Minggu, 15 Juli 2012

OFFICE POLITICS or WORKPLACE POLITICS or ORGANIZATIONAL POLITICS (POLITIK KANTOR)


Oleh: Ratmaya Urip
Politik kantor, atau dalam istilah "baku"nya "Office Politics" atau "Workplace Politics" atau ada juga yang menyebutnya sebagai "Organizational Politics"  banyak sekali yang membahas dan menganalisnya dalam berbagai textbook, jurnal dan Blog di dunia maya. Masalah ini sudah ada sejak jaman Revolusi Industri  di Eropa maupun Revolusi Pertanian di Amerika Serikat

Dalam setiap perusahaan, sering kali dijumpai adanya gosip, kasak-kusuk, friksi, bujuk membujuk, hubungan baik atau buruk antar individu atau kelompok dan interrelasi lain dengan tujuan tertentu.  Setiap inter-relasi sering memberikan dampak, baik positip maupun negatif. Yang negatip sering berbuah friksi, baik tertutup maupun terbuka.

Friksi akan semakin kenyal, kental dan tajam dengan semakin besarnya organisasi. Friksi dapat terjadi baik dalam organisasi bisnis (perusahaan baik BUMN maupun Swasta) maupun organisasi publik (pemerintahan, lembaga2 tinggi negara, militer atau polisi, organisasi sosial, dan lain-lain). Biasanya friksi terjadi karena adanya perbedaan kepentingan, ambisi tertentu, ketidakadilan, ketidaksukaan, perbedaan ideologi, perbedaan cara pandang, perbedaan visi, perbedaan sikap dan perilaku, dan sebagainya. Di samping itu friksi akan semakin menguat jika "leadership" maupun " followership"  dalam organisasi lemah.

Friksi dalam organisasi publik sering lebih menonjol dibandingkan dengan friksi dalam organisasi bisnis, karena organisasi publik banyak disorot oleh media.
Khusus  dalam organisasi bisnis, friksi dapat dibedakan menjadi 2 (dua) jalur. Jalur pertama adalah  "inter-role friction"  atau friksi klasik antar "role" atau antar-fungsi dalam  perusahaan, yang biasanya terjadi antara "finance" versus "sales/marketing",  "sales/marketing" " versus "production", "production" versus "Human Capital Department", "production"  versus " quality control", dan sebagainya. Sementara jalur kedua adalah "inter-personal friction" atau "individual friction".

"Inter-role friction" sebenarnya sah-sah saja, karena masing-masing "role" biasanya memiliki argumentasinya masing-masing dalam menjalankan fungsinya. Sebagai contoh, "finance" biasanya selalu "pelit" dalam urusan pengeluaran sumber daya termasuk uang, karena ingin selalu on the right track dalam kebijakan keuangannya, sehingga kadang-kadang sering dianggap "pelit", sementara "sales/marketing" lebih sering banyak mengeluarkan sumber daya termasuk uang demi pencapaian kepuasan pelanggan. Masalahnya, dalam praktek "inter-role friction" ini kemudian berubah menjadi "inter-personal friction". yang menumbuhkan kasak-kusuk, gosip, ketidaksukaan, dan sebagainya yang menyerang individu atau kelompok yang berbasis sentimen negatip.

Friksi juga dapat tumbuh karena ambisi untuk "naik ke posisi atas" dalam hierarki manajemen. Karena semakin keatas semakin kecil space-nya, maka sering dijumpai adanya saling sikut dan saling menjatuhkan antar individu.

Wikipedia sendiri menulis sebagi berikut:  "Workplace politics", sometimes referred to as "office politics" or "organizational politics" is "the use of one's individual or assigned power within an employing organization for the purpose of obtaining advantages beyond one's legitimate authority. Those advantages may include access to tangible assets, or intangible benefits such as status or pseudo-authority that influences the behavior of others. Both individuals and groups may engage in Office Politics."  Office politics has also been described as "simply how power gets worked out on a practical, day-to-day basis".

Politik kantor yang bermartabat dan bersih memang baik. Biasanya  politik kantor yang baik, bersih, dan "elegant" atau "mature" dapat terjadi jika personal-personal dalam organisasi lebih profesional. Namun jika terjebak dalam politik kantor yang kotor, memang menyebalkan, karena akan membuat "organizational climate" menjadi penuh dengan mendung tebal yang menggelantung pekat. Saling curiga, saling jegal akan membuat terjadinya polarisasi dalam perusahaan.

Politik kantor sering dijumpai dalam praktek maupun dalam teori organisasi, sejak jaman Revolusi Industri  di Eropa maupun Revolusi Pertanian di Amerika Serikat. Sehingga langkah antisipasinya adalah dengan memperdalam pengetahuan kita dalam menghadapi adanya praktek politik kantor, khususnya politik kantor yang negatip, serta kita-kiat untuk mengatasinya. Baik dalam posisi kita sebagai leader, maupun sebagai follower. Banyak kiat yang dapat dipelajari. Silakan "googling" dengan kata kunci "politik kantor" atau "office politics", pasti akan banyak artikel yang muncul.

Artikel ini adalah artikel rintisan tentang "politik kantor" atau "office politics". Silakan member milis yang lain lebih menyempurnakan atau melengkapinya dengan contoh-contoh di lapangan, berdasar pengalaman masing-masing.

Salam Manajemen,
Ratmaya Urip
Minggu, 15 Juli, 2012 00:50

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar