Rabu, 16 Mei 2012

Opini & Diskusi: "Peluang Kerja Asuransi"

OPINI:

 

1.  Henry Sulistyo

DICARI yang ingin berbisnis asuransi menjadi AGENT Financial Consultant (FC) & Business Mgr (BM) YANG SIAP MENJADI KAYA!!

GENERALI-Perusahaan Asuransi terbesar di dunia dari Italy, berdiri sejak 1831 sangat terkenal di Eropa karena produk asuransinya yang dahsyat termasuk system proteksi investasinya dengan metode ARMS(Auto Risk Management System) dimana merupakan produk satu-satunya yang dipatenkan untuk 20thn!!



Generali juga banyak menjadi sponsor utama berbagai event Olah Raga bergengsi di Dunia!  Didukung RBC (Risk Basic Capital) 577%, Artinya GENERALI punya kemampuan membayar klaim nasabah 5x lebih besar dr UP nya.

Mengundang Calon Mitra Bisnis Agent FC dan BM yang bergabung KHUSUS sebelum tgl 15 Mei 2012 ini, mendapat income tetap Rp. 8jt/bln (FC) dan Rp. 12jt/bln (BM) !! Selama 2thn!!

Di Company mana ada Agent dapat fix income,  & produknya sangat menjual KECUALI hanya ada satu2nya di GENERALI ???!

Selain itu Agent mendapatkan:
•Komisi + bonus
•Royalti hingga 5 generasi
•Trip jalan2 ke luar negeri
•Pensiun di thn ke 7 dgn passive income   yg terus bertambah SEUMUR HIDUP & dapat diwariskan.

*Bukan hanya Isapan Jempol karena Semua ada dlm kontrak perjanjian !!

Terima kasih.
Salam Sukses

Henry Sulistyo
Jumat, 11 Mei, 2012 07:00
============= =====

DISKUSI:


2.  M Yanto:


Jng2 rbc sebangun dng liability to asset ratio artinya asset perusahaan hanya 1/5 dari kewajiban artinya rbc makin tinggi justru kemampuan bayar klaim makin rendah. Uang premi dan investasi bagian terbesar unt penghasilan agent yg aduhai dan promosi.
Jadi mirip MLM yg untung yg duluan daftar, yg blakangan bakal sedih karena claimnya macet atau seret. Atau jebakan di kontrak nya yg hrs diwaspadai, dng pasal yg banyak, tulisan kecil2 membuat nasabah menyandarkan keterangan dari agent saja dan berbuah kecewa waktu ajukan claim. Bakrie life dah bangkrut lha kalau dari luar negeri kan lebih sulit melacaknya. Eropa kan sedang krisis berat skarang.
Alternatif nabung dan pola hidup sehat lebih pasti dibandinghan asuransi. Kalau sakit berat, ya pasrah saja tdk perlu ngotot berobat dng korbankan bekal hidup anak cucu.
korupsi pergi, makmurlah ini negeri

Jumat, 11 Mei, 2012 20:39
================ ===

3.  Nurmansjah Soleiman


Dear Pak Henry Sulistyo,

Saya sudah pernah mengomentari tulisan Anda yang senada dengan tulisan yang baru ini, namun nampaknya Anda membacanya.

Saya sangat berharap agar Anda meralat tulisan Anda, karena sayang sekali jika pelaku profesi bidang asuransi yang seharusnya memperoleh kepercayaan tinggi dari masyarakat, justru memberikan informasi yang tidak benar.


"Interpretasi" Anda atas "RBC" yang Anda tulis sebagai berikut:

" Didukung RBC (Risk Basic Capital) 577%, Artinya GENERALI punya kemampuan membayar klaim nasabah 5x lebih besar dr UP nya."


Silakan di-check kembali kepada para petinggi di kantor Anda.

Di dunia ini tidak ada satu pun perusahaan asuransi jiwa maupun perusahaan re-asuransi yang mampu membayarkan klaim jika semua nasabahnya mengajukan klaim pada satu jangka waktu yang sama.


Terima kasih.

Nurmansjah Soleiman


Life is NOT a game... No chance for put another coin in!
Jumat, 11 Mei, 2012 15:36
=================== ===================

4.  laurensius_handoko:


ear Pak Nur,

Sepengetahuan saya setelah belajar LOMA, RBC memang dihitung berdasarkan kemampuan perusahaan asuransi dalam membayar klaim..

Jadi, setiap nasabah yang masuk, memang sudah disediakan dananya (likuid) jika akan klaim sewaktu-waktu.

Secara teori, jika mmg RBCnya 500%, maka perusahaan itu mampu membayar 5 kali jumlah UP seorang nasabah yg masuk (dengan catatan keuangan perusahaan tetap likuid).

Nah, mungkin, yg perlu diperhatikan adalah pembuatan laporan RBCnya...
Apakah benar asset perusahaan tsb 500% lebih tinggi dari liabilitasnya?
Jika memang dibuat secara jujur, apa yg disampaikan Bpk Henry memang benar..

So, yg penting kredibilitas perusahaannya teruji..

Salam,
Hans
Jumat, 11 Mei, 2012 21:34
============== ===

5.  Elia:


Kalo boleh urun rembug soal RBC, mungkin penjelasan diarahkan secara total , tidak diarahkan ke perorangan nasabah.. Karena pembayaran UP tentunya sudah tercantum pada polis" yang telah disepakati..

RBC (Risk Based Capital) boleh saya contohnya sebagai berikut :
Perusahaan A memiliki sekian nasabah, yang mana total UP nasabah misal 5M, apabila RBC = 500% berarti perusahaan A memiliki dana sebesar 25M, sehingga bila seandainya semua nasabah melakukan klaim secara bersamaan, perusahaan A masih memiliki devisa sebesar 20M alias perusahaan A punnya dana yang amat cukup jika terjadi klaim bersamaan.

Namun yang perlu ditekankan pula RBC terlalu besar juga tidak efektif, alias banyak dana yang nganggur..

Moga dapat membantu

GBU
Elia
Jumat, 11 Mei, 2012 23:13
=============== ===

6.  Nurmansjah Soleiman:


[Mohon maaf atas keterlambatan tanggapan saya]

Dear Pak Henry, Ibu Elia, Bp. Hans, Bp. M.Yanto dan para manager lainnya,

Mohon maaf jika menyinggung, tetapi pendapat-pendapat di bawah ini sangat salah.

Berikut saya rekap dan saya tanggapi:

1. Bp. Henry Sulistyo:
"Didukung RBC (Risk Basic Capital) 577%, Artinya GENERALI punya kemampuan membayar klaim nasabah 5x lebih besar dr UP nya."

2. Bp./Ibu Elia:
"RBC (Risk Based Capital) boleh saya contohnya sebagai berikut :
Perusahaan A memiliki sekian nasabah, yang mana total UP nasabah misal 5M, apabila RBC = 500% berarti perusahaan A memiliki dana sebesar 25M, sehingga bila seandainya semua nasabah melakukan klaim secara bersamaan, perusahaan A masih memiliki devisa sebesar 20M alias perusahaan A punnya dana yang amat cukup jika terjadi klaim bersamaan."

3. Bp. Hans:
"RBC memang dihitung berdasarkan kemampuan perusahaan asuransi dalam membayar klaim..

Jadi, setiap nasabah yang masuk, memang sudah disediakan dananya (likuid) jika akan klaim sewaktu-waktu.

Secara teori, jika mmg RBCnya 500%, maka perusahaan itu mampu membayar 5 kali jumlah UP seorang nasabah yg masuk (dengan catatan keuangan perusahaan tetap likuid).

Nah, mungkin, yg perlu diperhatikan adalah pembuatan laporan RBCnya...
Apakah benar asset perusahaan tsb 500% lebih tinggi dari liabilitasnya?
Jika memang dibuat secara jujur, apa yg disampaikan Bpk Henry memang benar..

4. Bp. M. Yanto:
a - "Jng2 rbc sebangun dng liability to asset ratio artinya asset perusahaan hanya 1/5 dari kewajiban artinya rbc makin tinggi justru kemampuan bayar klaim makin rendah."

[Poin-poin 4b-4c-4d-4e akan saya kutip di bagian bawah.]
------------------------------

Tanggapan saya untuk poin nomor 1, 2, 3, dan 4a:

Memang adalah cukup umum di Indonesia, u' menyederhanakan penjelasan arti RBC dikatakan / di-interpretasikan seperti yang tertulis demikian, bahwa RBC 500% berarti adalah kemampuan perusahaan membayarkan 5 kali lipat kewajibannya.
Masalahnya, kewajiban di sini kemudian disalah artikan sebagai memiliki dana 5 x lipat dari total Uang Pertanggungan seluruh polis yang diterbitkan perusahaan.

Hal ini tidak masuk logika (coba hitung berapa UP polis2 yang sudah dikeluarkan perusahaan Anda dan berapa jumlah asset perusahaan), dan interpretasi ini memang tidaklah benar, namun tidaklah berarti jadi masyarakat peserta asuransi jiwa di Indonesia menjadi tidak aman sebagaimana yang disampaikan Bp. M. Yanto (poin 4b-c-d-e, yg nanti saya akan bahas khusus setelah poin 1-2-3).

RBC minimum yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar 120% sudah sangat memadai untuk melindungi nasabah asuransi jiwa di Indonesia; karena Risk Base Capital / RBC ini sebenarnya merupakan batas solvabilitas minimum , yang jumlahnya (cara perhitungannya) ditetapkan oleh pemerintah sebesar jumlah dana yang dibutuhkan untuk menutup risiko kerugian yang timbul akibat deviasi pengelolaan kekayaan dan kewajiban.

Penetapan (rumus/cara perhitungan) ini sudah mencakup/memperhitungkan antara lain: risiko-risiko kegagalan pengelolaan aset, cashflow antara long term liability dengan aset yg ada (termasuk juga porsi klaim: asumsi vs aktual), risiko reasuransi, deviasi perhitungan (aktuaria) dengan aktual, deviasi bunga (asumsi vs aktual).

Jadi sekali lagi, yang dimaksudkan "kewajiban" perusahaan asuransi dalam kaitan dengan angka RBC ini bukanlah jumlah total Uang Pertanggungan yang ditanggung oleh perusahaan asuransi, melainkan jumlah kewajiban perusahaan sesuai yang ditetapkan oleh pemerintah.

---------------------

Tanggapan saya untuk poin nomor 4b-4c-4d-4e:


4b - "Uang premi dan investasi bagian terbesar unt penghasilan agent yg aduhai dan promosi."

Tidak benar kalau bagian terbesar uang premi dan investasi adalah untuk penghasilan agen.

Produk asuransi jiwa adalah produk jangka panjang.

Seorang agen bertugas selama polis masih berlaku... Seringkali seumur hidup nasabah. Seorang nasabah berhak mendapatkan pelayanan agen selama polisnya masih berlaku.

Jadi, jika kita membandingkan total premi yang dibayarkan oleh seorang nasabah sepanjang masa perlindungannya dengan total komisi yang diperoleh seorang agen (umumnya besar di 2 tahun pertama, kemudian kecil di tahun ke 3-4-5 lalu nol di tahun ke 6 dst.) maka jelaslah pendapat bahwa bagian terbesar uang premi dan investasi adalah untuk penghasilan agen, tidaklah benar.

Jika Anda menemukan ada agen atau para agen yang hidupnya berkelimpahan, itu bukanlah karena poin 4b dari bp. M. Yanto, melainkan karena ia telah bekerja keras dengan tekun dan smart sehingga membuahkan hasil yang baik, sama seperti banyak profesi lainnya juga.


c - "Jadi mirip MLM yg untung yg duluan daftar, yg blakangan bakal sedih karena claimnya macet atau seret."

Asuransi tidaklah sama, bahkan sangat berbeda dengan MLM, baik MLM yang benar2 MLM apalagi dengan yg binari/Ponzi scheme. Tidak ada prinsip yang duluan daftar yang untung; apalagi jika dikatakan yang belakangan bakal sedih.

Setiap peserta / nasabah asuransi akan terlindungi sesuai ketentuan program yang diikutinya selama polis masih berlaku, tidak tergantung masuk lebih dulu atau belakangan. Keluar nya klaim bukan berdasarkan first in first out.

Yang jelas memulai program asuransi pada usia yang lebih muda dan MASIH SEHAT, akan lebih menguntungkan.

Perlu menjadi catatan pula, bahwa mengikuti program asuransi adalah salah satu bentuk pengelolaan risiko hidup dengan cara yang paling terjamin. Jika ada seseorang yang beranggapan bahwa dirinya tidak memiliki risiko-risiko kehidupan seperti sakit, kecelakaan, cacat tetap, meninggal dunia di saat masih menanggung biaya hidup orang lain, malas menabung, dll., maka ia tidak membutuhkan asuransi.


d - "Bakrie life dah bangkrut lha kalau dari luar negeri kan lebih sulit melacaknya. Eropa kan sedang krisis berat skarang."

Bakrie Life bangkrut karena salah pengelolaan dan adanya pembiaran atas kesalahan tersebut.

Perusahaan asuransi multinasional biasanya lebih patuh (comply) pada aturan2 yang ketat, bukan saja pada aturan yg berlaku di Indonesia, tetapi juga pada aturan2 yang berlaku di negara asal perusahaan induknya, yg biasanya malah lebih ketat lagi.


e - "Alternatif nabung dan pola hidup sehat lebih pasti dibandinghan asuransi. Kalau sakit berat, ya pasrah saja tdk perlu ngotot berobat dng korbankan bekal hidup anak cucu."


Mohon maaf, pendapat ini juga menurut saya tidak tepat.

Pengalaman pribadi saya, sikap "pasrah saja tidak perlu ngotot berobat" lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Jika masih memiliki aset, kecenderungannya aset akan dikorbankan demi kesehatan, dan seringkali hal ini bukanlah menjadi keputusan dari si orang yang sakit tersebut.

Jika sakit/meninggal dunia ini menimpa pencari nafkah utama (bread winner) di masa usia produktif nya, maka justru dengan  tidak memiliki asuransi berarti akan mengorbankan bekal hidup anak cucu karena ada potensi ekonomi yang menjadi tidak terkumpul akibat sakit atau meninggalnya tiang keluarga.

Saya setuju dengan kebiasaan menabung, tetapi menabung dengan disiplin sangat sulit sekali. Mengikuti program asuransi membantu mendisiplinkan kebiasaan menabung.

Saya setuju juga dengan pola hidup sehat, tetapi saya tidak setuju kalau dikatakan memiliki pola hidup sehat lebih pasti dibandingkan asuransi.

Kenyataan yang ada menunjukkan cukup banyak contoh orang-orang yang memiliki pola hidup sehat ternyata terkena penyakit kritis atau memiliki umur yang lebih pendek dari orang yang tidak memiliki pola hidup sehat (merokok misalnya).

Siapakah yang bisa memberikan "kontrak jaminan" jika kita hidup seturut pola hidup sehat maka kita akan hidup hingga akhir mproduktif kita tanpa pernah dirawat di rumah sakit, baik karena hal sepele (c: usus buntu, dbd, thypus, dll), kecelakaan, atau tanpa pernah menderita penyakit kritis / terminal illness sama sekali ?

Asuransi juga tidak bisa, tetapi asuransi bisa memastikan / menjamin tersedianya biaya sampai jumlah tertentu bagi orang-orang yang mengikuti program asuransi dengan sadar dan benar.


Salam,

Nurmansjah Soleiman


Life is NOT a game... No chance for put another coin in!
Senin, 14 Mei, 2012 21:41
============== ===

7.  Sugeng Triyono:


Just presumption.

Bila RBC mencapai 500 persen, berarti margin keuntungan perusahaan asuransi terlalu besar.

Musti ada yang menaggung derita bila ada salah satu pihak memiliki keuntungan yang sangat besar.

Should everything go on equilibrium.

Regard
Sugeng.
Senin, 14 Mei, 2012 22:01
=============== ==

8.  laurensius_handoko:


oo... Pak Nur,

Terima kasih penjelasannya..
Mohon maaf kalo penjelasan saya mengenai RBC sifatnya kasar...

Maklum masih belajar.
Jadi, demikianlah adanya, RBC dihitung bukan hanya dari likuiditas finansial sebuah perusahaan, tapi lebih kepada proyeksi kemampuan finansial perusahaan untuk memenuhi kewajiban liabilistasnya...

Kesimpulan sederhananya: hati hati saat menulis iklan :ttg asuransi )


Salam,
Hans 
Selasa, 15 Mei, 2012 00:54
=============== ===

9.  Freddy Pieloor:


Dear All,
Saya lampirkan link terkait peraturan pemerintah terkait Solvabilitas.
Semoga bermanfaat dan menjadi referensi bagi setiap pelaku dan praktisi asuransi.
Salam,
Freddy Pieloor
Praktisi asuransi sejak 1987
---------------------------------------
Solvabilitas perusahaan perasuransian, sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 63
tahun 1999, dijelaskan:
Pasal 11
ayat 2. Tingkat Solvabilitas merupakan selisih antara jumlah kekayaan yang diperkenankan dan kewajiban.
PMK terbaru tahun 2012

Selasa, 15 Mei, 2012 02:58
=============== ===

10.  Nurmansjah Soleiman:


Dear Pak Sugeng,

Perusahaan asuransi yang masih merugi pun bisa saja memiliki RBC yang besar, jadi tidak ada keterkaitan secara langsung antara RBC dengan keuntungan perusahaan asuransi jiwa yang terlalu besar atau terlalu kecil.

Terima kasih.

Salam,

Nurmansjah Soleiman


* terima kasih juga kepada Pak Freddy Pieloor yang telah memberikan link terkait.


Life is NOT a game... No chance for put another coin in!
Selasa, 15 Mei, 2012 06:44
============== ===

11.  Sugeng Triyono:

Yth. Pak Nurmansjah Soleiman

Mohon maaf agak kurang paham mekanisme alur berpikirnya, kecuali perusahaan asuransi yang bapak maksudkan baru saja berdiri, sehingga modal kerja di alokasikan sebagai cadangan bila terjadi claim.

Untuk model bisnis pada umumnya yang sudah mapan, apalagi bisnis asuransi yang di dasarkan pada ilmu statistik, maka aset to liability ratio yang sangat besar mengindikasikan margin yang sangat besar juga.

Terima kasih
Sugeng.
Selasa, 15 Mei, 2012 07:38
=============== ===

12.  Nurmansjah Soleiman:


Dear Pak Sugeng,

Angka perhitungan RBC tidak semata-mata hanya berdasarkan kemampuan membayar klaim, namun memuat banyak faktor di dalamnya.

Yang saya maksud dalam tulisan saya sebelumnya, adalah bahwa RBC besar bukan otomatis menunjukkan margin yang besar, dan RBC kecil juga tidak otomatis menunjukkan margin yang kecil.

Terus terang saya bukanlah orang finance, dan tidak memiliki latar belakang finance. Latar belakang saya adalah teknik.  Tetapi karena memang saya selama beberappa tahun terakhir memang bekerja di bidang asuransi, maka saya berusaha mengetahui beberapa hal saja tentang asuransi yang saya geluti.

Jawaban saya mengenai margin, lebih mengarah kepada satu aspek pernyataan Bapak sebelumnya bahwa "Bila RBC mencapai 500 persen, berarti margin keuntungan perusahaan asuransi TERLALU  besar."

Ada perbedaan arti yang mendasar antara "sangat besar" dan "terlalu besar".

Apakah yang menjadi dasar kita menilai suatu margin usaha terlalu besar atau terlalu kecil?

Apalagi dilanjutkan dengan pernyataan: "Musti ada yang menanggung derita bila ada salah satu pihak memiliki keuntungan yang sangat besar." yang menurut saya adalah tidak benar.


Demikian.

Terima kasih.

Salam,

Nurmansjah Soleiman

Life is NOT a game... No chance for put another coin in!
Selasa, 15 Mei, 2012 08:53
================ ==

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar