Senin, 30 April 2012

Natin Mengajar Untuk Belajar




Penuh dengan flyer.
Begitulah gambaran langit-langit kantor sejak dari pintu masuk utama. Sampai ke pojok-pojok ruangan yang paling nyempil.
 
Ada pesta?
Kira-kira begitulah. Tapi ini. Pestanya beda banget. Bukan hura-hura. Ulang tahun. Syukuran. Atau apapun. Ini adalah pesta yang dirancang sedemikian rupa. Sehingga semua orang yang datang ke pesta itu. Bukannya kenyang dengan makanan. Tapi puas menyeruput ilmu.
 
Hemh. Pesta apa-an tuch?
Yaaaa…, orang-orang di kubikal juga semula menganggapnya begitu. Sebenarnya. Mereka tidak benar-benar ingin menyebutnya sebagai sebuah pesta. Mereka hanya sekedar mengikuti kata hati. Dan mencurahkan kreativitasnya saja. Tapi. Ujung-ujungnya ya jadi bagus begitu. Mereka pun jadi kaget sendiri. Nggak nyangka jika bakal semeriah itu. Makanya sekarang mereka berani menyebutnya pesta.
 
Awalnya sih sepele.
Natin menantang mereka untuk melakukan sesuatu yang. Boleh dibilang. Aneh. “Mengajar untuk belajar”.
 
Semula, orang-orang pada bingung dengan logikanya. Apakah yang bener itu ‘Mengajar Untuk Belajar’? Ataukah ‘Belajar Untuk Mengajar’? Beda banget kan? Tapi. Perlahan tapi pasti. Semua orang mulai memahami pikiran terbalik Natin.
 
“Belajar Untuk Mengajar”. Berarti latihan supaya kita yang asalnya nggak bisa mengajar, jadi bisa mengajar. Tujuan akhirnya adalah ‘bisa mengajar’. Betapa mulianya seseorang jika mau mengajari orang lain. Pahalanya banyak. Iya kan?
 
Tapi…” Mengajar Untuk Belajar”? Logika Natin inilah yang bikin kebalik-balik. Nggak beres. Maklum. Namanya juga Office Boy. Sesuailah antara level pekerjaannya dengan pola pikirnya. Bukan aneh. Tapi. Mungkin hanya sampai disitulah kemampuan intelektual Natin.
 
Tapi. Bukankah selama ini Natin sudah menunjukkan jika dia itu bukanlah orang yang sembarangan? Pemikirannya melebihi mereka yang berpendidikan tinggi. Inspirasi dan gagasan-gagasannya melampaui mereka yang berkedudukan menjulang.
 
Itu lho, yang membuat orang-orang di kubikal tidak langsung menilai buruk logika terbalik Natin itu. Mereka sekarang memutar otak. Mengapa Natin membolak-balik kalimat itu sehingga logika orang bisa sampai tertungging-tungging.
 
Mana yang bener itu ‘Mengajar Untuk Belajar’? Ataukah ‘Belajar Untuk Mengajar’? Jelas banget. Kalau yang pertama itu bisa dimengerti oleh siapapun. Tapi yang kedua? Butuh penelaahan lebih lanjut.
 
Orang-orang di kubikal hampir menyerah. Nggak ngerti. Tapi mereka tetap nggak berani memvonis Natin dengan tuduhan terkena rematik otak. Nggak. Natin nggak seperti itu. Kita nya aja yang nggak bisa menjangkau pemikirannya.
 
Ditengah frutrasi itu. Nggak disangka sama sekali. Tiba-tiba ada burung dara berwarna putih muter-muter di langit-langit kubikal.
 
“Begimana ceritanya ada burung dara bisa masuk kesini?!” Opri yang sewot langsung menguprak-uprak burung itu biar segera keluar. Untungnya dia nggak sedang membawa air soft gun. Coba kalau dibawanya. Mungkin udah ditembaknya burung cantik itu.
 
“Ayayaya…. Pri, jangan digituin dong…” protes orang-orang. “Masak sih elo tega nyakitin burung yang lucu ini…..”
 
Seolah mengerti siapa yang akan menyayanginya. Burung itu bertengger di partisi kubikal Jeanice. “O-ooooh, cantiknya…..” Jeanice tak kuasa menolak kehadiran burung dara putih bersih itu.
 
Burung itu diam aja. Nggak menolak ketika Jeanice menangkapnya. “Iiiiiih… jinak baaaangeeeeet…..”
 
Semua orang mengerubungi Jeanice dengan burung dara itu. Bulunya putih bersih. Dengan paruh berwarna campuran antara orange dan pink. Cantik banget.
 
Tapi. Kejutannya nggak sampai disitu. Ternyata. Itu adalah burung dara pos. Di kakinya terselip secarik kertas kecil. Kertas itu digulung rapi. Dan diselipkan diwadah kecil seperti cincin yang melingkar di kakinya.
 
“Hihi… siapa juga yang masih pakai merpati pos?” Fiancy nyengir. Aneh juga. Di zaman serba elektronik gini kok masih ada yang mengirim pesan lewat burung. Huhu. Ada-ada aja.
 
“Cepetan buka dong, Jean,” teriak Aiti.
“Aih, ini kan belum tentu untuk kita.” Kilah Jeanice.
“Dasar anak kota,” hardik Opri. “Kalau burung itu brenti ditempat elo, berarti surat itu buat elo…..”
 
Terdorong oleh semua orang. Akhirnya Jeanice memiliki keberanian untuk membuka gulungan kertas itu.
 
Harap-harap cemas sih. Secara saat itu dia sedang menantikan seseorang untuk menyatakan sesuatu kepada dirinya. Jika sampai orang itu menyatakan dengan cara yang klasik itu. Ohh. Betapa romantisnya.
 
“Nape muka elo jadi merah gitu, Jean?” Suara keras Opri membuyarkan lamunan Jeanice.
“Eh, i-iya. Iya.” Dengan gugup Jeanice buru-buru melihat isinya.
 
Dia salah.
Itu bukan surat yang dinantikannya.
 
Kertas itu ternyata berisi pesan Natin. Di kertas itu. Natin menulis begini:
 
JIKA INGIN LEBIH TERAMPIL
AJARKANLAH KEPADA ORANG LAIN
 
Semua orang terdiam. Inilah rupanya jawaban atas kebingungan mereka. Logika terbaik Natin ternyata nggak terbalik. Kitanya aja yang terlalu sering mikir satu arah. Menurut Natin. Proses mengajar dan belajar itu bukanlah satu arah.
 
Orang yang mengajar tidak pantes menempatkan dirinya sebagai orang yang serba tahu. Paling tahu. Cuman satu-satunya yang tahu.
 
Bahaya.
Banyak efek sampingnya kalau bersikap seperti itu. Misalnya. Dia akan merasa dirinya yang paling pinter. Yang lain bodoh. Makanya. Gayanya pasti menyebalkan. Nggak heran juga kalau orang yang sok pinter kayak gitu suka keblinger. Sulit dijangkau. Dan berperilaku seolah-olah dia itu dewa.
 
“Bukan itu yang dimaksud Natin,” kata Jeanice. Seolah tahu apa yang sedang memenuhi pikiran semua orang.
 
“Maksud eloh…?” Aiti penasaran. Kesannya kok Jeanice udah satu frekuensi sama Natin.
“Gue rasa…,” balas Jeanice. “Natin ingin agar kita menjadi orang yang lebih terampil.”
 
“Nggak usah elo rasa juga elo pasti tau,” potong Opri. “Pan sudah elo bacain tadi.” Lanjutnya.
 
“Gue ngerti Pri,” tukas Jeanice. “Tapi Natin juga memberi tahu kita gimana caranya.”
“Gimaana caranya, Cin…..?” Mulutnya sengaja diemblehin. Wajahnya dicondongin.
 
“Mengajarkan kepada orang lain.” Kata Jeanice. Mantap sekali dia menjawabnya.
Nggak ada lagi yang mengucapkan sepatah kata pun. Sekarang mereka mengerti maskud Natin. Mereka. Sudah paham dengan logika terbaliknya. Atau. Mungkin logika mereka sudah ikut terbalik. Nggak urusan. Yang penting. Sekarang sudah bisa dimengerti.
 
Dari kiriman pesan lewat burung dara itulah semua kehebohan pagi ini berawal. Sejak saat itu. Semua orang di kubikal bersepakat untuk membuat sebuah forum satu kali dalam sebulan. Dimana dalam forum itu. Setiap orang di kubikal akan menjadi pengajar bagi orang lain.
 
Hanya 2 jam.
Dalam 2 jam itu. Seseorang berdiri di depan. Untuk mengajarkan apa saja yang dipahaminya. Urutannya ditentukan dengan undian. Jadi. Semua orang mendapatkan kesempatan yang sama.
 
Setres.
Begitulah yang dirasakan oleh orang itu. Gimana nggak setres. Ujuk-ujuk harus mengajar. Tapi gara-gara setres itu. Dia mempersiapkan diri habis-habisan. Awalnya grogi banget. Tapi. Karena yang dihadepin teman sendiri. Ya nggak terlalu takut.
 
Apalagi disitu siapapun boleh berkreasi dengan bebas. Sekreatif mungkin. Begitu pesan Natin. Ide gila juga boleh dicoba. Makanya. Kemeriahan selalu terjadi setiap kali ada even bulanan itu. Seperti yang terjadi pagi ini. Flyer bergelantungan dimana-mana.
 
Ajaib. Bener banget yang dibilang Natin. Gara-gara harus mengajar itu. Orang-orang jadi semakin terpacu untuk memahami lebih dalam. Segala hal yang selama ini dipahami cetek-cetek saja.
 
Sejak saat itu. Orang nggak cuman tahu. Dia jadi mengerti. Nggak sekedar mengerjakan. Tapi juga memahami. Semuanya gara-gara mereka harus mengajarkan hal itu kepada orang lain.
 
Maaf-maaf kata ya. Acaranya nggak kalah kualitas sama seminar yang diisi oleh pembicara mahal, bok. Kalau kurang-kurang dikit ya nggak apa-apa dong. Lagian. Kapaaaan perusahaan bakal ngundang pembicara mahal. Paling banter juga setahun sekali. Itu juga kalau boss lagi baik hati. Kalau nggak. Ya cuma bisa ngimpi aja.
 
Tapi sekarang. Orang-orang di kubikal sudah memiliki forum belajarnya sendiri. Forum yang menjadikan orang lain lebih pinter. Sekaligus membuat pengajarnya menjadi semakin mahir.
 
Benar kata Natin. Jika engkau ingin lebih mengerti. Tertarik untuk menjadi lebih terampil. Berkeinginan untuk menjadi lebih ahli. Maka. Ajarkanlah kepada orang lain. Maka dengan mengajar orang lain. Engkau tengah mengajari diri sendiri. Untuk menaikkan nilai diri. Beberapa tingkat lebih tinggi.
 
Makanya. Jangan pelit dengan ilmu. Karena semakin dibagi ilmumu. Semakin tinggi pemahamanmu. Berikan ilmumu. Tanpa khawatir akan habis. Karena kata Natin. Tuhan akan  memberikan tambahan ilmu kepada orang-orang yang rajin membagikannya lagi.  
 
Itulah sebabnya. Mengapa orang yang mau mengajari orang lain. Semakin bertambah ilmunya. Semakin dalam pemahamannya. Semakin mumpuni kepakarannya.
 
Dan Natin bilang. Ilmu yang diberikan kepada orang lain. Lalu orang itu memanfaatkan ilmu itu. Maka orang yang membagikan ilmu itu akan mendapatkan pahala. Sedangkan pahala itu teruuuuuuus mengalir. Selama ilmu yang pernah ditebarkannya memberi manfaat.
 
Jam 12 teng. Acara hari itu berakhir.
Sekarang. Tinggal mengundi lagi. Siapa yang kebagian giliran mengajar bulan depan. Ketika toples undian dikocok-kocok. Semua orang yang sudah mendapat giliran duluan pada tenang. Sedangkan mereka yang belum kebagian pada tegang.
 
Sebuah gulungan kertas melompat dari toples. Siapakah gerangan orang yang beruntung itu. Semua orang memasang muka tegang.
 
Sebagai pengajar hari itu. Jeanice mendapatkan kehormatan untuk membuka kertas undian. Dan ketika gulungan kertas itu di buka…..
“Pak Mergy!” teriaknya.
 
Semua orang bertepuk tangan. Kecuali Pak Mergy. Wajahnya menjadi merah sambil tersipu-sipu.
 
“Ehm…eh…bisakah.. saya… di tahun depan aja….” Kata Pak Mergy dengan nada memelas.
 
Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..
 
Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa mengajar orang lain itu pada hakekatnya adalah mengajari diri sendiri. Menjadi guru bukanlah untuk menggurui. Menjadi pengajar bukan arena untuk pameran kepandaian. Mengajar adalah sarana untuk mendidik diri sendiri. Tidak ada cara belajar yang lebih baik daripada mengajar. Karena kepada orang-orang yang mau menyebarkan ilmu kepada orang lain. Tuhan menambahkan pengetahuan dan pemahaman. Kepada mereka yang bersedia menjadi penebar ilmu. Sang Maha Pemiliki Ilmu akan menambahkan perbendaharaan keilmuannya terus menerus. Sehingga mereka yang bersedia terus berbagi kebijaksanaan. Akan sampai kepada penemuan terindahnya. Yang penuh dengan hikmah. Insya Allah.   
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman 25 April 2012

Catatan Kaki:
Salah satu dari tiga tabungan terbaik seorang hamba adalah ilmu yang ditebarkannya demi kemaslahatan dan kemanfaatan bersama.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya. 

Selasa, 24 April, 2012 20:33

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar