Senin, 07 Mei 2012

PERIBAHASA


Oleh: Ratmaya Urip*)

Dalam kehidupan sering kita jumpai Peribahasa. Banyak di antaranya yang masih relevan untuk disandingkan dengan kekinian, namun banyak pula yang nampaknya perlu disesuaikan.

Artikel ini terinspirasi dari munculnya beberapa peribahasa yang disampaikan oleh salah satu anggota milis The Managers Indonesia (TMI), yang kembali ditampilkan dalam suatu diskusi tentang suatu topik diskusi yang menarik.

Peribahasa dimaksud adalah: "air beriak tanda tak dalam" dan "tong kosong nyaring bunyinya". Di samping itu juga ada beberapa peribahasa lain di luar kedua peribahasa tersebut yg dapat dijadikan bahan telaah.
Adapun Peribahasa tersebut adalah:


1. Air Beriak Tanda Tak Dalam

Dalam perspektif kekinian, peribahasa ini perlu analisis yg lebih tajam, apakah masih relevan atau tidak.

Dulu ketika peribahasa tersebut muncul, mungkin karena lahir dari fenomena visual, dimana "riak" sering muncul di sungai ketika aliran sungai memasuki wilayah yang dangkal, atau "riak" yang muncul dari ombak yang memecah di pantai, di mana pantai adalah wilayah dengan kedalaman yang rendah.

Jika kita lebih teliti, "riak" yang muncul di tepi pantai, yang nota bene dangkal, ternyata sering membahayakan, karena sering ada pusaran ombak di pantai yg menghanyutkan orang dan membawa kematian.

Begitu juga ada "riak" di sungai yang disebabkan oleh siklon air (kedung sungai) yang berada di wilayah yang sangat dalam, yang sering membuat nyawa melayang.

Di samping itu "riak" sering muncul jika terjadi turbulensi air, seperti jika dalam kondisi banjir. Mungkin saja air tidak dalam, tapi dapat membawa bencana.

"Riak" juga muncul ketika aliran sungai memasuki tikungan, khususnya di tikungan luar. Justru tikungan luar tersebut adalah tempat yang terdalam dari tikungan sungai tersebut. Sedangkan tikungan dalam yg tenang dan tidak ada "riak" justru sangat dangkal, bahkan sering muncul "gosong", atau endapan2 sedimentasi.

Semua kajian ini disampaikan berbasis Ilmu Mekanika Fluida atau Hidrolika, atau Pengairan.

Di sini saya hanya mengajak untuk berpikir "out of the box".


2. Tong Kosong Nyaring Bunyinya.

Dalam perspektif kekinian, Peribahasa ini perlu didalami lebih lanjut.

Ketika Peribahasa tersebut muncul, mungkin orang hanya fokus pada media "udara" saja jika konteks-nya adalah rambatan dari "sumber bunyi".

Di udara memang suara tong kosong amat nyaring. Tergantung bahan tong-nya. Namun biasanya dalam koridor frekuensi Sopran atau Tenor.

Jika Tong Kosong dipukul dalam air, tak akan pernah nyaring bunyinya. Koridor frekuensinya biasanya Bass atau Alto, kadang Bariton.

Nah, tidak selalu tong kosong itu nyaring bunyinya tergantung media untuk rambatan frekuensinya.


3. Biar Lambat Asal Selamat

Dalam konteks kekinian peribahasa ini perlu diubah menjadi: "CEPAT DAN SELAMAT".

Dalam persaingan yang semakin tajam, kelambatan akan menjadi mata air bagi ketidakmampuan bersaing.

Supaya "cepat" dalam hal ini salah satu contohnya adalah "cepat" dalam pengambilan keputusan, dapat dilakukan secara INTUITIF maupun ANALITIS. Dengan catatan, INTUITIF sebaiknya dilakukan oleh mereka yang sudah memiliki banyak jam terbang, sehingga experiences-nya dapat dijadikan references dalam pengambilan keputusan. Dengan kata lain, INTUITIF-nya sebenarnya adalah ANALITIS juga, namun dilakukan dengan sangat cepat, sehingga seolah INTUITIF semata.

Maka saya sempat heran, jika seseorang sudah memiliki banyak jam terbang, dengan kata lain very experienced. Tapi masih selalu ragu2 dalam pengambilan keputusan, sehingga momentum-nya selalu lewat. Dengan alasan kehati-hatian yg orang lain sering menafsirkannya sebagai keraguan.
Berarti orang tersebut tidak mau belajar dari experiences-nya. Mungkin saja dia berkilah masalahnya adalah baru, belum ada experience-nya. Kenapa tidak dilakukan pendekatan2 masalah?

Experiences adalah bekal dan bekal adalah persiapan. Untuk terjadinya LUCK atau WINDFALL, rumus matematisnya sangat sederhana karena linier, tidak kompleks, yg sdh saya sampaikan di banyak kesempatan puluhan tahun yg lalu, yaitu:

L = W = P + O

L = Luck,   W = Windfall.     P = Preparation,  O = Opportunity

Preparation, tidak berasal dari Experiences semata.

Ingat, Luck tidak akan maksimal tanpa Preparation. Luck juga tidak akan jadi kenyataan tanpa Opportunity.

4. Telaah atas Peribahasa Lain menyusul.

Salam Manajemen

Ratmaya Urip

Jumat, 4 Mei, 2012 02:09
Jumat, 4 Mei, 2012 02:09

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar