Sabtu, 22 Desember 2012

Personalism#12: Pura-pura Tidak Mampu



Oleh:  Dadang Kadarusman

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Pura-pura tidak mampu. Ini kalimat yang agak mengada-ada. Memangnya ada ya orang yang pura-pura tidak mampu? Kelihatannya sih demikian. Buktinya, cukup banyak juga orang yang sebenarnya bisa mengerjakan tugas-tugas menantang yang cukup sulit, namun lebih suka menghindarinya. Di dunia olah raga, juga ada yang berpura-pura tidak sanggup mengalahkan lawannya. Para atlit punya tujuan yang jelas mengapa mereka berpura-pura kalah. Mereka membiarkan lawan menang, agar pada pertandingan berikutnya tidak berhadapan dengan lawan yang berat. Itu bagian dari strategy bertanding, meskipun dianggap bertentangan dengan sportivitas. Tapi di dunia kerja, apa tujuan orang berpura-pura tidak mampu?
 
Saya pernah bekerja sebagai salesman. Maka saya pun tahu jika salesman punya kebiasaan unik. Yaitu, menyembunyikan kemampuannya menciptakan sales. Sebenarnya pencapaian sales bisa 150%, misalnya. Tapi, cukup direalisasikan 110% saja. Mengapa? Bisa karena bonus dibatasi. Bisa juga karena khawatir tahun depan budget akan naik gila-gilaan. Jadi, kalau boss bilang “Bisa nambah sales lagi nggak?” Maka jawaban standarnya seperti ini;”Waduh boss, itu saja saya dapetnya sudah ngos-ngosan…..”
 
Di kantoran juga sama. Kalau atasan memberi penugasan menantang diluar job descriptionnya, biasanya orang berpura-pura tidak terampil. Mengapa? Karena jika penugasan itu bisa diselesaikan dengan sangat baik, maka atasan tersebut akan memberikan penugasan lain yang lebih berat lagi. Walhasil, kita cenderung menampilkan diri kita sebagai orang biasa saja. Kita berpura-pura menjadi kaum mediocre. Padahal, sebenarnya kita ini mempunyai kemampuan yang jauh lebih tinggi dari yang selama ini terlihat pada hasil kerja kita.
 
Cina, Korea, dan Indonesia adalah negara-negara yang menjadi gudangnya para pemain bulu tangkis kelas dunia. Maka pemain dari ketiga Negara itu mempunyai ‘jaminan’ mutu kualitas permainan terbaiknya. Namun yang terjadi di Olimpiade London tahun ini menunjukkan kisah berbeda. WBF – World Badminton Federation – menilai mereka tidak bermain dengan kualitas sesungguhnya. Sebagai konsekuensinya, 8 pemain dari ke-3 negara itu didiskualifikasi dari arena bergengsi yang sudah melegenda selama ratusan tahun itu.
 
Perusahaan tempat kita bekerja adalah tempat bernaungnya para karyawan yang berpotensi tinggi. Sistem seleksi yang berlaku menjamin jika hanya mereka yang mempunyai kualifikasi tinggi saja yang diterima bekerja disana. Oleh karenanya, sebenarnya kemampuan kita sangatlah tinggi tanpa perlu diragukan lagi. Tapi etapi, kenapa ekenapa. Banyak diantara kita yang kemudian memble setelah beberapa tahun bekerja disana. Beda dengan masa awal-awal kita bekerja dulu. Kita antusias. Bersemangat. Dan selalu siap untuk melakukan tugas apapun dengan sebaik-baiknya. Sekarang, kita lebih banyak yang berpura-pura tidak mampu mengerjakan penugasan itu secara sempurna.
 
Tanyakan deh kedalam lubuk sanubari yang paling dalam; benarkan kita tidak mampu melakukan pekerjaan yang menantang itu? Ataukah kita tidak mau melakukannya? Mungkin saja ada alasan yang tepat. Namun, kita mempunyai cukup banyak alasan untuk berperilaku seperti itu. Misalnya, gaji yang kita rasa masih kurang. Tidak sepadan dengan pekerjaan tambahan yang harus kita lakukan. Atau, atasan yang tidak mau mengerti perasaan kita. Ngapain mendukungnya jika demikian. Atau, suasana kerja yang penuh dengan berbagai hal menggerahkan. Mana ada semangat jika situasinya seperti itu.
 
Memang kita tidak ‘didiskualifikasi’ seperti para pemain bulutangkis olimpiade itu. Kita tetap bisa mendapatkan pekerjaan itu sampai pensiun. Namun, tanpa disadari sesungguhnya kita mengalami diskualifikasi juga. Hanya saja bentuknya berbeda. Kita tidak diberhentikan. Melainkan dicoret dari daftar karyawan yang disebut sebagai star performer. Lalu masuk kedalam kelompok the dead wood. Maka tanpa disadari pula, kita akan selalu kehilangan kesempatan untuk menangani tugas dan kepercayaan yang lebih besar. Sementara orang baru yang ‘masih ingusan’  pada maju, kita tetap tertinggal di pojokan. Itu tentu membuat kita semakin kesal. Lalu kita semakin punya alasan untuk berpura-pura tidak mampu. Dan semakin yakin jugalah para pengambil keputusan untuk menempatkan kita pada komunitas dead wood itu.
 
Bayangakan seandainya ke-8 pemain kelas dunia itu terus menunjukkan kesungguhan saat bertanding dilapangan. Siapapun lawan yang dihadapinya, mereka tetap konsisten dengan permainan indah dan berkualitasnya. Tanpa perlu terlalu takut dengan lawan seberat apapun yang akan dihadapinya kemudian. Maka WBF akan melihat mereka sebagai pemain-pemain kelas dunia yang sportif. Sehingga mereka selalu mendapat tempat terhormat, untuk terus bertanding memperebutkan gelar juara Olimpiade. Lalu mereka mendapatkan piala yang didambakan semua pemain bulutangkis. Maka prestasinya akan selalu dikenang sepanjang masa.
 
Bayangkan jika para karyawan profesional yang sudah direkrut dengan system ketat berkualifikasi tinggi itu terus gigih menunjukkan kualitas pribadinya. Menyelesaikan setiap penugasan menantang yang diterimanya. Tanpa perlu terlalu takut dengan penugasan seberat apapun yang akan dihadapinya kemudian. Maka pengambil keputusan akan melihat mereka sebagai profesional kelas dunia yang berkinerja tinggi. Sehingga mereka selalu mendapat tempat terhormat, untuk terus bersaing memperebutkan gelar star performer. Lalu mereka mendapatkan reward dan kepercayaan yang didambakan semua karyawan. Maka pencapaiannya akan selalu dikenang sepanjang masa.
 
Rugi lho, kalau kita terus berpura-pura tidak mampu. Didunia tidak akan bisa meraih pencapian tertinggi. Sedangkan diakhirat, kita mesti mencari jawaban yang tepat kalau-kalau Tuhan bertanya;”Kenapa kamu tidak menggunakan semua kemampuan yang sudah Aku anugerahkan?” Jadi, tidak usah pura-pura lagi ya. Kita tunjukkan saja kemampuan terbaik kita. Dalam situasi apapun yang kita hadapi saat ini. Toh kita tidak bekerja untuk orang lain. Melainkan untuk diri kita sendiri. Di dunia. Dan diakhirat.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
 
Catatan Kaki:
Kita ini orang yang mempunyai kemampuan sangat tinggi kok. Maka mari tunjukkan kemampuan itu semaksimal mungkin. Tidak usah berpura-pura tak mampu lagi.
 

Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman
Rabu, 1 Agustus, 2012 21:14

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar