Jumat, 28 September 2012

Spiritualism#4: Permintaan Perempuan Tua


Oleh:  Dadang Kadarusman

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Seandainya Anda mendapatkan kesempatan untuk mengajukan satu permintaan yang dijamin terkabul; apa yang akan Anda minta? Orang yang sedang bersaing dalam fit & proper test kenaikan jabatan mungkin minta dimudahkan menjalani test. Yang sedang sakit, mungkin memohon segera disembuhkan. Yang mendambakan segera dapat anak, mungkin akan meminta momongan. Yang masih J0M610 mungkin meminta agar segera dapat jodoh sebelum umur ini menjadi kadaluarsa. Pokoknya kita tentu menggunakan kesempatan itu untuk meminta hal terbaik.  Pertanyaannya adalah; apakah permintaan itu benar-benar merupakan hal terbaik yang layak untuk kita panjatkan?


Guru kehidupan saya menceritakan sebuah kisah tentang seorang perempuan tua di Israel pada zaman Nabi Musa. Ketika itu, Musa sedang mencari-cari dimana letak makam Nabi Yusuf. Sudah sedemikian banyak orang yang beliau tanya. Namun tak seorang pun yang mengetahuinya. Dalam pencarian itu, kemudian Nabi Musa mendapatkan informasi bahwa ada seorang perempuan tua yang mengetahuinya. Kemudian, bersegeralah beliau menemui perempuan itu.

“Demi Tuhan, aku tidak akan memberitahukan keberadaannya kepada siapapun,” kata perempuan itu saat ditanya dimana letak makam Nabi Yusuf. Ketika diberitahu bahwa yang bertanya itu adalah seorang Nabi, maka beliau pun berubah pikiran. “Baiklah, akan aku beritahu. Tetapi dengan satu syarat,” katanya. Nabi Musa bertanya apakah syaratnya. Maka perempuan itu menjawab bahwa dia akan memberitahukannya jika Nabi memberinya jaminan masuk sorga. Walah, kalau soal sorga, itu keputusan Tuhan. Beliau tidak bisa memberikan jaminan kalau perempuan itu bisa masuk sorga.

Adakah diantara Anda yang meminta masuk sorga, untuk pertanyaan saya diawal tulisan ini? Sebelum saya mendengar kisah ini, jawaban saya sendiri masih diseputar urusan materialistik duniawi. Sungguh berbeda 180 derajat dengan permintaan sang perempuan ini. Beliau sangat menginginkan sekali untuk masuk sorga, sehingga ketika hanya ada satu kesempatan untuk meminta; yang dimintanya adalah jaminan agar dia masuk sorga.

Nabi Musa tidak bisa memenuhi permintaannya. Tak ada sedikit pun kuasanya untuk menjamin seseorang bisa masuk sorga. Meskipun sangat penting mengetahui keberadaan makam utusan suci itu, namun beliau tidak bisa memenuhi syaratnya. Beliau pun mengadu kepada Tuhan agar diberikan jalan keluarnya. Setelah mendapatkan petunjuk, kemudian Sang Nabi kembali menemui perempuan tua itu. Lalu katanya;”Baiklah, engkau dijamin masuk sorga.” Perempuan itu pun senang mendengarnya. “Asal engkau pun mau mematuhi dan mengikuti petunjukku.”

Inilah rupanya kunci untuk mendapatkan sorga itu. Yaitu, tunduk dan patuh kepada ajaran Nabi. Bukankah para Nabi itu diutus Tuhan untuk memberi petunjuk kepada kita? Maka jika ingin kembali ke sorga, kita mesti mengikuti petunjuk Tuhan yang disampaikan melalui para Nabi. Aneh sekali jika kita mengharapkan sorga, sambil terus bertingkah dan berperilaku secara bertolak belakang dengan akhlak mulia mereka.

Kisah ini mengingatkan saya tentang tujuan utama mengapa kita terlahir ke dunia. Tentang apa yang menjadi tanggungjawab pribadi kita. Tentang jati diri kita. Bukankah kita percaya bahwa sesungguhnya leluhur kita – Adam – adalah pewaris sebuah tempat indah bernama sorga? Lalu beliau dan keturunannya terusir ke bumi untuk menjalani kehidupan sementara dengan misi; menunjukkan kepada Tuhan bahwa kita layak untuk kembali ke sorga. Kita semua berasal dari sorga. Namun untuk bisa kembali kesana, kita mesti bisa menunjukkan bahwa kita memang layak menjadi pewarisnya. Jika tidak, maka sorga tidak mungkin bisa kita klaim kembali.

Kisah perempuan yang menginginkan sorga ini mungkin tidak cocok sepenuhnya dengan realitas yang kita hadapi di zaman ini. Mungkin perempuan itu memang sudah terlalu tua sehingga dia tidak lagi tertarik pada dunia. Kita masih muda, sehingga masih banyak hal yang ingin kita raih. Mungkin perempuan itu tidak punya tanggungjawab untuk merawat orang lain. Kita masih punya keluarga yang harus dihidupi. Perempuan itu mungkin sudah tidak memiliki apapun yang layak untuk diperjuangkan. Sedangkan kita? Punya begitu banyak hal penting meski mesti bersaing dengan orang lain.

Tapi. Setidaknya kita bisa meniru orientasi perempuan itu. Yaitu orientasi kepada akhirat. Bukan duniawi semata. Sebab apa yang kita lakukan di dunia, punya konsekeunsi langsung dengan apa yang akan kita dapatkan diakhirat. Jika kita beperilaku buruk di dunia, masak sih tempat kita diakhirat akan baik? Orang lain yang lebih banyak berbuat baik tentu lebih berhak mendapatkan akhirat yang baik. Seperti diisyaratkan oleh Nabi Musa itu. Beliau menjamin perempuan tua itu akan masuk sorga, asalkan dia mau mematuhi dan mengikuti petunjuk darinya.

Setelah Nabi Musa itu, Tuhan pun mengirimkan utusan demi utusan lain untuk menyempurnakan ajarannya. Dan melalui Nabi terakhir, Tuhan menitipkan sebuah firman berisi doa. Begini bunyinya; Robbanaa, aatinaa fiddunya hasanah, wafil aakhirati hasanah. Rasulullah mengajarkan kita untuk bermohon; “Ya Tuhan, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan pula di akhirat.” Melalui doa ini pula; Tuhan memperkenankan kita mengejar semua kebaikan di dunia, namun tidak boleh melupakan akhirat.

Bagaimana caranya? Yaitu, gigih berjuang melalui tindakan, perilaku, dan cara-cara yang sesuai dengan tuntunan ilahi. Mereka yang menghalalkan segala cara, mungkin akan mendapatkan dunia. Tapi kehilangan akhirat. Mereka yang hanya sembahyang belaka, mungkin mendapatkan akhirat. Tapi hidupnya didunia bisa melarat. Mari kita gigih memperjuangkan pencapaian dunia dengan cara yang disukai Tuhan. Insya Allah, kita akan bisa meraih bebaikan di dunia, dan kebaikan pula diakhirat. Sehingga keberhasilan didunia bisa kita dapat. Dan menjadi pewaris sorga, ketika kita pulang kelak.   

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!

Catatan Kaki:
Keberhasilan didunia dan kebahagiaan di akhirat itu merupakan satu paket hadiah, bagi orang-orang yang gigih berusaha dengan mengindahkan tuntunan akhlaq mulia.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman
Kamis, 26 Juli, 2012 21:49
================ ==========

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar