Minggu, 23 Desember 2012

Bagaimana Nasib Kita Saat Globalisasi Tiba???


Oleh : Made Teddy Artiana

Cilacap, 3 Juli 2012
Tulisan ini kutulis saat sedang menempati mess khusus di tengah ratusan para profesional dari Beijing yang dipekerjakan di proyek.

Dihire oleh perusahaan internasional China dalam sebuah pembuatan company profile seperti ini jelas merupakan sebuah petualangan mengasyikkan buatku dan teamku Tjampuhan Indonesia.


Namun begitu, hari ini, pengaruh globalisasi, kental terasa. Tadi pagi menumpang pesawat VIP berbadan kecil berpenumpang sekitar 10 orang, tidak hanya penumpangnya yang bule, pilot, co-pilot dan awak pesawatpun..bule. Dan gampang ditebak, jika obrolan dalam pesawat -yang katanya milik bule ini yang menikah dengan penduduk lokal- didominasi oleh bahasa inggris. Kami dijemput oleh seseorang yang berbahasa Inggris berdialek China. (Aku rasa ini peralihan dari atmosfir bule kepada Asia).

Dan benar, persis seperti dugaanku, ketika menginjakkan kaki dikantor mereka, situasi langsung berubah.

Pemandangan bule, berubah jadi cici-cici dan koko-koko, di kantor seluas ini hanya dua orang yang berbahasa Indonesia, dua2nya ibu2..yang seorang bertugas menjadi penterjemah kami dan seorang lagi OG (office Girl) alias tukang bersih2.

Semua tidak hanya berbahasa Mandarin, namun juga bertuliskan huruf China. Ternyata tidak hanya di kantor ini saja, di proyekpun hampir seluruh mandor atau supervisor hingga manager, semuanya berbahasa Mandarin. Fresh from Beijing, China..!

Seluruh petunjukpun memakai 2 bahasa, Inggris dan China. Bahasa Indonesia?..jarang (meskipun bendera merah putih masih tegak berkibar di atas bangunan proyek)

Baru sadar jika ternyata nyaris semua PLTU kita diborong oleh China. Memang tidak dapat disalahkan juga, melihat betapa dahsyat perkembangan negara Asia tersebut akhir2 ini. Mereka adalah kiblat baru bagi ekonomi dunia. Teknologi ok, harga competitif. Negara mana yang bisa menolak tawaran seperti itu?

Walaupun pembangunan PLTU ini berjasa bagi kehidupan rakyat sekitar dan menyerap demikian banyak pekerja, namun yang agak menyedihkan adalah nasib anak bangsa ini.

Tadi waktu sebelum naik pesawat, yang ngangkatin barang orang Indonesia, tiba..yang jemput supir orang Indonesia..terus disini di proyek orang Indonesia jadi security dan pekerja kasar. Bagaimana jika pintu globalisasi sudah 100% terbuka lebar ya?? Bagaimana nasib bangsa ini?

Apakah Bangsa ini bisa memanfaatkan peluang untuk berburu peluang di luar negeri? Ataukah terus jadi bulan2an BAHKAN di negeri sendiri..!?

Salah pemimpinnya kah?
Atau salah sistem pendidikan?
Atau malah salah mental-karakter Bangsa?
Entahlah...mencari siapa yang salah jelas tidak akan berujung jelas dimanapun.
Yang jelas...bersiaplah..jangan sampai peluang di pelupuk mata lenyap, disabet tetangga nan jauh diseberang samudera ;)

(*)


Seandainya saja kita tahu betapa kita dicintai-NYA amat sangat, maka hati kita akan berpesta-pora setiap saat.

MTA ~ Made Teddy Artiana

(*)Penulis buku komedi inspirasi Balada 13 Pembantu Rumah Tangga.
Jumat, 3 Agustus, 2012 09:31

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar