Rabu, 23 Mei 2012

Antara Asal Jadi dan Bermakna

.


Rezeki seperti harta atau pengalaman berharga. Tidak pernah kita tau kapan dan dari mana datangnya. Oleh karena itu—hanya orang yang siap—pantas menerimanya.
Sekedar menunaikan kewajiban
Khusus untuk ummat muslim. Shalat merupakan ibadah wajib bagi setiap insan mukallaf. Kewajiban atas diri pribadi ini disebut fardhu ‘in. Sehari semalam melaksanakannya sebanyak 5 waktu. Mulai terbit fajar—shubuh. Tengah hari di waktu siang—dhuhur. Sore hari—ashar. Dan saat menjelang terbenam matahari—maqrib. Terakhir di malam hari—isya. Tiada seorang pun boleh meninggalkan ritual ini, apapun kondisi dan keadaannya. Kecuali, tidak mampu shalat lagi. Akhirnya orang lain menyalatkannya. 
Entah karena lemahnya iman atau luput dari kesadaran? Terkadang ibadah ini, hanya menjadi ritual menggugurkan kewajiban sahaja—sekedar menunaikan kewajiban. Bila saya bercermin. Hal itu kemungkinan terjadi, karena lemahnya iman dalam diri saya. Selain itu, kurangnya kesadaran dalam diriku. Sehingga, saat shalatpun, pikiranku ini masih terngiang-ngiang urusan duniawi. Padahal, shalat merupakan puncak prestasi ukhrawi. 
Lantas, apakah shalatnya sah? Berbicara mengenai sah atau tidak? Asal sudah memenuhi syarat dan rukun. Maka, secara syar’i, saya sudah menuntaskan kewajibannya. Namun, dalam ruang lain. Apakah shalat diterima atau tidak? Tiada makhluk yang memahaminya. Karena, ini hak Allah. Tidak bisa diganggu-gugat. Apalagi mencoba-coba untuk uji materi. Seperti menguji undang-undang ke Mahkamah Kontitusi.
Sudahlah, saya akhiri untuk pembahasan shalat cukup sampai di sini. Jantung saya lemah membicarakannya—mengingat diri ini belum sempurna dalam melaksanakan shalat. Selain itu, topik inti rawi kali ini, bukan tentang, apakah sah atau tidaknya ibadah seseorang? Akan tetapi, seperti judul di atas. Antara asal jadi dan bermakna. Sementara shalat, pengantar analogi saja.
Frustasi bekerja
Sementara itu, mari sejenak kita menyaksikan sebuah kisah seorang pekerja profesional. Dia sudah mengabdikan umurnya, hampir 35 tahun di perusahan pembuatan mobil. Sebut saja namanya bapak Atang. Rambutnya benar-benar sudah memutih. Kulit tidak bisa dibohongi mulai memudar dan mengendor. Namun, dia sangat mensyukuri matanya masih jernih tanpa memerlukan alat bantu melihat.
Dia mulai memutuskan mengabdikan diri di perusahaan ini, semenjak beranjak usia 20 tahun. Jadi, usianya sekarang sekitar 55 tahun. Karirnya dari level bawah, hingga konseptor (perancang) mobil baru. Kemudian, karena sudah sangat lama dia di sana. Bapak Atang memutuskan untuk pensiun sebelum jatah sewajarnya. Biasanya, di perusahaan beliau bekerja, baru pensiun usia 58. 
Suatu hari, beliau datang menjumpai pimpinannya dengan membawa surat permohonan pensiun. Setelah menyampaikan niatnya. Atasan menyetujui pengajuan beliau. Termasuk uang pesangon yang beliau harapkan. Akan tetapi, direktur memohon kepada bapak Atang. Agar beliau berkenan merancang sebuah mobil lagi. Sebagai karya terakhir beliau di sana.
Mendengar permohonan ini, pak Atang menarik nafas agak panjang. Kemudian menaikkan sedikit alisnya. Seperti orang menerima beban. Dan apa boleh buat? Pak Atang dengan terpaksa menerima perintah tersebut. 
Proses perancanganpun, Pak Atang mulai melakukan dibantu oleh asistennya. Namun, perancangan kali ini tidak seperti biasanya pak Atang kerjakan. Biasanya beliau memperhatikan setiap inci secara seksama. Namun, pada projek pengkhataman kerja ini. Pak Atang membuat asal jadi saja. Dan kualitas hasil dari konsep abal-abal (asal jadi), sudah bisa kita tebak seperti apa bentuknya?
Konsep sudah jadi, kemudian masuk ke produksi. Sebagaimana rancangan yang Pak Atang buat. Setelah mobilnya selesai. Atasan pak Atang mengucapkan terima kasih atas kinerja beliau selama ini. Untuk pulang ke rumah menikmati masa tuanya. Pemilik perusahaan menghadiahkan mobil rancangan terakhir kepada bapak Atang, (mobil yang dibuat asal jadi). 
Share saham 
Terlepas, apakah itu hikayat hayalan atau memang pernah ada peristiwa sejenis? Mungkin konteksnya saja berbeda. Baik nama pelaku maupun tempat kerja. Akan tetapi, saya pernah mendengar secara langsung pernyataan seorang pemilik usaha dari Surabaya. Beliau mempunyai beberapa bidang usaha, properti, stockist dan sekolah musik.
Saat pelatihan motivasi untuk seluruh pengajar dan staff. Beliau menyampaikan kepada saya—bahwa ketua pelaksana yang menjemput saya di bandara Juanda—sudah bekerja hampir 5 tahun. Sementara yang lain karyawannya turn over. Cuma beliau bertahan. Sebenarnya, beliau sedang menyiapkan usaha lain dan cabang baru kepada karyawannya.
Namun, karena kerjanya asal-asalan, ya tidak jadi. Tapi, khusus untuk ketua panitia, beliau baru saja sign kontrak untuk cabang baru. Dan beliau akan menjadikan ketua pelaksana sebagai kepala cabang. Sekaligus share saham, agar ada rasa memiliki.
Gak nyangka
Realitas ini serupa seperti pada program “gak nyangka” di trans 7 setiap senin pagi. Ada relawan dari program TV berpura-pura bertanya dalam bentuk komunikasi sehari-hari. Tetapi tidak terasa sedang mewawancara. Pertanyaannyapun tidak berat, sangat mudah. Bahkan penjual asonganpun tau. Seperti “Pemimpin kota itu apa namanya?” jawaban yang dimaksud adalah wali kota. 
Nah, Bagi target yang mau meladeni dengan serius setiap pertanyaan, biasanya cenderung bisa menjawab semuanya. Tetapi, ada yang ogah-ogahan, padahal tau. Maka, menjawab semaunya “Gak tau”. Wal hasil, rezeki senilai Rp.50.000,- untuk setiap jawaban yang benar dari pertanyaan, tidak menjadi jatahnya.
Kisah di atas seakan mengingatkan, bahwa terkadang rezeki; baik harta atau pengalaman bermanfaat—tidak pernah saya duga—kapan dan dari mana arah datangnya? Dan keperpihakan  jatah rezeki kepada saya, sangat tergantung dari usaha saya lakukan. Apakah berbuat asal-asalan atau penuh totalitas? Saya menyebutnya mengerjakan penuh makna. Karena, sesuatu yang bermakna itu, mengandung nilai tinggi (bernilai) dan penting.
Ciganjur, Senin 14 Mei 2012
 
Senin, 21 Mei, 2012 18:29

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar