Sabtu, 17 Maret 2012

Learn


Oleh: Febriyan  Lukito

Life is an ongoing learning process. Hidup itu adalah pembelajaran yang berlangsung terus menerus.

Penebang Kayu Yang Giat

Alkisah ada seorang penebang kayu yang handal. Dengan kekuatannya, dia dapat menebang puluhan pohon dalam sehari. Karena kemampuannya itulah dia mencoba melamar ke sebuah perusahaan penebang pohon yang terkenal.

Setelah dites (layaknya banyak perusahaan sekarang ini), diterimalah si penebang tersebut dengan upah harian berdasarkan jumlah kayu yang berhasil dikumpulkan.

Hari pertama kerja dengan semangat dia datang dan membopong kapaknya di bahu dan sebilah pisau terselip di pinggangnya. Dia pun mulai menebang. Satu... Dua.. Tiga... Terus pohon demi pohon ditebang. Saat jam makan siang, di saat penebang yang lain beristirahat, dia terus menebang. Hingga akhir hari itu dia berhasil menebang 50 pohon. Jauh lebih banyak dari yang lainnya, yang rata-rata berhasil menebang 20 pohon hari itu.

Dengan bangga dia melaporkan hasilnya dan menerima pembayarannya dari mandor setelah dicek oleh si mandor. Mandor menepuk pundaknya sebagai tanda ucapan selamat.

Esok harinya, si penebang datang kembali ke perusahaan dan memulai kegiatannya kembali. Hari itu pun dia berhasil menebang 50 pohon, di atas rata-rata yang lain. Dan keesokannya kembali lagi dia meraihnya.

Hingga, suatu hari, selang beberapa hari dia bekerja di perusahaan, dia mengalami penurunan. Hasil tebangannya dari hari ke hari mulai menurun. 40. 35. 30. Hal ini membuatnya down. Kecewa. Karena dia merasa dia bisa mencapai lebih dari itu. Bahkan suatu hari, dia hanya berhasil menebang 15 pohon saja.

Saat sang mandor melihatnya bersedih di suatu sore, sang mandor menghampirinya dan menanyakan kabarnya.

'Ada apa gerangan nak?' Tanya si mandor.
Si penebang pun menceritakan kekecewaannya karena hasil penebangannya dari hari ke hari semakin berkurang. Semua yang dilakukan dari hari ke hari selalu sama. Tapi hasilnya menurun.

Mandor tersebut mendengarkan dengan seksama. Setelah si penebang itu selesai, dia mengajak si penebang ke kerumunan penebang lainnya.

Di kerumunan itu terlihat bagaimana para penebang lainnya sedang mengasah kapak mereka dan pisau mereka. Perlahan. Berulang-ulang. Mandor itu menunjuk ke arah mereka dan bertanya: 'seberapa sering kamu lakukan apa yang mereka lakukan?'

Si penebang menggeleng dan berkata: 'hampir tidak pernah sejak saya bekerja di sini. Tidak ada waktu.'

Mandor itupun berteriak kepada penebang lainnya: 'seberapa sering kalian mengasah kapak kalian?'

Penebang lainnya serempak menjawab: 'setiap hari - pulang kerja kami mengasahnya'

Lantas si mandor mengajak si penebang yang murung tadi ke kerumunan kedua. Di kerumunan itu terlihat para penebang yang sedang beristirahat. Dia bertanya kembali ke si penebang: 'seberapa banyak kamu lakukan itu selama bekerja - istirahat siang?'

Kembali si penebang menggeleng dan berkata: 'hampir tak pernah juga. Saya tak istirahat agar bisa menebang lebih banyak dibanding yang lain'.

Mandor itu kemudian mengajak si penebang ke tempat teduh dan berkata:
'Memang... Hasil yang banyak adalah tujuan. Tapi... Jika alat yang digunakan tak pernah diistirahatkan dan diasah, kegunaannya akan berkurang. Dan hasil yang diperoleh tidak akan maksimal. Saat bekerja.. Bekerjalah dengan giat. Tapi tubuhmu perlu diistirahatkan guna memulihkan tenagamu. Tenagamu itulah alat yang diperlukan. Dan asahlah kapakmu.. Agar ketajamannya tak berkurang. Ketajaman kapak yang digunakan terus menerus setiap hari akan berkurang, sehingga perlu terus diasah.'

Si penebang mendengarkan dengan seksama dan mengangguk. Memahami apa yang dikatakan sang mandor.

Kisah di atas saya tuliskan ulang dengan kata-kata sendiri dari kisah yang dijabarkan oleh Stephen Covey dalam 7 Habit - the 7th Habit Sharpen the Saw.

Asah Gergaji

Biasakanlah mengasah 'gergaji' kita... Alat yang kita gunakan dalam hidup (baca: bekerja). Ilmu pengetahuan yang kita terima selama masa pendidikan, itu juga 'gergaji' kita.

Seringkali kita menggunakannya (bahkan ada yang tidak menggunakannya) tanpa mengasahnya kembali. Dan hal ini tentunya dapat menghambat kita untuk maksimal dalam pekerjaan/kehidupan kita.

Banyak juga di antara kita yang bekerja tak sesuai dengan bidang pendidikan kita. Dan hal ini membuat kita melupakan apa yang kita pelajari di kampus dulu. Misalnya kita lulusan jurusan Akuntansi, namun kita bekerja di bagian hukum.

Jika kita tak mengasahnya, kita akan melupakan pelajaran-pelajaran kita itu. Salah? Tidak juga. Kembali ke masing-masing pribadi. Apakah memang dia ternyata lebih menyukai/passionate tentang dunia barunya itu atau tidak.

Jika memang lebih passionate dengan dunia barunya itu, kita pun harus belajar kembali terkait dengan dunia itu. Saat itulah kita 'membeli' dan mengasah gergaji kita yang baru itu.

Jadi sebenarnya apapun yang dipilih, kita tetaplah harus mengasah gergaji kita selalu agar dapat digunakan dengan baik.

Saya sendiri mengalami 'kemunduran' tentang rumus-rumus matematik setelah menjalani dunia pekerjaan. Di kerja, tidak pernah saya gunakan, sehingga saya lupa tentangnya. Saat seorang teman memberikan soal-soal terkait, saya merasa bersyukur karena saya diharuskan mengasah gergaji saya saat itu.

BELAJAR

Seperti yang saya tuliskan di atas, hidup adalah pembelajaran berkelanjutan, kita harus mengadopsi sikap mental yang seperti itu.

Jangan pernah berhenti belajar dari waktu ke waktu. Pelajari hal-hal baru, mengembangkan hal-hal yang sudah pernah kita pelajari, mencari tahu cara-cara kerja yang terkini dan seterusnya.

Pembelajaran dalam hidup bisa dalam berbagai bentuk. Dengan membaca buku-buku. Dengan membaca artikel. Dengan mendengarkan pengalaman orang lain. Dengan menonton/mendengarkan berita. Banyak sekali. Termasuk belajar dari pengalaman diri sendiri dan orang lain.

Apapun kejadian yang dialami oleh kita sendiri atau orang di dekat kita, kita selalu bisa belajar darinya. Seburuk apapun itu, pembelajaran selalu ada.

Pengalaman dari kejadian-kejadian dalam hidup kita selalu mengajak kita untuk jadi lebih baik secara pribadi ataupun profesional. Kita belajar untuk tidak terlalu emosional. Kita belajar untuk lebih menjaga integritas, dan lain-lain.

Jadi...
Teruslah belajar.... Selama kita masih diberikan hidup ini, manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Belajar dari HIDUP. Belajar selama HIDUP masih diberikan.

Ryan
030312 0430
Best Regards,
Febriyan Lukito
Jumat, 2 Maret, 2012 16:54

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar