Jumat, 28 September 2012

Leaderism#6: Menjual Anak Buah

Oleh:  Dadang Kadarusman
Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Menjual buah apel, buah jambu, atau buah pisang. Itu hal lumrah. Kalau menjual ‘anak buah’? Apakah tidak terdengar agak – maaf – bodoh ya?  Bukankah enak jika punya anak buah yang sudah bisa mandiri dan mengerjakan setiap penugasan dengan sangat baik? Kepada mereka kita bisa mendelegasikan tugas-tugas sulit. Jadinya, tanggungjawab kepemimpinan kita semakin terasa ringan. Kalau anak buah kita sudah bagus seperti itu, kenapa malah ‘dijual’ ke departemen lain?
 
Salah satu ukuran kehandalan seorang pemimpin adalah; kemampuannya dalam melahirkan pemimpin-pemimpin lainnya. Dengan kata lain, pemimpin handal itu harus mampu mengembangkan anak buahnya hingga mencapai kualifikasi tinggi, lalu membantunya menapaki jejang karir yang lebih tinggi. Boleh jadi, hal itu berarti juga merelakannya untuk pergi ke tempat lain yang lebih sesuai untuknya. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar melahirkan pemimpin-pemimpin lainnya, saya ajak memulainya dengan memahami dan menerapkan 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini: 
 
1.      Memahami bahwa anak buah bukan ‘milik’ kita. Frase ‘anak buah saya’ itu berbeda sekali dengan – misalnya – ‘baju putih saya’. Baju putih itu milik saya dalam arti yang sebenarnya. Tetapi anak buah kita, sama sekali bukan milik kita. Mereka adalah milik diri mereka sendiri sehingga mereka merdeka untuk menentukan masa depan karirnya. Menyadari jika anak buah kita itu bukanlah milik kita bisa membantu kita untuk memposisikan diri sebagai pendorong dan pembimbing dalam perjalanan mereka membangun karir yang lebih tinggi. Sebagai atasan, kita bertugas untuk memfasilitasi keseluruhan prosesnya.
 
2.      Terbuka dengan aspirasi mereka. Belum tentu anak buah kita sudah pas dengan posisinya dalam team yang kita pimpin. Belum tentu juga mereka telah berhasil mencapai apa yang mereka inginkan. Oleh karenanya, seorang pemimpin perlu belajar untuk mendengar aspirasi anak buahnya. Dengan pemahaman terhadap aspirasi mereka itu, seorang pemimpin menjadi tahu tindakan apa yang perlu dilakukannya untuk membantu mewujudkan aspirasi mereka. Di sisi lain, anak buah yang menyadari atasannya mempunyai kepedulian terhadap aspirasi karir mereka juga terdorong untuk menjadi lebih kooperatif dan bertindak lebih positif. Karenanya, mereka juga bersedia untuk membantu memudahkan tugas-tugas atasannya.
 
3.      Kembangkan anak buah melampaui job desc-nya. Dengan memahami aspirasi anak buah, atasan bisa mengetahui aspek-aspek apa saja yang harus mereka miliki agar bisa mencapai aspirasinya. Kita tahu bahwa tidak ada aspirasi tinggi yang bisa diraih dengan hanya menjadi pribadi biasa-biasa saja. Oleh karenanya, maka ada kebutuhan untuk membangun kualitas diri mereka melampui tuntutan job desc sehari-hari. Pada tahap ini, dibutuhkan kesediaan sang pemimpin untuk mengembangkan anak buahnya melampaui tuntutan-tuntutan standar itu. Ketika tuntutan itu terlampaui, maka terbuka lebar pintu gerbang menuju karir yang lebih baik.
 
4.      Bangun hubungan yang baik dengan pemimpin lain.  Peluang di team sendiri tidak selalu ada sepanjang waktu. Sedangkan peluang di lingkungan internal tidak selalu mudah dideteksi. Oleh karenanya, atasan harus bisa membangun hubungan yang baik dengan pemimpin lain sehingga memungkinkannya untuk mengetahui lebih dulu sebelum informasi itu jadi terbuka.  Jangan sampai menunggu peluang itu masuk ke koran atau media lainnya.  Biasanya, kolega dari departemen lain justru senang jika Anda bersedia ‘mengekspor’ orang terbaik di team Anda untuk bekerja bersama mereka.  Sebaliknya, anggota team Anda juga akan senang untuk menunjukkan kalau mereka layak juga mendapatkan kesempatan itu.
 
5.      Teruslah merekrut bibit baru yang bagus. Ketika bisa ‘menjual’ anak buah yang sudah handal, tentu kita akan membutuhkan bibit-bibit baru untuk menggantikannya.  Lalu kita mengembangkan mereka lagi. Kemudian ‘menjualnya’ lagi. Lalu merekrut bibit baru lagi, mengembangkannya lagi, dan menjualnya lagi. Dengan demikian, maka siklus itu akan terus berputar sehingga ketermpilan kita sendiri dalam mengembangkan orang lain pun akan menjadi semakin terasah. Faktanya, mengembangkan atau mempromosikan orang dari dalam itu jauh lebih banyak positifnya daripada merekrut orang dari luar. Dengan membiasakan diri mengikuti siklus pengembangan anak buah itu, maka kita pun bisa menjadi pemimpin yang lebih handal.
 
Sebagai atasan, sesungguhnya kitalah yang menjadi pelayan bagi anak buah. Bukan sebaliknya. Persis seperti nasihat Rasulullah yang mengingatkan para pemimpin melalui ajaran mulianya bahwa; Salah satu jenis manusia yang dipermudah Allah di hari pernghisaban adalah pemimpin yang adil dalam melayani orang-orang yang dipimpinnya. Kita tahu bahwa anak buah kita mempunyai aspirasi untuk karirnya yang lebih tinggi. Jika kita bersedia melayani mereka dengan setulus hati untuk menggapai cita-cita itu, maka kita akan dimudahkan Allah saat kelak mendapat giliran untuk menghadap kepadaNya. Insya Allah.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman 16 Juli 2012

 
Catatan Kaki:
Ciri pemimpin yang sadar atas fungsinya untuk melayani adalah; dia menempatkan kepentingan orang-orang yang dipimpinnya diatas kepentingan dirinya sendiri.
 
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar