Jumat, 13 April 2012

Belajar Manajemen dari “Indonesian Idol”




Sepotong Catatan Ringan yang ditulis saat makan siang yang terlambat di Rumah Makan Pak nDut, di salah satu sudut pusat  kota Buntok,Barito Selatan, Kalimantan Tengah:


Belajar Manajemen dari “Indonesian Idol"
Suatu Telaah dalam Perspektif  “Human Capital Management”
(Manajemen Modal Insani)

Oleh: Ratmaya Urip*)


Ada suatu materi yang mendekati absurd yang tiba-tiba melintas di benak ketika sepotong program acara televisi yang termasuk dalam variety show sempat singgah di indra saya.Saya katakan "indra" karena memang seluruh indra saya terpesona oleh proses yang terjadi di event tersebut  Tidak hanya "mata" saya yang terhibur dan terkesima, yang biasanya sering dikerahkan jika melihat suatu tontonan visual yang kali ini adalah tontonan variety show musikal, melalui media televisi. Namun juga membuat terhenyak telinga, hidung, perasaan, dan selera saya. More than just watch, it’s called beyond sense! Ujung-ujungnya membuat tangan dan benak saya gatal untuk membuat catatan-catatan kecil, semacam sinopsis, yang mungkin dapat saya kembangkan menjadi suatu artikel, yang semoga saja bermanfaat bagi yang membutuhkannya.

Saya tiba-tiba mendapatkan inspirasi yang terekam dengan pekat di benak, yang tiba-tiba pula bekerja secara cepat untuk menyeruak mencari  linking dengan dunia manajemen, khususnya Human Capital Management (Manajemen Modal Insani). Musik dengan nilai musikalitas yang tinggi jika dianalisis dalam perspektif  manajemen, adalah bahasan yang menarik. Dengan linking yang pas, pastilah dapat diangkat menjadi kajian yang menarik. Berpikir  dan  berbuat sekaligus menghibur, semacam edutainment, begitulah misinya. Konon suatu materi yang dibahas dengan sajian hiburan, lebih mudah dicerna dan dinikmati. Maka infotainment, edutainment, sportainment, dan sebagainya, lebih mudah diterima dan merasuk, meski terkesan instant, kurang serius dan tidak dalam.

Sebetulnya event tersebut tidak hanya dapat dikaji dari perspektif Manajemen Modal Insani saja, karena dapat pula ditelaah dari perspektif Manajemen Pemasaran, Manajemen Kualitas, Manajemen Operasi & Pemeliharaan, Manajemen SHE, Manajemen Keamanan, Manajemen Proyek, Manajemen Kinerja dan lain-lain. Namun untuk kali ini, sengaja saya hanya akan membahasnya dari perspektif Manajemen Modal Insani. Karena dari perspektif ini saja cakupannya sudah sangat luas.  Semoga di kesempatan lain saya dapat mengkajinya dari perspektif manajerial yang lain. Atau sahabat-sahabat saya di milis ini dapat membahasnya dari perpektif yang berbeda? Tentulah akan menarik jadinya. Karena akan terjadi divergenitas, suatu hal penting  di samping konvergenitas, yang merupakan salah satu kontributor bagi proses kreatif dan inovatif yang merupakan cikal-bakal budaya produktif, di tengah rimba budaya konsumtif yang saat ini sedang menjamur di negara dan bangsa ini. Perlu diketahui, dan mau diakui atau tidak, faktanya budaya konsumtif telah mendarah daging dalam diri bangsa ini. Jauh lebih besar dari budaya produktifnya.

Banyak dari event "Indonesian Idol" ini yang dapat dibuat linking-nya dengan Human Capital Framework  dengan penyajian yang lebih menarik dan gampang dicerna.   Linking dengan Human Capital Framework, mulai dari Corporate Strategic Business Plan yang kemudian di-cascade atau di-deploy  menjadi Human Capital Strategy, yang meliputi Planning, Acquiring, Developing, Maintaining, dan Retaining. Atau juga dapat dtempuh dengan menggunakan Human Capital Framework yang lain, mulai dari Human CapitalPlanning, Recruitment, Remuneration, Performance Management, Competency Development, Discipline Management. Dari framework tersebut  kemudian juga dapat ditumbuhkembangkan menjadi lebih divergen lagi, namun terlalu teknis untuk disampaikan  di sini.  Karena mulut harus berbuih-buih untuk menyampaikan Learning & DevelopmentProcess, Knowledge Management, Tacit Management, Leadership-Followership, dansebagainya.

Di sisi yang lain, dalam hal ini bicara tentang musik, kebetulan saya ada sedikit bekal.  Di masa muda dulu karena sering nongkrong di warung-warung kopi di depan nDalem Puro Pakualaman, Yogyakarta, sehabis nonton film di bioskop Permata (sekarang bioskopnya  sudah almarhum?), saya sempat berinteraksi dan mendapatkan bekal teori dan praktek musik klasik dari sahabat-sahabat saya dari Akademi Musik Indonesia (sekarang sudah merger dengan perguruan-perguruan tinggi seni lain menjadi Institut Seni Indonesia-ISI Yogyakarta). Meskipun waktu itu saya masih sangat muda dan sedang belajar Engineering Science. Sementara bekal ilmu manajemen diperoleh dari teori dan praktek-praktek manajerial di lapangan,. Semoga saja dua kutub ini dapat bertemu di satu titik dengan pendekatan matriks, atau pendekatan  analisis vektor atau analisis numerik yang melahirkan resultante yang positip.  Musik versus Manajemen atau M vs M, begitulah formulanya.

Saya masih ingat beberapa teman Akademi Musik Indonesia mengajarkan untuk yang pertama kali kepada saya cara menggesek biola, atau memetik dawai gitar, atau memberikan interpretasi atas ketukan atau tepukan dari musik perkusi, atau memperkenalkan teori musik diatonis dan pentatonis, atau bagaimana melakukan tone attack dengan pitch yang terkontrol, sehingga tingkat akurasi dan presisi atas tone-nya benar-benar terjaga, baik untuk vocal maupun instrument musik, sambil menyantap “randa royal” ( “janda royal”- adalah tape yang berlumur tepung  beras kental yang dibakar), dan juga “randa goreh” (demikian kami biasanya suka menyebut yang artinya “janda galau”, ketan putih  yang berlumur gula dan sedikit susu olahan dalam kaleng yang kemudian dibakar), juga jagung bakar, tempe kara bacem maupun tahu bacem, sambil “menyeruput” kopi luwak yang legam, atau wedang  bajigur atau wedang ronde yang hangat, yang cara menikmatinya dengan posisi “leyeh-leyeh”  (setengah berbaring setengah duduk) di atas “lincak” (kursi bambu panjang yang ada sandarannya dengan kapasitas 4 sampai 5 pantat, yang dianyam dengan menggunakan rotan). Saya banyak belajar tentang intonasi, artikulasi, dinamika, interpretasi, uni-sono, phrasering, first tone attack, interlude, coda,
crescendo-decrescendo, falsetto, harmoni, a-capella dan lebih banyak lagi materi. Belum lagi jika harus mencoba berolah vokal dengan prakteknya langsung dengan berbekal suara tenor saya yang waktu itu masih pas-pasan, tanpa vibrasi apalagi tremolo. Harus susah payah mengapai nada-nada secara pianissimo, piano, mezzo piano, forte dan fortissimo, sambil terengah-engah Wah di awal susahnya bukan main. (Uf, saya terlalu lama bernostalgia, sehingga hampir lupa untuk menyampaikan substansi bahasan artikel ini. OK, kita kembali ke pokok analisis).

Kembali ke pokok bahasan. Ketika teman-teman yang lain yang berjumlah 5 (lima) orang (tidak termasuk saya) mulai menyantap pesanan masing-masing karena hidangan sudah siap di meja, saya masih berkutat untuk mencoba cloning atau mapping atau capturing apapun yang sedang  terjadi dalam proses yang ada di televisi yang sedang menghidangkan proses Seleksi atau tepatnya Eliminasi bagi calon-calon peserta Babak Spectaculer Show dari  kontes Indonesian Idol. Semuanya saya tulis dan rekam di BlackBerry, karena hanya itulah yang ada di tangan saya. Mau mengambil laptop atau kertas dan alat tulis yang semuanya ada dalam tas di mobil yang parkir di halaman rumah makan tersebut tentu saja saya enggan, karena takut kehilangan momentum. Karena saya tidak mau melewatkan setiap detikpun blocking dan setting serta materi dari acara tersebut. Sampai teman-teman mengingatkan saya untuk segera makan, karena sudah terlambat makan siang, dan sebentar lagi harus mengejar agenda yang lain. Saya memang sempat berpikir, libur-libur kok ya harus kerja. Meskipun hari Jumat, namun hari tersebut kebetulan memang merupakan hari libur nasional karena bertepatan dengan Hari Libur Wafat Nabi Isa Al Masih. Sehabis Jumatan di Masjid Agung Baiturrahman tadi waktunya terlalu lama untuk mencari rumah makan yang cocok di kota kecil Buntok, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah yang memang hanya sedikit rumah makan yang representative di kota tersebut, yang menumbuhkan perdebatan panjang di antara kami berenam untuk memilih rumah makan yang cocok bagi keenam selera yang ada.

Akhirnya kami sepakat memilih Rumah makan Pak nDut yang spesialisasinya adalah ayam dan bebek goreng di Jalan Pelita Jaya, di sebelah kiri dari kantor Kabupaten.Yang bukan kebetulan jika tidak terlalu jauh dengan Masjid Agung Baiturrahman. Kawasan yang dipenuhi oleh banyak perkantoran dari institusi  birokrasi Pemerintah Daerah.

                                                ooOoo

Proses eliminasi Indonesian Idol sedang berlangsung, yang dapat saya lihat di televisi yang ada di Rumah Makan Pak nDut. Eliminasi adalah salah satu tahapan proses rekruitmen untuk mencari Top 15 di antara 27 perserta yang tersisa dari kontes Indonesian Idol, yang sudah terjaring dari proses audisi dan proses eliminasi awal sebelumnya. Proses audisi sudah terlewati, dimana lebih dari 200.000 calon peserta saling berhadapan mengadu nasib untuk menggapai popularitas secara instant lewat media televisi. Tinggal 27 peserta yang masih harus berjuang menuju Top 15 yang dilanjutkan dengan Top 10 sebelum menuju The Best One, melalui tahapan Spectacular Show.

Prosesnya sendiri dimulai dengan Audisi yang menjaring calon-calon peserta dari seluruh pelosok tanah air, dengan berbagai sistem atau cara. Kemudian dilanjutkan dengan proses Eliminasi Awal, dan Eliminasi Akhir sebelum masuk ke ajang inti kompetisi yang disebut sebagai Spectacular Show yang biasanya disebut Top 10, karena yang beradu kemampuan tinggal 10 orang saja di antara ratusan ribu peserta tersebut.

Yang menarik di sini adalah. Jika kita jeli maka jika kita telaah dari perspektif Human Capital Management (Manajemen Modal Insani, yang selanjutnya akan saya singkat menjadi MMI), proses rekruitmen di sini sudah mencakup 3 dimensi dari MMI yang selama ini saya perkenalkan.

Di sini (dalam Indonesian Idol)  ada pencarian calon yang berbasis profesionalisme atau ability (skill & knowledge) sebagai dimensi pertama dari MMI. Juga ada proses seleksi moral (attitude & behavior) sebagai dimensi kedua dari MMI.   Juga ada tuntutan kreatifitas dan spontanitas serta improvisasi yang wajib dimiliki oleh para peserta, serta penggodokan jati diri atau karakter calon peserta, sebagai dimensi ketiga dari MMI. Jadi rekruitmen sudah lengkap menggunakan pendekatan 3 dimensi. Padahal biasanya dalam proses reruitmen dan proses-proses lain dalam lingkup Human Capital Framework,sering hanya melihatnya dari perspektif Human Resource Management-HRM  (Manajemen Sumber Daya Manusia-MSDM) belum sampai ke tataran Human Capital Management–HCM (Manajemen Modal Insani-MMI).  Dimana  hanya melibatkan dimensi pertama yaitu ability(skill & knowledge) dan dimensi kedua yaitu moral (attitude & behavior) saja. Masalah dimensi ketiga yaitu Arts (inovasi, kreatifitas, akseptabilitas, adabtabilitas, flexibilitas, dll) baru muncul setelah saya menyampaikan konsep dasar Human Capital Management (HCM) secara lebih matematis dan komprehensif. Pendekatan matematis saya perlukan untuk konvergenitas dalam pola pikir dan pola tindak, supaya lebih mudah dicerna dan dieksekusi.  Mengingat bahwa supaya dapat tercapai Human Value, esensi yang paling hakiki bagi suatu organisasi (meskipun sifatnya “hanya” organisasi proyek seperti Indonesian Idol), diperlukan ketiga dimensi tersebut. Human Value sendiri wajib bermata air dari Human Creditability, atau Human Honorability, atau Human Recognizability. (Untuk jelasnya, seluruh aspek ini dapat dicerna dengan penjelasan secara tatap muka).

Mengapa selama ini dalam rekruitmen selalu “hanya” melibatkan dimensi pertama dan kedua saja?  Menurut saya karena selama ini filosofinya masih berkutat hanya pada Iceberg Model  (Model Gunung Es) dalam Human Resource Management.

Iceberg Model selama ini dianggap sebagai  fisosofi dasar. Dimana ability (skill & knowledge) dianggap lebih mudah dipelajari diamati dan dikembangkan,  sehingga dianggap sebagai bagian dari gunung es yang berada di atas permukaan air laut. Bagian ini nampak dengan jelas dan mudah diamati, diseleksi atau dikembangkan. Dimensi yang pertama ini merupakan basic requirement and important, but not enough.  Sedangkan bagian dari gunung es yang berada di bagian bawah permukaan air laut, yang volumenya sangat jauh lebih besar, tidak tampak. Ini melambangkan dimensi yang kedua atau dimensi moral (attitude & behavior) atau integritas, akuntabilitas, kredibilitas dan honestabilitas. Bagian  dari gunung es yang berada di bawah permukaan air laut ini tidak nampak, sangat absurd. Ini melambangkan sesuatu yang lebih sulit untuk dipahami, dideteksi, diobservasi dan dikembangkan. Dengan tambahan dimensi ke-2 ini juga masih belum cukup untuk bekal memenangkan persaingan global yang penuh dengan kejutan perubahan. Maka perlu ditambah dengan dimensi ke-3, bahkan dimensi ke-4.

Sekedar set-back, jika kita membahas Human Resource Management (HRM) kita “hanya” berkutat pada dua dimensi saja, yaitu human ability (skill & knowledge) atau lebih sering disebut sebagai human capacity, dan juga human moral (attitude & behavior). Sementara dalam Human Capital Management (Manajemen Modal Insani) wajib ditambahkan dengan Arts sebagai dimensi ketiga, yang meliputi  human creativity (kemampuan berkreasi atau ber-inovasi), human acceptability (kemampuan untuk dapat diterima oleh lingkungannya), human adabtability, human flexibility. Dua yang terakhir ini adalah potensi atau kemampuan untuk menghadapi perubahan, bukan kemampuan untuk mencla-mencle. Saya sering menyebut secara matematis, bahwa Human Resource Management-HRM ( Manajemen Sumber Daya Manusia-MSDM) diproyeksikan pada pendekatan 2-dimensi atau pendekatan linier, sementara Human Capital Management-HCM (Manajemen Modal Insani-MMI) diproyeksikan pada pendekatan 3-dimensi atau pendekatan volumetrik.

Di samping itu dengan pendekatan pada 3-dimensi, Human Being atau Workforce tidak sekedar hanya dapat memenuhi requirements sebagai pekerja keras, namun juga sebagai pekerja cerdas dan pekerja waras.  Karena tuntutannya adalah memenuhi kemampuan fisik dan mental, kemampuan teknis, kemampuan manajerial dan kemampuan visioner.

 Di kemudian hari mungkin saja dapat dikembangkan menjadi 4-dimensi. Tentang dimensi ke-4 ini sedang dalam penelitian saya. Belum dapat diungkapkan di sini. Masih off the records.


(BERSAMBUNG)
                                                           ooOoo

(Catatan: Catatan Ringan  ini terinspirasi ketika menonton  rekaman proses seleksieliminasi  Indonesia Idol di RCTI, Jum’at, 6 April 2012 jam 14:00  s/d 15:00 WIB,dengan jury Ahmad Dani, Anang Hermawan  dan Agnes Monika)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar