Sabtu, 22 Desember 2012

Personalism#11: Berdiam Diri VS Memperbaiki Diri


Oleh:  Dadang Kadarusman

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Mudah-mudahan Anda masih ingat kisah tentang Kepiting air payau yang mati didalam air tawar kemarin. Selain memberi inspirasi untuk menjadi pemimpin yang memahami kebutuhan anak buahnya, kejadian itu juga memberi inspirasi tentang pengelolaan diri sendiri. Oleh karena itu, ijinkan saya berbagi dengan Anda tentang pelajaran lain yang bisa kita petik dari kejadian itu. Mari mulai dengan pertanyaan agak pilon ini: Apa sih bedanya kita dengan kepiting?
 
Sekalipun jumlah kaki mereka lebih banyak, tapi mereka bukanlah bandingan yang sepadan dengan kita. Makanya, tidak heran jika mereka diam saja meskipun ditempatkan dalam suatu situasi yang tidak menyenangkan. Mereka memilih menderita sampai mati disana. Memangnya kita bisa melakukan lebih baik dari kepiting-kepiting itu? Klaimnya sih begitu. Karena kita ini mahluk yang lebih mulia. Lebih beradab. Dan lebih berakal. Maka berdiam diri dalam lingkungan yang tidak menyenangkan itu sepertinya merupakan sebuah kebodohan.
 
Tapi sebentar dulu. Bukankah sebagai mahluk yang mengaku mulia ini kita juga sering hanya berdiam diri saja meskipun berada dalam keadaan yang buruk? Coba saja diingat kembali ketika kita berada di lingkungan yang menyesakkan dada. Terlebih lagi di kantor kita. Sebenarnya kita tidak menyukai tempat itu. Tidak tahan dengan suasananya. Sudah gerah sekali rasanya. Tapi, seringnya kita ya pasrah sajalah. Mau bagaimana lagi. Lho, jika sikap kita juga hanya berdiam diri saja ditempat yang menyebalkan itu, lantas apa bedanya kita dengan kepiting?  
 
Kepiting itu tahu dan sadar betul jika tidak bisa hidup dalam air tawar. Namun mereka diam saja disitu tanpa berbuat apa-apa.  Kita juga tahu kalau kita ini susah tidak tahan lagi dengan keadaan itu. Tapi, kita kok ya diam saja. Saya bersyukur telah mengalami peristiwa bersama kepiting itu. Karena melalui kepiting-kepiting itu Tuhan telah membantu saya untuk kembali memahami tentang betapa berbahayanya berdiam diri. Seolah mereka sedang menasihatkan; jika ingin mendapatkan keadaan yang lebih baik, kita harus bersedia bertindak.  Berikhtiar. Melakukan sesuatu untuk mengubah keadaan.
 
“Saya sudah berikhtiar, Bung!” Kita juga sering merasa begitu. Namun setelah semua hal yang kita lakukan ini, ternyata tidak ada perubahan apapun yang kita dapatkan. Hey, siapa bilang kepiting-kepiting itu diam saja ketika dimasukkan kedalam air tawar? Mereka telah berusaha semalaman untuk keluar dari situasi itu. Jadi kalau kita memgklaim sudah berusaha maksimal, lalu mengatakan; CUKUP! Mungkin akan sangat berbahaya sekali. Karena dengan begitu kita kemudian memilih menyerah kepada keadaan. Dan jika kita menyerah dengan keadaan itu, maka artinya kita memilih bernasib mirip dengan kepiting itu. Jadi, mari hindari merasa telah cukup berusaha. Karena boleh jadi, kita belum mengerahkan 100% kemampuan diri kita.
 
“Tapi, selama ini juga gue tidak tinggal diam!” Ini protes kita berikutnya. “Managemen tidak mau mendengarkan. Kolega pada tidak peduli. Anak buah pada ndablek!” Uh, berat sekali kan kalau kita berada pada situasi seperti itu. Sudah maksimal apa yang bisa kita lakukan. Namun, segala sesuatu pun ada batasnya kan? Jadi, daripada cape-cape melakukan perbaikan. Ya sudahlah, kisera-sera saja.
 
Sebelum memutuskan untuk patah arang. Bagaimana kalau melakukan satu hal sederhana terlebih dahulu? Begini: mengidentifikasi siapa yang menghalangi kita melakukan perbaikan. Berdasarkan kalimat umpatan diatas ada 3 kelompok, yaitu; (1) management yang tidak mendengarkan, (2) Kolega yang tidak peduli, dan (3) Anak buah yang ndablek. Betul ya? Ketiga jenis manusia inilah yang sering kali menjadi penghambat utama usaha perbaikan yang kita lakukan. Coba seandainya mereka itu kooperatif dengan usaha-usaha kita. Tentu akan berhasil melakukan perbaikan itu. Namun, karena mereka tidak ambil pusing, ya sudah kita diam sajalah.
 
Baiklah. Sekarang mari kita simak nasihat yang Tuhan firmankan dalam surah 13 ayat 11. Beginilah sabdaNya: Sesungguhnya Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum mereka mengubah diri mereka sendiri. Ayat ini tidak berlaku untuk kepiting. Tetapi jelas sekali jika itu ditujukan kepada manusia. Mengapa? Karena Tuhan tidak ingin membiarkan manusia menderita dalam keadaan yang tidak menyenangkan dirinya. Itulah sebabnya pula Tuhan memberikan kuncinya. Kunci yang mana? Begini:
 
Mengapa usaha kita untuk memperbaiki keadaan itu sering gagal? Padahal kita sudah berusaha maksimal dengan sekuat tenaga? Itu karena selama ini, kita berfokus kepada orang lain. Kepada management yang tidak mau mendengarkan itu. Kepada kolega yang cuek bebek. Dan kepada anak buah yang ndablek. Kita. Sering luput melihat. Kedalam diri kita sendiri. Selama ini fokus kita adalah orang lain. Padahal kunci keberhasilan melakukan perbaikan keadaan menurut firman Tuhan itu bukan orang lain. Melainkan diri kita sendiri. Maka jika benar-benar ingin memperbaiki keadaan itu, berhentilah berfokus pada perubahan orang lain. Kita. Mesti mengubah diri sendiri. Selama ini, kita terlalu sibuk mengoreksi orang lain. Tapi lupa mengoreksi diri sendiri. Makanya, kita tidak bisa mewujudkan perbaikan keadaan di lingkungan yang kita inginkan.
 
Contoh sederhananya begini. Ketika mengajak kolega, apakah kita sudah menggunakan pendekatan yang sesuai dengan mereka? Ketika menyeru anak buah, sudahkah kita memberi contoh dan keteladanan? Ketika meminta managemen mendengarkan, apakah kita sudah menyediakan data-data dan analisa penunjang yang mereka butuhkan untuk mendukung proses pengambilan keputusan? Jika belum, bukan salah mereka tidak menggubris usulan perbaikan yang kita ajukan. Mari merujuk pada firman Tuhan; kita, mesti mengubah diri sendiri terlebih dahulu. Maka, orang lain yang selama ini dianggap tidak koperatif akan lebih memahami. Lalu mengikuti alur perbaikan yang kita sarankan. Bisa? Tentu dong. Kita kan bukan kepiting.
 
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
 
Catatan Kaki:
Kalau orang lain tidak mau melakukan perbaikan yang kita sarankan, mungkin itu karena kita perlu memperbaiki cara kita mengkomunikasikannya kepada mereka.
 
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman
Tuesday, 31 July, 2012, 11:11 AM

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar