Rabu, 11 April 2012

Melahirkan Peradaban Baru


Oleh: Andre Vincent Wenas

“Malam musim panas itu hangat. Bulan sedang purnama. Dengan muram Kaeso
memandangi bayangannya – sesosok pincang yang berjalan di sepanjang jalan-jalan
Palatine yang gelap dan sunyi.”– Bab VIII Bayang-bayang Scipio, novel Steven
Saylor, ROMA: Kisah Epik dari Zaman Romawi Kuno, 2007.

***

    Joe Rospars adalah seorang whizzkid, umur 28 tahun, baru-baru ini ia jadi
key-note speaker di Personal Democracy Forum (PDF) di Barcelona. Dia bilang,
“Internet lowers the barriers for people to participate in the political
process.”  Buat kita di Indonesia, demokrasi ala facebook telah membuktikan
kedigdayaannya dalam kasus cicak vs buaya. Tatkala parlemen di Senayan dan
pressure-groups lainnya impoten lantaran terkooptasi, maka segenap
jamaah-fesbukiyah bersatu padu menggalang opini publik melawan kekuasaan yang
semena-mena. Tsunami opini publik yang digalang itu sementara ini berhasil
menggulung niatan kaum jahiliyah yang ingin merampok masa depan bangsa ini
dengan konspirasi jahatnya.

    Fenomena di atas tentu saja menarik. Selain dimungkinkannya seorang pemuda
belia bisa berceloteh di fora internasional, pada kenyataannya ia pun fasih juga
dalam menyampaikan pesannya. Arus komunikasi tidak lagi terlahangi tembok
perbedaan usia. Pertukaran ide berada dalam jalur bebas hambatan (budaya,
prasangka). Memang, dorongan kekuatan teknologi telah meruntuhkan banyak
hambatan komunikasi yang irasional. Wacana komunikasi argumentatif antar-subyek
seperti yang diadvokasi Juergen Habermas nampaknya mulai mendapatkan
platform-nya. Atau dalam wacana Hegelian kita melihat gerak sejarah ke depan
dalam proses dialektika (tesis-antitesis-sintesis) yang ‘mengalami percepatan’
lantaran di-booster teknologi informasi. Tiang pancang pembangunan negara global
dari nalar-universal mulai ditancapkan.

    Caveat buat kaum laggards yang telmi (telat mikir) demi memahami lebih
dalam fenomena dunia-datar (Thomas Friedman, The World is Flat, 2005) ini.
Kompresi dan ekstensi spatio-temporal telah mendorong perubahan, bukan sekedar
aksidentalia bahkan sampai di tataran paradigmatik.

***

    Mayetika, berasal dari kata ‘maieutikos’ (Yunani) yang berarti seseorang
yang bertindak sebagai bidan yang membantu proses kelahiran. Istilah ini
diadopsi Sokrates sebagai metodenya, yakni membantu proses kelahiran juga, tapi
bukan kelahiran bayi melainkan kelahiran pengetahuan, kesadaran, ide. Dalam
maieutike-techne Sokrates, dikatakan bahwa orang sudah punya pengetahuan, tetapi
pengetahuan itu perlu dikeluarkan, dilahirkan. Sebagaimana proses kelahiran,
inheren di dalamnya rasa sakit, perlunya kesabaran dan perjuangan (hidup-mati),
pengorbanan.

    Proses melahirkan peradaban baru yang compatible dengan paradigma jaman
yang baru memang bisa juga dirasa menyakitkan bagi sementara golongan. Ada
ketidak-relaan yang mewujud dalam bentuk resistensi, mulai dari yang sifatnya
kasat-mata sampai yang klandestin. Namun pilihannya sudah jelas, to be or not to
be…

***

    Pandangan di atas bisa dikatakan agak Neo-futuris sebagai oposisi pandangan
Dystopian yang sangat kritis terhadap teknologi (Anthony G. Wilhelm, Democracy
in the Digital Age, 2000). Alvin Toffler, yang  merupakan pentolan neo-futuris
bersama John Naisbitt, Jim Ruben, Richard Groper dan Nicholas Negroponte, telah
mengingatkan bahwa untuk menghindari terjadinya ‘gegar masa-depan’ dalam arti
ketidakmampuan manusia beradaptasi dengan kemajuan (teknologi), maka manusia
seharusnya terus menerus memperbaiki dan berpikir ulang (rethinking) mengenai
tujuan sosial yang disebutnya dengan ‘demokrasi antisipatoris’. “Dengan
meluncurkan sebuah proses besar pembelajaran sosial – sebuah eksperimen dalam
demokrasi antisipatoris di banyak negara sekaligus – kita dapat menghadang
tikaman totalitarian,” demikian Toffler.

    Di lain pihak, kita juga mesti mempertimbangkan pandangan Dystopian
(tokohnya: Husserl, Heidegger, Thoreau, Arendt dan Barber) yang sangat kritis
terhadap aplikasi teknologi. Seperti diurai oleh Heru Nugroho dalam pengantar
terjemahan buku Anthony G. Wilhelm, “Bagi Heidegger inti dari teknologi adalah
cara untuk mengungkapkan atau menjadi suatu cara berpikir mengenai alam sebagai
suatu cadangan tetap, sebagai suatu sumber untuk dipulihkan, ditata dan
dikontrol. Sedang Thoreau menyindir bahwa teknologi hanya bersifat menolong.
Namun Arendt menyesali hilangnya hubungan manusia karena pemusnahan ruang-ruang
publik yang muncul secara bersama dalam rezim totalitarian (maksudnya rezim
komunikasi modern). Dalam hal ini romantisme Arendt adalah ketika ia berfikir
bahwa demokrasi politik yang ideal adalah model Yunani kuno. Sementara Barber
melihat komunikasi politik bermedia dengan kecurigaan, sebab komunikasi politik
di ruang cyber adalah sesuatu yang abstrak, tak berbentuk dan anonim sehingga
mudah terjadi penyimpangan.”

***

    Dalam retrospeksi, kita mungkin juga sedang melihat bayang-bayang kita
sendiri, yang berjalan terpincang-pincang meniti rute-rute asing dalam jaman
yang baru. Namun kalau saat ini kita masih selamat berdiri tegak di sini, maka
tatapan ke masa depan seyogianya berlensa optimis. Lakukan yang terbaik, siap
sedia setiap saat, soal kiamat itu bukan urusan kita. Selamat Natal & Tahun Baru
2010.


---------------------------------------------------------------
Artikel ini sebelumnya pernah dikontribusikan ke Majalah MARKETING, edisi Desember 2009. Untuk itu segala hal yang menyangkut adanya sengketa atas Hak atas Kekayaan Intelektual menjadi tanggung jawab Kontributor
Selasa, 10 April, 2012 00:22

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar