Selasa, 29 Mei 2012

"Remarkable Indonesia! ...dan Banjirnya Singapura


Oleh: Andre Vincent Wenas


“Meskipun telah menimbulkan pelbagai kesulitan atau bencana bagi ribuan penduduk
Perancis, banjir yang terjadi pada Januari 1955 lebih merupakan suatu Perayaan
daripada malapetaka.” – Roland Barthes, Membedah Mitos-mitos Budaya Massa, 2007
(Mythologies, 1972).

***

  Indonesia yang luar biasa! (remarkable Indonesia), ini adalah idiom baru yang
disiapkan BKPM (badan koordinasi penanaman modal) bagi pencitraan Indonesia
untuk menarik investasi baru dari AS (Amerika Serikat). Maksud hati memosisikan
citra (brand image) Indonesia sebagai negeri “ajaib”, yang menjanjikan
keuntungan besar bagi investor. Orin Basuki (Kompas, 14 Juli 2010) melaporkan
bahwa BKPM telah 3 kali bolak balik ke AS demi meyakinkan para investor
prospektif untuk mulai menanam modalnya di negeri yang “ajaib” ini.

  Prosesi pencitraan seyogianya mengikuti alur sederhana: brand awareness ->
brand recognition/recall -> brand association -> brand image. Pertama-tama tentu
nama Indonesia mesti dikenal (diketahui), maka perlu program-program dan
inisiatif untuk memperkenalkan diri dan “hadir” terus menerus dalam pergaulan
antar-bangsa supaya – paling tidak – nama Indonesia dikenal dan diingat terus
oleh komunitas internasional. Namun, serentak dengan itu juga mesti diupayakan
agar nama, identitas (brand) Indonesia terasosiasi dengan sesuatu yang positif
(keramahan, keindahan, kesempatan, kecerdasan, kejujuran, kebersihan, etos
kerja keras, inovasi, kreativitas, efisiensi, infrastruktur/public utilities
yang memadai, profesionalisme state-apparatus, dan yang sejenisnya), sehingga
akhirnya – dengan aktualisasi di dalam lintasan waktu – citra merek (brand
image) Indonesia yang “luar biasa” bisa betul-betul menjadi suatu formasi yang
“nyata” di benak komunitas internasional.

***

  Singapura banjir! …ini realitas bencana yang mengherankan komunitas global.
Mengikuti alur pemikiran Roland Barthes (Paris Tidak Kebanjiran, dalam
Mythologies, 1972), banjir yang terjadi itu – bagi kasus Singapura – nampaknya
lebih merupakan perayaan daripada malapetaka. Terutama, “…karena banjir itu
menggantikan objek-objek tertentu, menyegarkan persepsi kita tentang dunia
dengan memperkenalkan ke dalam dunia pelbagai hal yang belum terbiasa tetapi
dapat dijelaskan; kita melihat mobil direduksi menjadi bagian atapnya,
lampu-lampu di pinggir jalan dipotong sampai hanya bagian atasnya yang muncul di
atas permukaan seperti bunga bakung air, rumah-rumah dipotong seperti permainan
balok anak-anak, seekor kucing terjebak di atas pohon selama beberapa hari.
Semua objek sehari-hari ini tampaknya mendadak terpisah dari akarnya, tercabut
dari substansi rasionalnya yang sangat baik, Bumi… Banjir itu membangkitkan
penglihatan normal tanpa membangkitkan kefantastisan; objek-objek dihapuskan
sebagian, tidak terdistorsi: tontonan itu ganjil tetapi masuk akal.”

  Lalu bagaimana kita ‘merayakan’ Singapura yang kebanjiran ini? Roland Barthes
menggariskan, “Setiap pemisahan yang cukup besar dalam kehidupan sehari-hari
mengintroduksi Perayaan: kini, banjir itu tidak hanya menghantam dan
menghanyutkan benda-benda tertentu, banjir itu juga melimpahi coenesthesia
(estetika umum) pemandangan, pengorganisasian sejak zaman nenek moyang terhadap
garis-garis horizon, garis-garis habitual pada peta survei, tirai pepohonan,
barisan rumah, jalanan, palung sungai itu sendiri, dan stabilitas kaku yang
dengan begitu cermat mempersiapkan bentuk-bentuk properti, semua ini dijadikan
tidak jelas, merentang dari sudut menjadi bidang: tidak ada lagi jalan, tidak
ada lagi pinggir sungai, tidak ada lagi arah; suatu substansi datar yang tidak
beranjak ke mana-mana dan yang dengan demikian menangguhkan proses manusia,
melepaskan dia dari nalar, dari suatu kemanfaatan lokasi-lokasi… Secara
paradoks, banjir itu telah menciptakan dunia yang lebih dapat diakses, yang
dapat dimanipulasi dengan jenis kesenangan yang dimiliki anak-anak…
mengeksplorasi dan menikmatinya.”

***

  Berefleksi dari fenomena banjirnya Singapura dan upaya pencitraan Indonesia
untuk menjadi entitas yang ‘luar biasa’ merupakan sesuatu yang sangat menantang
dan menggugah perasaan. Teristimewa di hari-hari menjelang peringatan
kemerdekaan bangsa ini. Kemerdekaan – seperti metafora dari Bung Karno – adalah
sebuah jembatan emas yang merupakan condition sine qua non bangsa Indonesia
dalam pilgrimasinya menuju MAM (masyarakat adil makmur). Dan sampai tahun 2010
ini, jembatan emas itu sudah 65 tahun di belakang kita.

  Di suatu tempat orang bisa merayakan ‘bencana’ sebagai sesuatu yang ‘luar
biasa’ (di luar kebiasaan), sementara di tempat lain sesuatu yang seyogianya
sudah menjadi keharusan (dus sesuatu yang biasa, seperti: keteraturan, disiplin,
kebersihan, dll) nyatalah perlu diangkat sebagai sesuatu yang ‘luar biasa’
karena hal-hal itu memang – dalam realitas keseharian – masih di luar kebiasaan.

  Salam kemerdekaan!

---------------------------------------------------------
Artikel ini pernah dikontribusikan di Majalah MARKETING, edisi Agustus 2010 oeleh Kontributornya. Segala hal yang menyangkut sengketa Hak atas Kekayaan Intelektual menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari Kontributor

STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES

Minggu, 20 Mei, 2012 10:30

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar