Rabu, 16 Mei 2012

Menyesuaikan Diri Dengan Perubahan

 '
Oleh:  Dadang Kadarusman


Hore, Hari Baru! Teman-teman.
 
Catatan Kepala:Berubah itu memang tidak selamanya enak. Tapi tidak selamanya tidak enak kok. Terutama kalau kita menyadari manfaat jangka panjangnya untuk diri kita sendiri.”
 
Perusahaan Anda terus berubah? Mestinya sih demikian. Jika tidak, maka Anda sebaiknya berhati-hati. Karena perusahaan yang tidak berubah, akan ketinggalan zaman. Dan sangat rentan untuk dikalahkan oleh kompetitornya yang berubah secara dinamis. Iya sih. Tapi..., kalau perusahaan mengalami perubahan; berarti kita sebagai karyawan harus ikut berubah juga toh? Iyya dong. Wah, kalau begitu tidak enak dong. Bukankah lebih nyaman jika kita begini-begini saja? Heeeey..., jika kita memilih ‘begini-begini’ saja, maka tidak akan pernah ada perbaikan. Dan sampai pensiun pun kita akan ‘begini-begini’ saja. So, kalau kita ingin mendapatkan peluang dimasa depan; maka kita harus mendorong perusahaan untuk melakukan perubahan. Dan menyesuaikan diri dengan perubahan yang dicanangkan perusahaan. Bersediakah Anda?
 
Baru tiga setengah tahun saya meninggalkan perusahaan tempat saya dulu bekerja. Suatu ketika saya bertemu dengan sahabat lama yang masih bekerja disana. Beliau bercerita tentang perubahan yang banyak terjadi disana. Bukan sekedar struktur organisasi yang berubah. Bahkan ruangan-ruangan kerja serta kubikal pun ternyata banyak sekali yang berubah. Bisa dibayangkan betapa besarnya perubahan yang terjadi. Dan, jika orang-orang tidak bisa menyesuaikan diri dengan perubahan itu; kemungkinan besar akan kehilangan kenyamanan dan kegembiraan yang selama ini mereka dapatkan. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar untuk menyesuaikan diri dengan perubahan di perusahaan, saya ajak memulainya dengan menerapkan 5 prinsip Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:  
 
1.      Ingatlah bahkan diri kita pun berubah sepanjang waktu. Coba sesekali Anda buka album foto pribadi Anda. Tidak usah yang lama. Yang baru pun boleh juga. Lihatlah gambar Anda di foto itu. Lalu tengoklah kedalam cermin. Adakah bayangan di cermin sama dengan gambar di foto itu? Jika Anda cermat melihatnya, kemungkinan besar Anda bisa melihat gambaran berbeda. Mungkin bedanya hanya rambut yang bertambah panjang beberapa senti. Atau justru dicukur lebih pendek. Atau kuku tangan dan kaki Anda. Atau ukuran tahi lalat dan bintik hitam diwajah kita. Lihatlah. Bahkan diri kita sendiri pun berubah. Ingatkah Anda mengapa? Karena perubahan adalah fitrah bagi semua mahluk. Oleh karenanya, jika Anda melihat ada inisiatif perubahan di perusahaan; maka responlah perubahan itu sebagai sebuah proses yang wajar. Sehingga dari dalam diri Anda, akan muncul pemahaman pribadi.
 
2.      Perusahaan pun butuh berubah untuk berkembang. Untuk bisa berkembang perusahaan harus melakukan perubahan. Mungkin struktur organisasinya harus lebih nimble. Mungkin kebijakannya dibuat lebih luwes. Mungkin pengeluarannya dibikin lebih terkontrol. Dan lebih banyak lagi kemungkinan lainnya. Disisi lain, alam bawah sadar kita sudah terlanjur terprovokasi oleh pemaknaan negatif terhadap perubahan. Baru mendengar kata ‘perubahan’ saja alarm dalam jiwa kita sudah sebel duluan. Kenapa harus berubah sih! Lalu memasang mode curiga dan kekhawatiran. Ingatkah Anda bahwa para pesaing Anda terus menerus berupaya untuk mengalahkan perusahaan Anda? Tanpa kesediaan untuk berubah, perusahaan Anda akan sangat mudah, untuk dibuat kalah. So, bantu perusahaan Anda untuk berubah.
 
3.      Perubahan itu hanya bisa dilakukan oleh semua karyawan. Terus, siapa yang akan melakukan semua inisiatif perubahan yang diperlukan perusahaan itu? Tentu karyawan-karyawan di perusahaan itu sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi? Lagi pula, seluruh impak yang ditimbulkan oleh perubahan itu tentu berdampak langsung kepada para karyawan. Baik dampak nggak enaknya. Maupun dampak yang enaknya. Memang semua orang ingin yang enak-enaknya saja. Tetapi, bukankah selalu ada harga untuk setiap hal yang kita raih? Seperti pepatah mengatakan; berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian. Mungkin pada awal perubahan itu kita merasakan ketidaknyamanan. Wajar. Namun, semua ketidaknyamanan itu akan membawa kita menuju kepada kesenangan-kesenangan dimasa kemudian. Itu jika kita bersedia gigih memperjuangkannya. Jika tidak, maka perusahaan justru akan semakin terbebani.
 
4.      Mengintip cara berpikir pemilik perusahaan. Apakah Anda bekerja di perusahaan sendiri? Syukurlah jika demikian. Karena, Anda pasti akan mati-matian memperjuangkan apa yang menurut pendapat Anda diperlukan untuk mengembangkan perusahaan. Ya, memang begitu yang seharusnya. Bagaimana jika ada karyawan yang bekerja untuk Anda itu yang mbalelo dan menolak berubahan yang Anda canangkan demi kebaikan perusahaan milik Anda itu? Apakah Anda akan menerima penolakan itu dan Anda berpura-pura baik-baik saja? Ataukah Anda akan menggantikan mereka dengan orang lain yang bersikap koperatif dengan Anda? Pilihannya tentu berada ditangan Anda sebagai pemilik dan pengambil keputusan. Bukan ditangan karyawan Anda yang membalelo. Begitu lho, cara berpikir pemilik perusahaan. Lantas, apa yang akan Anda lakukan; jika Anda seorang karyawan?
 
5.      Perubahan itu satu-satunya harapan untuk perbaikan. Mari tengok keadaan kita saat ini. Apakah sudah sesuai dengan kondisi ideal yang Anda inginkan? Jika kita masih merasa sebagai manusia, maka kita tentunya memiliki sifat tidak pernah puas. Jadi. Hati-hati kalau mulut kita dengan teramat mudahnya mengatakan;”Cukup kok, saya begini juga sudah senang....” Tahu kenapa? Karena sebagai manusia, kita tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah kita dapatkan. Makanya, kita selalu mendambakan keadaan yang lebih baik. Itulah pula sebabnya, mengapa Rasulullah gigih mengingatkan kita tentang firman Tuhan yang bunyinya seperti ini;”Sesungguhnya, Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengupayakan perubahan dari sisi mereka sendiri.” Jika kita tidak mau melakukan perubahan, tidaklah mungkin kita mendapatkan perbaikan.
 
Dalam event-event pelatihan tentang perubahan yang telah saya fasilitasi, saya menemukan bahwa; kita ini sebenarnya tidak alergi dengan perubahan. Hanya saja, kita sering sekali khawatir jika perubahan yang kita jalani itu tidak memberikan hasil yang lebih baik. Kita ragu jika dengan perubahan itu, kehidupan kita bisa jadi lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana jika malah menjadi buruk? Kita takut mengambil resiko itu. Makanya, kita cenderung bertahan pada status quo alias menerima keadaan saat ini. Meskipun sesungguhnya keadaan itu bukanlah kondisi yang kita inginkan. Saya juga menemukan bahwa ketika kita sadar akan manfaat yang bisa kita dapatkan dari proses perubahan itu. Dan tahu persis bagaiman menjalani perubahan itu. Kita jadi yakin bisa mewujudkannya. Dan kita. Tidak takut lagi menjalaninya. Bersediakah Anda menjalani tantangan melakukan perubahan itu bersama saya? Ayo. Kita lakukan bersama.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DeKa – Dadang Kadarusman – 16 Mei 2012
Dare to invite Dadang to speak for your company? 
 
 
Catatan Kaki:
Yang orang takutkan itu bukanlah perubahannya. Melainkan konsekuensi dari perubahan itu. Maka lakukanlah sesuatu agar perubahan itu menimbulkan konsekuensi positif dan menyenangkan. Jika demikian, pasti semua orang akan dengan senang hati mengikutinya.
 
 Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya. 
 
 
Selasa, 15 Mei, 2012 20:46

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar