Rabu, 25 April 2012

Pespektif Baru untuk Agenda Lama?



(Catatan Kecil  atas Terpilihnya Presiden Bank Dunia yang Baru dari Pendekatan Antropologi Politik dan Antropologi Ekonomi)

Oleh:  Ratmaya Urip*)


Bukanlah tanpa alasan jika kemudian Presiden Obama memilih Jim Yong Kim, warga negara Amerika Serikat keturunan Korea untuk bertarung dalam pemilihan Presiden Bank Dunia, sampai kemudian benar-benar terpilih menjadi orang nomor satu di lembaga keuangan dunia tersebut, Senin, 16 April 2012 dengan menyingkirkan Ngozi Okonjo-Iweala, Menteri Keuangan Nigeria, yang jabatannya sebagai Managing Director Bank Dunia digantikan oleh Sri Mulyani Indrawati bulan Juli tahun lalu. Meskipun kemudian didukung oleh Jose Antonio Ocampo, wakil dari negara dunia ketiga yang lain, yang juga mantan Menteri Keuangan Columbia, yang mengundurkan diri dari bursa pencalonan, untuk memberi kesempatan bagi Okonjo-Iweala supaya dapat bertarung secara head to head menghadapi calon dari Amerika Serikat yang didukung Jepang, Rusia dan Eropa, atau yang dapat disebut sebagai representasi dari negara-negara maju.

Kekalahan tersebut diduga masih disebabkan oleh belum hapusnya kesepakatan tidak resmi, yang selalu mendudukkan wakil dari Amerika Serikat untuk menakhodai Bank Dunia, sedangkan wakil dari Eropa memimpin IMF. Kesepakatan tidak resmi tersebut oleh para penentangnya dikecam sebagai kesepakatan yang sudah usang  dan sangat tidak adil.

Ngozi Okonjo-Iweala, perempuan tangguh dan cerdas yang sangat disegani, dengan sejumlah penghargaan dari berbagai kalangan, lulusan Harvard University dengan predikat magna cum laude, serta Ph.D dari MIT  tersebut tidak mampu membawa kemenangan bagi pembaharuan dan perubahan yang banyak disuarakan oleh negara-negara dunia ketiga, dalam pertarungan yang konon dianggap paling serius sejak berdirinya Bank Dunia Meskipun pengalamannya sudah tidak diragukan lagi. Apalagi sebelumnya dia juga sempat dijagokan memimpin Bank Dunia menyusul meledaknya kehebohan yang melanda Presiden Bank Dunia ke-10, Paul D. Wolfowitz, mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, yang akhirnya terpaksa turun dan hanya menjabat selama 2 (dua) tahun sebagai Presiden Bank Dunia, yang digantikan oleh Presiden yang sekarang masih menjabat, Robert B. Zoellick. Sementara Okonjo-Iweala meskipun  difavoritkan akhirnya “hanya” mendapatkan kursi Managing Director, sampai digantikan oleh Sri Mulyani Indrawati, mantan Menteri Keuangan Indonesia, pada bulan Juli 2011, karena harus menjabat sebagai Menteri Keuangan Nigeria.
Presiden Obama bukannya tidak mengetahui tentang desakan pembaharuan atau tekanan perubahan tersebut. Maka meskipun santer diberitakan sebelumnya, bahwa Jeffrey D.  Sachs, penganut Keynesian yang fanatik, yang juga ahli politik ekonomi dari Harvard University, serta “bidan” MDGs dan banyak dijagokan oleh banyak kalangan, setelah pencalonan Hillary Clinton nyaris tak terdengar, terpaksa memilih kandidat yang tidak diduga banyak pengamat, yaitu Jim Yong Kim, seorang kandidat yang berlatar belakang atau berprofesi dokter sekaligus antropolog.

Ketika itu timbul spekulasi, mengapa Obama memilih Jim Yong Kim, bukannya Jeffrey D. Sachs, yang benar-benar berlatar belakang ekonomi politik dan sebagai “bidan” bagi MDGs yang juga merupakan visi Bank Dunia. Spekulasi yang berkembang adalah karena Jeffrey D. Sachs telah “menyerang” Presiden Obama dengan pernyataannya: “Stimulus Presiden Obama telah gagal mengangkat keterpurukan ekonomi”, yang disampaikannya pada tanggal 7 Juni 2010, menyusul krisis ekonomi akhir dekade lalu yang melanda Amerika Serikat yang kemudian merambah ke bagian dunia yang lain.

Sebelum pencalonan resmi oleh Amerika Serikat diumumkan, saya sependapat dengan para pengamat, bahwa Jeffrey D. Sachs adalah calon yang paling tepat untuk menduduki jabatan Presiden Bank Dunia periode berikutnya. Kemampuannya sudah tidak diragukan lagi. Apalagi dia beretnis Jews, etnis yang selama ini secara formal dan riil banyak memegang otoritas finansial global. Mengingat bahwa kepentingan Jews dalam percaturan finansial global pastilah sulit untuk dikorbankan. Dalam perspektif antropologi ekonomi & bisnis maupun antropologi politik hal itu sangat masuk akal. Apalagi kolaborasi antara etnis Irish di birokrasi dan etnis Jews di sektor finansial sudah sangat melegenda di Amerika Serikat, yang memberikan kontribusi signifikan bagi pembentukan wajah Amerika Serikat menjadi seperti kemarin dan saat ini. Tentu saja dengan tidak mengabaikan kontribusi etnis-etnis lain yang menyusun Amerika Serikat di sektor-sektor lain, termasuk yang di sektor riil oleh etnis-etnis German-American, Spanish/Spaniard, Afro-American, Scottish, Italian, English, dan  lain-lain.

Namun setelah Presiden Obama mengumumkan secara resmi bahwa calon Presiden Bank Dunia yang dicalonkan Amerika Serikat adalah Jim Yong Kim, saya mulai menganalisis kembali apa yang mendasari pemilihan tersebut.  Keberanian Presiden Obama dengan memilih seorang dokter yang juga antropolog, bukannya seorang pakar finansial global untuk memimpin suatu institusi keuangan yang sangat besar seperti Bank Dunia, tentulah bukan main-main. Apalagi Presiden Obama (yang memiliki darah setengah Irish dari ibunya), pastilah harus berpikir panjang untuk mengabaikan dukungan penguasa finansial global, yaitu etnis Jews, mengingat kolaborasi panjang antara etnis Jews di sektor financial dengan etnis Irish di birokrasi yang historis. Apalagi jika dikaitkan dengan pemilihan presiden periode kedua bagi Obama dalam waktu dekat ini, yang tentu saja tidak ingin kehilangan dukungan yang telah diperolehnya secara mayoritas dari etnis Jews pada pemilihan presiden yang lalu.

Menurut saya, nampaknya Presiden Obama memang memiliki kegamangan terselubung, dengan krisis ekonomi dunia yang belum juga selesai, yang diakui atau tidak, karena kerakusan institusional maupun kerakusan individual yang menimbulkan ekses negatip atas kecerdasan finansial yang di atas rata-rata dari etnis Jews. Sehingga sektor finansial menggelembung secara luar biasa, meninggalkan kinerja sektor riil yang terseok-seok, mengejar ketertinggalannya. Padahal sektor finansial seharusnya adalah cermin kinerja sektor riil. Ketika bubble di sektor finansial itu meletus, kemudian mencari keseimbangan baru terhadap kinerja sektor riil, mengakibatkan sektor riil kewalahan. Semua komoditas naik harganya, karena permintaan yang tiba-tiba naik, tanpa didukung penawaran yang memadai, karena selama ini ekonomi global terlalu fokus ke sektor finansial. Setelah bubble meletus, semua lari menuju alternatif lain satu-satunya, yaitu sektor riil, khususnya komoditas yang strategis.

Pilihan untuk menempatkan seorang antropolog sekaligus seorang dokter oleh Obama, bukannya seorang ekonom atau pakar finansial dan perbankan murni menurut saya adalah untuk meluruskan kembali pencapaian visi Bank Dunia yang menyangkut issue kemiskinan dan pembangunan, di samping pendidikan dan kesehatan. Tekanan yang lebih pada visi tersebut, sekaligus sebagai upaya untuk menata kembali ekonomi global yang berada di ambang kehancuran karena kapitalisme dan liberalisme yang absolut, akan lebih mudah dijabarkan dalam action plan secara teknis oleh pakar anti-kemiskinan dan pakar pembangunan, bukan pakar finansial. Pakar finansial  seharusnya lebih berkonsentrasi pada aspek pendanaan atau supporting. Karena pakar anti-kemiskinan dan pakar percepatan pembangunan yang dapat lebih mendalaminya. Untuk itulah ditunjuk pakar antropologi. Latar belakang dokter juga sangat membantu dalam penjabaran dari visi menuju action plan  secara realistis, karena kesehatan sangat berkorelasi positip dengan masalah pemberantasan kemiskinan dan masalah percepatan pembangunan. Untuk posisi Presiden Bank Dunia kali ini tuntutan kepakaran pada pengetahuan dan keterampilan antropologi, nampaknya yang lebih dibutuhkan. Karena dianggap lebih menguasai masalah-masalah penanggulangan kemiskinan dan percepatan pembangunan. Bukan pada pendanaannya, karena pendanaan adalah supporting dari action plan yang diturunkan dari visinya. Apalagi dana-nya sudah tersedia, hanya dibutuhkan pakar yang dapat secara tepat mengatur alokasinya. Pakar yang mengetahui secara benar esensi dari penanggulangan kemiskinan dan percepatan pembangunan, termasuk cara mencapainya.

Selama ini pakar finansial dikonotasikan sebagai rem untuk lajunya gerak kendaraan, sementara pakar-pakar di sektor riil dikesankan sebagai gas bagi sebuah  kendaraan. Padahal masing-masing sangat penting untuk tercapainya tujuan. Kendaraan yang lebih banyak di-rem tidak akan pernah sampai ke tujuan, sementara kendaraan yang lebih banyak di-gas akan berpotensi untuk menabrak, sehingga juga tidak mencapai tujuan. Setelah puluhan tahun kendali atas kendaraan yang disebut  Bank Dunia banyak dipegang oleh pakar finansial yang lebih banyak dikonotasikan sebagai rem, sehingga tidak banyak bergerak, atau lambat sampai ke tujuan, dicoba oleh Obama untuk dikendalikan dengan aksi dari gas yang lebih banyak, supaya cepat sampai ke tujuan. Asumsinya adalah akan lebih cepat dan mudah seorang pakar yang berlatar belakang ilmu exacta, dalam hal ini physician atau engineer belajar aspek finansial, daripada seorang ahli finansial belajar kedokteran atau engineering. Dengan kata lain, Obama mencoba untuk menempatkan seorang financial physician atau financial engineer daripada seorang pure financial expert. Namun demikian, meskipun top level-nya bukan seorang pakar ekonomi politik atau ekonomi pembangunan atau finansial global, namun sebagai lembaga keuangan global yang bergengsi, pastilah lembaga tersebut dijejali oleh pakar-pakat finansial global yang sewaktu-waktu dapat selalu mem-back up kebijakan dari top management, yaitu Presiden Bank Dunia.

Dari uraian di atas, nampaknya ada perspektif baru dalam pencapaian visi Bank Dunia ke depan, meskipun agenda yang dibawa adalah agenda lama, yang mencoba untuk dipercepat atau supaya lebih membumi, atas visi anti-kemiskinan dan percepatan pembangunan, khususnya di dunia ketiga. Caranya adalah dengan menempatkan orang yang dapat secara tepat menjabarkan visi menjadi action plan supaya mudah dan cepat mencapai tujuan, sementara pakar sumber daya sebagai penggerak lebih diberi peran sebagai supporting, yang akan dikendalikan oleh pengendali yang tahu persis masalah yang sedang dihadapi.

Menurut saya, pilihan Presiden Obama pada Jim Yong Kim dengan menggunakan pendekatan antropologi untuk penempatannya sebagai Presiden Bank Dunia, merupakan perspektif baru untuk lebih memanusiakan dunia, di tengah keterengahan akut karena deraan kapitalisme dan liberalisme absolut yang  lebih sering mengabaikan keadilan dan pemerataan kemakmuran. Ini adalah pendekatan antropologis kedua dalam pengambilan keputusan oleh Presiden Obama, setelah penetapan Gary Locke, mantan Gubernur Washington DC, sebagai duta besar Amerika Serikat untuk China yang memang bukan kebetulan jika berdarah China beberapa waktu yang lalu.  Apakah diplomasi antropologisnya akan berhasil, marilah kita tunggu bersama. Karena kedua pendekatan antropologis itu kini sedang menapak awal

Ratmaya Urip

ooOoo

Catatan:
*)  Penulis adalah pemerhati masalah kemiskinan & pembangunan.  Saat ini fungsionaris Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA-Indonesia)


Selasa, 17 April, 2012 08:13

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar