Minggu, 20 Mei 2012

Antologi Puisi Ratmaya Urip (Lanjutan)


Tragedi
(Sepotong Puisi Duka untuk Korban Sukhoi dan Korban Bencana Lainnya Termasuk Korban Keganasan Korupsi yang Tak Pernah Berhenti Mengoyak Negeri )

Oleh:  Ratmaya Urip*)




Satu lagi tragedi mengoyak hari dan mencabik  negeri
Karena kembali mengorbankan anak bangsa ini  
Kali ini tentang petaka angkasa Sukhoi si burung besi
Menyusul seribu duka petaka transportasi
Yang selalu melenggang di hari kemarin, kini dan mungkin esok hari
Karena semua serba tak pasti
Bencana di marga raya, kereta api dan jalur bahari
Yang selalu enggan atau abai ‘tuk bertabik pada henti
Rentetan panjang serial bencana yang melengkapi banjir, gempa, longsornya bumi dan hantaman tsunami
Juga amuk gunung berapi
Atau bom Bali yang ancamannya masih latent sampai kini
Belum lagi nestapa para TKW dan TKI yang hanya dapat bersikap pasrah diri
Dalam derita yang tak pernah mati hanya ‘tuk sesuap nasi
Yang kadang bermuara di ujung cemeti bahkan hukuman mati
Sementara berang anak nusa yang garang di media massa yang penuh emosi
Menggelegarkan demonstrasi yang kebak caci maki
Menenteng lidah yang penuh sumpah serapah bertubi-tubi
Karena muak pada serial korupsi yang berpesta di seantero negeri
Belum lagi gejolak dan friksi berdarah di jalanan karena tak ada keadilan yang  hakiki
Juga letupan sporadis fragmen  anarki berbalut surgawi
Yang hiruk pikuknya selalu antri tak pernah sepi menghantam negeri
Yang kadang hanya karena nasi
Atau kebutuhan ragawi yang insani namun penuh esensi
Yang selalu membawa jutaan nyawa beranjak pergi
Menyisakan serpihan debu ragawi yang teronggok dan tercabik layu dan basi
Menghadirkan papa, nestapa dan  derita yang tak ada henti
Yang bermuara pada tersungkurnya harga diri, jati diri apalagi bestari
Karena penguasa dan regulasinya sering berperan banci

Apakah tragedi dan bencana layak untuk merampok negeri ini?
Seperti halnya korupsi yang semakin congkak dan tamak mengoyak nurani dan menjajakan diri?

Bencana telah akrab berbagi
Itu bukan punagi dini hari
Karena hari-hari yang tertiti selalu menolak sepi  
Berkawan dengan gegapnya perih dan nyeri
Dalam banjirnya air mata negeri
Yang selalu beranak ngeri dan berkalang tragedi

Apakah tragedi memang sudah menjadi harga mati bagi negeri ini?
Yang membatu karena telah menjadi prasasti?

Apakah negeri tak boleh ada tawa penuh seri?
Apakah anak nusa memang tak layak untuk berbagi?
Dalam canda ria penuh bahagia ragawi, duniawi maupun surgawi?
Apakah negeri memang kurang introspeksi atau kurang berserah diri keharibaan Illahi?
Karena pekat dan pengapnya munafik yang pongah menjajakan diri?
Mungkinkah itu karena azab atas perilaku nurani dan ragawi yang tak terpuji?
Sehingga Tuhan  melumuri dengan kentalnya daki dan menghancurkan hari?
Bukannya bahagia yang esensi, azasi dan abadi?

Apakah gempita doa-doa padaNYA
Tak pernah cukup membasuh dosa-dosa
Karena terlalu patuh pada munafik yang sembunyi dalam baka
Sehingga yang bertengger di mata adalah ritual kosong belaka
Karena tak pernah benar menapak jalanNYA
Atau tak pernah belajar pada azabNYA yang tak henti mendera dengan fana
Sehingga yang abadi dan hakiki meniti hari adalah  tragedi dan bencana
Bukannya esensi tuk membangun prasasti bagi negeri bahagia dan sejahtera

Sidoarjo, 12 Mei 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar