Jumat, 23 Maret 2012

Ketika Ilmu Ini Mulai Ditinggalkan


Semua yang hidup, hak baginya untuk mati. Lantas apa yang kurisaukan dalam hidup ini?
#NasehatDiri

Suatu pagi yang cerah, Nasruddin mengunjungi rumah gurunya. Seperti biasa yang dia lakukan. Setiap bulan, hampir 4 kali dia mengunjungi tempat gurunya untuk mengasah, mengulangi dan mendapatkan persepektif baru tentang pengalaman hidup yang dia hadapi. Biasanya Nasrudin selalu bercerita kepada gurunya.

Tetapi, pagi itu, wajah Nasruddin terlihat berbalut rona kegelisahan. Bagai bunga putri malu yang tersentuh daunnya. Rupanya, Nasrudin khawatir akan masa depan. Terutama aktivitas yang dia lakukan.

Nasruddin merisaukan masa depannya

Sang Guru memperhatikan wajah nasrudin yang murung seperti itu. Menyapa murid kesayangannya dengan canda “Din, menurutku pagi ini matahari sangat cerah menyinari semesta, jangan kau rusak keindahannya dengan raut kusam wajahmu itu. Apa yang terjadi dengan mu?”.

Kemudian, Nasruddin menceritakan perihal kegelisahannya kepada sang Guru. ”Begini guru, kemarin hari minggu. Aku baru saja selesai bertemu dengan teman-teman yang berprofesi denganku. Kami sharing satu sama lain, kondisi bisnis kami. Ternyata kami mengalami hal serupa. Produk yang kami tawarkan mulai berkurang peminatnya.

Bahkan, ada di antara kami yang mengungkapkan, dia tidak mau memakai embel-embel ilmu yang kami pelajari yang menjadi pintu rezekinya selama ini, pada setiap penawaran produknya. Ke depan, saya harus membuat program baru, dan sepertinya memang harus belajar ilmu baru”.

Ini tentang keyakinan kepada diri

Karena sang guru penuh arif dan bijaksana, kemudian beliau berusaha menghargai dan menghibur perasaan Nasrudin dengan menjawab ”Din, menurutmu siapa yang akan menggunakan program yang kamu tawarkan, sementara kamu sendiri, tidak yakin dengan nya?” Mendengar jawaban itu nasrudin mulai berfikir. Ini bukan persoalan program, tetapi keyakinan dalam diri.

Sang guru memperhatikan perubahan rona wajah dan tatapan mata pada diri Nasrudin, akibat pertanyaan kontemplatif dari gurunya. Beberapa saat berlanjut, sang guru meneruskan.

Din, kamu ingat ini ya. Bisnis yang kamu jalani adalah bisnis ketidakpastian. Sehingga, kelumrahan dan kealamiahan dengan fenomena yang kamu alami, seperti yang terjadi sekarang. Dan harus kamu sadari, dunia tidak selamanya siang, dan juga tidak selalu diselimuti oleh malam. Kalau semua keinginan dan harapanmu harus terjadi, maka dunia lebih parah dari sekarang.”

Ketika Al-Quran mulai ditinggalkan

Tambahan jawaban sang guru, semakin membangkitkan kesadaran dalam diri Nasrudin. Sampai Nasrudin bertanya kepada dirinya. ”Bila demikian pasalnya, apa sebenarnya yang aku risaukan?

Pikiran Nasrudin belum sempat menjawab, sang guru menambahkan lagi ”Din, Rasulullah pernah bersabda, yang maknanya, Akan datang suatu masa, di mana umat akan meninggalkan (melupakan) Al-Quran. Bila Al-quran saja akan ditinggalkan, apalagi ilmu dan program-program yang kamu buat dan teman-temanmu kerjakan itu Din?” Mendengar hal tersebut, Nasruddin hanya diam.

Ciganjur, 18 Oktober 2011
Mari bersilaturahim,
Rahmadsyah Mind-Therapist
Senin, 19 Maret, 2012 22:26

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar