Minggu, 18 Maret 2012

Life Balance Is Bulshit


 

Bekerjalah kamu untuk urusan duniamu, seolah-olah kamu hidup selamanya. Dan beramallah untuk akhiratmu, seolah-olah kamu mati besok.
(Mafudhot, Perkataan Imam Ali).

Pertama terekam diingatan saya

Begitulah sebuah nasehat bijak, yang terekam dalam memori bawah sadar saya. Kalimat itu terdengar dari semenjak saya kecil. Saya mendengarnya di tempat saya belajar baca Al-qur’an bersama teman-teman saya di desa Lambadeuk, Peukan Bada Aceh Besar. Sebelum tahun 1997, tempat saya tinggal, belum begitu mengenal metode baca Iqra seperti anak-anak belajar baca quran sekarang. Masih Alif fatah A, alif kasrah I, alif Thammah U.

Hal yang menariknya lagi. Di Aceh terutama tempat saya dibesarkan oleh almarhum Ayah dan ibu saya. Kami belajar mengaji (khusus Al-quran) bukan di Taman Pendidikan Al-Quran (TPS) seperti sekarang. Tetapi, kami mengunjungi rumah (tengku) ustaz atau ustazah tertentu, yang faham tentang al-quran (ilmu tajwid) dan pengucapan yang benar (makharijul huruf).

Kami belajar hampir setiap hari, dari senin – sabtu. Kecuali hari minggu. Dari jam 14.00 – 16.00, setelah selesai pulang dari sekolah. Di antara hari senin – sabtu itu, ada satu hari khusus untuk pelajaran tentang fiqh dan ceramah agama. Pada hari khusus tersebutlah, pertama sekali, kata-kata bijak di atas (beberapa mengatakan hadits), masuk dalam rekaman ingatan saya.

Hidup seimbang

Berjalannya waktu, terutama ketika saya mulai hijrah ke pulau Jawa. Lebih spesifiknya Jakarta dan Bogor. Dalam rangka menyelesaikan trauma yang saya alami akibat tsunami Aceh 2004, dan melanjutkan kuliah. Terutama semenjak tahun 2006, saya sudah menentukan tujuan hidup menjadi trainer & mind-therapist. Saya banyak membaca buku-buku motivasi. Salah satunya Seven Habits For Effective People karya Steven Covey.

Buku fenomenal tersebut, saya baca di perpustakaan kampus STEI TAZKIA. Steven Covey menjelaskan dalam buku nya tersebut. Ketika seseorang membuat perencanaan hidup, terutama mendesign mimpi. Maka, sepatut mempertimbangkan aspek-aspek tertentu, supaya hidup menjadi seimbang. 

Demikian pula ketika saya membaca buku-buku motivasi lainnya. Aspek yang disampaikan oleh Steven covey, juga tercantum di dalamnya. Dan, maksud seimbang di sini, supaya tidak ada yang terlalu menonjol sehingga ada yang terlupakan. Tetapi, semuanya menjadi rata, Yaitu:

1.   Spiritual
2.   Pendidikan / pengembangan diri
3.   Karir
4.   Uang
5.   Hubungan / Keluarga
6.   Fisik / Kesehatan
7.   Sosial

Saya terjebak

Setelah membaca beberapa kali tentang konsep keseimbangan tersebut. Di buku-buku psikologi terapan dan pengembangan diri (self help). Terkadang juga saat mengikuti pelatihan. Sayapun berusaha menjalankannya. Sehingga, setiap merencanakan pencapaian di awal tahun, saya selalu mengingat untuk membuat perencanaan yang matang. Supaya hidup saya seimbang.

Anehnya, jarang sekali seimbang. Selalu ada yang tak selaras. Pastinya, bukan karena teori yang keliru. Melainkan, strategi saya yang belum tepat. Namun, setelah saya terus mengkaji dan menelusuri pemahaman saya akan hidup seimbang. Saya menyadari, ternyata ada yang keliru. Saya terjebak dengan pemahaman yang saya dapatkan. Sehingga, wajar hidup seimbang mustahil tercapai.

Hidup seimbang mustahil

Kenyataannya memang, kita tidak akan pernah bisa menjalani hidup ini dengan seimbang. Anda boleh saja membantahnya. Namun, sebelumnya, silahkan Anda menyimak dan membaca dengan penuh seksama pemikiran saya berikut ini.

Akibat belum seimbangnya hidup yang saya peroleh, sesuai dengan perencanaan saya. Maka saya mencari-cari informasi, adakah orang yang benar-benar telah menjalani hidup yang seimbang (sama rata) di dunia ini? Hal pertama saya lakukan, membaca biografi 100 tokoh dunia. Pada urutan pertama Nabi Muhammad saw. Dan, sebagai muslim, saya mengenal sejarah kehidupan beliau, walau tidak keseluruhannya.

Berdasarkan yang saya ketahui, cuma Nabi Muhammad saw orangnya. Meskipun, mendiang beliau wafat, tidak mewariskan harta apapun. Sementara selain beliau, saya belum menemukan bacaan yang menjelaskan, kehidupan orang tersebut, seimbang ketujuh-tujuhnya. 

Terbatas Waktu 

Lalu saya bertanya kepada diri saya, “Apa yang membuat Steven Covey dan penulis-penulis yang lain menganjurkan hidup seimbang? Sementara belum ada yang menjalani hidupnya dengan seimbang?”. Saya duduk bersila dan memejamkan mata. Tiba-tiba “ting..” Ada jawaban muncul di dalam. Yaitu, faktor waktu.

Bila kita meninjau dari sisi waktu yang Allah anugerahkan kepada kita selama satu hari 24 jam. Maka, sangat-sangat mustahil ada orang yang bisa menyeimbangkan hidupnya secara merata. Alasannya, terbatas oleh waktu. Karena, dalam sehari 24 jam, tidak mungkin kita bisa memenuhi ketujuh aspek di atas. 

Sebagai contoh, saat kita bekerja dari jam 8 pagi sampai 5 sore. Artinya, kita telah meluangkan selama 9 jam kurang lebih waktu untuk aspek uang, pendidikan dan karir. Dan selama waktu itu pula, kita telah mengabaikan aspek lainnya, iyakan? Padahal, bila kita membagi 24 jam sehari untuk tujuh aspek di atas, maka seharusnya kita meluangkan sekitar 3 jam lebih untuk tiap aspek.

Standar hidup

Barangkali Anda membenarkan. Justru itulah hidup yang seimbang, sesuai porsinya. Seimbang itu bukan berarti sama rata sebagaimana saya anggap di atas. Ini berarti, penentuan porsi adalah tentang pilihan dalam menentapkan standar terhadap setiap aspek, betulkan? Sehingga kita menglabelkan sudah seimbang.

Dari sini saya menyimpulkan. Pada dasarnya tidak akan pernah bisa saya menyeimbangkan ketujuh aspek di atas. Tetapi, karena Allah memberikan waktu yang sama untuk setiap makhluk 24 jam. Maka, saya harus menentukan. Dalam melewati setiap detik, saya mau menfokuskan lebih condong ke aspek apa? Dan, menentukan standar yang bisa saya anggap wajar untuk diri saya. 

Sudahkah Anda menentukan standar hidup Anda?

Ciganjur, Minggu, 8 Januari 2012

Rahmadsyah Mind-Therapist


Minggu, 4 Maret, 2012 22:03

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar