Sabtu, 17 Maret 2012

Sampling Kehidupan


Oleh:  Febriyan  Lukito

Dalam auditing, dikenal teknik sampling. Begitu juga dalam statistik. Utk meyakinkan bahwa semua mewakili populasi yang ada. Kita harus mengambil berapa persen sample agar dapat dianggap sebagai wakil dari populasi yang ada. Tapi saya tidak akan membahas mengenai teknik sampling dalam audit atau statistik.

Dalam kehidupan, tanpa kita sadari, sebenarnya teknik sampling ini kita terapkan loh, yah mungkin tidak semuanya juga, tapi coba ya kita lihat, kita termasuk yang melakukannya atau tidak.

Sampling Hidup

Kehidupan kita itu hanyalah sedikit jika dibandingkan dengan total kehidupan yang ada di dunia ini. Dan saat kita melihat kehidupan seseorang, seringkali kita melakukan sampling kembali.

Karena banyaknya hal-hal yang sudah pernah dilalui seseorang, kita cenderung melihat secara sampling atas hidup seseorang tersebut. Contohnya saat kita melihat kesuksesan seseorang, kita cenderung melihat bahwa orang itu sukses. Tapi kita tak melihat bagaimana kehidupannya secara keseluruhan. Bagaimana proses keseluruhannya sehingga dia sukses. Itulah tanpa kita sadari, kita melihat secara sampling.

Contoh lainnya adalah saat kita mengenal seseorang yang baru, kita melihat tampilan luarnya dan merasa sudah mengenal keseluruhan dirinya itu.

Namun, apakah memang benar yang kita lihat mewakili keseluruhan kepribadian orang tersebut? Termasuk juga saat satu kejadian yang merusak dianggap mewakili keseluruhan sifat ataupun karakter dari seseorang.

Kita seringkali menilai satu kesalahan dari seseorang dalam hidup kita sebagai tanda ketidakmampuannya akan segalanya.

KEKURANGAN

Sebagai manusia, adalah wajar memiliki kekurangan. Namun jangan menjadikan kekurangan sebagai alasan.

Kesalahan yang dilakukan sekali, dapat kita anggap sebagai kekurangan yang perlu diperbaiki. Dan kita sebagai rekan, hendaknya membantu dalam memperbaikinya. Bukan menghakimi.

Jadi.. Sample hidup yang kita lakukan, hendaknya dibawa untuk meningkatkan kualitas hidup orang lain dan diri sendiri. Jangan sebagai penghancur alias untuk menghakimi orang lain.

Tidaklah masalah bila kita menggunakan teknik 'sampling' dalam hidup karena kita tak bisa 24 jam sehari, 7 hari seminggu, bersama seseorang (di luar keluarga) untuk mengetahui seseorang luar dalam. Akan tetapi, saat menggunakannya hendaknya kita menanamkan pada diri kita bahwa: 'setiap orang punya kekurangan'.

BETTER

2 are better than one, they said. Karenanya kita hidup bersama seseorang. Entah itu kakak, adik, ayah, ibu, sepupu, teman, dll. Karena bersama mereka kita bisa lebih baik lagi.

Bagaimana?
Dengan saling mengingatkan. Itulah yang hendaknya diingat terutama terkait dengan kekurangan yang ada. Saling membantu sembari meningkatkan kualitas diri dari waktu ke waktu.

Sampling kehidupan digunakan untuk mengetahui sifat awal ataupun karakter awal seseorang. Selanjutnya, kita coba mengenal lebih dalam dan saling melengkapi dalam hidup.

Melengkapi satu sama lain dengan belajar satu sama lainnya pula. Apabila ada yang perlu dikoreksi, berikan kritik yang membangun, jangan menjatuhkan.

Kehidupan kita akan jadi lebih baik jika kita bersama-sama saling melengkapi - bukan menjatuhkan.

Sebagai penutup, saya kembalikan ke masing-masing. Apakah ingin menggunakan sampling saja untuk menilai keseluruhan? Ataukah menggunakan sampling untuk mengenali lebih jauh dan melengkapi.

'Don't treat others the way you don't want to be treated. And everybody deserve for a second chance.'

Ryan
160312 1803
Best Regards,
Febriyan Lukito
Jumat, 16 Maret, 2012 06:11

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar