menghasilkan kinerja yang nggak bagus.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya. 

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
Senin, 2 April, 2012 19:55

Natin Sekolah Di Kantor





Sudah menjadi panggilan hati.
Setiap pagi, orang-orang di kubikal mampir ke pantry. Bukan semata-mata untuk mengambil air minum. Tetapi untuk melihat ’menu hari ini’ yang disajikan oleh Natin. Tanpa mereka sadari. Sudah terbentuk sebuah kultur baru di seantero kubikal. Yaitu kultur untuk menerima pencerahan setiap pagi.
 
Sayangnya, menu hari ini yang disajikan oleh Natin terasa terlalu berat. Nggak mungkin bisa dilakukan oleh semua orang di kubikal. Makanya, rasanya kurang nendang. Bukan hanya satu dua orang yang menilainya begitu. Hampir semua orang di kubikal menilai jika menu Natin di whiteboard hari ini kurang membumi.
 
’Mungkin Natin sudah kehabisan ide,’ sebagian orang berpikir demikian. Ada juga yang mengira jika sekarang Natin sudah agak ng-boss. Belagu. Mentang-mentang dia dibutuhkan oleh banyak orang. Omongannya sudah mulai tidak terukur. Bagaimana pun juga, dia harus tahu diri. Seperti halnya orang lain yang juga mesti sadar posisinya masing-masing.
 
Diantara pendapat yang miring itu, masih banyak juga pendapat yang positif. ’Bagaimanapun juga Natin itu manusia biasa, jadi terima aja jika sesekali menyajikan menu yang kurang nendang.’
 
Ada juga yang tetap ngefans padanya. ”Siapa sih orang yang bisa memberikan semangat di kubikal ini selain Natin?” katanya. ”Nyadar nggak sih, kalau selama ini Natin sudah memberikan pengaruh baik pada diri kita dan kehidupan di seluruh kubikal?”
 
Biasalah. Pro dan kontra. Dimana pun selalu ada.
Jangankan soal Natin yang posisinya sekedar Office Boy. Orang-orang terkenal pun tidak selamanya benar. Tidak ada motivator yang nggak pernah sedih. Bo’ong dia kalau bilang nggak pernah ’down’. Tidak ada orang terhormat yang selamanya bersih. Semua hanya manusia biasa.
 
Aiti enggan ikutan dalam perdebatan.  Dia memilih menyingkir. Dia pergi ke pantry. Untuk menghabiskan secangkir kopi pahit sendirian disana. Selagi menyeruput sajian hangat itu, matanya tertuju pada secarik kertas yang terselip di balik lemari penyimpanan gelas-gelas kering. Di bagian kertas yang menyembul itu ada tulisan tangan berbunyi ”Belongs to Natin”.
 
”Gihiiile. Pake bahasa Inggis segala nih si Natin...” bisik dihatinya. ”Boleh juga nih Office Boy....” gumamnya sulit untuk dihentikan. Tapi dia juga merasa ragu, apa benar Natin bisa bahasa Inggris. Atau sekedar niru tulisan orang lain. Atau..., mungkin ya cuman itu doang yang dia bisa selain nyebut ’I Love You....”
 
Rasa penasaran mendorong Aiti untuk menarik kertas itu. Ternyata satu bundelan sekitar delapan halaman. Mata Aiti langsung terbelalak melihatnya. Mukanya melongo seperti orang bego. Tangan kanannya menutup mulut yang menganga tanpa ada sedikit pun kata.
 
Baru beberapa detik kemudian Aiti tersadar. Nggak disangka. Ternyata selama ini, Natin..... Dia berlari menuju ke kubikal. Disana orang-orang masih terkurung dalam perbedaan pendapat itu. Kata kubu yang satu, Natin sudah kehilangan wibawa. Kata-katanya mulai ngelantur. Ngawur. Nggak cocok lagi dengan dinamika orang-orang di kubikal.
 
Pihak yang lainnya membela Natin mati-matian. Mereka mengatakan jika Natin itu kemungkinan adalah seorang sufi. Atau orang bijak yang sedang menyamar. Atau orang berilmu tinggi yang sedang turun gunung. Makanya tidak semua ajaran dia bisa difahami.
 
”Sebaiknya kalian liat ini!” Teriakan Aiti menghentikan perdebatan itu. Dia menenteng kertas yang ditemukannya sambil tergopoh-gopoh.
 
Opri segera menyambar kertas itu dari tangannya. Yang lain tidak mau ketinggalan. Langsung mengerubuti Opri yang tidak sabar untuk mengetahui apa yang tertulis disitu. Siapa tahu kertas itu berisi dokumen rahasia yang membeberkan identitas Natin yang sebenarnya.
 
Tapi. Ketika membaca apa yang tertulis di halaman depan.
Mereka semakin terkejut. Bukan karena berhasil membongkar tabir yang selama ini menutupi identitas Natin yang sebenarnya. Melainkan karena di kertas yang bertuliskan ’Belongs to Natin’ itu ada sebuah logo yang tidak sembarangan.
 
Selain logo itu. Di bagian atas halaman depan dokumen itu ada sebuah tulisan yang membuat mereka terkesima. Tulisan itu berbunyi; ”HARVARD BUSINESS REVIEW”.
 
Mereka bergidik.
Nggak seorang pun dari penghuni kubikal yang pernah membaca dokumen serupa itu sebelumnya. Mereka percaya jika itu hanyalah pantas untuk menjadi santapan para boss. Sedangkan pegawai biasa-biasa saja nggak cocok membaca yang begituan.
 
Sekarang mereka melihat dokumen itu sebagai ’milik Natin’. Belongs to Natin.
Diantara keterkejutan itu, mereka menemukan pemahaman atas menu hari ini yang ditemukan dalam whiteboard di pantry. Sekarang mereka mengerti maksudnya.
 
Setelah berdebat dalam perbedaan pendapat, akhirnya mereka mengerti apa yang dimaksud oleh Natin dengan menu hari ini yang dibuatnya. Ternyata memang Natin tidak sekedar membual. Atau meneriakkan jargon-jargon seperti yang digembar-gemborkan oleh orang-orang pintar diatas podium. Natin mengatakan sesuatu yang realistis. Yaitu sesuatu yang dia sendiri sudah melakukannya. Bukan sekedar teori dalam bualan.
 
 
Pantas jika Natin menulis menu hari ini di whiteboard seperti itu. Karena dia sendiri sudah terlebih dahulu melakukannya. Wajar jika di whiteboard itu Natin menulis begini:
 
Menu hari ini:
”SEKOLAH DI KANTOR”
 
Bekerja itu. Bukan sekedar mencari uang.
Bekerja itu adalah proses belajar dan meningkatkan kapasitas diri. Tidak ada orang yang langsung terampil begitu selesai kuliah. Tidak ada pengalaman yang bisa didapatkan tanpa melakukannya. Maka bekerja, adalah saat terbaik untuk menempa diri. Sehingga kantor, adalah tempat terbaik untuk ’bersekolah’. Begitulah prinsip hidup Natin.  
 
Semua orang di kubikal saling pandang. Tak ada kata terucap. Setidaknya untuk beberapa waktu. Mereka terjerat dalam perenungan tentang apa yang selama ini mereka lakukan di kubikal. Uang. Adalah kejaran nomor satu-satunya. Segala sesuatunya diukur hanya dengan uang. Uang. Dan uang.
 
Jika nggak ada uang yang sepadan. Ngapain susah-susah ngerjain.
Jika nggak ada uang tambahan. Ngapain ada tambahan penugasan.
Jika ngga ada uang lebih. Ngapain harus kerja lebih dari job description.
 
Sekarang mereka mengerti. Mengapa Natin selalu mau menerima perintah mengerjakan apapun. Disuruh membantu manager ini, siap. Diperintah membantu manager yang itu, mau. Bahkan Natin sering datang kepada orang-orang yang sibuk. Lalu bertanya;”Boleh saya bantuin kerjaannya Mbak....”
 
Semua fakta itu terlihat jelas dalam keseharian Natin selama ini.
Namun belum benar-benar mereka pahami hingga pagi ini. Bahkan ketika Natin menuliskan menu hari ini di whiteboard kesayangannya. Orang-orang dikubikal tidak serta merta memahaminya. Mereka malah memperdebatkannya.
 
Namun, fakta yang tertulis dalam dokumen berbahasa Inggris setebal delapan halaman itu menceritakan hal lain. Yang tak seorang pun bisa membantahnya. Ternyata. Semangat belajar Natin benar-benar melampaui siapapun yang jabatan dan kedudukannnya di kantor lebih terhormat.
 
Seorang karyawan keren membaca buku? Itu biasa.
Seorang manager ngomong bahasa Inggris? Itu sudah seharusnya. Masak manager nggak ngerti bahasa Inggris. Kursuslah biar ngerti sedikit-sedikit.
 
Tapi. Seorang office boy menyantap ’Harvard Business Review’? Itu bukan hal yang biasa. Jangan-jangan. Cuma Natin satu-satunya yang menyantap bacaan semacam itu di seantero kantor.
 
Apapun itu. Telah membuat semua orang di kubikal sadar. Bahwa mereka harus segera memperbaiki orientasi kerjanya. Uang. Ya. Semua orang membutuhkan uang. Tetapi, uang sudah pasti didapatkan oleh mereka yang bekerja dengan baik. Di tempat yang baik.
 
Selain uang, apa?
 
”Weleh, weleh, weleeeeeeeh......” suara Pak Mergy memecah keheningan. ”Khusyuk sekali kalian ini membacanya.” katanya. ”Kertas apa-an tuch?” seraya menarik dokumen itu dari tangan Opri.
 
Air mukanya menyiratkan senyum sumeringah. Sampai ketika matanya menangkap apa yang tertulis di dokumen itu. Mendadak saja sekujur tubuhnya membeku.
 
”N-Natin.... b-baca artikel ini....?” Nyaris tidak jelas. Apakah Pak Mergy bertanya kepada orang-orang. Atau sekedar bergumam untuk dirinya sendiri.
 
”Ah, ya. Ehm.” Secepat kilat Pak Mergy kembali kepada gaya bicaranya yang berkelas. Membetulkan dasinya yang sebenarnya baik-baik saja. Lalu kembali berkata;”Ini adalah sesuatu yang layak kalian contoh.”
 
Orang-orang di kubikal saling pandang.
”Jangan mau jadi orang yang terkungkung oleh keterbatasan kubikal,” kata Pak Mergy lagi. ”Ingat. Ilmu itu bisa diakses oleh siapa saja. Maka belajarlah kalian. Biar jadi orang pintar. Karena orang pintar, punya masa depan yang lebih baik.”
 
Pak Mergy sekali lagi membetulkan dasinya.
Lalu beliau beranjak. Meninggalkan orang-orang di kubikal yang masih pada bengong.
 
”Sekris.” teriak Pak Mergy.
”I-Iya Pak,” Sekris menyahut setengah gugup.
”Tolong terjemahkan dokumen itu untuk saya.....” katanya.
 
Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..
 
Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar. Peluang yang sama untuk berkembang. Kemungkinan yang sama untuk terus meningkatkan diri. Hanya saja. Cuma sedikit yang mau mengambil tindakan. Beruntung sekali. Hari ini mereka bisa mencerna pesan penting yang dituangkan oleh Natin di whiteboard didalam pantry. Kata Natin, bekerja itu seperti sekolah. Karena selama bekerja, kita berkesempatan untuk mempelajari banyak hal.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman –  2 April 2012

Catatan Kaki:
Mengembangkan diri itu adalah tanggungjawab pribadi. Jangan menunggu perusahaan melakukannya untuk Anda. Lakukanlah sejauh yang Anda bisa.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
 
Minggu, 1 April, 2012 20:23

I LOVE MONDAY 02.04.2012 : "Bapak adalah Panutan!!!"





Dear Keluarga MnL yang berbahagia,

Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua,

Senang bisa menjumpai Anda kembali di hari Pertama minggu ini
tanggal 2 April 2012 (hari Senin Pertama di bulan April).

Hari ini saya ingin share dengan tema:

"Bapak adalah Panutan Anak di setiap Keluarga"

Saya mendapat cerita seorang kawan saya, yang memiliki profesi sebagai
seorang agen asuransi.

Selama ini dalam melakukan profesinya sebagai agen asuransi, dia kerap kali
berangkat dari rumah pada siang hari untuk prospek dan mengunjungi klien atau
calon klien.

Pernah suatu ketika kawan saya mendengar percakapan 2 orang puterinya.
Santi (bukan nama asli): "Siska, papa kita kerja apa ya? Kok selalu berangkat
siang hari?"
Siska (bukan nama asli): "Saya juga tidak tahu, apa yang dikerjakan papa.
Papa kerja tidak seperti papa teman-teman kita, yang selalu berangkat pagi
dan kembali malam hari!"
Santi: "Ya, saya juga sering mendapat pertanyaan itu dari teman-teman di kelas.
Karena pada saat saya dan seorang teman pulang ke rumah, papa masih di rumah
dan tidak bekerja."
Siska: "Saya juga pernah mendengar ejekan dari teman sekolah, bahwa papa kita
pengangguran dan tidak bekerja!"
Santi: "Tapi tidak mungkin papa pengangguran, buktinya kita masih bisa makan
dan bayar uang sekolah!"
Siska: "Apa, jangan-jangan papa kerjanya jadi maling atau jambret ya!"
Santi: "Kamu jangan nuduh gitu dulu, sebaiknya kita tanya saja dulu ke papa!"
Siska: "Mudah2an pikiranku tidak benar ya! Ich ngeri juga punya papa penjahat!"

------------------

Dalam film berjudul "COURAGEOUS" yang saya tonton minggu lalu,
menyampaikan pesan bahwa: 

"Kejahatan yang dilakukan oleh dan kegagalan yang dialami seorang anak,
jauh lebih besar jumlahnya pada keluarga yang tidak memiliki ayah!"

Saya menenggarai:

"Anak-anak jalanan yang berkeliaran di Jakarta, lebih banyak berasal
dari keluarga yang tidak memiliki bapak!"

"Para pemakai narkoba, koruptor dan para penjahat yang ada, 
berasal dari keluarga yang tidak memiliki ayah/bapak, atau
ayah/bapak-nya ada namun tidak berperan dengan benar!"

------------------

Seorang ayah atau bapak memiliki peran yang sangat vital dalam membentuk
dan menjadikan serta mengantarkan anak-anak dalam keluarganya mencapai
manusia mandiri dan mulia.

Sungguh saat ini banyak anak-anak di setiap keluarga kehilangan dan merindukan
figur ayah.

Oleh sebab itu, Sherif dalam film tersebut menginstruskikan kepada bawahannya:
"Setelah selesai tugas, segeralah kalian pulang ke rumah, untuk mengurus dan
mencintai keluarga dan anak-anak kalian!"

-------------------

Keluarga adalah tempat yang sangat tepat untuk memupuk dan menyiangi
"bibit" anak menjadi pohon dewasa yang berbuah manis dan memberikan
keteduhan.

Ayah adalah contoh dan teladan serta TONGGAK utama dalam setiap keluarga,
jadi pesan saya kepada setiap ayah:

"Hadirlah di setiap waktu kala dibutuhkan oleh anak-anak di masa pertumbuhannya,
dan masa itu akan menguap serta tidak akan kembali!"

"Berilah siraman rohani, teladan kasih serta ajaran budi pekerti dan budaya sopan santun
dalam masa pertumbuhannya tersebut, kepada setiap anak-anak, dalam bentuk tindakan
dan sikap, serta ucapan!"

"Ambil peran lebih banyak, dan jangan melepas tanggung jawab ini kepada istri Anda
semuanya. Melainkan bekerjasamalah bahu membahu, saling mengisilah tidak membiarkan
ada ruang atau celah kosong!"

--------------------

Anak Anda adalah Anda.
Anak Anda adalah Master Piece Anda.
Anak Anda adalah tanggung jawab Anda.

--------------------

Bekerjalah sepenuh hati dan berikan contoh pada setiap anak-anak Anda,
bahwa Anda adalah karyawan teladan yang pantas ditiru oleh anak Anda.

Anda bekerja untuk anak Anda bukan?
So bekerjalah dengan cinta!



Salam,
@Freddy Pieloor
Family Financial Counselor
 
Minggu, 1 April, 2012 20:53

LUPAKAN KARIR, RAIH KESUKSESAN




Apa beda seorang profesional dengan seorang wirausahawan? Apakah sifat-sifat kewirausahaan dapat diajarkan dan ditularkan kepada orang lain? Inilah dua pertanyaan yang paling kerap ditanyakan. Namun jawaban mengenai profil wirausahawan ini tak pernah sama.
Meskipun begitu, kita masih bisa menemukan kesamaan para wirausahawan itu. Mereka merasa memiliki kontrol terhadap nasib mereka sendiri. "Jika saya gagal, paling tidak sayalah yang menggagalkannya. Saya tidak akan membiarkan orang lain yang tak tahu siapa diri saya ikut menentukan nasib saya. Jika saya berani mengambil risiko, saya pula yang harus menerima hasilnya." Itulah kira-kira yang bakal diucapkan seorang wirausahawan jika diminta menjelaskan siapa dirinya.
Perasaan "kontrol atas nasib" inilah yang menjadi spesialisasi Howard H. Stevenson dari sekolah bisnis Harvard University. Ia mengajukan teori yang memilah-milah perasaan itu di antara dua kutub. Kutub pertama disebutnya "promoter." Ini adalah ciri wirausahawan yang terus mengejar kesempatan tanpa mempedulikan apakah ia punya cukup sumber daya atau tidak. Kutub lainnya adalah "trustee" yang selalu memeriksa sumber dayanya terlebih dahulu dan baru mengejar kesempatan berdasar inventaris yang dimilikinya itu.
Tentu saja, tidak ada seorang pun yang murni "promoter" atau sebaliknya "trustee" sempurna. Namun, jika dibandingkan dengan profesional, seorang wirausahawan cenderung mendekati tipe "promoter" di dalam spektrum kontrol nasib ini. Mereka terus-menerus membuat keputusan berdasarkan kesempatan yang muncul.
Pelatihan Wiraswasta
Lalu, apakah kewirausahaan dapat diajarkan? Dapat, dengan mengetengahkan beberapa materi. Pertama berkaitan dengan pengetahuan dasar. Kedua, mengenai pengembangan motif berprestasi. Dan ketiga mengenai sikap.
Dengan kerangka berpikir yang diungkapkan oleh McClelland mengenai kebutuhan berprestasi, sebuah pelatihan untuk mestimulasi motif ini perlu diberikan. Pelatihan ini bermaksud menyebarkan virus nAch (need for achievement) bagi para pesertanya, agar memiliki daya juang yang tinggi dalam meraih prestasi.
Hal terakhir yang harus dikembangkan adalah serangkaian sikap. Minimal tiga sikap yang harus dipunyai seorang wirausahawan. Sikap pertama, selalu yakin bahwa di balik setiap situasi selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan segala hal. Sikap kedua mencakup tanggung jawab pribadi untuk melaksanakan perbaikan tersebut. Dan sikap ketiga, selalu meragukan kebenaran yang disampaikan para pakar dan mereka yang lebih berpengalaman. Jangan sekadar "meniru ahlinya." Karena, kalau anda mengetahui mengapa mereka sampai bisa salah, maka anda bisa mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan.
Sekadar menjadi seorang pembangkang yang melawan segala peraturan bukanlah hal yang baik. Kekuasaan lebih banyak datang dari kemampuan berfikir orisinil -- yang membuat anda lebih kreatif -- pada saat orang lain sekadar meneruskan cara lama.
Yang perlu dicermati, sukses acap menjadikan anda kurang bersikap wirausaha. Berbeda dengan saat anda memulai pertama kali dulu, saat masih miskin. Saat itu sangat mudah menciptakan strategi yang didorong oleh kesempatan. Anda tak punya sumber daya yang harus dilindungi. "Nothing to lose."
Akan tetapi, begitu anda mulai bertanya-tanya, "Apa yang harus kulakukan atas sumber daya yang kumiliki?" maka anda mulai terjebak dalam rutinitas, mengulangi hal-hal lama yang sama. Anda memang harus mengenal sumber daya ekonomi dan konsumen anda. Namun bukan berarti anda harus terkungkung di dalamnya.
Apa yang harus dikatakan seorang wirausahawan sejati adalah, "Dengan keunggulan tak adil yang kumiliki ini, kesempatan apa yang akan kuperoleh?" Sebagai seorang wirausahawan, anda jangan berharap berkompetisi dalam permainan yang adil. Anda harus siap menghadapi ketakadilan. Bagaikan antitesis dari para ekonom yang percaya akan adanya pasar sempurna.
Seorang wirausahawan selalu menggenggam keyakinan seperti itu. Yakin mengenai ketaksempurnaan, sehingga selalu mengambil kesempatan yang dilihatnya. Mungkin ini egois, namun ini juga merupakan keyakinan yang mendasari bentuk keyakinan lainnya: bahwa dia bisa mengenali hal-hal yang tidak diketahui oleh orang banyak.
Jadi, seperti renungkan apa yang dinasehatkan oleh Randy Komisar dalam Harvard Business Review. Goodbye career, hallo success. Jangan biarkan karir mengendalikan Anda, tapi biarkan semangat Anda yang mengendalikannya.

 
Rky Refrinal Patiradjawane
Praktisi Riset Pemasaran dan Strategi
Minggu, 1 April, 2012 09:17

Kenangan




'Sepanjang jalan kenangan... Kita bergandeng tangan....' Adakah yang tahu lirik lagu itu? Lagu lama.... Jadul kalau anak sekarang bilang.

Yah... Tidak masalah sih kalau tidak tahu lagunya juga. Karena tidak akan bahas lagunya. Melainkan... KENANGAN.

Kenangan ada di dalam hidup kita. Menemani kita di saat-saat tertentu. Menyenangkan. Menyedihkan. Menyakitkan. Segala jenis kenangan.

Semua yang terjadi dalam hidup kita membawa kita menjadi diri kita sekarang. Dan kenangan itulah yang kita punya. Agar selalu ingat. Siapa kita dulu. Dan siapa kita sekarang.

PAST

Kejadian yang sudah lewat akan ada di dalam benak kita. Selalu. Dalam bentuk kenangan itu. Namun... Semua itu telah berlalu. It happened in the PAST. Not now or the future.

Seindah apapun kenangan, seburuk apapun kenangan, semua terjadi di masa lalu. Dan tak akan membuktikan bahwa masa depan kita akan seperti apa.

Sebuah serial TV baru yang saya tonton berjudul Drop Dead Diva, berkisah tentang seorang model muda dan cantik yang kecelakaan, meninggal, namun tak rela meninggalkan dunia, sehingga hidup kembali dalam tubuh orang lain. Orang yang sangat berbeda. Pengacara. Gemuk. But still beautiful in her own way.

Deb, nama model ini, tak mampu melepaskan masa lalunya sehingga dia kembali dan ingin bertahan. Tapi... Dia tak boleh mengatakan kepada kekasih atau siapapun juga, siapa dia sebenarnya.

Dan selama menjalani hidupnya yang baru, kenangan-kenangan bersama orang-orang yang dikasihinya selalu ada. Dan hal itu justru tak membuatnya mudah. Sedih. Dan bahkan beberapa kali down.

Kejadian Deb, terperangkap dalam kenangan, seringkali terjadi pada kita bukan?

Kita 'terperangkap' dalam kenangan dan what should've been... Tapi.. Semua takkan bisa kita rubah. Karena kenangan ada untuk masa lalu.

LET GO

Lepaskan!

Itu yang akhirnya dilakukan Deb atau Jane (nama barunya). Dia melepaskan masa lalunya. Dan menjalani masa sekarangnya. And... Dia menjalaninya dengan lebih ringan.

Melepaskan bukan berarti melupakan. Kenangan ada untuk kita. Di saat-saat tertentu, kita bisa menikmati kenangan itu, raihlah. Tapi... Sehari-hari, kita haruslah terus melangkah.

Melepaskan artinya menyadari. Bahwa yang ada dalam kenangan adalah masa lalu. Dan kita tak dapat mengubah masa lalu. Yang bisa kita lakukan adalah menggenggam masa sekarang dan bergerak maju.

FUTURE

Let go the past and embrace the future. Coz the future is in your own hand.

Lepaskan masa lalu. Tak bisa kita ubah. Biarkan masa lalu ada dalam memory kita. Dalam kenangan kita. Tapi masa depan?

Masa depan ada di tangan kita. Kita jelang masa depan dengan lebih baik.

Kenangan buruk - ubahlah menjadi kenangan terindah. Kenangan menyenangkan - lipatkanlah di masa depan. Sehingga hidupmu semakin berharga dan indah.

Apapun yang kita miliki dalam kenangan kita, kita sadari bahwa semua terjadi karena sebuah alasan (ini juga kata-kata Deb - everything happens for a reason). Dan biarkan diri kita memeluk kenangan itu dan menerima kenapa semua terjadi.

Seburuk apapun kenangan yang ada, ada minimal satu alasan utama semua terjadi: agar kita menjadi lebih baik lagi di masa depan.

Live NOW and draw your beautiful memories for the future.

Ryan
010412 0014

Terima kasih untuk semua yang telah memberiku kenangan dalam hidup.
Best Regards,
Febriyan Lukito
Sabtu, 31 Maret, 2012 20:42