Sabtu, 19 Mei 2012

Terapi Takut Memprospek Pelanggan




aat Anda berusaha Menghindari Kegagalan, sama artinya Anda sedang berusaha Menolak Keberhasilan.
#NasehatDiri
Training Ease Your Nervouse
Setahun lebih sudah, saya bergabung dengan Tantowi Yahya Public Speaking School sebagai asociate trainer di sana. Dan tahun ini merupakan tahun kedua bagi saya di lembaga pelatihan komunikasi dan MC ini. Alhamdulillah, sampai saat ini masih dipercayakan untuk menyampaikan materi Ease Your Nervouse. Yaitu tehnik mengatasi gerogi, cemas, was-was dan rasa takut lainnya saat berada di depan umum (public speaking).
Sebagaimana lazimnya, setiap bulan TYPSS membuka kelas public speaking I (malam), program reguler ini diadakan di malam hari, setiap selasa dan kamis. Kemarin, selasa, 10 April 2012 saya mengisi untuk sesi teori.
Biasanya saya berangkat dari rumah jam 16.00 dan sampai di Mayapada Tower Sudirman jam 17.30. Saya menggunakan jasa bus way hingga ke Dukuh atas, dan dari DA saya melanjutkan kembali ke Mayapada. Terkadang melanjutkan busway turun di Halte Karet. Kadang juga menggunakan angkutan umum biasa, kopaja atau metro mini. Bahkan, bila saya sampai di DA jam 17.00, saya memutuskan jalan kaki ke sana, supaya tidak terlalu cepat tiba di ruang pelatihan. 
Silaturahim ke Bu Nelvi
Akan tetapi, kemarin selasa, saya tidak langsung berangkat menuju tempat training. Namun saya memutuskan bersilaturahim dengan teman saya, Bu Nelvi Kurnia, Agency Manager asuransi prudential. Kantor Agency group beliau bernaung di Wisma Sentana dekat Mid Palza. Pagi hari saya menulis di kolom status fb beliau “Salam, saya nanti malam mengisi di daerah Sudirman jam 18.00wib. Apakah mungkin kita bersilaturahim sebelumnya?” tanya saya.
Hanya berselang 2 menit kemudian, saya perhatikan icon pemberitahuan fb saya berwarna merah. Tanda ada yang mengometari dan terhubung dengan fb saya. Kemudian saya arahkan kursor ke icon tersebut dan “klik”. Ternyata itu pemberitahuan balasan dari teman saya “Oke Coach, insyAllah bisa. Kita ketemu jam 15.00 ya, jam 13.00 saya ada di Al-Azhar”. Sayapun langsung mengkomfirm “Oke kita ketemu jam 15.00 di Wisma Sentana”.
Konseling agent
Bila biasanya saya berangkat setelah shalat ashar, maka kemarin jam 13.00, saya sudah melaju bergegas dari rumah. Seperti biasa, perjalanan dari rumah ke halte pertanian menggunakan angkot M20, dari sana melanjutkan dengan busway. Dan bagi Anda buswayer (orang-orang pengguna jasa busway) pasti tau. Kalau pagi hari sesak menyesak itu suatu hal yang lumrah. Berbeda di siang hari seperti saya berangkat kemarin. Banyak kursi kosong.
Saya bersyukur, sebelum jam 15.00 telah tiba di kantor bu Nelvi. Sehingga, sambil menunggu beliau balik dari Al-Azhar, saya menuju ke Basemen untuk minum secangkir kopi. Sekaligus menanti shalat ashar di mushola. Posisinya sejajar bersebelahan kantin. Setelah selesai menunaikan ibadah shalat ashar berjamaah. Saya naik ke lantai 2 menuju Agency Pru Power Vision. Di sana saya bertemu dengan bu Nelvi dan dikenalkan dengan 2 shahabat beliau yang merupakan guru di sekolah Al-Azhar. Juga aktif sebagai agen pru. 
Saya bertemu dengan beliau awalnya hanya niat untuk bersilaturahim saja. Karena, menyambung silaturahim, pasti banyak hikmah dan manfaat akan saya dapatkan. Dan langsung seketika itu, manfaat saya dapatkan, bu Nelvi meminta saya membantu 2 orang team beliau itu. Apa kira-kira mental block dalam diri mereka, sehingga belum produktif? Kemudian, kami mencari ruang kosong yang biasa dipakai untuk persentasi, dan sharing kendala yang dihadapi oleh kedua team ini.
Membangun keakraban
Pertama-tama saya memperkenalkan diri dan membangun hubungan selaras dengan dua teman baru saya ini. Sebut saja namanya ibu Tiara dan Juwita. Saya mengatakan kepada mereka “Nama saya Rahmadsyah, saya Trainer Self Potentials Optimizer dan Mind-Therapist, aktifitas bisnis saya bergerak di bidang pendidikan, sama seperti dengan bu Tiara dan juwita. Dan saya teman bu Nelvi”. Saya sampaikan dengan nada rendah dan tempo pelan.
Lalu mereka merespon sambil tertawa-tawa kecil (menandakan suasana ini santai dan menyenangkan) “Kami juga teman bu Nevli, kami lebih duluan mengenal dia”. Langsung saja, saya memanfaatkan jawaban mereka untuk menambah keakraban “Oh ya, betul. Kalau begitu kita sama ya. Sama-sama berteman”. Ucap saya sambil terseyum dan mengikuti tawa seperti mereka. 
Identifikasi masalah dan tujuan
Kemudian saya melanjutkan “Jadi apa yang bisa kita sharingkan nih bu?”. Ibu Juwita langsung memulai “Begini pak Rahmad. Saya setiap mau prospek ada perasaan takut. Jadi bagaimana cara menghilangkan rasa takut saat berjualan?”. 
Kemudian saya menjelaskan “Begini bu ya, sebelumnya ingin saya sampaikan. Saya setiap ada orang terapi atau konseling mengenai pikiran yang menghambat melangkah, jarang sekali menbantu untuk menghilangkan pikiran tersebut. Karena, saya yakin, setiap pikiran yang kita miliki pada dasarnya baik. Cuma terkadang bukan pada tempatnya saja dan mudhoratnya lebih banyak. Contohnya saja, “Malas”. Sebenarnya malas itu baik, tubuh mau kita tidak lelah hanya mau santai saja. Cuma itu kurang tepat, banyak membuat pekerjaan kita jadi terbengkalai. Tapi bayangkan, kalau kita malas mengatakan kejelekan orang lain, itu sungguh baik sekali kan?
Ibu Juwita dan Tiara mengangguk mengiyakan penjelasan saya. Kemudian saya memperjelas mentalblock pada beliau berdua “Nah, hal bijak kita lakukan adalah mengetahui, apa sebenarnya yang ibu takutkan? dan menyadari, apakah alasan takut itu berafedah atau tidak?” Saya mengarahkan telapak tangan kanan saya terbuka ke atas—ke arah ibu tiara—isyarat supaya beliau duluan menjawabnya.
Apa pak ya, bingung saya” Sambil melihat-lihat ke atas mencari tau apa yang beliau takutkan. Lalu saya menaikkan alis saya sedikit sambil terseyum “Pasti ada lho bu”. Kata saya. “Oh ya, saya takut ditolak” kata beliau. Kemudian saya menggali lebih dalam “Sebenarnya apa yang ibu takutkan?”. “Eeeemm, saya takut gagal pak”. Jawab beliau.
Spontan saya merespon “Ooo bagus. Kalau begitu, yang membuat ibu selama ini belum produktif, tidak memprospek, karena ibu menghindari penolakan. Dan ibu menghindari penolakan karena tidak mau gagal, benar begitu?”. Saya menjelaskan itu—menvisualkanya dengan menggunakan tangan kanan saya—sambil menggelombang ke belakang setiap stepnya. Tidak bergerak, takut ditolak, dan takut gagal. “Iya” ibu tiara menjawab dan mengangukkan kepalanya. 
Terus, apa yang ibu inginkan?” tanya saya lagi. “Saya mau berhasil pak”. Kemudian saya menarik mudur tangan saya sedikit dari simbolik step yang beliau takutkan. Dan saya sampaikan “Jadi yang ibu mau ini bu ya, berhasil. Dan cara memperolehnya dengan berjualan bu kan?”. Setelah ibu tiara mengiyakan, saya menciptakan paradigma baru kepada beliau. Dan menggunakan analog marking tadi.
Takut gagal = menggagalkan keberhasilan
Perhatikan ini bu ya, tadi ibu sudah menyadari, ibu tidak memprospek karena menghindar ditolak. Dan takut ditolak karena ibu tidak mau gagal. Sementara ibu Tiara mau berhasil. Dan syarat berhasil adalah dengan memprospek atau melakukan penjualan. Berarti, (saya meninggikan suara saya sedikit) saat ibu takut gagal = ibu telah menggagalkan keberhasilan ibu iyakan?” Beliau mengangguk dan menjawab “Iya pak ya”.
Jadi, apa yang ibu Tiara putuskan sekarang?” Saya bertanya agar beliau mengambil keputusan. “Ya saya harus prospek dan menjual” Jawab beliau. Lalu saya menegaskan “Tidak keharusan lho bu. Ini bu yang menjalankan. Dan ibu perhatikan kembali, pada saat ibu melakukan prospek, kemungkinan yang akan terjadi adalah dua hal. 50% ditolak (gagal) dan 50% beli (berhasil). Tapi, saat ibu tidak memprospek dan menjual. Maka itu artinya ibu sudah menggagalkan keberhasilan 100%”. “Iya pak benar”. Jawab bu Tiara. 
Setelah memastikan ibu Tiara mempunyai sudut pandang baru. Kemudian, saya, Bu Nelvi dan kedua temannya, berdiskusi tentang passion. Sampai jam 17.00 ada leader lain mengetok pintu ruangan memberitahunkan, bahwa kelas tempat kami ngobrol mau dipakai untuk persentasi produk kepada agen.
Keluar dari sana saya langsung menuju tempat pelatihan Ease Your Nervouse. Sementara ibu Nelvi, Tiara dan Juwita, pulang ke tujuannya masing-masing (rumah).
Ciganjur, Rabu, 11 April 2012 
Note: Seminggu setelah terapi, saya bertemu dengan Leader mereka. Info dari beliau, alhamdulillah selesai terapi, sekarang sudah berani bertemu orang untuk prospekting.

Rahmadsyah Mind-Therapist

Rabu, 16 Mei, 2012 00:18

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar