Selasa, 01 Mei 2012

DIKOTOMI GENERASI TUA VS GENERASI MUDA DALAM PERSPEKTIF KEPEMIMPINAN BANGSA


Oleh: Ratmaya Urip*)


Perihal dikotomi generasi tua versus generasi muda dalam kepemimpinan bangsa, adalah issue klasik, yang menurut saya berpulang pada kepentingan.

Secara teoritis, Generasi Muda, dipandang secara umum masih memiliki idealisme yang tinggi, diharapkan mampu untuk tidak tercemar oleh polusi kepentingan sempit yang pragmatis. Sehingga diharapkan, idealismenya dapat mampu membawa visi berbangsa dan bernegara menjadi lebih akurat dan presisi.

Kelemahan generasi muda hanyalah jiwa mudanya yg kadang meledak-ledak dan emosional-nya masih sering terbawa-bawa. Wajar saja karena kadang itu karena jam terbang yg masih harus ditambah lagi.

Itu teorinya.

Prakteknya, kepentingan praktis pragmatis mulai menginkubasi mereka. Sehingga kasus2 korupsi, narkoba, dll mulai menyerang mereka.

Sementara generasi tua secara teori biasanya terkesan ortodoks, lamban, kurang mengikuti jaman, tidak dapat mengikuti perubahan, penuh dengan vested interest. Kelebihannya adalah dalam hal jam terbang, baik untuk yang positip maupun yang negatip.

Prakteknya, sering tidak jauh dari teori. Hanya perlu ditambah, suka melanggengkan kekuasaan dengan berbagai cara. Menumpuk tahta, harta dan wanita. Masalah korupsi sih saat ini sama dengan generasi muda. Tergantung posisi, kesempatan dan kemauan untuk melakukannya.

Terlepas dari apa yang diuraikan di atas, menurut saya yang penting, adalah siapapun dapat memimpin bangsa ini, asal memiliki kapasitas dan kapabilitas sebagai negarawan, serta memenuhi kriteria 3 dimensi dalam Human Capital Management, yaitu:

Dimensi 1: Ability/Capacity (skill knowledge) dalam memimpin bangsa. Yang mencakup kemampuan fisik/mental, kemampuan teknis, kemampuan manajerial dan kemampuan visioner dan ideologis berbangsa bernegara. Sesuai dengan tingkat atau hierarki kepemimpinannya

Dimensi 2: Moral (attitude behavior). Dalam hal ini memiliki integrity, accountability, credibility, honestability, fairness, etc)

Dimensi 3: Arts (creativity/innovation,acceptability/electability, adabtability/flexibility (dalam menghadapi perubahan), etc.

Karena apa? Karena semua itu tergantung orangnya. Biarlah generasi tua maupun generasi muda bersaing dalam mendapatkan legitimasi memimpin bangsa ini.

Dalam kelompok Generasi Muda maupun Generasi Tua masing2 ada yang baik dan ada yang kurang baik. Itu manusiawi dan alamiah.

Generasi muda jaman sekarang yang hidup dalam era persaingan yg super ketat, dengan lingkungan yang konsumtif bukan produktif, cenderung mudah mengambil jalan pintas. Namun banyak yang kreatif dan inovatif, baik untuk tujuan2 positip maupun negatip.

Generasi tua yang terlalu lama mendominasi kepemimpinan bangsa, akan tergoda nafsu kuasa yg tidak pada tempatnya. Yang muaranya adalah penyalahgunaan kekuasaan.

Definisi Generasi Muda di Indonesia ini untuk membedakannya dengan Generasi Tua masih sangat absurd. Ada yang memberi batasan Umur di bawah 40 tahun, ada yang di bawah 35 tahun. Ada yg sudah 45 tahun namun masih menganggap dirinya Generasi Muda.

Ketidaksabaran Generasi Muda terhadap Generasi Tua yang memunculkan dikotomi, patut dimengerti.
Hanya yg patut dicatat, adalah jangan sampai Generasi Muda tampil ke puncak hanya untuk kembali menjadi budak politik, pekerja politik atau buruh politik sesaat. Apalagi kalau hanya untuk nebeng urip pada figur dengan elektabilitas yg tinggi yg kebetulan dimiliki seorang tokoh. Karena jika demikian inilah yg disebut sebagai kutu loncat politik, yg hanya memanfaatkan arah angin politik untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Generasi Tua yg sudah terbukti tidak memiliki akseptabilitas yg cukup sebaiknya tahu diri.
Generasi Tua yg telah memimpin bangsa ini selama 66 tahun namun ternyata tak jua sampai ke kemakmuran dan kesejahteraan bangsa sebaiknya memang wajib introspeksi diri.

Menurut saya carut marut yg terjadi selama bangsa ini berdiri tak dapat dilepaskan dari rekrutmen pemimpin bangsa yg tidak semestinya. Saya yakin semua orang tahu itu. Mayoritas adalah politisi karbitan yang numpang hidup sebagai pekerja politik atau buruh politik. Bukan negarawan. Bukan pula yg memiliki visi dan ideologi berbangsa dan bernegara yang bermuara pada keadilan, kebenaran, kemakmuran dan kesejahteraan bangsa yang berkesinambungan dan lestari.

Politik tidak selamanya jelek asal dilakukan oleh negarawan, bukan politikus karbitan yang rekrutmennya karena uang bukan karena kapabilitasnya.

Generasi tua dan muda sama saja saat ini perilakunya. Yang tua haus kuasa, yg muda banyak terkontaminasi oleh pendahulunya. Ditambah lagi lingkungan kompetitif yang konsumtif bagi generasi muda, membawa ke arah pola pikir dan pola tindak yg lebih egois dan pragmatis.
Apalagi persaingan semakin tajam antar generasi muda, dalam lingkungan yg sangat konsumtif, sehingga sering mengundang ke arah perilaku yg berbahaya.
Kasus korupsi dan narkoba pada generasi muda adalah buah dari kepentingan egois dan pragmatis yg nyata.

Tidak semua Generasi Tua dan Generasi Muda kita berperilaku yg tidak semestinya. Hanya mereka tidak atau belum mendapat kesempatan untuk tampil. Masalahnya, sistem rekrutmen politik yang ada tidak dapat mengakomodasi mereka karena pekatnya KKN dan maraknya materialisme absolut atau doku-isme serta premanisme.

Sebagai referensi, berikut ini saya sampaikan data Kepala Negara dan atau Kepala Pemerintahan, dari negara maju berdasar usianya.

Apakah itu dianggap generasi muda atau generasi tua, silakan dianalisis.

Sengaja saya pilih negara yg saat ini menjadi barometer ekonomi dan politik serta budaya dunia, yaitu Amerika Serikat dan China. Sementara Eropa, Jepang, Korea relatif didominasi generasi tua. Jika batas usia generasi muda dianggap tidak boleh lebih dari 45 tahun. Apalagi jika batasnya 40 tahun.


1. Amerika Serikat

Dari 44 Presiden mulai George Washington sampai Barack Obama, berdasar usia saat inagurasi pelantikan sebagai Presiden:

Usia 40 thn dan di bawahnya: Tidak Ada

Usia 41-45 tahun: 2 orang

Usia 46-50 tahun: 9 orang

Usia 51-55 tahun: 15 orang

Usia 56-60 tahun; 9 orang

Di atas 60 tahun: 9 orang

Yang termuda adalah Theodore Roosevelt, usia 42 tahun. John Kennedy 43 tahun.

Yang tertua Ronald Reagan, usia 69 tahun dan W.H Harrison usia 68 tahun.


2. China

(sejak menjadi Republik Rakyat China 1 Oktober 1949, mulai Mao Zedong sampai Hu Jintao, baru ada 6 Presiden)

- Mao Zedong
Pada waktu RRC berdiri usianya 56 tahun. Waktu itu belum ada jabatan Presiden (Zhuxi), namun Ketua.

- Liu Shaoqi
Sebagai Ketua pada usia 61 tahun

- Li Xiannian
Jabatan Ketua mulai diganti dengan nama Presiden. Usianya 74 tahun

- Yang Shangkun
Presiden ke-4 ini menjabat pada usia 81 tahun

- Jiang Zemin
Menjabat sebagai Presiden ke-5 pada usia 67 tahun

- Hu Jintao
Menjabat sebagai Presiden ke 6 pada usia 61 tahun.


Di samping itu banyak tokoh2 tua yg tidak menjabat Presiden namun memiliki posisi strategis dalam pengambilan keputusan, yaitu;

- Deng Xiaoping
Ketika memenangkan pertarungannya dengan Kelompok-4 pada usia 72
thn

- Zhou Enlai
Perdana menteri Pertama pd usia 51 tahun

- Zhao Ziyang, yang menjabat Sekjen Partai pada usia 61 thn.

Justru pada era Komunis, pemimpin2 China didominasi Generasi Tua sampai sekarang. Sementara di era Kuomintang relatif dipimpin Generasi Muda. Seperti Dr. Sun Yat Sen pd usia 45 thn. Chiang Kai-shek pada usia 41 tahun.

3. Negara-negara Maju Lainnya (Eropa, Jepang, Korea)

Relatif dipimpin generasi tua

Ratmaya Urip

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar