Minggu, 25 September 2011

Menjadi Pribadi Yang Lebih Baik Di Kantor

Oleh:  Dadang Kadarusman

Hore, Hari Baru! Teman-teman.
                                                                                              
Salah satu hal paling gampang yang bisa kita lakukan adalah mengkritisi perilaku orang lain. Mata kita dapat dengan mudah melihat kesalahan tindakan mereka. Atau memergoki perilaku tidak senonoh mereka. Telinga kita bisa dengan gampangnya mendengar kabar tidak sedap tentang mereka. Atau dijejali gosip-gosip tentang hubungan aneh mereka. Semuanya itu bisa dengan mudah kita lakukan. Sedangkan salah satu hal paling sulit untuk kita lakukan adalah; menyadari kelemahan, kekurangan dan keburukan diri kita sendiri. Lebih sulit lagi adalah; memperbaiki keburukan-keburukan perilaku kita itu. Padahal, tidak seorang pun harus mempertanggungjawabkan pribadi orang lain. Karena setiap pribadi hanya akan dimintai pertanggungjawaban atas dirinya sendiri. Maka, tugas utama kita bukanlah untuk merecoki kehidupan orang lain, melainkan terlebih dahulu memastikan bahwa diri kita sendiri bisa menjadi pribadi yang baik.
 
Meskipun banyak orang yang mencerca, tetapi tayangan infotainment di televisi selalu mendapatkan rating yang tinggi. Mengapa ya? Mungkin karena kita memang paling seneng untuk mengetahui tentang orang lain. Bayangkan seandainya kita memiliki ketertarikan untuk ‘mengetahui tentang diri kita sendiri’ seperti halnya kegemaran kita untuk tahu urusan orang. Saya yakin, kita akan semakin mengenal diri sendiri. Mengetahui apa yang harus diperbaiki. Dan menyadari apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan diri kita. Serta memahami kelemahan dan kekuatan diri kita. Dengan begitu, hidup kita bisa menjadi lebih baik dari saat ini. Semuanya itu adalah bagian yang sangat penting dalam usaha kita melatih diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Khususnya dikantor yang menjadi sumber penghasilan dan pergaulan kita. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menjadi pribadi yang lebih baik di kantor, saya ajak memulainya dengan mempraktekkan 5 prinsip Natural Intellligence berikut ini:

 
1.      Mengevaluasi perilaku negatif pribadi.

Ini adalah latihan yang bisa dan perlu dilakukan oleh setiap orang yang ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Karena, semua orang selalu memiliki ruang untuk melakukan perbaikan. Ingatlah kembali sikap dan perilaku negatif yang masih sering Anda tunjukkan di kantor, lalu tuliskanlah dalam selembar kertas bergaris. Pastikan setiap baris hanya memuat satu item sikap dan perilaku negatif  yang tersusun ke bawah. Beri nomor, jika perlu.

 
2.      Mendefinisikan perilaku positif.

Setiap perilaku, adalah pilihan yang kita tentukan sendiri. Artinya, sebenarnya kita memiliki alternatif lain yang lebih baik. Tetapi kita terlanjur untuk memilih yang ini dan mengabaikan yang itu. Maka langkah selanjutnya adalah secara sadar mendefinisikan perilaku kebalikannya. Disamping setiap sikap dan perilaku negatif itu, tuliskanlah perilaku yang sebaliknya (positif). Misalnya, jika tadi Anda menuliskan kata ’lelet’, maka sekarang tuliskan perilaku kebalikannya disamping kata itu. Maka Anda akan mendapatkan catatan seperti; Lelet ßà Cekatan, Pemarah ßà Penyayang, pemurung ßà Periang, dan seterusnya.

 
3.      Mengganti perilaku negatif dengan positif.

Jika perilaku negatif itu sudah menjadi kebiasaan, maka bisa dipastikan jika kita cenderung terus tergoda untuk melakukannnya. Sekarang, kita akan coba untuk memperbaikinya. Setiap kali Anda akan menunjukkan sikap dan perilaku negatif itu, berhentilah sejenak. Lalu, lakukanlah perilaku yang sebaliknya (positif). Lakukanlah proses itu terus menerus sampai Anda tidak lagi tergoda untuk berperilaku negatif.

 
4.      Meminta bantuan dari orang yang berperilaku positif.

Mengubah perilaku itu bukanlah perkara mudah. Makanya, kadang kegigihan saja tidaklah cukup. Kita sering berhenti berusaha hanya karena merasa itu akan sia-sia saja. Bayangkan, kita harus mengubah sesuatu yang sudah kita lakukan selama bertahun-tahun. Tentu tidak mudah. Tapi, ada sebuah cara yang bisa kita lakukan untuk menguatkan langkah kita, yaitu; meminta bantuan dari orang yang berperilaku positif. Mintalah feedback atau umpan balik pada teman atau atasan Anda tentang perkembangan diri Anda, misalnya. Tapi, pastikan orang itu sudah terbiasa berperilaku positif.

 
5.      Membuka diri terhadap kritik.

Tidak mudah untuk menerima kritik. Meskipun bibir kita tersenyum, tapi boleh jadi hati kita merasa kesal. Tetapi, Anda harus mengizinkan orang-orang yang Anda pilih di point #4 tadi untuk mengkritik Anda. Artinya, Anda setuju menjadikan mereka sebagai pelatih bagi Anda. Dengarkan masukan dan kritikan dari mereka, kemudian tindaklanjuti dengan melakukan hal-hal positif yang sudah Anda tulis lebih sering lagi. Jangan pernah memecat mereka sebagai pelatih. Karena perjalanan memperbaiki diri, bukanlah pertandingan sepak bola.
 
Untuk mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik, kita tidak harus memulainya dari hal-hal yang besar. Mengawalinya dengan mengurangi kebiasaan buruk yang kecil-kecil juga bisa membantu. Jika kita melakukannya secara konsisten, maka lama kelamaan kita akan terbiasa untuk hanya berperilaku baik saja di kantor. Sekalipun demikian, ada satu hal yang proses perbaikannya tidak boleh ditunda. Karena menunda-nunda proses perbaikannya hanya akan mencelakakan diri Anda. Apakah hal yang tidak boleh ditunda itu? Yaitu; menghentikan setiap tindakan yang merusak integritas Anda. Soal ini, sebaiknya segera saja Anda lakukan. Mumpung Tuhan masih memberi kesempatan.  
 
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 9 September 2011
Penulis buku ”Natural Intelligence Leadership” (jadwal terbit Oktober 2011)
 
Catatan Kaki:
Puncak kesempurnaan perilaku manusia hanya akan bisa dicapai melalui latihan untuk terus memperbaiki diri yang dilakukannya sepanjang masa.
 
Jika pertanyaan-pertanyaan Anda belum mendapatkan jawaban dari saya, silakan untuk mengeceknya di  Frequently Asked Question (FAQ) dalam website kami.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain. Tapi tolong, jangan diperjualbelikan ya.

Kamis, 8 September, 2011 18:02

Pengembangan Jejaring

Oleh: Andre Vincent Wenas


    Sebagai seorang pedagang (trader), peran Anda sangatlah menuntut
kreatifitas dan kemampuan mengorganisir beberapa pemain bisnis sekaligus.
Melewati fase perintisan, tugas Anda sang business-leader memang
menumbuh-kembangkannya menjadi berskala besar, bahkan – mengapa tidak –
berskala global.

    Apa yang dibagikan Victor Fung, William Fung & Yoram (Jerry) Wind (dalam
buku mereka: Competing in a Flat World, Building Enterprise for a Borderless
World, 2008) bisa jadi panduan para pemain tengah (trading company). Walaupun
awalnya bergerak sebagai pedagang, di dalam era dunia yang semakin mendatar - di
mana para pemain baru dari pelbagai sudut bumi serentak bisa ikut masuk ke dalam
kancah persaingan – maka Anda pun harus berpikir untuk senantiasa menciptakan
nilai tambah bagi setiap pemain yang ada dalam konfigurasi jejaring yang sedang
Anda orkestrasi.

    Pertanyaan mendasar yang perlu selalu ditanyakan pada diri sendiri: mengapa
para produsen harus menjual melalui perusahaan/organisasi kita? Dan, mengapa
para pelanggan mesti membeli lewat perantaraan kita? Apa nilai tambah yang
mereka terima (perceived-value) jika berbisnis dengan (melalui) jasa-jasa kita?

    Dengan dipicu oleh perkembangan teknologi komunikasi (internet,
digitalisasi informasi) dan teknologi pengelolaan-rantai-pasok
(supply-chain-management) skala global yang makin canggih, para pebisnis semakin
dimungkinkan untuk berselancar di dunia maya dalam rangka mencari mitra pemasok
dan sekaligus pembeli potensial dari dan ke seluruh dunia.

    Dengan mengkoordinasikan para pendukung lain, misalnya: surveyor,
transporter, logistik-pergudangan, forwader dan packaging, lalu juga
mendayagunakan optimal fasilitas perbankan dan intrumen derivatif perdagangan,
niscaya kesempatan bisnis Anda untuk terus bertumbuh semakin besar. Di samping
aspek mengembangkan sistem organisasi dan membangun kompetensi orang-orang
(karyawan).

    Ada tiga peran yang mesti diolah dengan baik oleh orkestrator sebuah
network bisnis: 1) Design and manage networks, merancang dan mengelola
jejaringnya, 2) Control through empowerment, pengendalian melalui pemberdayaan
3) Create value through integration, menciptakan nilai lewat integrasi.

    Pertama, merancang dan mengelola jejaring. Jaman sekarang, persaingan usaha
bukan Cuma antar satu perusahaan dengan perusahaan saingannya. Melainkan
kekuatan jejaring suatu perusahan versus kapabilitas jejaring dari pesaing.
Networks compete against networks. Maka siapa pun yang paling mumpuni mengelola
rantai-pasok (supply-chain)nya, maka dialah yang bakal jadi pemenang. Tugas
konduktor adalah mengorkestrasi jejaring yang seluas mungkin, lalu mengupayakan
terjadinya rantai-pasok yang paling efektif dan efisien.

    Kedua, pengendalian melalui pemberdayaan. Menimbang bahwa sentra
produksinya bukan milik Anda sendiri, maka diperlukan suatu model kepemimpinan
dan pengendalian yang berbeda dengan cara konvensional. Pertanyaannya, apa sih
faktor utama yang membuat anggota jejaring itu kohesif dan saling terikat?
Jawabnya, kombinasi rewards (imbalan), empowerments (pemberdayaan) dan trust
(kepercayaan), di samping tentunya pelatihan dan sertifikasi demi pengembangan
kompetensi. Sang konduktor (orkestrator) mungkin saja tidak bisa memecat atau
merekrut orang di masing-masing perusahaan anggota jejaring Anda, tetapi – ini
yang terpenting – Anda mengkoordinasikan sekumpulan orang berkompetensi tinggi
dan independen.

    Ketiga menciptakan nilai lewat integrasi. Jika dalam format industri jaman
dulu nilai diciptakan lewat spesialisasi, maka bagi Anda para trader di dunia
yang semakin datar, nilai tambah yang Anda ciptakan datangnya lewat integrasi.
Menjadi penghubung sekaligus mampu mengungkit (leveraging) asset perusahaan
melalui jejaring yang Anda bangun dan kelola.

    Bersiaplah untuk sukses.

----------------------------------------------------
(artikel dari Tabloid Bisnis KONTAN)


STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Business Advisory & Management Consulting

Catatan:  Sebelum di released dalam Blog ini, artikel ini sebelumnya telah dipublikasikan oleh media lain. Sengketa atas Hak atas Kekayaan Intelektual menjadi tanggung jawab kontributor.
Kamis, 8 September, 2011 04:27

10 Jenis Pekerjaan dengan Tingkat Resiko Kematian Tertinggi

Oleh:  Lorco  Safety

Apa saja 10 Jenis pekerjaan dengan tingkat resiko kematian tertinggi tersebut ?
The Bureau of Labor Statistics (BLS) di Amerika Serikat  mengeluarkan data hasil surveynya  pada 100,000 pekerja. Data tersebut mengungkapkan 10 Jenis pekerjaan dengan tingkat resiko kematian tertinggi yaitu :
  1. Nelayan/ Pekerjaan menangkap ikan di laut. Angka: 116.0
  2. Pekerja penebangan pohon. Angka: 91.9
  3. Pilot dan teknisi penerbangan. Angka: 70.6
  4. Petani dan Peternak. Angka: 41.4
  5. Operator Mesin Pertambangan. Angka: 38.7
  6. Pekerja yang bekerja di atap: 32.4
  7. Pekerja di tempat barang rongsokan dan daur ulang. Angka: 29.8
  8. Supir mobil dan supir truk.  Angka: 21.8
  9. Teknisi mesin mesin industri. Angka: 20.3
  10. Polisi dan Sherif. Angka: 18.0.
Semoga kebiasaan kita dalam mengutamakan perilaku safety dapat memperkecil angka kecelakaan pada apapun pekerjaan yang digeluti.
Adakah rekan Pro Safety yang memiliki informasi mengenai data sejenis untuk wilayah Indonesia ?
Sumber: Lorco.co.id  dan diadaptasi juga dari berbagai sumber
Sumber Asli dapat dilihat disini
(Silahkan membagikan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber aslinya)

By Kang Aa Widi Safari
Kamis, 8 September, 2011 02:24

Opini dan Diskusi: "Iklan Asuransi Konyol..."

1.  Opini dari: Krishnamurti


Dear Sobat Profec & TMI,

Sampai siang ini, sy msh terima broadcast BBM "Iklan Asuransi" berikut:

"Pentingkah polis asurasi jiwa ? PENTING SEKALI!!!!... Sadarlah asuransi dari dini

Sekilas Info,
Istri SJ,VA adl salah satu Nasabah P dg Total claim semuanya 675 JT plus kecelakaan, baru masuk 4 BULAN sebulan bayar premi 1 jt.

Nama Agen : Pak SH" (nama diatas adalah initial, info lainnya sy hapus)

Pertanyaan sy:
Bolehkah nama kklien, UP, premi seorg klien diumumkan ke publik, termasuk BBM?

Sekali maaf,
Krishnamurti

NB: sy posting ini hanya ke milis Profec & The Manager Indonesia krn sy anggap anggotanya dewasa & profesional...

"Indonesia akan lebih baik, saat Anda jadi lebih baik..."
Kamis, 8 September, 2011 01:09

============ =========

DISKUSI:


2.  Haddy Permadi:


Iya, saya juga terima BM yg isinya sama persis
Hanya beda nama agen nya aja krn di BM yg saya terima tdk dicantumkan nama agen nya
Mengingat yg nge BM teman saya yg sdh Agency Manager di asuransi itu :D
Salam,

Haddy Permadi
Kamis, 8 September, 2011 01:13
========= =============

3.  Freddy Pieloor:


Dear Pak Krishnamurti, Rekan TheProfec dan TMI,


Saya sependapat dengan Pak Kris, saya pikir "iklan sejenis" itu sangat tidak/kurang etis.

Sebaiknya bila ingin meng-iklan-kan, harus meminta ijin terlebih dahulu kepada Nasabah dan atau ahli waris.

Iklan seperti di koran, dimana ahli waris menerima santunan, jauh lebih santun. Dimana mereka sudah menyetujui pemasangan gambar dan tulisan dalam iklan tsb.

Seperti yg disampaikan oleh Bu Lies, terkait dampak publikasi yg meluas, yg dapat "menimpa" keluarga cukup serius.

Poinya:
Beriklan boleh saja, namun dengan ijin nasabah dan atau ahli waris. Termasuk premi dan jumlah uang pertanggungan, harus dengan seijin mereka.
Selain itu sungguh tidak layak.

Demikian opini pribadi saya.


Salam,
Freddy Pieloor
Kamis, 8 September, 2011 01:25
=========== ============

4.  JT-mail:


Saya juga melihatnya terlalu muluk2.
Mana ada klaim langsung dicairkan dalam waktu beberapa hari setelah
kejadian.
Sementara kasusnya msh dalam penyelidikan polisi.
Pertanyaan saya:
Apakah benar total claim yg akan dicairkan itu 100% (675jt) secara umur
polisnya baru 4 bulan?
Apakah si agent punya hati nurani/itikat baik dgn memasang iklan atas nama
korban tanpa diketahui pihak ahli waris?
Kamis, 8 September, 2011 01:26
=========== ===========

5.  Irvan Nasution:


Hi...Saya sih ga terima BBM seperti itu, tapi yg saya mau tanyakan adalah ... misalkan saya Agen yg ingin promosi lalu SMS Blast, yg akan saya sms in kan hanya org org yg ada di BB saya . Lalu bagaimana caranya bisa sampai ke banyak org yg notabene tidak saya kenal..apa saya add semua nomor BB? 
Jika menggunakan bantuan teman untuk bantu ngeblast berarti saya bagi bagi komisi ya...
Maklum BB'mers Pemula =P
 

Salam saya Untuk Keluarga Anda

Irvan Nasution 
Manulife Insurance Consultant
Kamis, 8 September, 2011 01:41
========= =============

6.  Marmi Priarsih:


Pertanyaannya :
Bolehkah nama klien, UP, premi seorg klien diumumkan ke publik, termasuk BBM?

Jawabannya :
Pada prinsipnya hak2 Nasabah atas Privacy adalah yang Paling Utama.
Namun semuanya pun tergantung klien juga pak.
untuk orang2 tertentu pada saat pencairan klaim akan ditanya, apakah berkenan atau tidak dgn publikasi atas klaim nya? Jika berkenan akan ada form persetujuan publikasi dan juga ada video shootingnya sbg bukti.
andai berkenan pun masih ada batasan2nya : boleh difoto orang/keluarga yg proses klaim? boleh disebut manfaat yg dimiliki? boleh sebut nilainya?

Contohnya klaim atas alm.Gus Dur di Prudential beberapa tahun lalu,
anak beliau setuju saat klaim difoto untuk publikasi.
sesuai dengan usia dan kondisi beliau saat beli polis maka manfaat/rider tentunya terbatas (maaf saya tidak tahu persis). tapi keluarganya tidak berkenan disebutkan nilai premi dan uang pertanggungannya. maka jadilah fotonya bisa saya tag di FB saya (maaf jika ada teman-teman disini yg tidak berkenan dg publikasi tsb)

Segitu aja pak yg saya tahu

Salam
Marmi Priarsih
Prudential
Kamis, 8 September, 2011 02:07
------------------ ---------------------

Kalau untuk kematian dan sakit karena kecelakaan biasanya tidak ada masa tunggu untuk claim, setelah aplikasi polis dinyatakan sudah disetujui dan premi sudah dibayar, lalu ada kejadian maka otomatis bisa klaim meski pun polis asli masih dalam proses issue.
dan jika meninggal maka nilai pencairan pun sesuai aplikasi, 100% nilai UP
ini kalau di Pru ya, kalau yg lain maaf saya tidak tahu.

untuk masa claim anda betul, ada waktu yg dibutuhkan untuk proses surat2 yg diperlukan untuk klaim.
karena kasusnya kecelakaan, perlu surat dari kepolisian setempat, surat kematian dari kelurahan, dan surat2 peting lainnya yg harus disiapkan pihak keluarga nasabah yg meninggal.
waktu pertama issue beredar, pejabat kelurahan juga masih banyak yg liburan lebaran ya?

kalau mau pasti kita tanya aja SJ, agennya siapa mas?
ada yg bilang yg pertama blast issue bukan agennya ... nah lhooo .. ngapain? iseng amat sih :)

Salam
Marmi Priarsih
Prudential
Kamis, 8 September, 2011 02:22
========== ============

7. Fransiscus Xaverius:


Saya tidak tahu kenapa reply saya tadi tidak termuat. Saya coba jawab
versi pendapat saya.

Kenapa Pak Khrist ketakutan dan seolah ingin memimpin jajak pendapat?
Yang baca di milis ini kan memang sudah dewasa semua, judulnya pun
manager, namun anggotanya malah dibuat tidak dewasa disuruh mendukung
pendapat pak Khris.

Coba kalau ini milisnya MANAGER MARKETING, pasti deh beda pendapatnya.

Sekali lagi pak Khris, ajaklah para anggota milis ini berwawasan
dewasa pula, tidak dihakimi seperti kata-kata mutiara Anda setiap
menit itu.

Salam penuh kedamaian
Frans di Papua Barat
Kamis, 8 September, 2011 02:43
============ ==========

8.  Worrawech Danuwong:


Menurut saya menyebut VA nasabah P saja sudah salah..... Privasi dari nasabah sudah dilanggar

--
D@n
Kamis, 8 September, 2011 03:26
========== ===========


9.  Nurmansjah Soleiman:


Dear Pak Krishna,

Sebelumnya saya juga sudah menanggapi juga di posting Bapak yang memiliki judul posting yang lebih santun dari judul posting di atas ini.

Saya hanya ingin menambahkan bahwa tidaklah 'apple to apple' jika kita membandingkan iklan di koran (yang pastinya diprakarsai oleh perusahaan asuransi) dengan 'iklan' melalui bbm, yang biasanya tidak jelas / tidak mudah diketahui siapa pemrakarsa nya yang pertama membuat.

Sekali lagi saya sampaikan bahwa saya setuju bahwa iklan melalui bbm yang sekarang sedang beredar dan masih terus Bapak terima, TIDAK LAYAK EDAR.

Tetapi tentu saja kita juga harus menyadari bahwa hal-hal seperti ini, sekali pernah dilontarkan maka tidak akan pernah lagi bisa dihentikan.

Total agen asuransi yang berlisensi di Indonesia saat ini berjumlah +/- 200 ribu orang, belum lagi ditambah dengan para 'agen' yang belum berlisensi.... Jika 1% nya saja berpartisipasi menyebarkan hal ini, sudah 2000 orang yg menyebarkan, dan jika masing2 rata-rata mengirimkan pesan ke 10 orang, maka sudah 20,000 pesan... Dan bisa terus berlipat kali.

Karena itu saya memang sangat menyayangkan 'oknum' yang pertama kali menyebarkan pesan 'iklan' ini...

Terima kasih.

Salam,
Nurmansjah Soleiman

Life is NOT a game... No chance for put another coin in!

========== =============

10.  Rky Refrinal Patiradjawane:


Dear Nurmansyah,

Saya pikir tak ada yang perlu disesali dari hal ini, karena pada akhirnya iklan ini justru mengakibatkan turunnya citra produk, dimana dampaknya akan jauh lebih buruk daripada revenue. Pesan-pesan seperti ini justru membuat ekuitas merek produk asuransi tersebut menjadi terjun bebas.

Lalu siapa yang disalahkan? Saya rasa pengirim BBM tidak dapat disalahkan begitu saja. Jika saya diperkenankan menjawab pertanyaan ini, maka menurut saya yangsalah adalah perusahaan, yang tidak mampu mengontrol manpowernya, dan memberi target pada kapasita maksimal yang tidak mungkin tercapai.

Namun. Benarkah yang mengirimkan pesan tersebut adalah manpower dari perusahaan ansuransi tersebut? Maka sebagai praktisi kita perlu mencermati dengan benar, karena kita tidak menutup peluang ini adalah 'black campaign' yang dilakukan kompetitor.

Saya mengerti dengan ujaran Mas Krisna, bahwa kedewasaan etika dan kematangan intelektual akan mampu meredam ini, dan kita tidak perlu menanggapinya secara berlebihan, karena saya sungguh yakin sebagai konsumen anda (baca kita) pasti cermat dan cerdas memilih, menentukan, membeli dan menggunakan.

Mohon maaf dan salam,
Rky Refrinal Patiradjawane

FIRST INDONESIA CONSULTING
========= ==============

11.  Krishnamurti Mindset Motivator:


Dear Pak Frans di Papua Barat,

Kenapa Pak Khrist ketakutan
KM:
Sy tdk merasa ketakutan krn memang gak ada hubungannya dg ketakutan tuh he
he he

dan seolah ingin memimpin jajak pendapat?
KM:
Nah, kalo seolah ingin memimpin jajak pendapat, itu pendapat Pak Frans,
bukan pendapat sy.

Yang baca di milis ini kan memang sudah dewasa semua, judulnya pun
manager, namun anggotanya malah dibuat tidak dewasa disuruh mendukung
pendapat pak Khris.
KM:
Di-posting tadi sy periksa dg detail, sy tdk ada menuulis minta dukungan.
Juga dukungan buat apa?

Coba kalau ini milisnya MANAGER MARKETING, pasti deh beda pendapatnya.
KM:
Kebetulan sy tdk ikut membernya...

Sekali lagi pak Khris, ajaklah para anggota milis ini berwawasan
dewasa pula, tidak dihakimi seperti kata-kata mutiara Anda setiap
menit itu.
KM:
Wah, sy baru tahu neh kalo kata-kata mutiara sy itu ternyata MENGHAKIMI,
begitu ya Pak Frans? Sy msh bingung yg mana ya?

Salam juga penuh kedamaian,
Krishnamurti
Kamis, 8 September, 2011 06:30
----------- ----------------------------

Dear Pak Nurmansjah Soleiman,
 
Nah, ini informasi & masukan yg berharga untuk banyak pihak. Maaf, sy menggunakan kata pd judul yg dianggap kurang santun...
 
Thanks Pak & salam...
Krishnamurti
Kamis, 8 September, 2011 06:32
---------- -----------------------------


Dear Bung Rky,
 
Analisa yg cerdik dan cerdas, krn banyak perusahaan asuransi di Indonesia adalah klien pelatihan sy, maka masukan2 yg ada di beberapa milis, sy akan kompilasikan. Krn akan sangat berguna sbg FEEDBACK untuk manajemen.
 
Krn kepentingan klien sendiri, sy sdh berkirim surat kpd salah satu pihak manajemen puncak di sebuah perusahaan asuransi ttg iklan "konyol" tsb he he... Jadi, pendapat2 di beberapa milis tsb bukan utk kepentingan sy, krn sy bukan agen asuransi. Tp utk klien2 sy agar lebih hati2 dsb dsb...
 
Thanks Bro atas masukan & analisanya,
Krishnamurti
Kamis, 8 September, 2011 06:37

-------- -------------------------------

12.  Rky Refrinal Patiradjawane:


Dear Mas Krisna,

Beta jua banya balajar dari ale to... Jang sampe orang paparipi pikir ini bisa for biking indikasi yang biking orang talinga tabuka trus bakarang takaruang.

Beta rasa katong samua baku gandeng for satu tujuan yang biking katong jadi sengada jarak.

Ale batu Bung...

Rky Refrinal Patiradjawane

FIRST INDONESIA CONSULTING
Kamis, 8 September, 2011 07:15
========== ============

13.  Krishnamurti Mindset Motivator:


Dangke Bu Rky,
 
Spt pepatah Ambon manise yg indah: "Ale rasa, Beta rasa". Ada teman beta di manajemen salah satu perusahaan asuransi yg klien beta, bilang danke banyak utk masukan teman2 samua. Dia bilang sangat berharga karena mrk sudah sibuk di manajeman atas.
 
Katong samua basudara...
Krishnamurti
Kamis, 8 September, 2011 07:23
========== ============

14.  Rky Refrinal Patiradjawane:

Dangke sama-sama bu..

Memang batul, di marketing berlaku prinsip 'pelanggan yang complain sebenarnya adalah pelanggan yang loyal' dorang manggurebe bicara karena dorang ingin produk itu improve.

Jadi kalo pelanggan manggurebe for protes, berarti dorang perduli deng itu produk, dan dorang itu lapisan pertama yang jadi filter informasi.

Yang bahaya, jang sampe baku manganga la seng sama2 mangari, paparipi trus pardidu deng akan.

Ale Batu, beta Batu,
Bersatu manggurebe maju Bung...
Semoga Tete Manis sayang Bung selalu..
Rky Refrinal Patiradjawane

FIRST INDONESIA CONSULTING
Kamis, 8 September, 2011 07:30
========== =============

15.  Rusni Takaful:


Iya saya juga sependapat.
Premi dan jumlah uang pertanggungan itu adalah rahasia, dan harus dengan persetujuan nasabah atau kalau sudah wafat baru boleh atas persetujuan ahli waris untuk   diberitahukan ke orang lain apalagi untuk publikasi.

Just info kalau Takafulink Salam, dengan premi yang sama = 1 jt/bulan, usia 30th, bisa mendapat santunan mngl karena kecelakaan rp.1.5M + rawat inap + 49 jenis penyakit kritis.
(contoh ilustrasi terlampir).

Terima kasih dan Wassalam wr wb.,

Rusni
Kamis, 8 September, 2011 20:02
========== =============

16.  Erwin Wangsamulja:


Beberapa kali saya melihat iklan, dan iklan ini malah pihak asuransi yang mempopulerkan di media.
 
Pada saat bencana alam gempa Padang , banjir Jakarta , tsunami Aceh........dll
Mereka claim langsung mengganti kerugian, menderek mobil, bahkan ada petinggi perusahaan asuransi yang memberikan secara simbolis kepada korban......
Memang perbedaannya karena bencana alam, tetapi tetap saja melakukan promosi diatas penderitaan orang lain........
 
Erwin
Kamis, 8 September, 2011 20:12
========== ============


Kamis, 22 September 2011

Opini dan Diskusi: "Stop Iklan Asuransi yg manfaatkan kematian seseorg..."

1.  Opini dari Krishnamurti:


Sobat2ku,
Mohon hentikan mem-forward "iklan Asuransi" via BBM, yg memanfaatkan berita kematian seseorg akibat kecelakaan saat lebaran yg lalu.

Cara promosi tsb sungguh tdk pantas & kurang etika, dimana saat ini ada keluarga yg sdg berduka.

Banyak cara yg lebih elegan & bijak utk menyadarkan org akan pentingnya berasuransi krn memang penting.

Demikian & maafku,
Krishnamurti
Mindset Motivator

"Indonesia akan lebih baik, saat Anda jadi lebih baik..."
Selasa, 6 September, 2011 19:02

======= ===============

OPINI DAN DISKUSI:


2.  Erwin Wangsamulja:


Wah......saya kira Cuma saya yang dapat lho bbm tersebut......
Saya dapat 2 bbm yang sama persis.......
 
Menurut saya tidaklah etis, bukan karena suasana berduka tapi ini menyangkut confidentiality seseorang.....
Lembaga keuangan bank dan non bank termasuk di dalamnya asuransi harus menjunjung tinggi privacy nasabahnya lho.....ayo tar ada yang mengadukan ke pihak berwajib bisa di ’prita’ kan........
 
Erwin 
Selasa, 6 September, 2011 19:33
========= =============

3.  Rizaldi Oyong:


waduh saya juga dapat tuh...


bahkan bukan hanya lebaran aja,,,,tetapi setipa ada selibritis yang meninggal iklan itu sellau muncul..

salam
Selasa, 6 September, 2011 20:04
========= =============

4.  Fransiscus Xaverius:


Kebetulan saya tidak dapat. Tetapi secara logika saja, bukankah
asuransi jiwa memang bicara tentang jiwa yang terancam karena sakit
parah atau karena meninggal dunia.
Bagaimana dengan iklan yang lain misalnya layanan ambulance 24 jam
(apakah ini mengharapkan orang pada sakit?). Bagaimana yang mau
memasarkan peti mati atau jasa pengurusan jenasah dlsb.

Bagaimana kalau iklan training terkirim kepada orang yang sedang
berduka? Bagaimana kalau iklan layanan pernikahan terkirim kepada
orang yang sedang berduka?

Inilah marketing, kalau tidak berkenan dengan promosi, deleted seperti
yang juga berlaku di email.

Sarana saya sih jangan menghakimi orang lain.

Salam damai
Frans, Papua Barat
Rabu, 7 September, 2011 01:24
============ =========

5.  Haddy Permadi:


Saya juga menerima 'iklan' itu krn salahsatu kontak BBM saya mmg org asuransi itu
Saya rasa tidak masalah sih, krn peristiwa itu hanya dia sebut sbg salahsatu contoh betapa baru bayar premi sekian bulan lsg ahli waris nya dpt sekian ratus juta

Salam,

Haddy Permadi
Rabu, 7 September, 2011 01:32
========== ===========

6.  Rahmadsyah Mind-Therapist:


Pak Frans, sayangnya naskah asli yang sampai ke BBM saya sudah saya hapus, mungkin bila bapak membacanya, akan berpandangan berbeda...
Rahmadsyah Mind-Therapist
Trainer Softskill
Rabu, 7 September, 2011 01:55
========= ============

7.  Rky Refrinal Patiradjawane:


Dear Rahmadsyah,

Saya sependapat dengan anda bahwa iklan itu snagat tidak manusiawi dan jauh dari rasa kemanusiaan, memanfaatkan moment yang tidak tepat.  Saya setuju dengan pendapat Pak Frans jika keadaannya tepat dan normal, namun saya sependapat dengan Rahmadsyah, jika Bapak membaca konten iklan tersebut, maka saya yakin Bapak akan setuju dengan Krisnamurthi juga yang lainnya.

Salam,

If you want something you’ve never had, you must be willing to do something you’ve never done.

Rky Refrinal Patiradjawane
Managing Director

FIRST RESEARCH INDONESIA

Rabu, 7 September, 2011 02:22
=========== ==========

8.

Lepaskan Training Wheel Sepeda Kehidupan Anda!

Oleh:  Dadang Kadarusman

Hore, Hari Baru! Teman-teman.
                                                                                              
Siapakah diantara Anda yang belum bisa mengendari sepeda? Adakah? Hmmh, membayangkan nikmatnya bersepeda dimasa kecil, tampaknya kita semua sudah harus belajar kembali bersepeda. Lho? Kalau sudah bisa, mengapa kita mesti belajar bersepeda lagi. Mungkin, kita memang sudah bisa ‘bersepeda’ dengan baik. Tetapi, apakah kita juga sudah bisa mengendarai ‘sepeda kehidupan’ ini dengan sama baiknya? Saya pribadi, merasa belum benar-benar mahir. Oleh sebab itu, saya memang butuh belajar untuk menaiki sepeda kehidupan ini agar bisa semakin menyatu dengannya. Menikmati setiap kayuhannya. Merasakan setiap lekuk likunya. Dan menuntaskan keseluruhan perjalannnya dengan segenap potensi diri yang terdayagunakan. Itu adalah cita-cita pribadi saya. Apakah Anda memiliki cita-cita yang sama?
 
Saat usianya 3 atau 4 tahun anak lelaki kami mendapatkan sepeda yang dilengkapi dengan training  wheel (roda tambahan untuk latihan). Roda tambahan itu memungkinkannya untuk mengendarainya dengan mudah dan aman. Anak-anak tidak perlu takut jatuh. Orang tua juga tidak usah menjagai mereka. Maka mulai saat itu, anak saya bisa menikmati masa bermain sepedanya. Sedangkan saya merasa semuanya baik-baik saja. Tenyata keadaan tidak selamanya baik-baik saja. Mengapa? Karena sampai usia 7 tahun dan duduk dikelas 2 SD dia belum juga bisa mengendarai sepeda roda dua. Padahal, tubuhnya sudah lebih tinggi dari sepeda itu. Ketergantungannya kepada roda tambahan itu menjadikan dia takut untuk  mencoba sesuatu yang sebenarnya sudah bisa dilakukannya. Bukan hanya anak kecil yang begitu. Dalam hidup, kita sering juga terjebak oleh ketakutan serupa itu. Ketergantungan kita pada sesuatu atau seseorang menyebabkan kita kehilangan daya diri. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar melepaskan roda tambahan dalam sepeda kehidupan, saya ajak memulainya dengan mempraktekkan 5 prinsip Natural Intellligence berikut ini:


 
1.      Percayalah pada kemampuan Anda sendiri.


Masalah utama kita bukanlah tidak mampu melakukan sesuatu, melainkan tidak percaya jika sebenarnya kita mampu melakukannya. Karena selama ini kita selalu diback up oleh atasan, orang tua, teman, sahabat dan orang-orang dekat; maka kita kehilangan keyakinan kepada diri sendiri. “Aduh, gimana dong? Kalau tidak ada dia kan berabe?!” lalu kita pun panik. Kemarin sore, training  wheel itu akhirnya di lepas juga. “Ayo, Yah. Pegangi sepedaku!” begitu anak saya berteriak. Cukup lama saya meyakinkan bahwa dia tidak butuh saya untuk memegangi sepedanya. Dengan wajah tegang, dia pun mulai mengayuh. Ajaib! Dia bisa mengendarai sepeda roda 2 itu sejak pertama kali mengayuhnya. Mengapa saya sedemikian yakin tentang hal itu sejak awal? Karena lututnya menekuk, pertanda tinggi badannya sudah lebih dari cukup untuk sekedar menguasai sepedanya. Orang dewasa seperti kita sering merasa belum mampu melakukan sesuatu. Padahal, ‘tinggi badan’ kita sudah melampaui syarat minimal untuk menguasainya tanpa perlu takut gagal. Sungguh, begitu banyak hal dalam hidup kita yang sebenarnya sudah bisa kita lakukan secara mandiri, namun kurang nyali. Maka mulai sekarang, percayalah kepada kemampuan diri Anda. Dan mulailah untuk mengendarai ‘sepeda roda dua’ kehidupan Anda.


 
2.      Bertemanlah dengan orang-orang pilihan.


Sudah sejak 2 tahun lalu saya mendorongnya untuk melepaskan training  wheel. Tapi tidak pernah berhasil. Dia selalu menolaknya dengan beribu alasan. Tiga hari terakhir ini, dia sendirilah yang merengek agar roda kecil itu dilepas. Mengapa tiba-tiba saja dia menjadi begitu antusias? Teman-temannya. Ada belasan anak seusianya yang sekarang berada dalam lingkaran pergaulan anak saya di tanah kosong sebelah rumah. Tak satupun dari mereka masih menggunakan training wheel. Mereka bilang;”Zufarht, lepasin roda kecil kamu itu!”. Bergaullah dengan orang-orang yang bisa mendorong proses pemberdayaan diri Anda. Bahasa kerennya; follow only carefully selected people. Rajin-rajinlah membaca tulisannya, atau mendengarkan pembicaraannya. Bukalah hati Anda dengan insight dan inspirasi yang ditebarkannya. Dan, kurangi waktu yang Anda alokasikan bersama mereka yang sama sekali tidak mendorong Anda untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pindahkah ‘frekuensi Anda’ dan arahkan ‘antena’ batin Anda kepada orang-orang pilihan yang Anda nilai bisa memberi energy positif untuk menghidupkan mesin petualangan Anda dalam proses pemberdayaan diri. Bertemanlah, dengan orang-orang pilihan.


 
3.      Ambillah tanggung jawab secara bertahap.


Berapa banyak orang di kantor Anda yang menghindari tanggungjawab melebihi ‘kebiasaan’ sehari-harinya? Kemungkinan besar; banyak sekali. Kebanyakan orang kan lebih suka bermain aman dengan tanggungjawab yang ringan. Padahal, tanggungjawab yang ringan itu laksana sepeda yang dipasangi training  wheel. Hanya cocok untuk mereka yang masih belajar. Anehnya, semakin bertambah usia kita, semakin besar keinginan kita untuk hanya bermain dengan tanggungjawab yang kecil. Kita jarang menyadari jika sebenarnya hal itu membuat jiwa kita kerdil dalam ukuran badan yang besar. Jika Anda ingin mengembangkan dan membesarkan jiwa dan kapasitas diri Anda, maka tidak ada jalan lain selain belajar mengambil tanggungjawab yang besar. Tidak perlu langsung yang besar sekali. Bertahap saja dengan penambahan sedikit-sedikit. Mengapa? Karena sepeda tanggungjawab yang terlalu besar berpotensi menjatuhkan Anda pada kayuhan pertama. Jika itu terjadi, Anda mungkin akan langsung berhenti. Sedangkan tanggungjawab yang dibesarkan secara bertahap membantu Anda meningkatkan kepercayaan diri secara progresif hingga Anda lebih termotivasi untuk terus tumbuh. Maka Ambillah tanggung jawab yang Anda besarkan secara bertahap.


 
4.      Pahamilah resiko terbesarnya.


Apa sih resiko terbesar seseorang yang baru belajar naik sepeda roda dua? Tertabrak bulldozer? Ya tidaklah. Menabrak pagar rumah orang. Menyeruduk semak belukar. Apa lagi? Kecemplung kolam atau terperosok kedalam selokan. Apa sih resiko terbesarnya jika Anda berani memberdayakan diri sendiri? Diterkam harimau? Ya tidaklah. Diomeli atasan. Ditertawakan teman. Apalagi? Penghasilan yang berkurang untuk sementara waktu. Jika kita mengetahui resiko terbesarnya, maka kita bisa bermain juggling; jika resiko terbesar itu benar-benar terjadi apakah kita masih bisa menanggungnya? Mungkin memang ada hal-hal yang bisa menyebabkan kita benar-benar beresiko diterkam harimau. Tapi, sebesar apa sih kemungkinannya jika kita mendekati harimau itu di Taman Safari dalam caravan yang aman? Perhatikanlah, bahkan resiko terbesar yang paling menakutkan sekalipun masih bisa diantisipasi. Padahal, dalam usaha untuk memberdayakan diri; nyaris tidak ada resiko yang benar-benar sangat membahayakan jiwa Anda. Paling-paling hanya perasaan tidak nyaman, atau berkurangnya kenikmatan hidup untuk sementara waktu. Namun setelah semuanya berhasil ditaklukkan, yang tinggal bersama kita bukanlah semua resiko itu. Melainkan kepuasan dan standar kehidupan yang setingkat lebih tinggi dari sebelumnya. Maka pahamilah resiko tertingginya. Dan tempuhlah jalannya.


 
5.      Asahlah detail keterampilannya.


Tidak ada keterampilan baru yang didapatkan begitu saja. Kita perlu mengasahnya terus menerus sampai menjadi kemampuan yang benar-benar tajam. Anak lelaki saya, sudah bisa mengebut pada 5 menit pertama proses belajarnya. Masalahnya, dia belum bisa mengkoordinasikan gerakan tangan, kaki dan matanya. Walhasil, dia tidak bisa mengerem dengan baik ketika melihat suatu obyek yang menghalangi jalannya. Maka kaki panjangnya turun ke aspal untuk menghentikan laju sepedanya. Nah, soal inilah yang harus saya latih bolak balik. Sesekali saya kasih jempol saat dia mengehentikan sepeda dengan rem yang benar. Dan saya menegurnya, ketika kakinya dialihfungsikan menjadi rem kepanikan. Anda membutuhkan serangkaian proses pelatihan untuk memperbesar jiwa, dan mempertajam kemampuan. Tanpa itu, maka Anda tidak akan benar-benar bisa memberdayakan diri. Bersyukur jika perusahaan Anda menyediakan sarana pelatihan yang memadai. Maka gunakanlah itu sebaik-baiknya, bukan menjadikannya sekedar ‘libur’ dari tugas harian di kantor. Tapi jikapun perusahaan Anda tidak menyediakan fasilitas pelatihan formal, belajarlah menginvestasikan untuk pengembangan diri Anda. Meskipun hanya bisa membeli buku. Sekarang, bahkan tanpa harus membayar pun Anda masih bisa mendapatkan akses kepada situs inspiratif yang tanpa lelah mengingatkan Anda untuk selalu mengasah keterampilan.  
 
Setiap pribadi memiliki potensi diri yang tidak sama dengan orang lain. Tuhan sengaja mendesainnya agar kita bisa saling melengkapi. Proses saling melengkapi itu akan timpang jika kita masih belum mampu memberdayakan diri sendiri. Ini adalah saatnya bagi kita untuk mengambil peran pribadi dalam kehidupan yang kita jalani. Dan kita bisa memulainya dengan melepaskan training wheel yang selama ini tanpa kita sadari terus menopang semua pencapaian dalam hidup kita. Yuk, marrri….
 
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 8 September 2011
Penulis buku ”Natural Intelligence Leadership” (jadwal terbit Oktober 2011)                                   
 
Catatan Kaki:
Sudah saatnya melepaskan diri dari ketergantungan kepada orang lain, dan mulai memberdayakan diri.
 
Jika pertanyaan-pertanyaan Anda belum mendapatkan jawaban dari saya, silakan untuk mengeceknya di  Frequently Asked Question (FAQ) dalam website kami.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain. Tapi tolong, jangan diperjualbelikan ya.

Rabu, 7 September, 2011 20:16

Why Sales; isn't Persuasion enough?

By:  Monika Sugiarto

Here is my usual article in English. Hope it is of interest to you and will help you present better!

Why Sale, isn’t Persuasion enough?


Most people who present their products, thoughts, findings and services live in the illusion that they might have to master the skill of persuasion but never selling! Sale has nothing to do with public speaking, they say. Is that true?
Quite wrong! Let’s do a quick study of the meaning of these two words, shall we? In order to understand the terms fully, we are also going to look at buy, the antonym of sale. Sorry, I can’t find the opposite of persuasion, which makes this activity one-sided. The persuader states his plea as best as he can, without considering the outcome and its possible effects.
  • ·         Persuasion = arguments, urging, advice, influence
  • ·         Sale = trade, vending, deal, transaction. A sale is the act of selling a product or service in return for money or other compensation. It is an act of completion of a commercial activity.
  • ·         Buy = get, obtain, procure, acquire, purchase, pay money for.
I hear you say: “Hugh! I do not like sales people. Sales people pester their customers and force them to buy products no matter what. I am definitely not a sales person and do not want to become one!” That’s not the kind of sales I have in mind.
When you speak you need to be a skillful sales artist. You have to be sincere, truthful, open, and have a win-win solution in mind. You have to want your customer get or obtain what he/she wants. That is the only way, sales people succeed in the long run. You as a presenter have to be able to help solve your audience’s problems. They have to get clear and proven solutions, tactics, ideas, techniques and strategies that will help them improve their lives, health or business.
If they get what they want, you will automatically get what you want: your audience will remember you long after you spoke, they will recommend you. They will promote you through mouth to mouth advertising; the best marketing there is. That is how you will climb the successful speaker ladder.
Persuasion in speaking is not enough anymore. Today you cannot stand in front, plead your case, present your ideas and hope for the best. In our fast paced, complicated, information overloaded era you need to be able to give your audience value. Something useful, easy, practical that will help them solve whatever they are struggling with.
The big question is: Do you know what solutions your audience is looking for? Most speakers do not! Do exactly as successful sales people would, prepare for the close! Before you even start putting your presentation together you need to ask yourself very important questions concerning the audience:
  • ·         What do they already know about your topic, what would they like to know and what do they need to know?
  • ·         Will they be positive or negative toward your recommendations, results, ideas and techniques?
  • ·         What can you present so that they are open, understand and positively react to what you have to say?
  • ·         How can they implement your plans, solutions, recommendations, so that they ‘win’?
Great speakers are successful sales people. They make sure their audiences win big, receive more than they expected and are able to make changes in their lives that bring them closer to their dreams. A successful speaker is remembered long after he/she has spoken. They understand the sales process and apply it to all their speeches; and this is how they become famous.

"We make a living by what we get. We make a life by what we give."
-- Winston Churchill, British prime minister

Special Announcement:

Get Coached to Speak: First Time in Asia

Seize this unique opportunity; save time and money by multiplying your speaking skills fast. Learn to use selling tools that will help you close and sell like a pro. Get hired again and again by using Craigs speech building blocks. Transform your existing presentations into attention grabbing performances.

Craig Valentine Head Coach World Class Speaking: An award-winning speaker and trainer, has traveled the world helping hundreds of organizations reap the profitable rewards that come from embracing change. As a motivational speaker, he has spoken in the United States, Taiwan, Canada, Jamaica, Qatar (Doha), England, Bahamas, Hong Kong, and China giving as many as 160 presentations per year. He is the 1999 World Champion of Public Speaking for Toastmasters International, winning out of more than 25,000 contestants in 14 countries.

Craig will conduct a 2 day Boot Camp
14.+ 15. November 2011
in beautiful Bali Indonesia.




--
Happy to serve
Monika Sugiarto
Rabu, 7 September, 2011 21:33