Minggu, 20 Mei 2012

Natin Bahagia Karena Berkontribusi




Ada berita yang mengejutkan.
Salah seorang pegawai senior. Tiba-tiba saja mengundurkan diri. Beliau bukan sekedar karyawan senior. Tetapi juga manager yang sudah bekerja selama belasan tahun di perusahaan. Ada juga sih kabar yang menyebutkan kalau beliau itu diberhentikan. Tapi. Perasaan kok nggak ada hujan, nggak ada angin. Tiba-tiba saja kejadian seperti itu. Sepertinya ada apa-apanya.
 
Kalau dipikir-pikir. Gelagatnya memang sudah kerasa sejak lama. Pada awalnya beliau karyawan yang terkenal rajin. Namun entah kenapa. Sejak hampir setahun ini beliau terlihat seperti tidak lagi bergairah bekerja disana. Nggak ada yang mengetahui penyebabnya secara pasti.
 
Hanya saja memang pernah ada rumor yang cukup santer. Katanya memang belaiu itu sedang ‘dilucuti’. Emang sih. Beberapa wewenangnya dikurangi. Bahkan selama 6 bulan terakhir ini beliau tidak lagi memiliki anak buah. Padahal, sebelumnya. Ada ratusan orang yang berada dibawah tampuk kepemimpinannya.
 
Meskipun begitu, titel beliau tetap saja sebagai Manager. Mendapatkan fasilitas yang menarik seperti mobil maupun ruang kerja sendiri. Pokoknya, kayaknya sih nggak ada yang berkurang deh selain porsi pekerjaannya yang semakin ringan. Buat sebagian orang, beliau itu enak banget. Ibarat kata; “kerjaannya cuman gitu-gitu aja. Tapi dapat bayaran yang gede.”
 
Kadang suka ada juga yang menggunjingkan segala. Tapi…, biasalah. Namanya juga menggunjing. Ya pastinya dilakukan dibelakang dong. Nggak ada yang berani ngomong didepannya. Apa lagi kepada orang yang sudah senior begitu. Baik umurnya. Masa kerjanya. Maupun tingkat jabatannya.
 
Kata orang sih. Ya hanya kata orang. Soalnya kebanyakan orang di kubikal yang masih relatif muda-muda tidak benar-benar mengenal latar belakang dan masa lalu beliau. Kata orang. Beliau itu dulunya adalah pemimpin yang sangat disegani. Bahkan sebelum menjadi manager, beliau adalah staff yang punya dedikasi dan prestasi tinggi.
 
Sekarang sih, hampir tidak kelihatan bekas-bekasnya lagi. Sepertinya beliau sudah kehilangan semangat kerja. Dan nggak ada lagi yang bisa diteladani. Setiap hari datang ke kantor selalu kesiangan. Masuk ke ruangannya. Membaca koran. Pergi keluar di jam makan siang. Jam dua balik lagi. Eh, jam empat. Sudah pulang.
 
Makanya, nggak heran juga kalau banyak yang iri.
Disaat semua orang terus didorong untuk beprestasi. Eh, ada pegawai senior yang berlaku seperti itu tapi nggak diapa-apain. Sebel kan? Awalnya sih iya. Sebel. Tapi. Setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Atau… minimal memperhatikan beliau. Semuanya itu malah berubah menjadi belas kasihan.
 
“Elo bayangin aja sendiri,” begitu kata Aiti. “Seandainya elo yang mengalami hal seperti itu. Pasti nggak enak juga, dong.”
“Nggak juga. Gue sih enak-enak aja. Kerja dikit. Dibayar gede,” ceplos Opri. Biasa. Sekenanya aja sih kalau dia ngomong.
 
“Iya, kalau elo cuman mikirin duitnya aja.” Balas Aiti. “Coba kalau elo punya harga diri?”
 
“He-emh…, kalau gue sih ogah kayak gitu,” timpal Fiancy.
 
“Ya, terserah elo pade dong kalau nggak mau gitu. Gue sih asyik-asyik aja kali.” Sanggah Opri.
 
“Emang elo mau digaji gede tapi nggak dihargai orang?” Selidik Aiti.
 
“Ya kalau nggak ada pilian lain, gimana?” Kata Opri sambil mengangkat bahu. “Ya gue tutup mata aja kali.”
 
“Kayaknya elo belum ngerti kondisinya Pri.” Sekris nimbrung. “Elo bisa bilang begitu karena selain gaji elo masih kecil. Ya elo juga belon ngerasain gimana enaknya jadi boss.”
 
“Iya. Coba elo pernah ngerasain gimana dihormati orang.” Jeanice ikutan mengeroyok. “Punya anak buah ratusan yang mau nurut sama elo. Terus tiba-tiba aja elo kehilangan semua itu, baru tahu rasanya lo…”
 
“Iya, iya. Gue ngerti, ah. Bawel amat sih orang-orang ini!” hardik Opri. Begitulah kalau sudah tersudut. Seperti guguk.
 
“Yeeeee.., elo tuch yang bawel,” balas Aiti. “Dari tadi dikasih tahu kok malah ngeyel aja.”
 
“Yeeeee…, kenape elo malah marah-marah sama guuuue!?” Opri tambah sewot. “Emangnya salah kalau gue punya prinsip kayak gitu? Gue kan nggak ngerugiin orang lain.”
 
“Uda ah… kok jadi ribut kayak gini….” Jeanice menengahi.
“Elo juga tadi ikut-ikutan mojokin gue,” sekarang Opri balik menghardik Jeanice.
 
“Yaaaa, kan udah gue bilang udah…” kata Jeanice. Dia mengangkat tangan kanannya dengan telunjuk dan jari tengah mengacung. “Peace…oke…?”
Susah sekali untuk ngeyel dihadapan orang yang mengajak berdamai. Akhirnya Opri menyerah juga. Nggak ada lagi alasan yang dimilikinya untuk terus memperpanjang perdebatan nggak mutu itu. Sebenarnya mutu juga sih. Soalnya. Dari obrolan kecil seperti itu kita bisa belajar hal-hal yang penting juga.
 
Seperti halnya karyawan senior yang akhirnya mengundurkan diri itu. Semua orang tahu kalau beliau tidak lagi happy berada di kantor. Meskipun tidak di PHK. Gaji dan fasilitasnya juga nggak dikurangi. Tapi. Kelihatan sekali jika beliau tersiksa berada pada situasi yang nggak jelas seperti itu. Seperti cinta yang menggantung. Diterima nggak. Ditolak juga nggak. Nyesek, kan?
 
Selagi merumpi seru itu. Tiba-tiba saja ada kapal-kapalan dari kertas yang terbang. Melayang-layang kesana kemari. Meliuk-liuk. Naik. Turun. Naik lagi. Lalu turun lagi. Terus muter beberapa kali diseantero kubikal. Gerakannya menarik perhatian semua orang di kubikal.
 
“Siapa sih orang yang iseng main kapal-kapalan gini hari?” begitu protes orang-orang.
“Pemborosan kertas, tauk!” kata yang lainnya.
 
Seperti sengaja memanas-manasi orang-orang. Eh, kapal-kapalan itu malah muter-muter diatas kepala mereka. Setelah muter dua kali, barulah dia turun. Tepat diatas meja orang-orang yang sedang pada ngerumpi itu.
 
Karena itu adalah kubikalnya Opri. Maka dialah yang punya hak untuk mengambil pesawat terbang dari kertas itu.
 
“Keren juga nih terbangnya,” begitu kata Opri ketika tangannya berhasil meraih pesawat itu. “Hah!” begitu bunyi dari mulutnya saat dia meniup moncong pesawat. Lalu dia bersiap-siap untuk melemparkannya kembali ke udara…..
 
“E tunggu, tunggu, tunggu.” Gerakan tangan Opri langsung terhenti oleh teriakan orang-orang itu.
 
“Paaa-an sih?!” katanya. “Ini kan bukan gue yang ngeborosin kertas.”
 
“Pri. Coba elo perhatiin dulu. Ada tulisan apaan tuch?”
 
Opri baru menyadari jika pesawat itu sengaja dikirim seseorang untuk menyampaikan suatu pesan. Jelas sekali tertulis pesannya disana. Mereka segera menyadari siapa yang membuat dan menerbangkan pesawat itu.
 
KITA BERBAHAGIA KARENA BISA BERKONTRIBUSI
BUKAN KARENA GAJI YANG KITA DAPATKAN
 
Semua orang saling pandang begitu membaca pesan yang tertulis di kertas itu.
“Tahu aja ya si Natin,” kata Opri.
“Iya nih. Dasar tukang nguping,” kata Fiancy.
“Tumben elo ikutan mencela Natin, Fi…” goda Opri. “Biasanya kan elo yang paling ngefans….
 
Fiancy hampir aja melemparkan kotak tissue kepada Opri kalau saja teman-teman yang lainnya nggak buru-buru megangin dia. Pipinya jelas sekali kelihatan merah merona….
 
Keadaan segera mereda begitu mereka kembali fokus kepada rumpian yang sedari tadi membuat mereka mengerumun disitu.
 
Meskipun nggak ada orang yang mau kerja kalau nggak digaji. Tapi. Boleh jadi emang benar yang dikatakan oleh Natin. Kita berbahagia karena bisa berkontribusi. Bukan karena gaji yang kita dapatkan.
 
Misalnya karyawan senior itu. Dulu. Ketika tugasnya banyak sekali. Beliau dikenal orang sebagai karyawan teladan. Dan pemimpin yang hebat. Tapi setelah beliau digrounded. Kelihatan sekali jika beliau seolah kehilangan arah.
 
Bener kok. Kita bahagia itu karena bisa berkontribusi. Bukan karena gaji yang kita terima. Emang sih. Siapa yang ngga seneng kalau terima gaji. Kita bahagia sekali rasanya. Setiap kali tiba tanggal 25. Langsung lari ke ATM. Lihat saldonya. Transfer kesana sini. Tarik beberapa lembar. Habis itu. Berakhir deh kebahagiaan kita. Paling awet juga cuman sampai tanggal 10 aja. Setelah itu. Kita manyun lagi deh sampai tanggal 25 berikutnya datang lagi.
 
Sekarang. Coba ingat-ingat lagi kalau kita sudah melakukan sesuatu untuk orang lain. Kontribusi sekecil apapun. Dalam bentuk apapun deh. Pokoknya. Sesuatu yang kita lakukan untuk kebahagiaan orang lain. Atau prestasi yang kita buat di tempat kerja. Inget-inget lagi bagaimana bangga dan bahagianya kita saat itu.
 
Waktu kita bisa menolong orang lain. Waktu kita meredakan kesedihan orang lain. Apapun deh. Orang lain pastinya ngerasa seneng dong. Tapi. Yang paling seneng kan kita, sebenarnya. Kita bahagia. Karena sudah bisa berkontribusi bagi orang lain. Makanya. Bisa jadi kita masih bisa merasakan kebahagiaan dihati kita. Atas kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain bertahun-tahun yang lalu. Kita inget sudah menolong seseorang. Dan kita inget. Gimana rasa bahagia itu bersemayam didalam dada.
 
Begitu juga kalau kita yang ditolong orang lain. Kita ingat terus sama orang-orang yang sudah berbuat baik pada kita. Dan kita. Memperlakukan mereka dengan baik. Kita ramah kepada mereka. Kita respek kepada mereka. Karena kebaikan mereka pada kita. Makanya. Mereka juga senang bergaul dengan kita. Sebaliknya. Orang lain pun mempunya rasa hormat dan sayang yang sama pada kita. Jika kita bisa berkontribusi pada mereka.
 
Kejadian yang menimpa karyawan senior itu memberikan palajaran berharga kepada orang-orang di kubikal. Banyak banget pelajarannya. Misalnya. Memang jabatan itu tidak ada yang abadi. Sekarang jadi pejabat. Belum tentu nanti. Dulu berkuasa  sekali. Sekarang tidak berdaya sama sekali. Oh…., betapa relatifnya hidup.
Terlebih lagi soal kebahagiaan itu.
Sebelum pesawat kertas itu mendarat di meja Opri. Semua orang mengira jika sudah digaji tinggi. Dan dikasih fasilitas mewah, seorang karyawan bisa otomatis berbahagia? Ternyata nggak. Malah mereka yang dibayar mahal banyak yang setres juga kok. Ada yang asem terus mukanya kalau ke kantor.
 
Ada yang amburadul kehidupan pribadinya. Ada yang galak kepada anak buahnya, tapi takut banget sama istrinya. Ada yang dikejar-kejar oleh tukang tagih kartu kredit pula. Ada yang disita rumah mewahnya sama bank. Ah, pokoknya macam-macam deh.
 
Kayaknya. Emang bener apa yang Natin katakan. Kita. Bahagia bukan karena gaji yang kita terima. Melainkan karena kontribusi yang bisa kita berikan.
 
Nggak salah sih kalau kita kerja mengejar gaji atau fasilitas dan bonus apapun. Tapi. Jangan sampai kita hanya bisa mendapatkan semua ukuran material yang pasti akan cepet habis itu. Gaji dan bonus yang kita dapatkan kan pasti habis. Kenyataannya memang begitu kok. Soalnya, gaji kita kan pas. Iya nggak? Pas tanggal 15 habis…hehe…
 
Tapi pujian dari teman-teman atas prestasi-prestasi kita. Abadi. Tepukan di bahu dari atasan yang puas dengan pekerjan kita. Lestari. Ucapan terimakasih dari klein-klien kita. Tak pernah luntur. Ada terus didalam hati kita. Dan semuanya itu. Membuat diri kita benar-benar merasa bahagia.
 
“Ini sudah tanggal berapa ya?” seseorang nyeletuk dari belakang. Kayaknya nggak nyambung dengan topik pembicaraan. Mungkin orang itu sedang sibuk sekali. Jadi perlu juga dong dikasih tahu tanggal berapa hari ini.
 
“Ini tanggal 14 Pak….” Jawab orang-orang di kubikal serempak.
“Lho, kok kamu yang jawab sih?” balas Pak Mergy. Beliau berhenti. Lalu membalikkan badannya kearah orang-orang.
 
Nah lho. Sekarang semua orang jadi pada bingung.
“Loh, bukannya tadi Bapak yang bertanya?” kata Sekris.
“Iyya, tapi saya hanya bertanya kepada diri sendiri.” Jawab Pak Mergy. “Siapa yang nanya sama kalian?”
 
“Yaaah, Bapak. Kalau bertanya sama diri sendiri ya jangan sampai kedengeran sama orang lain dong Pak….” Goda Opri. “Entar dikira…”
“Maksud kamu, saya udah gila, heh?” mata Pak Mergy melotot.
“Mmh… b-bukan Pak, bukan…” Opri gugup. “Maksud saya… nanti Bapak dikira orang lain sedang nungguin tanggal 25….” Katanya. Sekalian ngeles.
 
“Lho, kok kamu tahu sih….?” Pak Mergy berkata begitu sampai menunjukkan muka bengong.
 
Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..
 
Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa setiap orang membutuhkan kebahagiaan dalam bekerja. Dan kebahagiaan itu. Ternyata tidak terletak pada gaji dan fasilitas material yang kita terima. Karena ternyata. Kebahagiaan yang sesungguhnya itu kita dapatkan dari apa yang bisa kita kontribusikan. Ketika kita bisa berkontribusi tinggi. Maka perusahaan juga menghargai kita tinggi. Mungkin perusahaan nambahin gaji kita, karena prestasi tinggi kita itu. Mungkin juga gaji kita normal-normal aja. Tapi apapun itu. Kita tetap saja merasa bahagia sekali. Setiap kali kita berhasil memberikan kontribusi yang tinggi. Apakah kepada orang-orang yang berada di kantor kita. Atau kepada perusahaan yang mempekerjakan kita. Apa lagi jika kita meniatkan semua kontribusi itu sebagai ibadah ya. Pastinya. Selain bahagia didunia. Kita bisa berharap untuk juga bahagia di akhirat. Bukankah kita selalu meminta kepada Tuhan agar bahagia didunia dan diakhirat? Jika kita rajin berkontribusi. Insya Allah, terlaksana deh.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DeKa – Dadang Kadarusman – 14 Mei 2012

Catatan Kaki:
Bukan pendapatan atau imbalan yang membuat kita meraih kebahagiaan hakiki. Melainkan kontribusi yang kita berikan yang meninggikan nilai diri kita.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya. 

Senin, 14 Mei, 2012 02:08

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar