Minggu, 15 Juli 2012

Leaderism#4: Sayap Kepemimpinan


Oleh:  Dadang Kadarusman

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Belajar dari para ahli kepemimpinan, kita bisa memahami bahwa secara sederhana kepemimpinan itu bisa diartikan sebagai “mencapai hasil melalui orang lain”. Pemahaman tersebut memiliki dua komponen penting, yaitu: (1) Pencapaian suatu hasil, dan (2) Melalui orang lain. Seseorang belum bisa disebut sebagai pemimpin handal  jika belum bisa meraih kedua aspek itu sekaligus. Misalnya, bisa mencapai hasil sesuai target namun masih menyibukkan dirinya dengan pekerjaan teknis dengan tangan sendiri. Atau, mampu mengorganisasikan orang lain, tetapi gagal mencapai target yang sudah disepakati dengan perusahaan.  Kehandalan kepemimpinan diukur dari kemampuan untuk mewujudkan kedua-duanya.
 
Seperti sepasang sayap, tanggungjawab seorang pemimpin kepada perusahaan bobotnya setara dengan tanggungjawabnya kepada orang-orang yang dipimpinnya. Kenyataannya, banyak pemimpin kelompok kerja yang dihargai tinggi oleh perusahaan, namun dimata anak buahnya; mereka adalah pemimpin yang buruk.  Apanya yang salah dengan sang pemimpin itu? Dia mencapai target. Dan target itu dicapai melalui orang lain. Bukankah dia sudah menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan baik?
 
Setiap pemimpin berdiri di antara dua kutub kepentingan. Yaitu kepentingan perusahaan untuk mencapai target-target bisnisnya dan kepentingan orang-orang yang dipimpinnya untuk mendapatkan pemenuhan hak-hak mereka. Jika bisa mencapai target perusahaan maka secara otomatis kita bisa memenuhi kebutuhan dan kepentingan perusahaan. Namun, mengorganisasikan orang-orang yang kita pimpin untuk mencapai target itu sama sekali tidak menujukkan jika kita telah berhasil memenuhi kebutuhan dan hak mereka. Bahkan, tidak sedikit pemimpin yang sanggup melakukan apa saja pada anak buahnya demi pencapaian target-target perusahaan.  
 
Dengan memenuhi target-target perusahaan, kita baru bisa meraih 50% peluang menjadi pemimpin handal.  Seperti sayap yang baru sebelah. Sedangkan sebelahnya lagi sangat ditentukan oleh cara memimpin orang-orang di team kerja kita. Masih ingat prinsip different folk, different stroke? Setiap orang yang berbeda membutuhkan pendekatan kepemimpinan yang berbeda. Bagaimana kita tahu sudah melakukan itu jika fokus kita hanya sekedar mencapai target saja? Kita bisa menjadikan ini sebagai momentum untuk meningkatkan keterampilan memimpin yang kita miliki selama ini. Dengan demikian, kita semakin berpeluang untuk menjadi pemimpin yang handal.
 
Ngapain sih pusing-pusing mikirin soal itu? Fokus saja pada pencapaian target perusahaan. Bukankah kita sering mendengar kelakar ini di ruang meeting; “Kalau target kamu tercapai, maka karirmu akan aman…..”?
 
Ingatkah Anda bahwa kepemimpinan itu bukanlah semata-mata untuk mengamankan karir kita sendiri? Para pemimpin hebat justru berani mempertaruhkan karirnya sendiri demi kepentingan institusi yang diwakilinya DAN orang-orang yang dipimpinnya. Mereka tidak mementingkan dirinya sendiri. Melainkan mengedepankan tanggungjawabnya, baik kepada perusahaan maupun para bawahan. Mereka percaya bahwa kepemimpinan itu bukanlah semata-mata mencari gengsi tinggi, fasilitas kelas atas, dan pendapatan berkelimpahan.
 
Kepada perusahaan mereka mengabdi karena sadar jika Management akan meminta pertanggungjawaban atas pencapaian target kinerja yang dipercayakan kepadanya. Sedangkan kepada orang-orang yang dipimpinnya mereka mengabdi karena meyakini bahwa ‘Maha Management’ akan meminta pertanggujawaban atas caranya memimpin dan memperlakukan orang-orang yang Tuhan titipkan dibawah tampuk kepemimpinannya.
 
Mungkin inilah yang diisyaratkan oleh Nabi Suci sebagai pemimpin yang adil. Kepada pemimpin yang adil itu, Nabi menjelaskan jika Tuhan memberi kemudahan di hari perhitungan. Kita, bisa belajar untuk menjadi pemimpin adil dengan memiliki kedua sayap kepemimpinan itu. Yaitu sayap tanggungjawab kepada perusahaan, dan sayap tanggungjawab kepada orang-orang yang kita pimpin. Dan semoga, kelak sayap itu akan bisa membawa kita terbang bersama para malaikat. Menuju kemuliaan dan keberlimpahan sejati, di kehidupan akhirat.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!

 
Catatan Kaki:
Seperti sepasang sayap, tanggungjawab seorang pemimpin kepada perusahaan bobotnya setara dengan tanggungjawabnya kepada orang-orang yang dipimpinnya.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman
Minggu, 1 Juli, 2012 21:44

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar