Senin, 28 Mei 2012

Be A Player

Oleh:  Rahmadsyah Mind-Therapist
 
 
Hanya saya sendiri yang akan menyelesaikan tugas saya. Dan saya harus menunda mengharapkan orang lain menuntaskan pekerjaan saya. Karena hal tersebut mustahil.
#NasehatDiri
Nasehat sang motivator
Hanya pemain yang memungkinkan untuk mencetak goal”. Itulah penggalan penggugah emosi semangat dalam jiwa saya. Saat mengikuti pelatihan motivasi di kampus dulu. Menurut sang motivator. Dalam permainan bola, ada aturan, siapapun boleh mencetak goal dan dianggap sah oleh wasit. Selama orang tersebut adalah pemainnya. Akan tetapi, bila yang menjebolkan gawang penonton. Sudah pasti itu dinyatakan bukan goal.
Kemudian sang motivator melanjutkan. “Itu maknanya, dalam hidup ini, jadikanlah diri kita sebagai pemainnya. Bukan menjadi penonton”. Hal ini dalam konteks pencapaian—senada dengan kata bijak “Hanya Anda sendiri yang akan menyelesaikan tugas Anda. Tundalah mengharapkan orang lain menuntaskan pekerjaan Anda. Karena hal tersebut mustahil”.
Jiwa yang bertumbuh
Selain itu, manfaat memposisikan diri sebagai pemain, bukan hanya penghargaan berupa hadiah akan kita peroleh. Akan tetapi, pengalaman batin yang tidak terdapat dalam tatanan teori, juga menbadan kepada kita. Karena, kesempatan gagal dan berhasil—hanya mereka yang bertindak—akan merasakannya. Proses pergantian kejadian inilah, saya sebut dengan jiwa yang bertumbuh.
Robin Sharma dalam bukunya 101 The Great Guide menganjurkan—agar kita segera memutuskan diri sebagai pemain. Entah menjadi pemusik. Koki. Pengacara. Pemotong rumput. Pengecat rumah. Sopir. Petugas parkir. Pemetik kelapa. Tukang urut. Penunjuk jalan. Dan jenis-jenis pemarinan lainnya. Maka, pastikan, diri kita sebagai bintang utama dalam permainan tersebut.
Inspirasi film Sincan
Setelah memutuskan diri sebagai pemain. Maka, langkah selanjutnya adalah menikmati permainan tersebut. Lantas seperti apa menikmati permainannya?
Minggu 6 Mei 2012. Di rumah mertua berkumpul banyak orang—keluarga inti dari almarhum bapak mertua, dari Betawi. Dan keluarga ibu mertua dari Pacitan. Karena, minggu ini—hari berbahagia bagi kakak ipar—yakni penyematan cincin tunangan kepada wanita pilihan yang akan dijadikan pedamping hidupnya kelak.
Acara pertunangan berlangsung di rumah sang calon istri di Cilangkap. Rencananya mulai jam 11.00. Dan kami menjadwalkan berangkat dari Ciganjur jam 09.30. Selama menunggu kedatangan pihak keluarga semuanya. Dalam kesibukan merapikan dan memoles seserahan dengan bunga dari pita jepang. Adik-adik sepupu menyalankan TV dan menyaksikan film Sincan.
Enjoy the game
Terlepas Anda menyukai, menyetujui atau bahkan tidak merekomendasikan buah hati Anda menyaksikan film ini. Akan tetapi, pada episode hari ini, ada pesan hidup bermakna bagi saya. Saya tidak tau apa temanya. Namun yang saya ingat. Sincan bersama Papanya berangkat ke tempat latihan Golf, seperti lapangan dekat Gelora Bung Karno.
Di tempat latihan dan bermain golf itu. Sincan bertemu dengan seorang pegolf profesional. Sebut saja namanya Akimoro. Dia pemenang juara Asia Open Cup. Melihat pemain kawakan itu bermain di tempat orang-orang amatir melatih ketrampilannya. Sincan penasaran dan bertanya kepada Akimoro. “Kakak Akimoro, mengapa kakak bermain di sini, kakakkan pemain hebat?” tanya sincan dengan nada khasnya.
Lalu Akimoro menjawab “Adik kecil, kakak sangat senang main di sini. Dulu, sebelum kakak ikut perlombaan tingkat dunia. Kakak setiap hari berlatih di tempat ini”. Sincanpun melanjutkan pertanyaannya “Kakak, bagaimana cara agar bisa melakukan hole (memasukkan bola ke lubang dalam satu kali pukulan)?
Akimoro menjelaskan dengan pengalaman hidupnya “Adik kecil, dengarkan ini ya. Sebelum kakak ahli melakukan hole. Kakak sering sekali gagal menggayunkan stik terbaik kakak. Sehingga, bola jatuh jauh dari sasaran. Kamu tahu kenapa? Karena kakak sibuk berfokus pada akhir dari permainan—yaitu memasukkan bola ke targetnya—akan tetapi, semenjak kakak mengubah fokus pada permainan, yang terjadi malahan, kakak menghasilkan pukulan terbaik dan tercipta hole”.  
Dan akhirnya, Akimoro menitip pesan kepada Sincan “Jadi, pesan aku kepadamu. Setiap kamu mengayunkan stick untuk mendorong bola. Maka, abaikan tujuan. Tetapi, berfokuslah pada ayunan, bola yang melayang ke udara. Karena, menikmati permainan. Lebih penting dari memasukkan bola ke lubang, Oke”. Setelah itu, akomoro meninggakan Sincan dan tempat latihan golf tersebut.
Be A Player and feel the game 100%
Bagi saya, pesan Akimoro kepada Sincan, merupakan gambaran konkret. Seperti apa contoh menikmati permainan (enjoy the game). Namun, mohon memahami. Bukan berarti, saat kita bermain melupakan target permainan. Akan tetapi, sasaran yang telah kita tentukan sebagai tujuan akhir permainan. Cukup kita sadari di awal. Setelah itu, kita menikmati setiap detik pergerakan waktu, hingga mencapai tujuan utama kita.
So, mari kita putuskan untuk menjadi pemainnya sekarang. Kemudian, kita menikmati proses permainan yang telah kita putuskan di arena kita—dengan penuh totalitas—100%.
Ciganjur, Minggu 6 Mei 2012

Rahmadsyah Mind-Therapist


Jumat, 18 Mei, 2012 02:51

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar