Jumat, 28 September 2012

Personalism#8: Bosan Dengan Pekerjaan


Oleh:  Dadang Kadarusman

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Masih ingat betapa antusiasnya Anda ketika pertama kali mendapatkan pekerjaan? Tentu dong ya. Saat tahu diterima bekerja, langsung mengabari semua orang tercinta. Gaji pertama pun diniatkan untuk mentraktir mereka. Begitu pula ketika kita pertama kali dipromosi. Atau, mungkin juga pertama kali pindah ke perusahaan yang – kita kira – lebih baik daripada yang sebelumnya. Betapa antusiasnya kita. Setelah bertahun-tahun kemudian, apakah antusiasme itu masih ada?  Mungkin. Tapi, ada kalanya juga kita diserang oleh rasa bosan. Nah jika sedang diserang rasa bosan itu, apa yang Anda lakukan?


Kebosanan ternyata tidak hanya menyerang mereka yang kehidupan karirnya tidak berkembang alias ‘cuman begitu-begitu saja’. Orang-orang yang karirnya bagus pun banyak yang lemah lesu lunglai letoy. Ada yang bilang ‘tidak menantang lagi’. Ada juga yang merasa mentok, karena terhalang oleh orang yang tidak mau bergeser untuk tetap bertengger di posisinya selama ini. Jelas sekali jika selain menyerap energy yang sangat banyak, kebosanan kepada pekerjaan itu juga mempengaruhi secara fisik maupun emosi. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar mengatasi kebosanan terhadap pekerjaan, saya ajak memulainya dengan memahami dan menerapkan 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:

1.      Pindah perusahaan bukanlah jalan keluar satu-satunya. Salah satu solusi paling umum yang diterapkan kebanyakan orang ketika merasa bosan dengan pekerjaannya adalah; pindah ke perusahaan lain. Anehnya, di perusahaan lain pun mereka bekerja di bidang yang sama seperti yang selama ini dilakukannya. Selain hal ini tidak memberikan pengalaman yang benar-benar baru, juga tidak selalu cocok untuk segala situasi. Makanya, banyak juga kan yang akhirnya pindah lagi setelah bertahan tidak lebih dari 2 tahun. Pindah perusahaan memang bukan jalan keluar untuk mengatasi kebosanan kepada pekerjaan. Meskipun bisa menjadi salah satu alternatif, kita perlu mencari solusi lain yang lebih kreatif dan variatif. Jika belum menemukan solusi itu, mungkin kita mesti lebih rajin menguras daya pikir yang kita miliki.

2.      Melakukannya dengan suka cita. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain melakukan segala sesuatunya dengan suka cita. Termasuk melakukan pekerjaan yang paling membosankan sekalipun. Mungkin Anda mengira saya bisa berkata begitu karena belum pernah melakukan pekerjaan yang paling menyebalkan. Ohya? Bagaimana dengan mengeruk pup ayam dari kandangnya? Masuk ke kolong kandang ayam saja sudah merupakan tantangan berat. Menarik bertumpuk-tumpuk kotorannya ke luar. Memasukkannya kedalam karung. Lalu memanggulnya ke kebun sayur. Bisakah Anda membayangkannya? Oh…betapa pekerjaan idaman, bukan? Tidak banyak orang yang mau melakukan itu. Tetapi sejauh yang saya ingat, itu adalah salah satu hal paling mengesankan dalam hidup saya. Tidak ada kebosanan selama ada suka cita.

3.      Ikuti projek dengan departemen lain.  Salah satu temuan saya menunjukkan bahwa kebanyakan orang melakukan pekerjaan yang sama secara berulang-ulang. Setiap hari. Selama bertahun-tahun. Mari bayangkan. Jam 8 tiba di kantor. Ngopi. Ngerjain tugas yang sama dengan kemarin. Istirahat makan siang. Kerja lagi. Lalu pulang. Besoknya. Menjalani rutinitas yang sama. Besoknya lagi, begitu lagi. Lakukan itu selama sepuluh tahun. Masih untung kalau tidak bulukan, kan? Saya beruntung. Karena disela tugas harian itu sering sekali mengikuti proyek di departemen lain. Makanya, selalu ada hal baru untuk dilakukan disela rutinitas itu. Adakah yang lebih menyenangkan daripada hal baru? Coba deh ikut proyek di departemen lain. Maka Anda akan mempunyai variasi baru dalam menjalani hari-hari kerja Anda.

4.      Menantang diri untuk melakukan hal baru. Temuan penting lainnya adalah ini; kebanyakan orang cenderung bersembunyi di zona nyamannya. Kalau sudah mahir dalam satu bidang pekerjaan, malas untuk mencoba bidang lain. Ngapain susah-susah, katanya. Padahal, bidang baru yang belum pernah dicobanya itu mungkin merupakan jalan menuju terkuaknya potensi diri kita yang selama ini belum diketahui. Beresiko memang. Namun resiko itu pun masih bisa diatasi, jika kita melakukannya di lingkungan internal perusahaan tempat kita bekerja. Membantu proyek di departemen lain seperti dijelaskan diatas bisa menjadi pintu masuknya. Curahkan kemampuan secara penuh disana. Nanti akan kelihatan jika kita mampu di bidang itu. Bahkan, boleh jadi akan muncul peluang baru yang selama ini tidak kita bayangkan.  Misalnya, jika departemen itu butuh orang baru… hmmh….

5.      Meminta tambahan pekerjaan. Coba perhatikan, apakah job desc Anda berubah setiap tahun? Tidak. Aneh juga ya jika setelah bekerja bertahun-tahun itu kita masih juga berjibaku untuk memenuhi tuntutan jobdesc yang itu-itu saja. Mestinya kan semakin lama, pekerjaan itu menjadi semakin cetek. Bisa diselesaikan dengan lebih cepat, dan lebih baik sehingga semakin lama kita bekerja, semakin banyak energy dan waktu kita yang belum terdayagunakan. Pada saat ‘nganggur’ itu biasanya rasa bosan nyelonong ke relung kalbu kita. Lalu kita pun menjadi seperti orang yang linglung. Coba deh datang pada atasan untuk meminta tambahan pekerjaan. Selama pekerjaan utama kita sudah selesai, maka kita berpeluang mendapatkan kepercayaan menangani pekerjaan lain. Itu bagus buat atasan kita, dan tentu bagus buat diri kita sendiri.

Guru kehidupan saya pernah menceritakan tentang seorang imam agung. Imam Syafe’i namanya. Konon, beliau adalah orang yang selalu sibuk disepanjang hari yang dilaluinya. Saking sibuknya beliau dengan kegiatannya, orang-orang bertanya; kapankah gerangan sang alim itu beristirahat? Beliau menjawab jika istirahat itu berarti berpindah dari satu pekerjaan, ke pekerjaan yang lainnya. Orang awam seperti kita mungkin agak susah memahaminya. Tapi, kalau kita ingat lagi; selama ini kita juga beristirahat dengan cara berpindah dari satu aktivitas kerja kepada aktivitas lain. Nah selama aktivitas pengganti itu tetap produktif, maka kita juga bisa beristirahat dengan tetap ‘menelesaikan pekerjaan lainnya’. Begitu rupanya rahasia produktivistas tinggi yang dicontohkan sang imam. Bisakah kita meneladaninya?

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!

Catatan Kaki:
Kebosanan pada pekerjaan itu menandakan adanya kebutuhan untuk melakukan pertumbuhan. Bertumbuhlah terus. Maka kita akan terhindar dari rasa bosan.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman
Senin, 23 Juli, 2012 21:37

==================

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar