Minggu, 18 Maret 2012

Penyakit Akibat Sikap Negatif Terhadap Pekerjaan


Oleh:  Dadang Kadarusman

Hore, Hari Baru! Teman-teman.
 
Catatan Kepala:Sikap negatif kita terhadap pekerjaan tidak hanya merugikan perusahaan, melainkan justru lebih banyak merugikan diri kita sendiri.”
Apakah Anda sering merasakan ‘tidak enak badan’? Hati-hati lho. Boleh jadi dokter pun tidak bisa menemukan penyebab utamanya. Ini bukan karena dokternya kurang canggih. Tetapi, ada jenis-jenis penyakit tertentu yang tidak berkaitan dengan kerusakan atau gangguan pada organ-organ tubuh kita. Jika diperiksa, fungsi tubuh kita berjalan normal kok. Tapi, mengapa kita ‘merasa’ sakit juga? Kondisi seperti itu disebut sebagai penyakit psikosomatis. Meskipun secara fisik kita merasakan sakitnya, namun sesungguhnya hal itu disebabkan oleh kondisi mental kita. Sekalipun mekanismennya belum bisa betul-betul dipahami, namun para ahli occupational health meyakini bahwa hal itu sangat erat kaitannya dengan sikap seseorang terhadap pekerjaannya. Premisnya adalah; orang-orang yang bersikap positif terhadap pekerjaan lebih berpeluang untuk tetap sehat dan segar bugar dalam lingkungan kerja yang dijalaninya setiap hari. Anda, ingin tetap sehat bukan? Maka mulailah dengan bersikap secara positif terhadap pekerjaan.
Penelitian intensif Gallup Organization menemukan bahwa sikap negatif itu ternyata bisa menimbulkan terjadinya berbagai macam penyakit. Baik berupa penyakit fisik, maupun psikologis. Oleh karenanya, jika sering merasa ada gangguan fisik maupun spsikologis, maka kita perlu segera mawas diri; apakah kita memiliki sikap positif terhadap pekerjaan sehari-hari atau tidak. Sebab, penelitian itu jelas sekali menunjukkan hubungan yang erat antara sikap dengan kesehatan kita. Mungkin banyak orang yang mengira bahwa sikap negatif karyawan hanya merugikan atasan atau perusahaan. Padahal ternyata, sikap negatif terhadap pekerjaan tidak hanya merugikan perusahaan, melainkan justru merugikan diri kita sendiri. Jika dikalkulasikan lebih teliti, kita sendiri lebih banyak ruginya daripada pihak lain. Jadi, sudah saatnya memikirkan ulang jika kita ingin menerapkan sikap negatif terhadap pekerjaan. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menghindari penyakit akibat sikap negatif terhadap pekerjaan, saya ajak memulainya dengan memahami 5 prinsip Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini: 
1.      Pekerjaan kita adalah pilihan kita sendiri. Adakah orang yang memaksa Anda bekerja di bidang itu? Nggak ya. Kita memilih sendiri pekerjaan itu. Kita yang mencarinya di Koran sabtu atau minggu. Kita yang menyebarkan CV ke agen-agen tenaga kerja. Dan kita ditanya; “Apakah Anda tertarik untuk mengisi lowongan kerja ini?” Kita mengatakan ‘Ya’. Lalu, menandatangani kontrak kerja, tanpa paksaan dari siapapun.  Aneh, jika kemudian kita mengeluhkan pekerjaan itu. Meski aneh, namun begitulah kejadiaan yang banyak berlangsung di lingkungan kerja kita. Coba perhatikan, betapa banyak orang mengeluhkan soal pekerjaannya. Ada yang mengeluh karena merasa bosan. Ada yang karena merasa tidak dibayar sepadan. Ada yang mengeluhkan betapa banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan. Ada yang mengeluhkan kehidupan pribadinya tersita oleh pekerjaan. Apapun bisa dikeluhkan. Bedanya, ada yang mengeluh dan ada yang tangguh. Mengeluh itu adalah salah satu penanda awal sikap negatif terhadap pekerjaan. Sedangkan menjadi pribadi tangguh adalah ciri adanya sikap positif. Jika sikap negatif masih dominan, maka kita perlu mengingat kembali bahwa pekerjaan ini adalah pilihan kita sendiri. 
2.      Setiap pekerjaan memiliki karakteristik masing-masing. Sikap negatif kita terhadap pekerjaan kadang juga timbul dari rasa iri kepada orang lain. Gaji sama, tapi kerjaan di departemen kita lebih berat. Tetangga kubikal sebelah sudah bisa pulang jam 5 sore. Saya? Paling cepat jam setengah tujuh malam. Nggak fair. Lha, justru kitalah yang tidak fair jika membandingkan fungsi atau peran kita dengan peran orang lain. Fungsi sales punya karakteristik yang berbeda dengan fungsi produksi, misalnya. Begitu pula dengan fungsi finance. Orang sales, bisa meninggalkan kantor jam berapa saja. Tidak berarti mereka boleh pulang, melainkan mereka harus menyongsong pelanggan. Orang pabrik harus strik dengan pengaturan waktu yang ketat. Bukan diperbudak, melainkan mereka harus bekerja dengan urutan proses yang memungkinkan suatu produk dibuat. Orang finance kadang harus membuat laporan sampai larut malam. Bukan diperlakukan seperti robot, melainkan ada masa-masa tertentu dimana mereka harus melakukan konsolidasi pembukuan dan mengirimkan laporan ke kantor pusat. Jika masing-masing orang hanya melihat enaknya orang lain, maka bukan dampak positif yang didapatkannya, malah sikap negatifnya akan tumbuh semakin menjadi. Tidak perlu iri pada orang lain. Karena setiap pekerjaan, memiliki karakteristiknya masing-masing.
3.      Kualitas kerja kita mencerminkan kualitas diri kita. Kalau Anda melihat suatu tugas dikerjakan dengan buruk, Anda tentu bertanya; “Siapa sih yang ngerjain? Kok hasilnya kayak gini!” Ada ‘cita rasa’ universal untuk sebuah kualitas kerja. Anda, tentu tidak mau berada dalam satu team dengan orang yang ‘kerjaannya’ kurang bagus.  “Entar gua-gua juga yang mesti ngebenerin kerjaan nggak beresnya,” kan begitu pikiran yang membayangi Anda. Sebaliknya, Anda selalu ingin menjadi bagian dari team yang terdiri dari orang-orang yang bisa menghasilkan pekerjaan yang bagus. Semua itu menunjukkan bahwa kualitas kerja kita mencerminkan kualitas diri kita sendiri. Maka jika ingin orang lain tahu seberapa baiknya kualitas diri kita, tidak ada cara lain selain memastikan bahwa pekerjaan yang kita tangani diselesaikan dengan kualitas yang terbaik. Namun, hal itu tidak mungkin bisa diwujudkan jika kita bersikap buruk terhadap pekerjaan itu. Tidak usah merasa rugi memberikan kualitas kerja yang lebih baik dari kebanyakan orang yang lainnya. Sebab, kita sendiri yang untung kok. Orang yang kerjanya baik itu, paling berpeluang untuk dipekerjakan lebih langgeng. Orang yang kerjanya baik itu, paling besar peluangnya untuk mendapatkan kepercayaan yang lebih besar. Dimana ruginya coba? Tapi kan gajinya sama? Lha iya. Gajinya sama. Tapi kualitas diri Anda jauh lebih baik daripada pegawai lainnya yang berkualitas biasa-biasa saja. Atau, apakah kualitas Anda juga sama seperti mereka? Anda lebih baik. Buktikan kata-kata saya.
4.      Sikap negatif tidak menghasilkan manfaat positif. Anda boleh menggunakan hukum apapun untuk mematahkan penyataan saya. Hukum matematika: positif dikali negatif, hasilnya negatif. Hukum fisika; jika ada campur tangan ion negatif pada ion positif, Anda bisa kesetrum. Hukum sosial; orang negatif dalam komunitas orang-orang positif akan dikucilkan. Ditempat kerja, sikap negatif sama sekali tidak produktif. Padahal gaji dan bayaran kita itu dihitung dan dikaitkan dengan kontribusi atau produktivitas kerja kita sendiri. Sudah banyak lho kejadian orang-orang yang sikapnya negatif akhirnya dipersilakan untuk meninggalkan perusahaan. Ada juga kok yang sikapnya negatif, tapi kerjaannya bagus. Memang ada juga orang yang kemampuan kerjanya tinggi. Pengetahuannya luas. Dan pengalamannya panjang. Makanya, pekerjaan itu cetek saja baginya. Sehingga, semua pekerjaannya bisa diselesaikan dengan baik. Tetapi, orang ini lupa bahwa selain soal pengetahuan (Knowledge) dan Keterampilan kerja (Skill), ada aset lain yang wajib dimiliki oleh seorang pekerja profesional yaitu Sikap (Attitude).  Boleh kok kalau mau Skill dan Knowledgenya doang yang bagus. Tapi, siap-siap saja kesalip oleh orang lain yang punya sikap baik. Mengapa? Karena cepat atau lambat pengetahuan dan keterampilan kerja mereka juga akan meningkat semakin baik. Jika dikombinasikan dengan sikap positif yang selama ini sudah dimilikinya, maka cepat atau lambat mereka akan mengunggulinya. Mengapa, karena hanya sikap positif yang menghasilkan dampak positif.
5.      Kita sendirilah yang merasakan dampak dari sikap kita. Mungkin hal ini tidak mudah dimengerti oleh orang-orang yang mendahulukan emosi. Rasa kesal memang sering menutupi akal sehat. Tetapi, marilah kita kembali pahami bahwa setiap tindakan kita tentu menghasilkan konsekuensi-konsekuensi. Artinya, tindakan baik menghasilkan konsekuensi baik. Sedangkan tindakan buruk menghasilkan konsekuensi buruk. Meski tidak selamanya terlihat dalam jangka pendek, namun dalam jangka panjang; hal itu tidak terbantahkan. Sikap baik kita kepada pekerjaan mungkin tidak menyebabkan kita langsung naik gaji, kan? Tetapi, setelah 5 tahun secara konsisten kita menunjukkan sikap positif itu, ada kesempatan seiring dengan berkembangnya kondisi perusahaan. Sudah bisa dipastikan jika orang-orang yang telah bertahun-tahun bersikap dan berdedikasi baik itu masuk kedalam daftar orang-orang yang layak dipertimbangkan untuk meraih manfaat dari peluang yang ada. Sebaliknya, seseorang yang bersikap negatif mungkin tidak serta merta dipotong gajinya. Tetapi setelah selama bertahun-tahun dia melakukannya, akan membekas juga didalam benak atasan, perusahaan atau pengambil keputusan. “Dengan kepercayaan kecil saja dia sudah sedemikian banyaknya mengeluh. Apalagi jika dia diberi kepercayaan yang lebih besar dari itu?” kan kira-kira begitu. Maka sikap  manapun yang kita pilih, ya bebas saja. Tidak ada yang memaksa. Atau menghalanginya. Namun, kita perlu selalu mengingat hal ini: kita sendirilah yang merasakan dampak dari sikap kita terhadap pekerjaan.
Apapun sikap yang kita ambil terhadap pekerjaan adalah pilihan kita sendiri. Ada kalanya ‘menggertak’ perusahaan berhasil juga memang; “kalau nggak naik gaji, saya keluar.” “Kalau nggak ngasih bonus lebih, saya bikin usahanya macet.” Mungkin kadang berhasil juga. Namun, cara itu tidak akan selamanya mempan. Sekalipun memang kadang mempan, namun hal itu memperlihatkan nilai dari integritas pribadi kita. Percayalah, tidak ada atasan atau pemilik perusahaan yang benar-benar nyaman kondisi seperti itu. Ketika mereka memiliki pilihan lain yang lebih baik, mereka mungkin akan menempuh cara lain. Selain itu, kita perlu sadari bahwa perilaku kita juga menentukan reputasi kita. Dan para pemilik perusahaan atau atasan yang handal biasanya memiliki jaringan yang kuat dalam industrinya. Sehingga mereka saling berkomunikasi dan bercerita satu sama lain. Di arena tender mereka memang saling berkompetisi. Tapi dipadang golf, mereka adalah sahabat yang saling berbicang selama perjalanan dari lubang ke lubang. Jika reputasi kita buruk di perusahaan ini, maka boleh jadi ceritanya sampai juga ke perusahaan lainnya. Nah, sekarang kita tahu bahwa penyakit yang ditimbulkan oleh sikap negatif itu bukan hanya bersifat fisik dan psikis saja, melainkan juga terhadap reputasi kita. So, mendingan mengurangi sikap negatif deh. Lalu menggantinya dengan sikap positif terhadap pekerjaan kita. Hayyyu….
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman 9 Maret 2012

Catatan Kaki:
Sikap negatif terhadap pekerjaan itu bukan hanya merusak kondisi fisik dan psikis kita, melainkan juga merusak reputasi profesionalitas kita. 

 Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya. 


Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
 
Kamis, 8 Maret, 2012 20:01

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar