Senin, 07 Mei 2012

KOMPETENSI & PERSONALITY MARKETER




Menyambung tulisan saya tentang 'Fenomena Market Leader dan Market Follower' salah satu member milist ini mengirimkan email kepada saya via Japri yang mempertanyakan tentang kompetensi seorang marketer dalam menghadapi persaingan di pasar yang memiliki intensitas tinggi.  Mengingat pentingnya pertanyaan ini dan keraguan akan komepetsni untuk menjawab, maka saya berinisiatif memberikan jawaban melalui milist ini, dengan harapan para praktisi dapat mengoreksi dan mengomentasi, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada rekan yang bertanya.


Pemasar juga menggambarkan personality sebuah produk.  Pemasar ’tahan bating’ selayaknya tidak hanya memiliki sebuah keahlian menjual, tapi lebih dari itu, diantaranya :
1.            Mencari fakta-fakta (riset pasar)
2.            Membuat peramalan dan penelitian (forecasting)
3.           Menjalankan perubahan-perubahan yang terjadi akibat penelitian (pengembangan poduk baru).
4.           Meyakinkan bahwa produk-produk itu adalah apa yang dikehendaki oleh pelanggan (manajemen merek).
5.           Memutuskan tentang kuantitas (penyusunan anggaran).
6.           Memutuskan dengan harga berapa barang dijual dan dengan keuntungan berapa (kebijakkan penentapan harga).
7.           Menyalurkan tempat dari pembuatan ke tempat pemakaian (distribusi).
8.           Penjualan (manajemen penjualan)
9.           Mengajak lewat komunikasi (pengiklanan).

Coba kita simak dengan seksama, tentang 10 (sepuluh prinsip-prinsip) pemasaran, yaitu :

1.      Love your customer, respect your competitor.
2.      Be sensitive to change, be ready to transform
3.      Guard your name be clear who you are
4.      Customers are divers go first to who really need you
5.      Always offer a good product at a fair price
6.      Be always available and spread the good news
7.      Get your customers and keep grow the business with them
8.      What ever your business is a service business
9.      Always refine your process in term of quality, cost and delivery
10.  Gather relevan information but make decisions bases on your wisdom

Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk menjelek-jelekan sebuah produk, apalagi produk kompetitor.  Tanda-tanda kejatuhan seorang pemasar adalah ketika dia tidak mampu menguasai knowledge dari produk yang di pasarkan, ketika dia berhasil ’menjelek-jelekan’ produk pesaing dimata konsumen, ketika dia bangga karena akan keberhasilannya memanfaatkann ’keterbatasan pengetahuan konsumen’ untuk menciptakan penjualan, danketika dia selalu fokus mengkomunikasikan kekurangan produk pesaing dibandingkan keunggulan produk yang dia jual, dan ketika dia ’mengamini’ sebuah ’fitnah’ atas sebuah produk.  Dari sisi membangun ’awareness’ pun demikian.  Akan lebih bijak jika kita menggunakan alokasi biaya promosi untuk mengkomunikasikan produk secara jujur kepada pelanggan, daripada digunakan untuk mengkomunikasikan ’aib’ produk kompetitor yang ’belum tentu benar’.  

Kalaupun hal ini merupakan sebuah kebijakkan yang harus diambil, maka ingatlah satu hal, jangan sekali-kali anda melakukan kampanye menyerang sebuah produk kompetitor, terutama ’market leader’ dengan ekuitas yang sangat terukur/teruji, sebelum anda yakin bahwa ekuitas merek yang anda jual/kelola diukur terlebih dahulu.  Karena jika hal ini anda lakukan juga, maka sungguh anda telah membuat bumerang untuk produk anda sendiri, karena anda tidak hanya akan berhadapan dengan produk leader tersebut, melainkan juga konsumennya.  Pelanggan yang loyal tentu tidak akan tinggal diam, mereka akan aktif mencari informasi tentang ’kebenaran sebuah berita’ dan ketika mereka memperoleh informasi dari pihak yang ’otoritasnya dipercaya’ seperti BPOM, maka seketika konsumen anda diakuisisi dengan sangat mudah oleh leader tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun, dan anda akan menyadari ’betapa mahalnya harga sebuah akuitas’.  Apapun yang anda lakukan untuk memperbaiki keadaan, hampir tak ada gunanya, kecuali merubah merek yang anda jadikan ikon untuk kampanye negatif tadi, memulai kembali membangun pasar yang tentunya sudah semakin padat.  Demikian pun, ekuitas anda sebagai pemasar akan turun drastis pada tingkat terendah, dan nilai anda sebagai manusia pun hampir tidak ada.

Jadilah pemasar sejati, pemasar yang tidak hanya memasarkan produk dan memabngun ekuitasnya, melainkan juga memasarkan nilai-nilai akhlak dan membangun ekuitas dirinya dan manusia-manusia lain yang menjadi pelanggan.  Sehingga semua proses berlangsung dengan tulus dan ikatan emosi yang tinggi.  jika ini terjadi maka anda tidak hanya menguasai pikiran pelanggan dan tidak hanya menguasai hati pelanggan, namun anda telah ’menguasai hidup’ pelanggan.  Anda telah menciptakan konsumen yang like the brand dan commited buyer, dimana pelanggan adalah ‘pemasar tak bergaji’ bagi produk anda, karena mereka akan merekomendasikan produk anda pada setiap orang, dan tidak ada cara paling efektif di dunia untuk meningkatkan penjualan, bahkan jika dibandingkan dengan iklan dan cara apapun dan seberapapun mahalnya, di bandingkan sebuah rekomendasi.

Demikian uraian saya, sekali lagi saya mohon maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan atas  segala ’kelalaian intelektual’ yang termaktub tulisan ini.  Saya yakin diantara komunitas terhormat ini, terdapat banyak sekali orang dengan pemahaman yang penuh kedalaman.  Paling tidak sayapun dapat belajar dari anda semua, tentang sesuatu yang selama ini yang saya pahami, dan karena keterbatasan saya sebagai manusia.

 
RKY REFRINAL PATIRADJAWANE
Praktisi Riset Pemasaran & Strategi
 
 
Minggu, 6 Mei, 2012 20:00

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar