Minggu, 15 Juli 2012

Telaah Antropologi Politik Pemilihan Gubernur DKI (Bagian-2)

Dear All,

Melanjutkan analisis saya sebelumnya (Periksa Artikel saya: TELAAH ANTROPOLOGI POLITIK PEMILIHAN GUBERNUR DKI, maka setelah berlangsungnya Pemilukada 11 Juli 2012, di bawah ini saya sampaikan analisis lanjutan saya:

 ANALISIS PUTARAN KEDUA MENUJU DKI-1
Oleh: Ratmaya Urip*)

Sehari sebelum Pemilukada DKI diselenggarakan, saya telah menganalisis sebagai berikut:

"Seperti disampaikan di atas, "pertempuran" sebenarnya dalam setiap pesta demokrasi di Indonesia, khususnya untuk tingkat Propinsi dan tingkat di atasnya, tidak dapat dilepaskan dari adanya kutub Islam dan kutub Nasionalis (Meskipun untuk beberapa case dapat pula terjadi antar-kutub dalam Islam, maupun antar-kutub dalam Nasionalis)" (periksa alinea ke-4 dari Artikel saya: TELAAH ANTROPOLOGI POLITIK PEMILIHAN GUBERNUR DKI" di milis ini, 10 Juli 2012) ".

Di samping itu pula saya telah memprediksi tentang hasil Pemilukada sbb:

"Sementara untuk kutub Nasionalis direpresentasikan oleh 5 calon. Dari 5 calon Kutub Nasionalis, menurut saya hanya pasangan calon no 3. dan no. 1 yang kuat, mengingat analisis tersebut di atas. Yang pasti Kutub Islam dan Kutub Nasionalis akan tetap saling berhadapan sampai di Putaran kedua."

Saya telah menyampaikan, bahwa hanya Calon No. 3 dan no. 1 yang kuat di kutub Nasionalis, sementara calon No. 4 yang paling kuat dari kubu Islam.

Hasil terakhir "quick count" menempatkan pasangan No. 3 sebagai kampiun, disusul oleh pasangan no. 1 (semuanya dari kutub Nasionalis), dan pasangan no. 4 (dari kutub Islam) menduduki peringkat ke 3. Saya telah memprediksi hal tersebut. Namun yang agak mengejutkan adalah, bahwa pasangan no 4 (Kutub Islam) mendapatkan suara yang tidak siginifikan, khususnya jika merujuk pada setiap Pemilu yang diselenggarakan sejak awal Orde Baru khusus Pemilu di DKI. Ingat, bahwa di zaman Orde Baru, Kutub Islam yang diwakili oleh PPP, dan PKS di era Orde Reformasi, jumlah suara yang dikumpulkan selalu tinggi. Sebenarnya yang tersirat dari analisis saya sebelumnya saya memperkirakan bahwa kutub Nasionalis akan berhadapan dengan kutub Islam dalam Putaran Kedua. Meskipun saya juga menyampaikan, bahwa antar Kutub Nasionalis dapat menuju Putaran Kedua. Sementara antar Kutub Islam sulit saling berhadapan di putaran Kedua, karena calon dari Kutub Islam hanya 1 (satu) yang ikut dalam Pemilukada.  Juga selama ini di DKI, meskipun Kutub Islam sangat kuat dalam Pemilu, namun lebih sering dibawah bayang-bayang Kutub Nasionalis.

Dalam kaitannya dengan Pemilukada DKI kali ini, keterpurukan calon yang merepresentasikan Kutub Islam (yang diwakili oleh Sayap Ultra Modernis), tidak dapat dilepaskan dari persepsi Sayap Islam lainnya (khususnya yang dari  mayoritas Islam yaitu Sayap Tradisional-Kultural dan Sayap Modernis yang lebih moderat), yang mencurigai ada aroma Wahabi dalam PKS. (Periksa artikel saya sebelumnya). Sehingga rivalitas yang terjadi dalam kutub Islam membuat pemilih dari Kutub Islam tidak solid atau terbelah. Terjadi friksi antara yang ultra modernis berhadapan dengan yang beraliram moderat, yaitu Tradisional Kultural dan Modernis.

Seperti diketahui, kecurigaan ini kemudian memunculkan adanya Blog: PKSWatch, yang kemudian di-counter dengan blog lain yaitu PKSWatch Watch. Juga terbitnya buku: Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia diterbitkan oleh Wahid Institute, Gerakan Bhinneka Tunggal Ika, Maarif Institute, dan Libforall Foundation. Meskipun sudah dibantah dengan pernyataan: "Saya dan PKS bukan Wahabi" dan Pengukuhan PKS sebagai Partai Terbuka di Mukernas Bali.

Yang pasti dari analisis saya pada setiap Pemilukada tingkat Propinsi untuk Pemilihan Gubernur yang sampai dengan analisis kali ini sudah masuk ke seri ke 15 (semuanya analisis Pemilukada Tingkat Propinsi), inilah yang paling sulit. Hasilnya memang tidak 100% akurat, karena jika saya memprediksi urutan pemenangnya adalah No. 3 disusul No. 4 dan No. 1. Yang terjadi adalah No, 3 disusul No. 1 dan No. 4. Sehingga saya memprediksi dalam artikel sebelumnya bahwa yang masuk putaran Kedua adalah No. 3 berhadapan dengan No. 4, yang terjadi adalah No. 3 berhadapan dengan No. 1.

Namun yang pasti 3 kandidat tersebut memang masuk dan sesuai dengan prediksi saya.

PREDIKSI HASIL PUTARAN 2

Dengan hasil "quick count" yang menempatkan pasangan No. 3 berhadapan dengan pasangan No 1, yang masihg2 didukung oleh PDI dan Gerindra berhadapan dengan Partai Demokrat, menurut saya akan lebih memudahkan bagi pasangan no 3 untuk memenangkan pertarungannya.

Ini tidak lepas dari publikasi gencar yang dilakukan media dan kaum intelektual yang mengetengahkan "Kegagalan" pemerintahan incumbent. Kegagalan yang secara kasat mata digambarkan secara cerdas dengan masih macet dan banjirnya Ibukota Negara, yangmeskipun secara manajerial sebaiknya didukung dengan evaluasi PDCA dengan tolok ukur KPI yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Kemenangan pasangan No. 3 di Putaran Kedua, dapat terjadi, karena track record pasangan tersebut memang sedang menuju pasang. Di samping "keterpurukan" faktor partai pengusung pasangan No. 1.   Juga faktor dukungan Prabowo Soebianto, yang nampaknya kini popularitasnya sedang menjulang, menyongsong Pilpres 2014, yang saya prediksi, bahwa Prabowo Soebianto akan berpasangan dengan Puan Maharani. Karena bagaimanapun sebagai figur yang sama-sama dari etnis Jawa Mataraman, yang sangat kental dan kenyal dengan stereotip budaya ewuh-pakewuh, nampaknya Megawati dan Prabowo Subianto akan kembali berkoalisi dalam Pilpres 2014, namun kali ini yang diusung adalah Pasangan  Prabowo Subianto-Puan Maharani.

Di samping itu sepak terjang Jokowi mirip dengan sepak terjang JK, karena memang berasal dari Pengusaha, bukan birokrat, seperti halnya Dahlan Iskan yang sama-sama dari Jawa Mataraman.

Perlu diketahui, sepak terjang Jawa Mataraman yang terlibat dalam birokrasi, sangat berbeda stereotipnya dengan Jawa Mataraman yang bergerak di bidang Bisnis. Jawa Mataraman yang bergelut di Bidang Birokrasi dan Militer cenderung peragu, lamban, formal, tertutup, feodal, "alon-alon waton kelakon" dan berorientasi pada proses. Sementara Jawa Mataraman yang bergerak di Bidang Bisnis cenderung lugas, berorientasi pada hasil, merakyat,  "cepet ning kelakon", ceplas-ceplos dan terbuka. Mirip dengan Jawa Arek. (Untuk jelasnya, simak lagi Artikel-artikel saya sebelumnya di milis ini, khususnya yang berkaitan dengan Kajian Bisnis dalam Perspektif Antropologi BIsnis).

Terus terang saya memprediksi Jokowi akan "leading" di Putaran Kedua bukan karena kebetulan saya berasal dari Jawa Mataraman dan bukan kebetulan pula saya sama-sama dari UGM yang merupakan kesamaan saya dengan Jokowi. Saya memprediksi itu karena memang dari Kajian atau Telaah berbasis pada Perspektif Antropologi, khususnya Antropologi Politik dan Antropologi Ekonomi/Bisnis.

Ratmaya Urip
Rabu, 11 Juli, 2012 19:07

======== =========

 
TANGGAPAN DARI PEMBACA:

1.  William Santosa

Pak Ratmaya,Keren sekali analisisnya ... 5 thumbs up.
Cuman mau tambah analisisnya... Bukan hanya etnis Tionghua saja yg memilih pasangan Jokowi-Ahok, tapi juga sebagian besar umat Nasrani, berhubung pak Basuki adalah Nasrani juga. Saya kurang begitu tahu apa faktor ini juga mendukung, dan kalau di survey, mungkin akan sangat menarik.

Terima kasih.

William
Rabu, 11 Juli, 2012 19:21
=============== =

2. Rizaldi Oyong:

Analisis yang sanagt cerdas,,,,
Rabu, 11 Juli, 2012 19:35
================= ==

3. Erwin Wangsamulja:

Widih......keren.....analisa yang cerdas
Sesekali anda harus tampil di tipi nih......

Erwin
Rabu, 11 Juli, 2012 21:05
============= ====
4. amerishr:

Analisa yang bagus dari Pak Ratmaya.

Mohon maaf saya kurang setuju dengan pendapat Pak William.

Jaman sekarang, di era pemikiran terbuka serta informasi yang mudah didapat, orang-orang memilih Jokowi & Basuki bukan dikarenakan faktor SARA, dalam hal ini seperti yang diutarakan oleh Pak William adalah faktor agama, yang menurut saya justru sangat tidak menentukan (terus terang, saya tidak mengetahui latar belakang agama semua kandidat tsb).

Kemenangan pasangan tsb selain mempunyai visi serta track record, mereka juga mempunyai transparansi yang jelas.

Dalam kondisi dunia seperti sekarang ini, rakyat tidak membutuhkan pemimpin dengan status agama sebatas KTP/di muka umum saja, melainkan rakyat membutuhkan pemimpin yang berintegritas dalam tindakan sehari-hari.

Best regards'

Davy
Rabu, 11 Juli, 2012 22:22
================ ==

5.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar