Rabu, 11 April 2012

Bob Sadino: Jadilah Yang Terburuk




aya tidak berniat sukses, tapi gagal. Saya tidak berharap untung tapi rugi.
#Bob Sadino

Seorang ayah berdiri di depan anak lelakinya—yang akan menempati kursi kelas satu tingkat tsanawiyah Pondok Pesantren Ikhtiar di pelosok barat Indonesia. Kemudian beliau membungkukkan badannya supaya sejajar mata dan kepala dengan anaknya.

Lalu, sambil memegang bahu kiri dan kanan calon perantau dengan kedua tangannya—dia memberi petuah kepada sang anak—“Jadilah yang terbaik”. Setelah itu sang ayah memeluk anaknya. Sebelum dia pulang meninggalkan putra semata wayang di pesantren tersebut. Hingga dia selesai sekolah.
Momok belenggu pikiran
Kemudian, sambil Anda terus melanjutkan membaca catatan ini dengan penuh rasa senang. Izinkan saya bertanya kepada Anda. Apakah Anda termasuk orang-orang yang mendapat titipan harapan, entah dari orang tua, guru, teman, atasan, atau pasangan, supaya menjadi yang terbaik? Seperti nasehat sang ayah di atas kepada anaknya. “Jadilah yang terbaik”.

Saya menebak, hampir rata-rata di antara Anda menjawab iya. Bahkan, Anda mungkin mencoba menyela, “Itu bukan titipan dan harapan orang lain, tapi memang keinginan saya sendiri”. Saya salut dengan semangat dan keinginan Anda.

Sementara itu, bila kita mau menyadari sejenak. Hanya sekedar menduga-duga. Bukankah, faktor terhambatnya kaki melangkah, tangan berkreasi, dan mulut berkata yang menggugah—karena momok pikiran selama ini yang terus menerus membelenggu tindakan kita? Momok tersebut berupa pemikiran “Saya harus menjadi yang terbaik”. Betulkan?

Proposal pelatihan komunikasi
Namun, sungguh sangat luar biasa bila “tidak”. Karena, saya sendiri merasakan, faktor menghalangi saya bisa kreatif (bertindak)—karena, harapan  ingin menjadi yang terbaik. Sampai seorang teman mengubah cara padang saya.

Ceritanya, saat itu saya dan dia (Bagus) sedang duduk bersama di kediaman Pak Amarta Imron (owner), Kota wisata, Cibubur. Saya dan mas Bagus merancang program pelatihan yang akan kami laksanakan bersama. Sekaligus, merangkai kata-kata untuk proposal pelatihan komunikasi, permintaan pemda DKI.

Selanjutnya, sang teman meminta saya untuk membuat pengantar, materi, metode pelatihan dan manfaatnya. Lantaran, saya sering membawakan materi komunikasi efektif, maka sayalah yang diminta menulisnya.

Langsung saja, saya membuka folder proposal training di notebook saya. Kemudian saya cari proposal yang sudah tersedia di sana. Proposal pelatihan komunikasi untuk KPPI, rancangan teman saya. Seketika itu juga saya menunjukkan kepadanya “Apakah seperti ini bro? Bagaimana kalau ini aja? Kan sama, komunikasi?”.

Sebelum menunjukkan kepada mas Bagus, saya sudah meniatkan mengkopi paste dan mengganti nama perusahaan yang dituju. Tapi, teman saya yang sedang berdiri sebelah kanan—sambil memegang buku bacaannya—langsung membantah. “Tidak, buat yang baru. Kalau belum bisa, ganti kalimat di proposal itu dengan bahasamu sendiri”.

Kemudian, saya mencoba mencari pembenaran supaya tidak membuat proposal baru. “Isi proposal ini sudah bagus lho. Terbukti diterima dan pelatihannya terlaksana”. Ucap saya dengan menunjuk tangan kanan ke layar notebook. Lalu mas Bagus melanjutkan “Bro, kamu takut karyamu (tulisan proposalmu) jelek ya? Makanya mau copy-paste. Kalau begitu, sekarang tolong buatkan aku proposal terjelek yang bisa kamu buat. Oke?”.

Cara mudah menulis
Kemudian mas Bagus trainer menulis buku ala otak kanan ini, menceritakan kepada saya, bagaimana cara dia memprovokasi peserta pelatihan Jenius Writingnya. “Bro, Hampir rata-rata alasan pesertaku belum bisa menulis karena takut kurang berbobot. Jelek. Dan setiap aku mendengar ada peserta membuat pembenaran seperti itu—aku langsung meminta dia menulis karyanya yang terjelek.

Mengapa? Karena dia pemula. Ya wajar toh jelek. Tapi, setidaknya dia sudah bertindak. Setelah dia menulis, dia bisa belajar dan mengubah tulisannya menjadi lebih baguskan? Hasilnya, Eh tanpa sadar mereka bisa menulis. Dan karyanya bagus-bagus seperti namaku Bagus. He..he… ” Sambil tertawa cengengesan.

Selesai dia bercerita. Saya termotivasi supaya bisa menghasilkan karya authentic dalam menulis. Lalu, saya memfokus kembali kedua mata ke notebook dan membuka new document. Saya buka mozila dan berkunjung ke rumah google. Saya mencari contoh-contoh pengantar proposal komunikasi di sana. Kemudian saya kopi ke new document yang telah tersedia. Setelah itu saya gabung, saya renovasi, dan saya rombak ulang. Serta membingkainya sesuai dengan gaya bahasa saya.

Walhasil, jadilah pengantar proposal karya saya. Dan ternyata, menulis itu menjadi lebih mudah, setelah berniat menghasilkan proposal terjelek dan terburuk, berdasarkan kemampuan (pemahaman) saya miliki.

Dalam segala bidang, awali dengan jelek
Saya merenung dengan memejamkan mata sejenak. Rupa-rupanya, banyak karya tidak tercipta, gara-gara mantra salah tafsir ini “Jadilah yang terbaik”. Memang, tidak ada yang salah dengan nasehat atau harapan tersebut. Tapi, bila karena merasa hasil karya kurang bagus. Jelek. Buruk. Sehingga membuat Anda dan saya sulit bertindak. Sepertinya, lebih baik kita mulai berpikir dengan menghasilkan karya terburuk. Sehingga, tidak ada beban saat memulai.

Namun, ini bukan berarti tidak ada niatan supaya menjadi terbaik. Atau malah sebaliknya, tanpa ada harapan. Akan tetapi, hampir persis seperti kata Om Bob Sadino pemilik Kemchik, suami dari Soelami Soejoed “Saya tidak berniat sukses, tapi gagal. Saya tidak berharap untung tapi rugi”.

Dan sudah kita ketahui bersama, maksud dari ucapan itu sebenarnya, lebih mementingkan untuk take action, dari pada banyak mikir. Karena, hanya lewat suatu peristiwa, kita bisa mengevaluasi. Guru Gede Prama menginspirasinya dengan “Hargai prosesnya”.

So, kalau memang perkara akan kita putuskan sekarang adalah ihwal baru bagi kita. Mari kita niatkan mendapat hasil terjelek, dari kemampuan terbaik yang  kita upayakan dengan penuh maksimal. Sehingga, perlahan-lahan kita menikmati prosesnya. Kemudian, kita terus mengevaluasi dan memperbaiki persembahan kita. Hingga menjadi terbaik. Setuju?

Ciganjur, Selasa 6 Maret 2012
Mari bersilaturahim, follow @mind_therapist

Rahmadsyah Mind-Therapist

Minggu, 8 April, 2012 20:53

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar