Kamis, 03 Mei 2012

Natin Bekerja Sepenuh Hati


Oleh:  Dadang Kadarusman

Akhirnya…
Semua persiapan sudah selesai. Pengeras suara. LCD projector. Sofa. Meja dengan vas bunga yang cantik. Dan backdrop. Semuanya sudah siap. Sekarang semua panitia bisa bernafas lega. Sekalipun didalam dada masih ada deg-degan yang tak bisa hilang.
 
Para peserta sudah duduk rapi di kursinya masing-masing. Sepuluh menit lagi, tamu istimewa itu datang. Pemilik utama perusahaan. Beliau adalah sang pendiri yang membangun perusahaan ini dari nol. Hingga menjadi group sebesar seperti saat ini.
 
Diusianya yang sudah tidak muda lagi. Beliau senantiasa menyempatkan diri untuk mengunjungi kantor-kantor. Lalu berdialog dengan para karyawan secara langsung. Di forum ini siapapun boleh bertanya. Hebatnya lagi. Tidak ada pertanyaan yang diatur. Disensor. Atau pun dihalang-halangi.
 
Makanya, pertanyaan boleh dilontarkan apa adanya. Dan founding father, selalu dengan senang menjelaskannya. Tubuh beliau sudah tidak sekokoh dulu lagi. Namun semangat beliau tidak berkurang sama sekali. Itulah yang dirasakan oleh semua orang yang hadir di town hall meeting itu.
 
Membayangkan betapa beratnya ketika beliau memulai bisnis itu 40 tahun yang lalu. Bukan uang yang menjadi modal utama beliau. Melainkan kegigihan dalam bekerja. Komitmen dan kerja keras khususnya ketika melewati beberapa kali krisis ekonomi.
 
Setiap kali bertemu dengan beliau. Setiap orang selalu bertanya-tanya didalam hatinya; “Bisakah saya menjadi orang sukses seperti beliau…..”
 
Sekarang. Perusahaan sudah tidak lagi hanya dimiliki oleh keluarga. Karena sebagian sahamnya sudah diperdagangkan di bursa efek sehingga siapapun bisa memilikinya. Namun kehadiran founding father selalu memberikan energy dan motivasi yang tidak ternilai harganya. Meskipun hanya 1 jam saja. Namun dampaknya membekas sangat dalam.
 
Setelah acara dialog itu selesai, beliau meninggalkan ruangan townhall meeting. Maklum. Orang penting memiliki agenda-agenda penting.
 
Semua orang pun kembali ke kubikalnya masing-masing. Dan ketika mereka tiba di kubikal….. Ternyata di setiap meja sudah disediakan sebuah hadiah istimewa.
 
Bungkusan plastik transparan berisi kue coklat berbentuk hati. Dan dibagian atas kue itu ada dua baris kalimat seperti di ukir. Kalimat di bagian atas dibuat dari adonan gula berwarna merah berbunyi begini: Bekerjalah dengan sepenuh hati
 
Sedangkan kalimat yang bawahnya dibuat dengan adonan gula berwarna putih: Karena engkau adalah calon pemimpin masa depan.
 
Kalau digabungkan. Kedua kalimat itu menjadi begini:
 
BEKERJALAH DENGAN SEPENUH HATI
KARENA ENGKAU ADALAH PEMIMPIN MASA DEPAN
 
Ketika membaca tulisan diatas kue itu. Mereka teringat Natin.
Tetapi. Apa iya Natin punya uang untuk membeli kue coklat mahal sebanyak itu? Bagaimana mungkin seorang office boy bisa membelikan kue seperti itu untuk semua orang di kubikal?
 
Kalau sekedar menulis di whiteboard kan nggak perlu keluar uang. Tapi membeli kue? Nggak mungkin Natin. Ini pasti hadiah dari founding father.
 
“Saya memulai pekerjaan seperti saudara-saudara,” demikian kata beliau di ruang meeting tadi. “Masih sangat muda sekali.” Lanjutnya. Orang-orang kubikal yang masih muda-muda mendengarkan dengan seksama.
 
“Saya berharap, orang-orang muda seperti saudara-saudara ini bisa menjadi penerus pengelolaan bisnis ini.” Suara beliau terdengar berwibawa. Sambil sesekali dihentikan oleh jeda yang membuat suasana semakin hikmad.
 
“Saya ingin agar kelak saudara-saudaralah yang menjadi direktur di berbagai perusahaan kita,” lanjutnya. Serta merta saja ruangan itu dipenuhi oleh tepuk tangan. Beberapa orang terlihat menarik nafas panjang. Mungkin mereka mencoba memasukkan semangat itu kedalam dirinya. Beberapa orang lagi terlihat mengusap air mata.
 
“Dua puluh tahun lagi. Mungkin saya sudah tidak bisa hadir bersama saudara.” Suasana langsung berubah menjadi hening. Beliau jeda sejenak. “Tetapi, saya berharap, saudara-saudaralah yang kelak akan meneruskan tampuk kepemimpinan ini.”
 
Sepertinya setiap orang sedang menahan nafas. Dengan bisik hati. Dan kata-kata didalam dirinya masing-masing. Entah apa isi kepala mereka. Tapi satu hal saja yang pasti: Mereka ingin memenuhi harapan beliau.
 
“Saya sudah tidak lagi tertarik untuk memikirkan uang bagi diri saya sendiri.” Suara berwibawa itu terdengar lagi. Mudah untuk mengatakan kalimat itu jika sudah memiliki uang bernilai triliunan. “Uang itu mudah untuk di cari.” Lanjutnya. “Tapi karyawan-karyawan yang hebat tidak selalu mudah untuk didapat.”
 
Kali ini. Semua orang rada tertunduk. Ragu. Apakah kalimat terakhir beliau itu berupa sindiran. Atau… ada maksud lainnya. Maklum. Bahasa orang kelas atas tidak selalu langsung bisa dicerna apa maknanya.
 
“Sebenarnya mereka itu bukan tidak mampu,” katanya lagi. “ Tapi mereka kurang gigih dalam bekerja. Sehingga, mereka bisa dikalahkan oleh orang lain yang lebih rajin. Lebih berdisiplin. Dan lebih bersemangat dalam bekerja.”
 
 “Saya senang ketika mendengar Pak Presiden Direktur mengatakan kalau suadara-saudara semua yang ada di ruangan ini adalah orang-orang pilihan.” Tambahnya. “Orang-orang yang diseleksi secara ketat. Best of the best.”
 
Kalimat itu langsung mengubah segalanya. Dada semua orang mengembang. Dan. Tampaknya. Tidak ada seorang pun yang sanggup menyembunyikan fakta jika hidung mereka sedikit lebih panjang. Bangga disebut sebagai best of the best oleh boss besar.
 
“Oleh karenanya. Meskipun kelak saya tidak sanggup lagi untuk hadir ditengah-tengah saudara. Saya yakin. Bahwa perusahaan ini. Berada. Ditangan orang-orang yang tepat.” Mata beliau menatap ke seluruh ruangan.
 
“Ini sudah bukan lagi perusahaan keluarga. Melainkan perusahaan public. Perusahaan saudara. Perusahaan kita semua. Jadi persiapkanlah diri saudara. Untuk menjadi pemimpin bagi masa depan perusahaan kita ini.”
 
Entah siapa yang memulai. Tiba-tiba saja semua orang bertepuk tangan sambil berdiri. Bersamaan dengan itu pula. Pak pendiri perusahaan menyampaikan pesan terakhirnya: “Saya yakin saudara bisa. Jika saudara bekerja dengan sepenuh hati.” Lalu beliau meninggalkan ruangan pertemuan yang dipenuhi tepuk tangan riuh rendah itu.
 
Sekarang semua orang kubikal terpaku dihadapan kue cokelat berbentuk hati itu. Ada begitu banyak pesan yang disampaikan oleh Pak Pendiri tadi. Namun kalimat terakhirnya jelas sekali. “Saya yakin saudara bisa. Jika saudara bekerja dengan sepenuh hati.” Persis seperti kalimat yang tertulis di kue cokelat berbentuk hati itu.
 
Jangan-jangan….
Natin sudah tahu apa yang akan disampaikan oleh beliau….
Semua orang digoda oleh perasaan yang sama. Membuat mereka penasaran untuk menanyakan langsung kepadanya. Namun. Sebelum mereka kesampaian menemukan Natin. Ada sebuah kejadian yang mengejutkan.
 
Glubrak! Prang! Preng! Prong!
Dari ruangan Pak Mergy. Orang-orang yang tadinya mau menyerbu Natin ke pantry langsung berhenti. Lalu berlari kearah lain. Mereka khawatir jika terjadi sesuatu dengan Pak Mergy.
 
“Ada apa Pak?” tanya mereka begitu tiba di depan pintu ruang kerjanya. Tampak Pak Mergy sedang termangu disitu.
 
“Enggh.. anu…” katanya. “Kue hati saya jatuh….” Benar saja. Kue hati jatah Pak Mergy jatuh. Hingga berserakan tidak lagi utuh.
 
Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..
 
Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa setiap orang yang hari ini bekerja di posisi yang biasa-biasa saja. Mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin masa depan. Sayaratnya. Mereka harus bekerja dengan sepenuh hati. Sebab jika tidak. Mereka hanya akan menyia-nyiakan potensi dirinya saja. Sedangkan mereka yang bekerja sepenuh hati. Pasti akan berusaha agar seluruh kemampuan dirinya didayagunakan. Sehingga tanpa disadari. Mereka tampil menjadi pribadi yang unggul. Lalu keunggulan itu. Membawa mereka kepada pencapaian dan posisi-posisi yang lebih tinggi.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman 2 Mei 2012

Catatan Kaki:
Hanya jika bersedia bekerja sepenuh hati. Seseorang bisa mendayagunakan seluruh potensi dirinya. Hingga meraih puncak tertinggi.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya. 

Selasa, 1 Mei, 2012 20:05

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar