Rabu, 01 Agustus 2012

Leaderism#6: Mengatasi Atasan Yang Buru


Oleh:  Dadang Kadarusman

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Tantangan dalam kepemimpinan itu bukanlah sekedar bagaimana mengatasai berbagai macam tipe bawahan. Melainkan juga bagaimana caranya mengatasi atasan. Makanya, dalam managemement kita mengenal istilah ‘managing upward’ atau mengelola atasan. Sekalipun hal ini sangat jarang dibahas dalam forum-forum keilmuan. Namun, keterampilan untuk mengelola atasan ini wajib dimiliki oleh setiap karyawan yang ingin karirnya berkembang. Mengapa? Karena semua karyawan mempunyai atasan, bukan?
 
Seperti halnya bawahan, tidak semua atasan mempunyai sikap dan perilaku yang baik. Ada juga yang justru berperilaku sangat buruk sehingga kehadirannya sering menimbulkan masalah bagi bawahannya. Dan jika bawahannya itu memiliki bawahan lagi, maka dampak dari sikap buruknya akan menjadi lebih luas lagi. Bagaimana pun juga, mengatasi atasan yang buruk tidaklah sesederhana menghadapi bawahan yang buruk sebagaimana pernah kita bahas dalam artikel sebelumnya. Menghadapi atasan yang buruk membutuhkan tenaga ekstra bahkan untuk sekedar menetralisir ‘dampak negatif’ yang  timbul dari sikap buruknya itu kepada lingkungan kerja yang kita pimpin.
 
Sekalipun demikian, atasan yang buruk biasanya adalah orang yang sangat sensitif. Mudah tersinggung dan gampang sakit hati. Jika sudah sakit hati kepada bawahan, tidak sedikit atasan yang tega memblacklist bawahannya itu lalu menempatkannya dalam daftar bawahan ‘yang tidak bisa dikembangkan’. Oleh karenanya, maka ada dua aspek yang perlu kita pahami ketika berusaha untuk mengelola atasan yang buruk. Aspek pertama adalah pemenuhan tugas-tugas profesional kita, dan aspek kedua adalah menjaga sikap mental kita.  Sudahkah Anda memiliki keduanya?
 
Kita bisa mengelola atasan yang buruk itu dengan memastikan bahwa pencapaian kinerja profesional kita tetap baik. Hal ini tidak hanya akan bisa ‘membangun reputasi’ dan menjamin ‘bonus’ kita belaka. Tetapi juga menjadi semacam ‘premi asuransi’ bagi keselamatan dan keamanan karir kita. Tidak sedikit atasan yang buruk yang gemar mencari-cari kesalahan anak buahnya. Tujuannya bisa macam-macam. Ada yang sekedar mencari pembenaran bagi keburukan sikapnya sendiri. Ada juga yang memang ingin menyingkirkan anak buah yang ‘tidak sejalan’ dengan keburukan yang dimilikinya. Namun apapun tujuan yang ada dibalik sikap atasan yang buruk itu, jika tugas-tugas profesional kita bisa ditunaikan dengan sebaik-baiknya; maka kita akan aman-aman saja dalam posisi dan karir kita.
 
Pencapaian profesional yang baik sering juga tidak memadai untuk menjalani hari-hari pekerjaan bersama atasan yang buruk. Memang kinerja kita bagus sehingga atasan yang buruk tidak punya alasan untuk menjatuhkan kita. Namun pekerjaan bukanlah sekedar menyelesaikan penugasan dengan sebaik-baiknya belaka, melainkan juga soal ketenangan dan ketentraman batin. Jika kita bisa bekerja dengan baik tapi batin kita tidak tenteram, maka pasti kita pun akan tersiksa berada dalam lingkungan kerja seperti itu. Berada dibawah kepemimpinan seorang atasan yang buruk, bisa menjadi sebuah ‘siksaan’ yang menimbulkan ‘penderitaan’ tak terelakkan.
 
Disinilah pentingnya aspek yang kedua yaitu;  menjaga sikap mental kita. Kebanyakan orang yang punya atasan yang buruk cenderung melawannya dengan sikap mental yang juga buruk. Efek kasat matanya bisa berupa perilaku yang tidak kalah buruknya. Sedangkan efek tidak kasat matanya bisa berupa tekanan batin atau stress selama menjalani hari-hari kerjanya. Oleh karena itu,  selain tetap fokus pada penyelesaikan pekerjaan dengan sebaik-baiknya itu, kita butuh belajar mengelola sikap mental kita sendiri agar tetap positif dalam menghadapi atasan yang buruk.
 
Dalam lingkungan kerja yang dipimpin oleh atasan yang buruk, kebanyakan orang memilih untuk menggunjingkan dan mengomentari keburukan atasannya itu. “Atasan gue aja kelakuannya begitu. Mengapa gue mesti kerja bagus?”  Dengan pilihannya itu akhirnya kinerjanya sebagai bawahan menjadi buruk sambil terus mengomel dan mengeluhkan keburukan-keburukan atasannya. Mungkin memang benar jika atasannya itu buruk. Namun fakta bahwa kinerja dan sikap kita juga buruk menunjukkan bahwa kita pun sama buruknya dengan atasan yang kita anggap buruk itu. Siapa yang rugi jika begitu? Kita, jika termasuk orang-orang seperti itu.
 
Ada juga orang-orang yang tetap bertahan dengan memberikan kinerja terbaiknya. Semua tugas dan tanggungjawab profesionalnya dapat diselesaikan dengan sangat baik. Tetapi, mereka tidak berhasil menjaga sikap mentalnya dari perlakuan buruk atasannya. Misalnya, gampang sakit hati atau mudah tersinggung oleh kata-kata atasannya yang buruk. Mereka tertekan secara mental sehingga hatinya tidak mendapatkan ketentraman dan kenyamanan. Walhasil, hari-hari kerjanya menjadi sangat melelahkan baik secara fisik maupun mental. Siapa yang rugi? Kita juga, jika kita pun masih begitu.
 
Guru kehidupan saya mengisahkan tentang keteladanan yang ditunjukkan oleh Rasulullah. Setiap kali melintasi jalan kecil menuju ke pasar, beliau selalu dilempari oleh seseorang. Tak pernah sekalipun beliau membalas lemparan itu. Suatu ketika, beliau melintas dijalan itu namun tidak ada lagi yang melempar. Beliau mencari tahu, kemana orang yang suka melempar itu? Lalu tahulah beliau jika orang yang gemar mengganggunya itu sedang sakit. Ketika setiap orang menghindar darinya, Sang Nabi merawatnya hingga sembuh. Setelah sembuh, orang itu baru menyadari jika yang merawatnya selama sakit adalah orang yang sering disakitinya olehnya.  Bahkan kepada orang yang berbuat buruk pun beliau tetap memperlakukannya dengan baik.  
 
Perilaku mulia itu tercermin pada sikap yang diambil oleh ‘sedikit’ orang yang dipimpin oleh atasan yang buruk. Yaitu mereka yang tetap fokus untuk menyelesaikan tugas-tugas profesionalnya dengan sebaik-baiknya. Sekaligus menjaga sikap mentalnya agar tidak terpengaruh oleh keburukan perlakuan atasannya. Setiap kali atasannya memperlakukan mereka buruk, mereka selalu selalu ingat teladan sang Nabi. Sehingga mereka tetap terjaga dari godaan untuk membalas keburukannya bahkan hanya sekedar dengan gunjingan. Kepada orang-orang seperti ini, atasan yang paling buruk pun tidak punya kemampuan untuk menjadikannya pribadi yang buruk. Mereka tetap saja baik, meskipun mendapatkan perlakuan yang buruk.
 
“Too good to be true!” mungkin Anda berpendapat demikian. Bagi saya pribadi, ini sungguh sebuah realitas yang bisa kita jadikan sebagai teladan. Saya memiliki seorang sahabat yang tetap menjadi pribadi dengan kinerja baik dan sikap mental yang baik saat dipimpin oleh atasannya yang buruk. Setelah sembuh, orang yang suka melempari Rasul itu berubah menjadi orang yang baik. Begitu pula halnya dengan atasan sahabat saya itu. Dengan kebaikan yang ditujukkannya melalui kinerja yang tetap baik dan sikap mental yang tetap positif itu, dia mendapati atasannya yang buruk itu perlahan-lahan berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Sabahat saya itu telah menunjukkan   keterampilan memimpin tingkat tinggi. Yaitu, memimpin atasannya. Bisakah kita meneladaninya? Yuk, kita sama-sama belajar untuk melakukannya.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!

 
Catatan Kaki:
Atasan yang buruk tidak bisa merugikan anak buah yang kinerjanya tetap baik sekaligus memiliki sikap mental yang positif.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman
Minggu, 8 Juli, 2012 22:19
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar