Minggu, 20 Mei 2012

Simulakrum: Dunia Seolah-olah Kita


Oleh : Andre Vincent Wenas

“…it is precisely through the evaluating process of the human mind that human
behavior is distinguished from animal behavior, and that man, with his
consciousness, enters an atmosphere of greater freedom.” – Sutan Takdir
Alisjahbana.



  Begitulah yang diyakini St. Takdir Alisjahbana dalam disertasinya yang
akhirnya diterbitkan di Kuala Lumpur tahun 1960 dengan judul: Values as
Integrating Forces in Personality, Society, and Culture.  Ia seorang pemikir
strategis Indonesia yang otentik.

***

  Terlebih dalam arus besar globalisasi saat ini, membangun daya kritis telah
menjadi suatu imperatif, bahkan conditio sine qua non dalam upaya survival di
tata dunia baru yang kaotik (memang terdengar rada oxymoron) karena tanpanya
kita akan sangat disilaukan oleh komodifikasi pelbagai hal yang – dengan
kekuatan daya hipnotis massa (advertising, integrated marketing communications,
public relations) – telah menimbulkan keterpanaan, kemabukan, bahkan ekstasi. 

  Caveat yang dilansir Yasraf Amir Piliang (Dunia yang Dilipat, 1998, 2004)
patut dicermati: “Begitu banyak yang ditawarkan oleh dunia baru ini, sehingga
seakan-akan ia dapat menyalurkan segala dorongan hasrat dan segala desakan
energi libido manusia. Akan tetapi, begitu banyak pula yang direnggutnya dari
manusia, yang meninggalkan berbagai bercak luka, rasa kehilangan, dan duka
kepedihan pada diri manusia. Begitu banyak yang dibangunnya, sehingga
seakan-akan tidak ada lagi ruang kehidupan yang tersisa, sudut dunia yang tak
terjamah, dan bagian dunia yang tak tersentuh. Akan tetapi, begitu banyak pula
yang dihancurkannya, yang meninggalkan puing-puing dunia tak berbentuk,
sisa-sisa alam yang merana, dan rongsokan jiwa yang kerontang.”

  Kita, akibat program pemasaran global kontemporer sekarang, seakan terus
diajak bertamasya ke dalam dunia fantasi (…Anda akan jadi seperti bintang film;
…anak Anda akan jadi seperti Einstein, …”alumni” play-group pun “diwisuda” pakai
toga di hotel berbintang, dll). Repotnya, dalam dunia semacam itu segala
sesuatunya hanyalah alam seolah-olah (tidak asli, tidak otentik, tidak genuine),
simulasi semata-mata, bahkan khayalan. Kita digiring masuk dalam  simulakrum
(dunia seolah-olah, tiruan). Diri Anda menjadi bukan diri Anda sendiri,
melainkan: Anda adalah apa yang Anda kendarai (atau: …baju yang Anda kenakan;
…model yang Anda ikuti; …Anda ditentukan oleh apartemen di mana Anda tinggal,
dst.)

***

  Dulu kita sering men-dikotomi-kan antara budaya Timur dan budaya Barat.
Sesungguhnya hal ini pun juga menyesatkan, sebab jika ditelusuri jauh ke
belakang, sejarah umat manusia adalah terus bergerak (tidak terlalu jelas dari
arah mana: entah timur atau barat, entah selatan atau utara!) sehingga banyak
unsur-unsurnya yang bercampur baur. Walau akhirnya, dalam studi sejarah
pemikiran, pada jaman Yunani kuno kira-kira 2600 tahun yang lalu (sejak
munculnya para intelektual seperti Thales, Pythagoras, Xenophanes, Herakleitos,
Parmenides, sampai ke jaman Sokrates, Platon dan Aristoteles) barulah umat
manusia mulai dianggap memasuki jaman rasional dan meninggalkan alam tahayul
dewa-dewi. Jaman di mana daya kritis, kemampuan transendensi manusia mulai
terang konturnya.

  Karenanya – dalam provokasinya yang terkenal dengan ‘polemik kebudayaan’ – St.
Takdir Alisjahbana tanpa tedeng aling-aling berseru: “Demikian saya
berkeyakinan, bahwa dalam kebudayaan Indonesia yang sedang terjadi sekarang ini
akan terdapat sebagian besar elementen Barat, elementen yang dynamisch. Hal itu
bukan suatu kehinaan bagi suatu bangsa. Bangsa kita pun bukan baru sekali ini
mengambil dari luar: kebudayaan Hindu, kebudayaan Arab. Dan sekarang ini tiba
waktunya kita mengarahkan mata kita ke Barat.”

  Daya kritis, kemampuan transendensi, mengambil jarak terhadap dirinya sendiri,
telah menjadi ciri kemanusiaan seorang manusia.

***

  Kalau saat ini kita sering mengeluh tentang etos kerja para professional,
termasuk para wakil rakyat kita (akhir-akhir ini banyak beredar di pelbagai
milis perihal pendapatan para wakil rakyat yang dilampirkan foto mereka yang
sedang nyenyak di ruang sidang!), sampai ekses para pelajar yang ingin segalanya
serba instan tanpa mau bersusah payah meniti proses dengan tabah dan cermat
(kedua kata ini: ketabahan dan kecermatan, telah menjadi kata asing dalam arus
kehidupan yang serba instan), maka dunia korporasi ikut bertanggung jawab.
Karena lewat programa sistematis yang telah menggiring massa ke dalam simulakrum
ini sesungguhnya banya korporasi telah ikut memenjarakan kebebasan masyarakat
untuk menjadi dirinya sendiri yang otentik. Komodifikasi di hampir segala hal
adalah akibat ideologi pasar yang telah menentukan – apa yang disebut sebagai –
kriteria kesuksesan.

  Demikianlah kita hanya bisa membebaskan diri dari penjara simulakrum lewat
pintu pembangunan daya kritis. Para pebisnis tetap dituntut disposisi etisnya
terhadap program pembebasan (road to freedom) ini. Veritas vos liberat,
kebenaran itu akan memerdekakan.

-------------------------------------------------
( Catatan:  Artikel telah dikontribusikan oleh Kontributor Blog TMI ke  Majalah MARKETING. Untuk itu segala hal yang menyangkut sengketa Hak atas Kekayaan Intelektual menjadi tanggung jawab Kontributor)
Minggu, 13 Mei, 2012 23:45

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar