Senin, 07 Mei 2012

Kau Yang SALAH



Oleh: Febryan Lukito

 'Kau yang SALAH!!! Bukan aku.' Teriak A kepada B.
'Gak! Aku gak salah. Kau yang SALAH!' Balas B. 'Kalau saja kau dulu tak begini... Gak akan seperti ini....'

Terus menerus para pendengar disuguhkan teriakan demi teriakan antara A dan B yang sama-sama berkeras tak SALAH.

Berapa banyak di antara kita yang seperti itu? Entah apa yang dipermasalahkan A dan B tadi. Entah pula siapa yang sebenarnya 'benar-benar' salah.

Saya yakin hampir semua di antara kita pernah mengalaminya. Sifat dasar kita sebagai manusia salah satu penyebabnya. Tak mau disalahkan. Saya pun termasuk di dalamnya.

Dan saya tak menyalahkan siapa-siapa kok di sini. Hanya share apa yang saya alami. Saya tak 'merasa' salah dan lawan saya pun demikian. Padahal masing-masing dari kami memegang kesalahan. Tapi... Kami malah saling menyalahkan.

Dan?
Yang terjadi adalah masalah yang ada tak kunjung selesai bahkan cenderung melebar. Tak berujung. Walaupun sekarang bisa saja kami diam dan menganggapnya selesai. Namun...

Sebenarnya kami menyimpan gunung api yang siap meletus kapan saja. Hanya perlu goncangan sedikit, dan.. DUARRR... Meledak.

Dan itulah yang memang terjadi. Meledak saat ada picu sedikit dari salah satu antara kami. Sekecil apapun picu itu, dapat membawa kami dalam ledakan hebat.

Semua kembali dan kembali berulang-ulang karena tak ada di antara kami yang mau mengaku 'salah'.

Ego kita seringkali membawa kita ke dalam hubungan yang tak harmonis. Baik hubungan keluarga, pertemanan, romantis, profesional, dan lainnya.

Sebaik apapun, sepintar apapun, namanya manusia, akan kembali lagi ke dalam ego masing-masing dalam suatu saat. Dan saat seperti itulah, rasa tak ingin dipersalahkan muncul dan membangun sebuah tembok pertahanan dalam diri masing-masing.

Apakah salah jika demikian?

Tidak... Namanya juga manusia. It's human thing. Tapi kita selalu dapat belajar untuk lebih baik.

Di saat seperti itu, sebaiknya kita stop sejenak. Menjauh satu sama lainnya. Dan mulai merenungkan dalam diri masing-masing. Apa saja yang kita rasakan. Apa yang harus kita perbuat secara perlahan.

Take a deep breath.. And let all the emotion gradually with every breath out of us. Let it go...

Mengakui kesalahan atau tidak adalah hak masing-masing untuk dilakukan. Namun... Masing-masing juga punya kesempatan untuk berbesar hati untuk melapangkan dada atas 'kesalahan' yang ada.

Sing waras ngalah....
Kata-kata nyeleneh itu terkadang cukup bermanfaat bagi saya untuk menghadapi keadaan seperti itu.

Dan mengalah bukan untuk masalah kalah atau menang, karena sesungguhnya dalam hubungan tak ada kalah atau menang loh. Tapi mengalah untuk interospeksi. Mengingatkan diri apa yang harus dilakukan dan diperbaiki.

Sudut pandang berbeda bisa membiaskan masalah sehingga terlihat menjadi besar. Karenanya... Coba juga lihat dari sudut pandang lainnya.

Satu hal yang saya pelajari dari apa yang saya alami adalah koreksi diri sendiri dulu sebelum memaksa orang lain mengaku 'salah'. Apakah saya juga demikian?

Semua kembali ke masing-masing untuk perenungan dan tindakan yang diambil. Tak ada tindakan yang salah, yang ada hanya tindakan tanpa tanggung jawab.

Ryan
060512 0512
Happy Veshak
Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Semoga semua makhluk berbahagia

Sabtu, 5 Mei, 2012 17:45

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar