Minggu, 15 Juli 2012

MEMBANGUN ORGANISASI YANG RESPONSIF


© 2006. Nugroho Adhi W. All rights reserved.

Beberapa tahun yang lalu ketika portable MP3 player masih kontroversial karena masalah pembajakan dan hak cipta, Apple Computer Inc. muncul dengan solusi berupa iPod dan iTunes. iPod adalah sarana pemutar lagu digital dengan standar kompresi yang ‘tidak bisa dibajak’, sedangkan iTunes adalah sarana penjualan dan distribusi musik secara online.


iPod terbukti sukses dan menjadi category killer. Nilai saham Apple yang tiga tahun lalu hanya hanya $7 per lembar, kini meroket menjadi $74 per lembar dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar $62 miliar. Banyak perusahaan yang mengembangkan produk pemutar musik digital, tetapi tidak ada yang benar-benar dapat menyaingi iPod.

Apple tidak berhenti sampai disitu saja. iPod terus melakukan transformasi, menjadi iPod Photo yang memiliki kemampuan untuk menyimpan melihat foto digital, sampai kini menjadi iPod video. Transformasi tersebut mengimbas pada jangkauan pasar atau pelanggan iPod yang menjadi semakin luas. Keuntungan lainnya juga adalah kompetitor menjadi semakin kesulitan untuk mengikuti perkembangan yang dilakukan oleh Apple.

”Kepak kupu-kupu di Brazil menciptakan topan badai di Texas...”

Kalimat yang diungkapkan oleh Philip Merilees tersebut mengingatkan kita bahwa tanpa disadari, perubahan selalu terjadi dimana saja, kapan saja dan tentu ada pengaruhnya bagi organisasi. Tantangannya adalah bagaimana caranya merespons dan mengantisipasi perubahan tersebut. Terutama yang sangat berhubungan dengan industri, pelanggan dan pihak-pihak yang berhubungan dengan organisasi.

Bila respons organisasi lebih lambat dari perubahan yang terjadi, maka organisasi bisa dibilang tinggal menghitung hari-hari terakhirnya sebelum mengibarkan bendera putih. Contohnya adalah terlambat dalam membaca dan menterjemahkan keinginan pasar dibandingkan dengan kompetitor.

Tetapi bila organisasi dapat membaca dan bahkan memprediksi keinginan pasar, kemudian menterjemahkannya ke produk atau jasa, maka dapat dibilang bahwa organisasi tersebut sangat responsif. Bila hal tersebut terus dilakukan secara konsisten maka organisasi dapat menjadi pemimpin pasar.

Memanfaatkan momentum iPod, Apple berinisiatif untuk melakukan perubahan di dalam dirinya. Di pasar komputer yang selama ini didominasi oleh komputer berbasis wintel alias Windows-Intel, pangsa pasar Macintosh dari Apple dengan sistem operasi MacOS di tahun 2005 hanyalah 2.5%. Hal tersebut tentunya sangat tidak menyenangkan, apalagi bagi perusahaan yang memulai revolusi di dunia komputer pribadi.

Perubahan yang dilakukan oleh Apple adalah mengganti pemasok prosesor. Apple sekarang menggunakan prosesor buatan Intel. Perubahan tersebut ditindaklanjuti dengan membuat software Bootcamp yang sengaja dikembangkan agar sistem operasi Windows dapat digunakan di Macintosh.

Apple menyadari bahwa banyak orang yang tertarik untuk menggunakan Macintosh, karena arsitektur, sistem keamanan dan kinerja Macintosh jauh lebih baik dari komputer berbasis wintel. Ditambah lagi dengan desain tampilannya yang sangat artistik dan futuristik.

Sayangnya, kompabilitas dan kebiasaan orang menggunakan komputer wintel menjadi hambatan utama bagi banyak orang untuk pindah ke Macintosh. Dengan membuat Bootcamp, hambatan tersebut diharapkan menjadi minimal sehingga membuat makin banyak orang yang memakai Macintosh. Dan analis meprediksi dalam dua tahun ke depan pasar Macintosh akan meningkat sebesar 50%. Dasar dari analisa tersebut adalah karena Apple sudah berada di jalur yang benar bila dia ingin meningkatkan pangsa pasarnya.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana menjadi organisasi yang responsif seperti Apple Computer?

Kunci utama untuk menjadi organisasi yang efektif adalah dengan menyadari bahwa sejak dibangun, organisasi mempunyai 4 hal penting yang harus dimanfaatkan seoptimal mungkin. Mampu untuk menganalisa diri dan lingkungannya atau kesadaran diri adalah hal pertama yang harus dimiliki. Organisasi juga harus memiliki visi dan misi yang dibangun dengan menggunakan imajinasi untuk menentukan kemana arah dan tujuan organisasi. Menggunakan Hati nurani, yang diterjemahkan ke dalam nilai-nilai dan budaya organisasi untuk menjadi panduan organisasi dalam beroperasi agar tidak melanggar hukum dan aturan yang berlaku. Terakhir adalah kemampuan untuk mengeksekusi.

Aplikasikan keempat hal tersebut secara konsisten, maka organisasi Anda akan menikmati hasilnya. Percayalah!


N. Adhi W.
BOLDER: partner for excellence
helping companies and people getting better results
Minggu, 1 Juli, 2012 20:16

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar