Rabu, 25 April 2012

Natin Naik Ke Posisi Yang Lebih Tinggi


Oleh:  Dadang Kadarusman

Semua orang sudah pada datang.
Kecuali si Bongsor yang masih belon keliatan. Maklum dia harus mampir dulu ke kubikal karena ada perlengkapan yang harus diambil dari kantor.  
 
Biasalah. Kadang-kadang ada aja yang keselip kalau lagi ada acara kayak gini. Kesian juga sih Sekris itu sebenarnya. Untungnya dia itu orang yang gesit. Dan hepiiii aja kalau ngerjain apa-apa. Aneh banget deh. Dia itu orang yang paling seneng disibukkin kalau ada acara untuk semua orang. Mungkin dasarnya dia itu orang baik dan suka melayani kali ya. Cocok banget jadi sekretaris.
 
Tak sabar menanti. Akhirnya Opri menelepon Sekris. ”Elo udah sampe mana?” katanya.
”Gue udah masuk taksi nih,” jawaban dari seberang sana.
”Hah? Elo baru naik taksi?” Opri terperanjat. ”Elo kan mesti check in Kris....” wajahnya terlihat cemas.
 
”Tenang aja Pri...” Sekrisnya sendiri malah santai aja.
”Lima belas menit lagi elo mesti check in. Kalau nggak, elo ketinggalan pesawat,” balasnya.
 
”Habis gimana dong?” Sekarang Sekris juga ikutan panik.
”Ya udah, elo SMS aja deh kode booking tiket elo. Ntar gue yang check inin...” katanya.
Urusan check in selesai. Untungnya masih bisa diwakilkan pada orang lain. Maklum keberangkatan group.
 
Masalahnya, sampai sekarang Sekris belum juga nongol. Padahal sebentar lagi udah harus boarding. Yang ini kan nggak bisa diwakilkan kepada orang lain. Mesti orangnya sendiri yang datang.
 
”Mohon perhatian. Pesawat dengan nomor penerbangan DK-451 akan segera diberangkatkan.” begitu suara petugas bandara. ”Para penumpang silakan naik pesawat melalui pintu nomor 9.”
 
Semua orang kubikal semakin cemas.   
Nggak tega kalau Sekris sampai ketinggalan. Bisa hambar deh acara outing kantor ini kalau sampai orang yang paling merhatiin kebutuhan orang lainnya malah ketinggal. Nggak ada wajah yang ceria ketika masuk ke pesawat. Semua orang kubikal sedang mengkhawatirkan Sekris.
 
”Elo dimana?” telepon Opri udah nggak ada basa-basinya lagi.
”Udah keluar tol nih...” jawabnya.
 
Aduh aduh.... semua orang udah didalam pesawat. Kecuali Sekris.
”Bilangin sopir taksi elo cepetan dong....” kata Opri.
 
”Maaf Bu, hand phone-nya mohon segera dimatikan. Kita akan segera take-off,” pramugari itu mengingatkan.
 
”Udah sampai nih,” Suara Sekris masih bisa didengar samar-samar. ”Tapi gue mesti cari porter dulu. Barang bawaannya segede gajah hamil tau gak sih...” tambahnya.
 
”HAAAH!?!?” Opri bangkit dari tempat duduknya.
”Fi...” Sekarang dia memandang Fiancy yang duduk di sebelahnya. ”Bilangin sama pilotnya ya, jangan pergi dulu.” katanya. Dia berlari di lorong pesawat.
 
”Elo mau kemana, Pri?” Fiancy tak kalah galaunya.
”Gue mau bantuin Sekris,” teriaknya sambil terus berlari. Menerobos pintu pesawat yang hampir ditutup. Suara pramugari yang memanggilnya nggak digubris sama sekali.
 
Sia-sia saja. Pilot nggak mau menunggu. Akhirnya mereka memutuskan untuk take off sesuai jadwal. Tidak ada penumpang yang segundah orang-orang kubikal. Kalau gini caranya, outing tahun ini bakal kacau balau.
 
Pramugari bersiap menutup pintu pesawat. Namun pada detik-detik terakhir itu terekam dalam gerakan lambat. Seorang cewek macho berlari sambil menggendong tas besar. Beberapa langkah dibelakangnya ada gadis modis yang setiap langkahnya bisa membuat ruang tunggu bandara bergetar.
 
Pramugari mengurungkan niatnya menutup pintu pesawat. Sampai kedua gadis itu melompat. Masuk kedalamnya.
 
Keriuhan nggak bisa dicegah ketika semua orang pada melonjak sambil bersorak kesenengan. Ributnya sama seperti di kubikal. Untungnya penumpang lain pada maklum. Hingga tak lama kemudian, pesawat pun tinggal landas. Terbang menembus angkasa.
 
”Para penumpang sekalian.” terdengar suara pilot dari kokpit. ”Kita telah meninggalkan Bandara Soekarno Hatta.” lanjutnya. ”Cuaca dilaporkan berawan dan hujan dibeberapa bagian. Dipersilakan untuk tetap mengenakan sabuk pengaman Anda. Terimakasih.”
 
Tak lama setelah itu. Sekris berdiri. Lalu pergi ke depan.
”Mau ngapain lagi tuch si embem?” tanya Jeanice. Semua orang menggeleng. Nggak ada yang tahu kenapa Sekris bicara dengan pramugari di bagian depan.
 
Ketika pramugari menggeleng, orang-orang tahu kalau Sekris meminta sesuatu yang mustahil. Dengan wajahnya yang lucu. Sekris terlihat kembali merayu. Oh..., nggak ada yang bisa menolak wajah imut itu.
 
Pramugari itu menatap lekat Sekris. Lalu dia masuk ke kokpit pilot. Nggak ada yang tahu apa yang dikatakan atau diminta oleh Sekris. Yang jelas, beberapa saat kemudian pramugari keluar dari kokpit dan dengan senyumnya yang ramah mengatakan sesuatu. Entah apa. Tapi itu membuat Sekris kegirangan.
 
Tak lama kemudian, pengeras surara di pesawat dibunyikan.
”Para penumpang sekalian....” kata suara itu. Seperti suara pramugari gemulai. Tapi juga seperti suara yang sudah sangat familiar di telinga orang-orang kubikal.
 
”Terimakasih telah terbang bersama kami.....” katanya. Semua orang kubikal pada bengong. Nggak nyangka kalau Sekris bisa menggunakan pengeras suara itu.
 
”Apa yang dia lakukan......?” Tanya Aiti. Setengah terpekik. Setengahnya lagi nggak percaya kalau si bongsor melakukannya.
 
”Gue juga nggak tahu, Ti,” balas Jeanice. Matanya nggak berkedip menatap Sekris.
”Sebentar lagi hidangan akan kami sajikan untuk Anda,” lanjut Sekris. ”Namun menu hari ini berbeda dari biasanya,” katanya.
 
Semua penumpang siap-siap mendengarkan penjelasan lebih lanjut tentang menu baru itu. Bagaimanapun juga, makan di pesawat itu asyik. ”Menu hari ini khusus dibuat oleh Natin,” katanya.
 
Haaah?! Semua penumpang pesawat bingung. Orang-orang kubikal bingung karena nggak nyangka kalau Sekris sedemikian nekatnya hanya untuk menyampaikan pesan Natin. Orang-orang yang tidak kenal Natin bingung juga. Sambil pada berbisik. ”Siapa sih Natin? Pemenang kontes Master Chef? Pemilik restoran top?”. Percuma aja mereka bertanya. Mereka pada nggak tahu. Kecuali orang-orang kubikal.
 
”Menu hari ini adalah...” Sekris melanjutkan. Sambil membuka kertas kecil yang sedari tadi digenggamnya.
 
Semua orang menanti dengan tidak sabar. Tentu dengan harapan dan dugaan masing-masing.
 
”Menu hari ini adalah: DI POSISI YANG LEBIH TINGGI, MENDUNG SUDAH TIDAK ADA LAGI.”
 
Bersamaan dengan itu. Pesawat tiba-tiba terguncang. Ada turbulence dan siraman air hujan yang sangat deras. Untungnya Sekris dan pramugari sudah duduk di kursi khusus di lorong depan.
 
Untuk beberapa saat berikutnya. Pesawat seperti di ombang-ambing. Kilat sesekali pamer cahaya mengerikan di kiri dan kanan pesawat. Seperti hendak memecut-mecut dengan bunyinya yang menyeramkan.
 
”Para penumpang sekalian. Disini pilot Anda bicara,” terdengar seseorang di pengeras suara. ”Kita menghadapi cuaca yang buruk dengan turbulence. Pastikan sabuk pengaman Anda terpasang dengan baik.”
 
Gujrak!
Badan pesawat seperti menabrak gulungan awan tebal. Lalu turun secara mendadak. Membuat hati semua orang terkesiap.
 
Gruduk. Gruduk. Gruduk. Wrrrererererere....gruduk. Grok!
Lalu stabil lagi. Tapi hanya beberapa saat. Gruduk. Gruduk. Gruduk. Gujrak.
Sepertinya pesawat itu dikelilingi oleh tumpukan awan hitam pekat yang mengerikan.
 
Orang-orang pada komat kamit. Sambil berpegangan dengan temannya. Keandannya sangat menegangkan sekali.
 
”Kita akan menuju kepada ketinggian jelajah 10,000 ribu kaki,” kata pilot. Sambil mengarahkan pesawatnya untuk naik lebih tinggi. Masih terasa gujrakan-gujrakan yang mendebarkan. Tetapi. Semakin lama, semakin berkurang.
 
Semua kembali tenang.
Tak ada lagi getaran yang mendebarkan. Apalagi gujrakan badan pesawat yang tiba-tiba turun secara mendadak. Sekarang. Pesawat itu terbang dengan mulus dan halus.
 
Orang-orang pada menengok ke luar jendela. Benar saja. Cuaca di luar cerah sekali. Seolah nggak ada awan yang menutupinya sama sekali.
 
Yang sebenarnya terjadi. Bukanlah tidak ada awan. Tapi sekarang. Mereka berada di atas awan. Sehingga tidak ada lagi hujan. Tidak ada petir. Tidak ada yang menghalangi cahaya matahari yang tengah bersinar cerah.
 
”Para penumpang sekalian,” pengeras suara kembali diaktifkan. Jelas bukan lagi suara pilot. Atau pramugari. Suara Sekris lagi. ”Khususnya para penghuni kubikal,” lanjutnya. Kemudian dengan PEDE-nya dia menyampaikan pesan-pesan Natin.
 
Seperti kata Natin. Di tempat yang lebih tinggi. Mendung sudah tidak ada lagi. Sama seperti hidup kita juga. Jika kita menghadapi kesulitan apapun. Mendung menyebabkan muram di hati. Hujan menyisakan basah di pipi. Petir membuat kita emosi. Halilintar membuat sekujur tubuh hidup kita gemetar.
 
Semua orang seksama mendengarkan. Nggak ada acara seminar motivasi seperti itu di pesawat manapun yang pernah mereka tumpangi. Apa lagi yang menjadi pembicara dadakan itu seorang gadis modis. Yang meskipun pipinya tembem. Tapi tetap terlihat cantik dengan balutan senyumnya yang manis.
 
Hidup kita. Tidak selamanya indah. Urusan kita. Tidak selamanya mudah. Kadang kita takut. Kawatir. Sedih. Kecewa. Bahkan juga kehilangan.
 
Seperti pesan Natin. Jangan terlalu terpengaruh. Jangan terlampau terbawa suasana. Sebaliknya. Naiklah ke tempat yang lebih tinggi. Iman kita yang mesti lebih tinggi. Keyakinan kita yang harus lebih tinggi. Kesabaran kita juga lebih tinggi. Ketabahan. Kegigihan. Kemauan. Kualits diri kita. Semuanya kita buat lebih tinggi.
 
Karena seperti kata Natin. Jika kita berhasil menaikkan diri kita sendiri ke posisi yang lebih tinggi. Maka kita akan menemukan bahwa disana. Mendung sudah tidak ada lagi.
 
”Selamat menikmati perjalanan Anda,” kata Sekris. ”Dan....” berhenti sejenak. ”Terima kasih.” lanjutnya.
 
Seluruh isi pesawat itu riuh rendah dengan tepuk tangan para penumpang. Opri bahkan sampai bersuit-suit segala. Beberapa penumpang yang mengenakan dasi dan jas berdiri. Lalu menyalami Sekris.
 
”Bagus. Bagus.” kata mereka. Untuk sesaat. Sekris menikmati pengalaman baru menjadi selebritis.
 
”Tunggu dulu,” kata Aiti. Semua orang seperti membeku. Semua menengok kearahnya. ”Ada yang kurang,” lanjutnya. ”Tapi..., apa ya?” Wajahnya menampakkan keraguan.
 
Semua orang mengerutkan dahi. Lalu orang-orang kubikal berteriak serempak:”Pak Mergy!”
 
Iya. Pak Mergy kemana? Mengapa beliau tidak menyela seperti biasanya?
Pramugari segera menyahut ;”Mohon maaf,” katanya. ”Penumpang atas nama Bapak Mergy ketinggalan pesawat......” lanjutnya.
 
Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..
 
Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa semakin tinggi pesawat terbang. Semakin tidak terjangkau dia oleh awan. Semakin tinggi kualitas diri kita. Semakin tidak terjangkau kita oleh masalah dan kesulitan hidup. Dan semakin tinggi iman kita. Semakin tabah. Semakin sabar. Semakin bijaksana kita dalam menjalani hidup. Sehingga semakin tinggi kualitas diri kita. Semakin cerah suasana didalam hati kita. Insya Allah. Amin.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman 18 April 2012
Author, Trainer, & Public Speaker ”Natural Intelligence”  
 
Catatan Kaki:
Posisi yang lebih tinggi tidak selalu berarti jabatan tinggi. Melainkan kualitas diri, yang terus bertumbuh dan bertambah. Dari hari ke hari.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya. 

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
 
Selasa, 17 April, 2012 21:18

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar