Rabu, 11 April 2012

Natin Menciptakan Tempat Kerja Yang Menyenangkan




Gubrak!
Sebungkus kacang disco menimpa meja Fiancy. Dia gagal menangkapnya ketika bungkusan itu masih melayang di udara. Musim hujan makanan telah tiba. Dari setiap pojok kubikal bisa saja tiba-biba terbang makanan kering. Apa lagi selepas liburan panjang seperti saat ini. Hari jumat tanggal merah. Bablas lagi liburan selama 3 hari. Makanan paling aneh pun bisa berdatangan entah dari mana asalnya.
 
Kehebohan memenuhi atmosfir kubikal. Semua orang terlihat senang. Tertawa dan berteriak girang. Hingga terlarut dalam kegembiraan yang mereka ciptakan.
 
Sebungkus lanting melayang diatas kepala orang-orang.
Lalu seseorang di ujung ruangan melompat untuk menangkapnya. Ketika bungkusan itu berhasil diraihnya. Semua orang bertepuk tangan.
 
Dari kubikal lainnya tiba-tiba saja ada bungkusan warna orange terbang. ”Tangkap,” teriak seseorang. Lalu orang lainnya melompat. Namun meleset. Lemparannya terlalu tinggi. Kemudian seseorang dibelakangnya berteriak. ”Yeeeeaaaa.... gue yang dapet!” Dia mendapatkan sebungkus keripik sanjay.
 
Beragam jenis makanan sudah beterbangan selama hampir sepuluh menit. Tidak lagi terhitung berapa bungkusan. Tidak lagi bisa diidentifikasi jenis makanan apa saja yang sudah dilemparkan orang-orang.
 
Gampang.
Kalau hanya mencari perusahaan yang mau membayar kita mahal. Banyak kok perusahaan bagus yang nggak pelit. UMR sudah bukan lagi pembahasan serius. Buat mereka berapapun nilai UMR yang ditentukan pemerintah nggak ngaruh apa-apa. Soalnya mereka sudah membayar jauh lebih tinggi dari itu.
 
Yang susah dicari itu adalah perusahaan yang kita merasa senang berkerja disana. Kebanyakan orang merasa gerah. Meskipun AC di setiap ruangan sampai bikin orang pada menggigil. Apa lagi kalau ada bule-nya disana. AC central pula. Semua orang lokal yang lebih suka hangat mesti pake baju tebal. DTG deh, pokoknya. Dingin Tapi Gerah.
 
Di kubikal. Orang-orang sangat beruntung.
Karena disana mereka merasakan suasana yang menyenangkan. Pendapatan? Yaaaa...., sedanglah. Tidak terlalu tinggi. Tidak juga rendah. Termasuk menengahlah. Tapi. Soal kegembiraan saat menjalani kehidupan kerja. Disinilah tempatnya. Makanya, orang jarang kabur. Malah ada yang balik lagi setelah hengkang beberapa bulan.
 
Apa sih yang membuat orang tidak betah di tempat kerja?
Uang. Mungkin. Gaji kecil. Pasti membuat orang terus mencari tempat kerja yang baru. Tapi. Setelah gaji memenuhi ukuran yang pantas. Ternyata banyak juga orang yang tetap hengkang. Kalau pun nggak sampai hengkang, mereka tidak merasakan nikmat dan lezatnya bekerja disana. Kantornya juga berasa seperti kuburan. Sepi. Dengan penghuni yang nggak saling sapa seperti para zombie.
 
Apa sih yang membuat orang-orang pada betah di kubikal?
Uang. Mungkin. Gaji lumayan. Jika pendapatan sudah pantes, paling tidak orang-orang tidak mengkhawatirkan urusan perut atau kebutuhan rumah tangga yang lainnya. Tenang dengan urusan rumah.
 
Tapi. Itu sama sekali tidak menjelaskan mengapa orang di kubikal lebih ceria dan terlihat bahagia dibandingkan dengan kentor sebelah yang bayarannya nggak kalah. Atau..., mungkin lebih tinggi. Jadi. Apa sebenarnya yang membuat orang suka bekerja di kubikal?
 
Sudah menjadi kesepakatan tidak tertulis jika setiap penghuni kubikal harus membawa buah tangan unik yang mereka dapatkan ditempat liburan. Kemudian mereka memberikannya kepada orang lain di kubikal.
 
Cara mereka membagikan makanan itu pun nggak sembarangan. Nggak ada ceritanya tuch yang datang ke meja orang lain terus bilang;”Nih cobain deh oleh-oleh yang gue bawa...”
 
Nggak ada juga yang datang ke meja orang lain terus bilang;”Nyicipin dong makanan yang elo bawa.”
 
Nggak ada.
Yang ada adalah: mereka meberbangkan bungkusan makanan itu dari kubikalnya masing-masing. Lalu, siapapun boleh menangkapnya selagi makanan itu melayang diudara. Jadi. Sebenarnya mereka bukan sekedar membagikan makanan. Melainkan menciptakan kegembiraan. Itu adalah salah satu pemandangan yang bisa ditemukan di kubikal. Setiap Senin pagi.
 
Biar pun begitu. Ada aturan yang mereka terapkan. Misalnya. Hanya makanan kering yang boleh diterbangkan. Makanan basah disimpan di pantry untuk siapa saja yang menginginkannya.
 
Selain itu. Bobot makanan pun perlu diperhatikan. Kalau beratnya sepuluh kilo ya nggak boleh dilempar dong. Bisa bikin jontor muka orang kan?
 
Aturan mainnya sederhana. Tak seorang pun di kubikal yang boleh menyimpan makanan untuk dirinya sendiri. Mereka harus segera memberikan makanan miliknya. Atau yang didapatnya dari orang lain. Kepada orang lain lagi. Makanya. Semua orang pada sibuk menerbangkan. Dan menyambar bungkusan makanan yang melayang diudara.
 
Nggak heran jika dari setiap kubikal selalu ada makan yang terbang. Ditangkap oleh orang di kubikal lain. Lalu diterbangkan lagi menuju kubikal lainnya.
 
Hal itu berlangsung selama 15 menit. Hanya 15 menit. Nggak boleh lebih. Itulah aturan mainnya sesuai kesepakatan yang mereka sendiri tentukan. Setelah waktu 15 menit berakhir. Nggak ada lagi yang boleh menerbangkan makanan. Hanya tawa dan keceriaan saja yang bersisa.
 
Setelah itu. Mereka harus mendeklarasikan makanan apa saja yang diperolehnya. Kemudian. Mereka menikmatinya sebagai cemilan selama mengerjakan tugas-tugasnya disepanjang hari itu.
 
Keceriaan. Itulah yang bisa dengan mudah ditemukan di kubikal.
Kebersamaan. Itulah yang dibangun oleh mereka. Kegembiraan. Itulah yang mereka ciptakan. Kekeluargaan. Itu yang mereka buat bersama.
 
Di ruang kantor lainnya. Hal-hal semacam itu susah dicari. Keceriaan. Kebersamaan. Kegembiraan. Kekeluargaan. Sudah menjadi barang langka. Sementara mereka mencarinya. Mereka juga menyebut itu sebagai kegagalan perusahaan menciptakan tempat kerja yang menyenangkan.
 
The best place to work for. Begitu orang-orang menyebutnya dalam kalimat yang keren. Tempat terbaik untuk bekerja. Dulu orang mengira kalau tempat terbaik itu adalah yang memberikan bayaran paling tinggi. Sekarang. Paradigma itu sudah berubah 180 derajat.
 
The best place to work for itu telah berubah wajah menjadi sebuah tempat kerja dambaan para karyawan yang bisa memberikan suasana yang menyenangkan bagi setiap orang yang berada didalamnya.
 
Banyak juga perusahaan besar yang mengeluarkan investasi untuk menciptakan kantor seperti itu. Tapi mereka gagal. Tak sedikit juga yang sampai membentuk ’Task Force’ segala. Namun usaha mereka kandas. Bahkan banyak perusahaan papan atas yang menyewa konsultan management dengan bayaran ratusan juta. Hingga miliaran. Tapi ya itu. Ujung-ujungnya mereka cuman menghasilkan segepok dokumen yang nggak bisa diimplementasikan.
 
Dulu. Pak Presiden Direktur pun melakukan itu. Namun semua usaha itu tidak membuahkan hasil. Akhirnya management memutuskan untuk fokus aja pada pekerjaan. Pokoknya pekerjaan selesai. Walhasil. Seperti di banyak perusahaan lainnya. Karyawan bekerja seperti robot. Datang – kerja – pulang. Begituuuuu aja setiap hari.
 
Gimana nggak boring tuch kerja kayak gitu?
Disaat semua orang boring itulah orang-orang menemukan keanehan. Ketika kembali ke kubikalnya masing-masing setelah istirahat siang. Semua orang mendapati gulungan kertas kecil di mejanya masing-masing. Kalau bukan kerjaan Natin, siapa lagi?
 
”Elo pade dapat gulungan kertas kayak gini, nggak?” Opri berteriak sambil mengangkat gulungan kertas itu.
 
”Iya. Gue dapat.” balas Fiancy.
”Gue juga.” Aiti nggak mau kalah.
Semua orang di kubikal mendapatkannya juga. Lalu tanpa diperintahkan siapapun mereka membukanya nyaris bersamaan. Lantas mereka membacanya keras-keras.
 
”Menuuuu hariiii ini!” teriak mereka. Menarik nafas panjang. Lalu membaca lagi:”Menciptakan,” kata mereka. ”Kegembiraanmu sendiri.” lanjutnya. Persis seperti anak SD yang sedang membaca ikrar siswa pada saat upacara bendera.
 
Oh. Menu hari ini yang disajikan Natin rupanya berbunyi; ”CIPTAKAN KEGEMBIRAANMU SENDIRI ”
 
Sejak saat itulah kemudian orang-orang di kubikal sadar; mengapa usaha managemen untuk menciptakan suasana kerja yang menyenangkan selalu gagal. Karena seperti kata Natin. Kegembiraan di tempat kerja itu hanya bisa diciptakan oleh dirimu sendiri.
 
Maka jika ingin bekerja di perusahaan yang mempunyai predikat ’The Best Place To Work For”, tidak harus mencari-carinya. Tidak usah melamar kesana kemari. Tidak perlu mengintip perusahaan lain. Tapi. Ciptakanlah suasana yang menyenangkan di tempat kerjamu sendiri. Natin bilang; ”Ciptakanlah kegembiraanmu sendiri.....”
 
”Masih ada makanannya?” tiba-tiba saja Pak Mergy muncul. Tangan kiri dan kanannya menenteng bawaan dalam plaktik besar yang tertutup rapi.
 
Orang-orang di kubikal saling pandang. Mereka nggak ingat jika Pak Mergy belum kebagian oleh-oleh. Tapi mau bagaimana lagi. Nggak ada lagi bungkusan yang masih utuh. Semuanya sudah dibongkar.
 
”Yah. Sudahlah,” katanya. Meski terlihat tabah. Namun terasa sekali aura kekecewaan diwajahnya. ”Nggak ada yang ingat pada saya....” katanya.
 
Semua orang merasakan irisan kecil didalam hatinya. Nyeseeeel banget kenapa sampai lupa pada Pak Mergy. Seandainya saja ada satu bungkus yang masih utuh. Pasti mereka tidak perlu terlalu malu.
 
”Setidaknya, adaaaa gitu ya orang yang tergerak hatinya untuk membantu meringankan beban saya,” Pak Mergy meringis seolah menahan beban berat di kiri dan kanan bawaannya.
 
”Oke Pak, kami bantu. Kami bantu...” orang-orang serempak tergopoh. Lumayan. Bisa menjadi penebus dosa atas lupa mereka. Semua orang pun berebut mengangkat kantong plastik besar yang dibawa Pak Mergy. Tapi karena semua orang pada berebutan, akibatnya sungguh diluar dugaan.
 
Wadah barang bawaan Pak Mergy robek, hingga semua isinya jatuh berserakan!
O-o..... Semua orang menutup wajahnya masing-masing. Nggak kuasa memandang tampang Pak Mergy.
 
”Ya ampuuuuuuunnnnnn....” teriak Pak Mergy. Nyaris histeris.
 
Mereka hanya berani mengintip dari sela-sela jemari tangan. Ada berbagai bungkusan makanan kering yang berserakan. Mungkin semuanya itu akan dipaketkan oleh Pak Mergy untuk keluarganya di kampung. Mereka hanya bisa membayangkan betapa marah Pak Mergy atas ulah mereka yang doyan bikin rusuh itu. Meskipun niat mereka untuk membantu. Sekarang. Mereka hanya bisa pasrah.
 
”Baiklah anak-anak,” lanjut Pak Mergy. Semua telinga pasrah. Mau terima omelan apa saja. ”Semua makanan ini saya bawa untuk kalian......”
 
Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..
 
“Sekarang kita nikmati bersama-sama ya…..” sambung Pak Mergy. Semua orang senang alang kepalang. Mereka mengerubuti Pak Mergy. Sambil melompat-lompat mengelu-elukannya.
 
Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari betapa indahnya ketika kegembiraan dan kebersamaan itu bisa dibangun bukan hanya dengan sesama kolega. Tetapi juga bersama atasan dan bawahan. Mereka semakin tahu sekarang. Bahwa tempat terbaik untuk bekerja itu bukanlah tempat yang harus dibangun oleh managemen. Atau dicari-cari di lokasi lain. Melainkan tempat yang bisa diciptakan oleh kita sendiri. Disini. Kata Natin. Ciptakan kegembiraanmu sendiri……disini.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman  9 April 2012
Author, Trainer, & Public Speaker ”Natural Intelligence”  
 
Catatan Kaki:
Nggak ada perusahaan yang bisa menciptakan ”The Best Place To Work For” tanpa keterlibatan karyawannya secara langsung.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya. 

Minggu, 8 April, 2012 20:35

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar