Selasa, 01 Mei 2012

Mimpi dan Atmosfer


Oleh: Andre Vincent Wenas


  Mulai dengan mimpi sampai akhirnya berani menetapkan sasaran, bertekad ambil
keputusan lalu dengan persisten menciptakan serta menjaga atmosfir usaha yang
kondusif. Ketiga hal itulah yang menjadi fondasi keberhasilan memulai dan
keberlanjutan usaha.

  Sekilas cerita tentang seorang tokoh Perang Dunia kedua, Jenderal Bernard
Montgomery, komandan lapangan pasukan Inggris di padang pasir Mesir yang juga
terkenal dengan sebutan Tikus Gurun (The Dessert Rats), ia adalah musuh
bebuyutannya Erwin Rommel, seorang jenderal lapangan yang sangat brilian di
pihak Jerman.


  Saat itu 12 Agustus 1942, Jenderal Montgomery tiba di Kairo, tugasnya jelas
harus mengalahkan pasukan Erwin Rommel mulai dari Alamein, seluruh Afrika bagian
utara sampai di Sisilia dan Italia bagian selatan. Pertama kali bertemu dengan
para perwiranya di medan laga Mesir, ia mendapati semua perwiranya sudah loyo
patah semangat.

  Maka keesokan harinya ia segera mengumpulkan semua perwira dan menyampaikan
pidatonya yang terkenal “We will stand and fight here!”. Di antaranya dikatakan,
“…kita akan bekerjasama sebagai satu tim, dan bersama kita akan membangun
percaya diri dari angkatan bersenjata yang hebat ini lalu maju meraih kemenangan
akhir di Afrika.”

  Lalu disambungnya, “…saya percaya bahwa satu dari tugas-tugas awal seorang
komandan adalah untuk menciptakan apa yang saya sebut ‘atmosfir’, dan di dalam
atmosfir itu para staf, anak buah dari komandan dan seluruh pasukan akan
berada,  bekerja dan berjuang.”

  Memang, orang yang sukses adalah orang yang punya mimpi. Pemimpin adalah orang
yang berani untuk bermimpi tentang masa depan yang jauh di depan mata. Di masa
sulit biasanya orang tidak berani lagi untuk bermimpi, terlalu idealis katanya,
hidup itu mesti realistis sambungnya. Padahal seorang pemimpin sejatinya
membebaskan imajinasinya bertaburan dengan mimpi-mimpi yang indah dan agung
(great), karena ideal ini adalah faktor motivasi penggeraknya yang utama.

  Peter Senge, mahaguru dari MIT (Massachusetts Insitute of Technology) dalam
bukunya The Fifth Discipline of A Learning Organization menjelaskan tentang
‘creative tension’ atau ketegangan kreatif yang merupakan tegangan (tarik
menarik) antara visi ideal dengan realitas yang sesungguhnya. Keduanya
(visi/mimpi dan realitas saat ini) adalah dua hal yang harus dihadapi dan
dikonfrontasi oleh seorang pemimpin usaha. Berani jujur terhadap kenyataan saat
ini, berani melihat kekurangan tapi juga berani mengakui potensi-potensi yang
ada, serta berani untuk meregangkan mimpi atau visinya sejauh mungkin. Seperti
gelang karet yang ditarik, ujung yang satu adalah realitas saat ini, dan ujung
lainnya adalah visi masa depan. Ketegangan kreatif adalah seperti itu. Dalam
kelenturan itu, sejauh mana visi bisa ditarik ke atas berdasarkan realitas saat
ini.

  Tarikan gelang karet sampai di titik optimal, maka sejauh itulah visi mulai
bisa diciptakan, sasaran-sasaran mulai ditetapkan. Memang perlu keberanian untuk
menetapkan sasaran dan mengambil keputusan-keputusan untuk melakukan segala
konsekuensinya. Banyak orang dalam hidupnya tidak mau atau tepatnya: tidak
berani untuk menetapan sasaran (tujuan). Sebabnya adalah sederhana, karena dari
setiap sasaran yang ditetapkan membawa konsekuensi untuk pengambilan keputusan
dan bertanggungjawab terhadap akibat atau konsekuensi dari keputusan itu.

  Saat kecil seorang anak biasanya sangatlah idealis, mimpinya banyak. Kalau
ditanya mau jadi apa saat besar nanti, maka dijawab: mau jadi presiden,
jenderal, pilot, astronot dan professor serta posisi-posisi lain yang
hebat-hebat. Saat mulai tumbuh dewasa, kesulitan dan masalah dalam kehidupan
menempanya dari orang yang sangat idealis menjadi orang yang sangat realistis.
Dari satu ekstrim ke ujung ekstrim lainnya, pupuslah idealismenya!

  Atmosfir perlu dibangun dan dijaga terus menerus karena ia seumpama tanah di
mana benih unggulan ditabur dan upaya merawat dilakukan. Kontinuitas bisnis
jangka panjang bisa dicapai dengan menjaga atmosfir yang sehat dan kondusif.
Jenderal Montgomory, dengan sasarannya yang jelas, keputusannya yang bulat dan
komitmennya untuk senantiasa membangun atmosfir yang kondusif akhirnya berhasil
meluluhlantakan pasukan lawan, meraih kemenangan yang gemilang. Anda juga bisa,
di bidang Anda masing-masing.

----------------------------------------------------------------

(Catatan:  Artikel ini telah dikontribusikan ke  Tabloid Bisnis KONTAN. Untuk itu segala hal yang menyangkut sengketa Hak atas Kekayaan Intelektual menjandi tanggung jawab Kontributor)

Rabu, 25 April, 2012 12:26

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar