Sabtu, 17 Maret 2012

emokrasi Pasar di Republik Facebook


Oleh : Andre Vincent Wenas


“Seperti dalam judo, cara terbaik melayani gerakan lawan bukanlah dengan langkah
surut, tapi dengan mengiringi gerakannya itu, memanfaatkannya demi keuntungan
sendiri, persis seperti rehat sejenak sebelum menempuh tahap selanjutnya.” - 
Michel Foucault.

***

  Siapa di antara Anda yang belum punya account di Facebook? (atau di
Friendster, LinkedIn, dll.).  Kalau belum, yang nggak apa-apa juga, Anda tidak
akan ditangkap KPK atau petugas pajak yang akhir-akhir ini amat-sangat-aktif
kejar target. Hanya saja – virtually speaking – you’re out of the new-world’s
orbit!

  Utamanya sebagai pebisnis, Anda bisa kehilangan kontak dengan salah satu
indikator denyut nadi komunitas pasar yang sedang berkembang pesat sekali.
Konon, pengguna FB di Indonesia sudah menembus 1 juta! Inilah bentuk republik
(virtual) yang paling demokratis di dunia! Setiap kita bebas menentukan, mau
partisipasi (add/confirm) atau keluar (remove/delete) dari “negara kota” (polis)
ini.

***

  Ketika Thomas Friedman (The World is Flat, 2005) melansir 10 kecenderungan
“perataan dunia” (world flatteners) kita diingatkan kembali akan apa yang dulu
pernah diwanti-wanti Alvin Toffler (triloginya: Future Shock, Third Wave & Power
Shift) tentang 3 change-drivers yang bakal memicu dan memacu perubahan:
teknologi, ekonomi, dan sosial. Tatkala terjadi intervensi teknologi maka ia
akan mendorong perubahan ekonomi (oikos-nomos, pengaturan rumahtangga) dan ini
pada gilirannya akan mendorong perubahan sosial, gaya hidup (lifestyle). Dan
bagi para pebisnis, perubahan gaya hidup berarti perubahan pasar!

  Kesepuluh trend itu: robohnya tembok berlin (serentak dengan munculnya
teknologi Windows oleh Microsoft); go public-nya Netscape yang menandai
merebaknya internet sampai menembus titik “critical-mass”; teknologi
workflow-software; opensourcing; offshoring; supply-chaining; insourcing;
in-forming; dan the steroids, yaitu semacam pil doping yang mengakselerasi
kesembilan trend tadi, bentuknya: digitalisasi-mobilisasi-personalisasi-
virtualisasi. Mereka saling bereaksi kimia satu sama lain dan tadaaa…..
lahirlah dunia baru, a whole new world!

***

  Pemikir marketing Indonesia, Yuswohady (bukunya: Crowd, Marketing Becomes
Horizontal, Gramedia, 2008), secara cerdik “mengadopsi” formula Einstein untuk
menggambarkan betapa dahsyatnya dampak kerumunan komunitas virtual yang 
difasilitasi platform Web 2.0. Dengan mengajukan rumus: E=wMC^2 ia ingin
mengatakan bahwa energi marketing  (E) yang dahsyat (bahkan sedahsyat bom
nuklir) bisa diperoleh jika mampu memanfaatkan word of mouth (wM) atau
rekomendasi pelanggan, yang dilipatgandakan oleh customer dan community (C^2)
baik offline maupun online.

  Dengan semakin terfasilitasinya customer untuk saling berinteraksi “langsung”
satu sama lain secara pribadi maka efek saling mempengaruhi menjadi sangat
tinggi. Dan para pemasar tahu persis bahwa referral adalah senjata promosi
terampuh untuk mengubah opini pelanggan.

  Ada 11 manifesto dalam pasar yang semakin horisontal seperti ini: 1) Net telah
melepaskan potensi kekuatan pelanggan yang ada dalam jejaring, 2) pelanggan Anda
adalah evangelist, relawan yang siap membantu, 3) your core competence is
connecting your customers, 4) perlakukan pelanggan Anda sebagai member, temukan
identitas kolektif mereka, juga purpose and passion-nya, 5) orang butuh
mengomunikasikan dirinya dan mengekspresikan aspirasinya, dan di atas Web 2.0
pasar jadi makin “manusiawi” lantaran bisa memfasilitasi hasrat narsisistik
setiap orang, 6) Anda adalah fasilitator bagi para pelanggan Anda dalam rangka
memenuhi kebutuhan (dan keinginan) mereka, 7) otentisitas adalah differentiator
Anda, hal yang bisa terus menerus membuat Anda bisa tampil beda, jadilah diri
sendiri, 8) your Brand is a Cult, create Ideology around it and spread to your
believers, 9) your product and services should be contagious, mesti ada bakat
untuk diperbincangkan pelanggan karena keunikannya, 10) trust is the real
currency, diskursus mesti berlandas kejujuran,  alih-alih menolak members
memperbincangkan dan mengaduk-aduk isi perut organisasi, kita malah mesti
berpartisipasi dan memelihara dialog jujur dan transparan demi membangun
kepercayaan (the strongest currency in the new world!), 11) libatkan pelanggan
yang paling passionate untuk bersama Anda menciptakan solusi. Komunitas
pelanggan semakin luas dan terfragmentasi adalah sumber mata air ide-ide produk.

***

  Berhadapan dengan teknologi, seolah kita ada dalam dilema: di satu sisi ia
membongkar kebudayaan termasuk nilai-nilai dan tradisi etis, namun di sisi lain
kita sekarang – de facto – tidak bisa hidup tanpa teknologi. Prof. Franz
Magnis-Suseno (Teknologi dalam Tayangan Filosofis, 2005) menegaskan, karena
tanpa teknologi modern, kita tidak dapat menjamin pemenuhan kebutuhan dasar
seluruh masyarakat. Juga, karena teknologi bagaimanapun juga tidak dapat
ditolak, kemenangan budaya berdasarkan teknologi sudah tidak dapat digagalkan
lagi.

  Sehingga, mengikuti alur pikiran Michel Foucault di atas, seperti dalam
pertandingan judo, tak ada lagi pilihan selain masuk sepenuhnya dalam teknologi,
mempelajarinya dan menguasainya lalu memanfaatkannya dalam banyak bidang
kehidupan demi memecahkan pelbagai masalah di depan kita.

  Demokrasi pasar di Republik Facebook ini menembus batasan ruang (kamar tidur,
café, kantor, domestik, internasional) dan waktu (365/7/24). Maka, hai para
laggards teknologi komunikasi bertobatlah! segeralah kembali ke “jalan yang
benar”.


------------------------------------------------

Catatan:  Artikel telah dikontribusikan oleh Kontributor ke Majalah MARKETING. Kemudian baru dikirim ke milis TMI.  Segala hal yang menyangkut sengketa Hak atas Kekayaan Intelektual menjadi tanggung jawab Kontributor
Jumat, 16 Maret, 2012 00:42

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar