Jumat, 13 April 2012

Natin Dalam Momen Istimewa Teman





Nggak ada keanehan apapun.
Justru inilah yang menjadikan suasana di kubikal jadi terasa aneh. Biasanya. Ada aja yang aneh-aneh disini. Tapi. Hari ini kok nggak nampak ada yang aneh. Ini malah jadi bikin aneh.
 
”Aneh banget,” pikir Fiancy. ”Kenapa nggak ada yang aneh ya?”
Sudahlah. Mungkin sekarang orang-orang di kubikal sudah mulai ’sembuh’. Seperti halnya kebanyakan orang yang lainnya di kantor-kantor yang lain.
 
Nggak ada kalimat apapun yang tertulis di whiteboard pantry. Nggak ada menu hari ini. Hanya ada gelas. Kopi. Teh. Gula. Susu. Dan air panas yang sejak sebelum Natin datang sudah berada disana. Dan sekarang. Semua itu menjadi sama lagi seperti dulu. Dan sama. Seperti ditempat-tempat lainnya.
 
Dulu sebelum Natin datang. Keadaan memang seperti itu. Jadi kalau hari ini begitu, kan mestinya nggak usah dianggap aneh. Biasa aja lagi.
 
Tapi, Fiancy sudah terlanjur menikmati keanehan-keanehan yang terjadi setelah kehadiran Natin. Makanya justru dia merasa aneh jika di kubikal pagi ini nggak ada tanda-tanda keanehan yang selama beberapa waktu terakhir ini dirasakannya.
 
Khususnya hari ini. Fiancy mengharapkan keanehan yang lebih dari biasanya. Sayang banget. Justru keadaannya malah sangat mengecewakan. Diam-diam. Dia merindukan keanehan yang pernah diciptakan bersama Natin dan semua orang dikubikal.
 
”GUE ULANG TAHUUN WOOOOOOOOOY!” Pengeeen sekali rasanya Fiancy berteriak seperti itu.  Habisnya kok orang-orang pada nggak merhatiin soal itu. Padahal biasanya mereka ingat hari ulang tahun orang lain. Tapi kan tengsin juga dong kalau harus kita yang ngingetin. Kesannya gimanaaa gitu. Secara Fiancy sendiri kan punya harga diri.
 
”Aha!” tiba-tiba saja ada percikan cahaya dikepalanya. ”Jangan terjebak,” pikirnya. Fiancy menyadari jika keanehan ini justru bisa jadi sengaja dibuat oleh orang-orang untuk ngerjain dia. Sengaja. Biar dia merasa nggak diperhatikan. Sengaja. Biar dia merasa dilupakan. Habis itu. Nanti mereka bikin suatu kejutan.
 
”Taktik yang cetek,” pikirnya. ”Paling juga bakal terjadi sesuatu di jam istirahat nanti.”
 
Jam dinding sudah menunjukkan angka 10 lewat 11 menit. Tapi belum ada juga tanda-tanda datangnya kejutan. Fincy mulai diserang oleh gelisah lagi. Jangan-jangan teman-temannya benar-benar lupa. Tapi dia mulai memikirkan peluangnya di jam makan siang. Maka dia pun kembali tenang. Lalu fokus lagi pada pekerjaannya.
 
Jam 12 siang pun tiba. Tapi tetap tidak terjadi apa-apa. Semua orang pergi makan. Bercanda. Seperti biasanya. Tapi nggak ada satupun yang ingat jika dia ulang tahun hari ini. Boro-boro ada kado. Sekedar ucapan saja nggak.
 
Sempat juga terpikir untuk mentraktir. Sekalian mengingatkan mereka tentang hari ulang tahunnya yang terlupakan itu. Tapi kok, jadi norak gitu sih. Seperti yang kepengen banget diucapin selamat ulang tahun!
 
............
Tapi kenapa mereka tega begitu sih!?
Amskshakaaaakahaannuduopmehdl;pkdmmdjdjdiidlldlldnc!!!!!!!
 
Jam makan siang sudah habis. Semua orang sudah kembali tenggelam dalam tumpukan pekerjaan di kubikalnya masing-masing. Sepertinya mereka nggak nganggep kalau itu adalah hari yang sangat penting.
 
Mungkin jam istirahat sore....
Awwas kalau sampai mereka nggak ada yang ingat!
 
Jam 5 kurang dua puluh lima detik.
Mungkin mereka akan bikin kejutan sebelum pulang. Setelah segala pekerjaan kelar semua.
 
Kurang sembilan belas detik. Tujuh setengah detik lagi. Lima. Empat. Tiga. Dua. Masih nggak ada tanda-tandanya juga. Dua....... Duaduadua..... Satu setengah. Satu. Setengah. Sepersepuluh detik.
 
Huh. Mereka benar-benar lupa.
Nggak ada alasan lagi untuk berlama-lama di kubikal. Lebih baik Teng Go saja!
 
Fiancy menyambar tas hijaunya yang terlihat fensi. Lalu ngeloyor pergi tanpa pamit siapapun. Masih nggak ada yang ingat. Membuka pintu kubikal. Tetap sepi ucapan selamat. Melangkah keluar. Lalu melintasi meja resepsionis. Dan akhirnya. Dia berhadapan dengan pintu lift.
 
Menanti lift datang terasa sangat menyebalkan. Meski akhirnya pintu lift terbuka. Tetap saja Fiancy merasakan kesal didalam dada. Tapi sudahlah. Sekarang dia sudah berada didalam lift. Tinggal memencet tombol ’close’.
 
Tepat ketika tangannya mencet tombol itu. Terdengar keributan dari dalam kantor.
”MEREKA INGAT SAMA GUE!” Fiancy nyaris terpekik. Secepat kilat tangannya memecet tombol ’open’ sampai beberapa kali. Tapi kemudian buru-buru dia pencet tombol close lagi.
”Biar gue balas taktik murahan mereka,” pikirnya. Fiancy yakin banget jika teman-temannya emang sengaja mau bikin kejutan sampai akhir hari. Dan sekarang dia mau bales mereka. Biar mereka mengejarnya sampai ke lobby.
 
Lantas. Sambil harap-harap cemas. Dia melangkah keluar dari lift menuju ke lobby lounge. Sesekali dipasangnya pendengarannya agar bisa mendeteksi setiap langkah teman-teman kubikal yang mengejarnya. Dia ingin mendengar mereka berteriak ”Fiiiiii, selamat ulang tahun!” mereka mengejarnya. Sampai semua orang di lobby dan seluruh penghuni gedung perkantoran itu tahu.
 
Tapi sayang. Telinganya tidak bisa mendengarkan kalimat indah itu. Sepertinya di lobby sedang terjadi kepanikan. Beberapa satpam berlarian. Dan tak lama kemudian datang mobil ambulance sambil meraung-raungkan serine yang memekakan.
 
Ada situasi emergency.
Tiga orang petugas medis berlari sambil membawa ranjang pasien. Menuju ke lift. Lalu memencet tombol naik.
 
Fiancy terkejut.
Petugas medis itu memencet tombol lantai kantornya. DEG! Hatinya berdegub. Sesuatu telah terjadi di kubikal. Atau. Mungkin ada boss yang terkena serangan jantung.
 
Fiancy berlari menerobos lift. Namun petugas satpam menghalanginya.
”Maaf Bu, emergency. Anda diminta untuk tidak ikut naik,” katanya. Pintu lift pun tertutup. Meninggalkan Fiancy terjebak bersama orang-orang yang berkerumun di lobby.
 
Kira-kira lima belas menit kemudian. Pintu lift kembali terbuka. Petugas medis keluar mundur. Sambil menarik ranjang pasien. Dengan gelisah Fiancy melongok-longok. Ingin tahu siapa yang terbaring disana. Tapi dia hanya bisa melihat labu cairan dan selang infus. Dan tabung oksigen.
 
Dia masih harus bersabar hingga ranjang iu benar-benar keluar.
Dan ketika saat itu tiba. Lututnya serasa lemas. Fiancy melihat masker bening menutupi wajar Sekris....
 
Oh. Luluh hatinya melihat sahabat terkasihnya terbaring disana. Dengan masker oksigen. Dan selang-selang infus berseliweran.
 
”Apa yang terjadi Jean?” dia bertanya nyaris histeris.
”Nggak tahu,” balas Jeanice yang sedari tadi ikut mendorong ranjang. ”Sekris tiba-tiba jatuh di kubikal,” tambanya sambil setengah berlari mengimbangi petugas medis.
 
”Gue ikut!” teriak Fiancy. Selain merasa khawatir. Dia menyesal telah mengumpat-ngumpat semua temannya sepanjang hari ini. Meski hanya didalam hati.
 
”Maaf, Anda tidak bisa ikut,” kata petugas medis. ”Hanya satu orang yang boleh ikut ambulance,” katanya.
 
Jeanice yang sedari tadi sudah mengurusi segalanya. Tentu lebih dipercaya daripada dirinya. Tapi dia ingin menghapus kesalahan hari ini kepada sahabatnya. ”Tolonglah Pak, saya sahabatnya.... please....” katanya.
 
Petugas medis menutup pintu ambulance sambil berkata;”Maaf tidak bisa.”
”Please....Pak.. Please... saya sahabat dekatnya.....” kali ini air mata tidak terbendung lagi. Fiancy menangis dengan rasa hati yang teriris-iris. Menyesal hari ini tidak berbuat baik bagi sahabatnya Sekris. Dia sadar. Jika sepanjang hari ini dia sudah bersikap egois. Hanya menuntut agar sahabat-sahabatnya memperhatikan dirinya.
 
Ambulance mulai berjalan. Bersama raungan serine yang mengeluarkan cahaya berkerlap-kerlip menyilaukan. Kira-kira 100 meter saja. Ambulance itu berhenti. Pintunya di buka. Jantung semua orang nyaris ikut berhenti. Mengapa ambulancenya berhenti? Apakah Sekris tidak tertolong lagi?
 
Dari kejauhan tampak Jeanice melompat keluar dari ambulance. Lalu berlari sambil berteriak ke arah Fiancy. ”Fiiiiiii.....” teriaknya. Sambil mengucapkan kata-kata yang tidak jelas. Membuat hati Fiancy semakin hancur. Dia pun berlari menyambutnya. Lalu memeluknya sambil bercucuran air mata.
 
”Fi, elu aja yang didalam ambulance.” kata Jeanice. ”Biar gue ikut teman-teman ngikutin di belakang,” lanjutnya.

”Beneran Jean...?” seolah tidak percaya. Fiancy malah membalasnya dengan pertanyaan bodoh.
 
”Jagain Sekris baik-baik ya Fi....” Jeanice terisak kembali. Mereka berpelukan sekali lagi. Lalu Fiancy berlari menuju ambulance yang sudah menunggu sedari tadi.
 
Tak henti doa dipanjatkan. Resah hati Fiancy disepanjang perjalanan. Sesekali tubuh Sekris mengejang. Suara mengorok keluar dari kerongkongannya. Sungguh sangat mengerikan. Dan menakutkan.
 
”Kris, maafin gue Kris....maaf gue....” bisiknya. ”Elo mesti kuat Kris.... elo mesti kuaa....t” hanya itu-itu saja yang bisa diucapkannya. Hingga ambulance berhenti.
 
Fiancy tidak mempedulikan hal apapun kecuali sahabatnya. Tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan. Nggak memperhatikan siapapun. Atau apapun. Matanya melekat kuat ke sekujur tubuh sahabatnya yang tengah berjuang diantara hidup dan mati. Dia berlari bersama petugas medis sambil mendorong ranjang pasien memasuki sebuah ruangan.
 
Lalu ranjang itu berhenti. Dan pada saat itu pula... pet.
”Listrik mati!,” seseorang terdengar bicara melalui HT. ”Segera hidupkan generator,” kata suara lain dari seberang sana.
 
Fiancy semakin panik. Sambil berdoa agar listrik segera menyala kembali. Biar Sekris dapat segera mendapatkan pertolongan emergensi.
 
Alhamdulillah. Listrik menyala kembali.
Fiancy hampir terlonjak gembira. Bahagia karena Sekris bisa segera dirawat. Tapi. Kegembiraannya segera berubah entah menjadi apa. Karena ketika listrik menyala kembali. Fiancy melihat semua orang di kubikal sudah berada di ruangan itu. Sambil berteriak dalam kostum ulang tahunnya yang berwarna-warni.
 
Kegaduhan pun tidak bisa dicegah lagi.
”Si4L44444444n!” Pekik Fiancy sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. ”Pada sableng semuanya ya!” katanya. ”Jantung gue nyaris copot tauk!!!”

Sekris yang sudah turun dari ranjang pasien segera memeluknya. ”Selamat ulang taon ya Non.....” bisiknya. Sambil diiringi oleh tepuk tangan semua orang.
 
Fiancy kembali menangis. Kali ini tangis yang berbeda dengan yang tadi. Tangis bahagia. Karena ternyata. Teman-teman di kubikal masih mengingat momen istimewa bagi dirinya. Dan momen itu menjadi lebih istimewa lagi. Karena cara mereka mengekspresikannya sungguh diluar dugaannya. Semua perkiraan Fiancy ternyata salah.
 
Satu demi satu sahabat menyalaminya. Memeluknya. Menciumnya. Dan memberinya kado istimewa. Lalu mereka tertawa seperti biasanya.
 
”Nih, ada titipan kado dari Natin,” kata Opri sambil menyodorkan sebuah bungusan kecil.
 
Fiancy buru-buru membukannya. Tenyata berisi figura kecil lengkap dengan foto dirinya. ”Iiiih, kapan sih gue difoto kayak gini?” manjanya. ”Makasih ya Natin...” lirihnya sambil menatap langit seolah tengah memandang seseorang yang tidak berada bersamanya. Dia memeluk figura itu. Lalu disadarinya jika dibelakang figura itu ada secarik kertas. Lalu dibacanya keras-keras:
 
Menu hari ini: ”INGATLAH MOMEN ISTIMEWA BERSAMA TEMAN-TEMAN”
 
Sekali lagi semua orang bertepuk tangan.
Namun, tepuk tangan itu segera berhenti ketika seseorang menyeruak masuk ke tengah kerumunan. ”Ooooh, jadi disini rupanya kalian....” kata orang itu. Pak Mergy.
 
”Yaaaah, Bapak... Kemana aja sih Pak?” balas Opri. ”Udah hampir bubar nih pestanya...”. Kata-katanya disambut tertawa semua orang.
 
”Lhooo, saya kira acaranya di rumah sakit,” balas Pak Mergy dengan polosnya. ”Eh, malah disini rupanya....”
 
Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..
 
Tiba-tiba saja semua orang di kubikal merasakan bahwa sesuatu yang biasa, bisa menjadi luar biasa jika kita melakukannya dengan cara yang istimewa. Apa lagi jika itu menyangkut momen istimewa sahabat-sahabatnya. Karena momen seperti itulah yang akan selalu diingat sepanjang masa. Bahkan hingga kelak mereka sudah pada pensiun. Dan beranjak tua. Momen kebadian. Yang mereka bangun dalam persabahatan. Di tempat kerja. Akan diingat. Selama-lamanya.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman 13 April 2012
Author, Trainer, & Public Speaker ”Natural Intelligence”  
 
Catatan Kaki:
Uang yang kita dapatkan dari kantor, pasti akan habis juga. Tapi persahabatan dengan teman sekantor? Tetap sempurna. Sepanjang masa.
 
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
  
Kamis, 12 April, 2012 21:17

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar