Minggu, 18 Maret 2012

Yes we can! Bersama (Obama) kita bisa!


Oleh: Andre Vincent Wenas


“Men decide far more problems by hate, love, lust, rage, sorrow, joy, hope,
fear, illusion, or some other inward emotion, than by reality, authority, any
legal standard, judicial precedent, or statute.” (Marcus Tullius CICERO).

***

  Tema penerawangan tahun 2009 dari UBS Wealth Management (UBS Global Outlook,
December 2008) jelas memberi caveat (peringatan dini): ‘2009 Proceed with
caution’. Untuk aspek ekonomi, secara umum diperkirakan dunia masih akan
tergelincir ke dalam resesi lebih dalam. Sedangkan di beberapa pasar surat
berharga dunia yang baru muncul (emerging markets) diyakini rapuh terhadap
pelambatan ekonomi berkepanjangan.

  Beberapa fenomena bisnis dan politik dunia yang terjadi akhir-akhir ini
menarik untuk dicermati.

***

  Pada akhirnya : perusahaan yang paling dikagumi, Toyota Motor Corporations –
setelah sekian lama – untuk pertama kalinya harus membukukan kerugian. Ini tentu
berdampak juga terhadap operasinya di Indonesia di mana merek Toyota masih
memimpin pasaran otomotif.

  Lotte Group (asal Korea) diberitakan semakin menancapkan eksistensinya di
pasar Indonesia lewat rencana investasi sebesar 9 trilyun rupiah demi
mengakuisisi rantai hyperstore Makro (untuk dijadikan Lotte-Mart). Rencana
investasi sebesar itu untuk membangun 26 toko baru, sehingga pada akhir 2013
nanti jaringan Lotte-Mart bakal berjumlah 45 hyperstore yang tersebar di seluruh
Indonesia. Ia telah menempatkan dirinya sebagai pesaing utama Carrefour yang
sampai saat ini ‘cuma’ dapat gigitan kecil dari para pesaing yang relatif
‘kurang sebanding’.

  Realitas globalisasi telah membawa akibat yang berbeda bagi kedua pemain
global ini. Yang satu mengakibatkan kerugian, yang lainnya malah ekspansi. Dalam
menyikapi realitas globalisasi sebagai struktur sosial, setiap agensi bisa
mempunyai narasi yang berbeda di benaknya masing-masing. Di dalam instalasi
realitas serta kenyataan hegemonik tertentu, responsnya bisa berbeda, yang pada
akhirnya mengakibatkan emergent-reality yang berbeda pula.

***

  Dalam kancah politik internasional, juga ada dua fenomena menarik. Konflik
Israel-Palestina dan momen pelantikan Obama sebagai presiden Amerika Serikat
ke-44.

  Isu Israel-Palestina sepertinya tidak pernah kehabisan bahan bakar untuk
memanasi bumi – yang tanpa itu pun – bumi ini telah di bakar polusi serta
kerusakan lingkungan akut.

  Dalam narasi Amos Oz (How To Cure A Fanatic, 2002), sejatinya persoalan
Israel-Palestina bukan soal ideologis, melainkan semata-mata rebutan kapling
tanah! Dalam pemahaman sastrawan besar yang nyeleneh ini, konflik ini, “…is not
a religious war, not a war of cultures, not a disagreement between two
traditions, but simply a real-estate dispute over whose house this is.” Keduanya
– katanya – mesti belajar kompromi untuk hidup berdampingan secara damai, matang
dan realistis.

  Kita sedih dengan kematian sia-sia rakyat Palestina dan Israel yang innocent.
Kedua ‘pejuang’ bangsa itu tentu berjuang demi kebenarannya masing-masing, yang
mesti diwariskan ke anak-cucu. Namun yang bisa kita pastikan: selama keduanya
saling bunuh, tidak bakal ada warisan, dan juga tidak bakal ada anak-cucu,
mereka sudah habis terbantai!

  Kebenaran realitas unik Palestina-Israel ini memang tidak nyaman. Bolehlah
kita meminjam judul film-presentasinya Al Gore: Inconvenient Truth, namun
demikian – paling tidak sampai saat ini – itulah realitasnya. Koeksistensi-damai
sesunguhnya adalah tuntutan seluruh manusia yang terdiri dari pelbagai individu
yang unik, namun toh mesti menjalani hidupnya di atas landasan prinsip-prinsip
yang universal, bisa diterima semuanya.

***

  Ketika Cicero bertanya kepada Tiro sang juru tulisnya, “Bagaimana generasi
mendatang akan menilai kita, eh, Tiro?” Sesungguhnyalah ia telah mengajukan
satu-satunya pertanyaan abadi bagi seorang negarawan (pemimpin).

  Dua puluh satu abad kemudian, seorang kandidat presiden kulit hitam di sebuah
negara yang mayoritasnya kulit putih berseru kepada rakyatnya, “Yes we can!”
Lalu saat dilantik, ia bilang “…Let it be said by our children’s children that
when we were tested we refused to let this journey end, that we did not turn
back nor did we falter; and with eyes fixed on the horizon and God’s grace upon
us, we carried forth that great gift of freedom and delivered it safely to
future generations.” (Barack Husein Obama, pidato inagurasinya).

  Horison pemikiran seorang pemimpin seyogianya menembus jarak pandang jamannya.
Bersauh ke sejarah yang panjang dan merentang ke generasi demi generasi di
depannya! Hati-hati, utamanya Anda para business-leaders, jangan sampai
keputusan diambil semata-mata cuma dilandaskan perasaan dan opini (hate, love,
lust, rage, sorrow, joy, hope, fear, illusion, or some other inward emotion)
yang bisa menipu. Ram Charan dan Larry Bossidy secara hiperbola pernah
menyerukan: Confronting the brutal facts! Itulah juga yang jadi kiat di tahun
2009, jujur menatap kenyataan, apa adanya, dan hidup otentik.

  Gong Xi Fatchai, selamat tahun baru imlek! Dan selamat merayakan hari kasih
sayang, Valentine day. Semoga tatanan dunia semakin adil.


-------------------------------------------------
Artikel ini telah dikontribusikan ke Majalah MARKETING oleh Kontributor Milis/Blog. Segala hal yang menyangkut sengketa Hak atas Kekayaan Intelektual menjadi tanggung jawab Kontributor


STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
 Selasa, 13 Maret, 2012 04:07

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar