Rabu, 11 April 2012

Natin Mensyukuri Pekerjaan




Tiba-tiba semua orang keluar sambil bersorak.
Ada yang sambil bersuit-suit segala. Tapi semuanya tertawa lepas. Kecuali satu orang. Jeanice. Dia terjebak diantara kebingungan. Dan kekesalan.
 
Orang-orang pada memeluknya. ”Selamat!” kata mereka. ”Anda masuk dalam Cubical Candid Camera.....!”
 
”Dassssar....” umpat Jeanice. ”Elo ngerjain gue ya!!!” makinya.
Rasa kesalnya sudah mulai mencair setelah tahu jika kejadian yang membuatnya kesal tadi itu hanyalah kejailan teman-temannya di kubikal.
 
Gimana nggak kesal. Soalnya satpam tidak mengijinkan masuk kedalam kantor. Tanpa alasan yang jelas, gitu deh. ”Pokoknya, Anda tidak diizinkan masuk ke kantor kami!” beraninya satpam-satpam itu bilang begitu.
 
”Kenapa gue nggak boleh masuk kantor?!” protesnya.
”Maaf, Bu,” jawab satpam. ”Tidak sembarangan orang diperkenankan masuk ke kantor kami.”
 
”Elu pikir gue siapa, heh?” sewot Jeanice. Semuanya terekam dalam kamera. ”Buka pintunya!!”
 
”Mohon maaf Bu, kami hanya menjalankan tugas,” jawab satpam.
”BUUKA PINTUNYA!!!” sekarang Jeanice sudah berteriak. Kemarahannya mulai memuncak.
 
Pada saat kritis itulah teman-teman kubikal pada keluar sambil bertepuk tangan. Puas sekali rasanya telah ngerjain temannya.
 
”Dasssar udah pah gila, elo pade ya,” Jeanice masih bersungut-sungut. ”Matikan tuch kamera. Emangnya gue ini artis, apa?” dia berusaha untuk menerobos lari ke kubikalnya.
 
Teman-temannya mengikutinya di belakang. Opri yang masih dengan gigihnya merekam ekspresi wajah Jeanice.
 
”Oke teman-teman.” teriak Aiti. ”Mari kita berikan ucapan terima kasih kepada teman kita Jeanice,” lanjutnya.
 
”Terima kaaaasih, Jeaniiiiiiice....” semua orang di kubikal merunduk.
Jeanice kembali keungungan. Ini orang-orang udah pada kesambet apa ya? Anehnya udah diluar kebiasaan. Selama ini pun mereka sudah aneh. Hari ini. Anehnya udah nggak jelas gitu deh.
 
Sekris maju dengan membawa sebuah bungkusan. ”Jean...,” katanya dengan gaya gemulai khas bodi bongsornya. ”Ini hadiah dari teman-teman, buat elo... thanks ya....”
 
”Apa-an lagi nih.” Jeanice menarik badannya. ”Elo belum puas ngerjain gue, eh?” Matanya melotot. Pipinya merah. Mulutnya manyun. Tapi ya dasar Jeanice. Biar mukanya kayak begitu ya tetep aja kelihatan cantiknya.
 
”Nggak Jean,” Fiancy mendekatinya. ”Udah selesai kok...” bujuknya.
 
Tadi itu orang-orang di kubikal sedang melakukan eksperimen soal menu hari ini dari Natin. Natin menulis di whiteborad pantry begini: ”BERSYUKURLAH KARENA BISA MASUK KANTOR HARI INI”
 
Mereka berusaha untuk membayangkan bagaimana seandainya mereka tidak diizinkan masuk ke kantor ini. Faktanya. Nggak semua orang boleh keluar masuk kantor ini. Sedangkan mereka yang setiap hari keluar masuk dengan bebasnya sering kali tidak melihat hal itu sebagai sebuah anugerah.
 
Bisa masuk ke kantor. Bekerja. Berinteraksi. Dan dibayar pula. Apa bukan nikmat yang indah tuch? Kitanya saja yang sering kehilangan rasa syukur. Jadinya ya nggak heran kalau kita masih sering mengeluhkan soal ini dan itu. Kerja mah. Dikantor manapun. Nggak bakal 100% oke semuanya.
 
Lirik kantor orang lain mungkin indah. Tapi kalau sudah masuk kesana? Kita akan tahun the in-and out-nya. Segala sesuatunya. Dan kita juga akan tahu enak dan tidaknya.
 
Natin bilang. Syukuri anugerah pekerjaan itu. Syukuri. Hari ini kita masih bisa berkantor.
Mereka membayangkan. Benarkah kata-kata Natin itu. Namun mereka sangat sulit untuk sekedar membayangkannya. Makanya itu. Mereka sepakat untuk melakukan eksperimen. Dan korbannya adalah... Jeanice.
 
Hari itu mereka baru merasakan kebenaran kata-kata Natin. Dia benar. Bahwa bahkan sekedar bisa melewati pintu kantor tanpa dicegat satpam pun sudah merupakan anugerah. Yang patut kita syukuri. Apalagi dengan pekerjaan ini. Raya syukur kita. Harus lebih besar dari itu.
 
Tiba-tiba terdengar suara seperti kunci pintu yang tidak bisa dibuka.
Pak Mergy. Sedang berusaha memutar kunci ruang kerjanya. Macet. Nggak bisa dibuka. Mungkin kuncinya karatan.
 
”Nggak bisa dibuka Pak?” kata Opri. Sambil menawarkan bantuan. Gagal.
Sekris nggak mau ketinggalan. Dicobanya. Gagal juga. Aiti. Begitu juga. Semua orang mencoba. Dan tidak ada yang berhasil. Lalu mereka menyerah. Kasihan Pak mergy. Nggak bisa masuk ke ruang kerjanya hari ini.
 
Tiba-tiba saja Pak Mergy beteriak. ”O, iyya.” Katanya. ”Maaf anak-anak,” lanjutnya. ”Ketuker. Itu kunci lemari pakaian saya......”
 
Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..
 
Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa selama ini mereka sering lupa untuk mensyukuri anugerah pekerjaan yang dimilikinya hari ini. Bukan soal kita tergantung kepada pemberi kerja. Atau menyerah kepada perusahaan. Bukan soal itu. Melainkan soal betapa hidup kita menjadi lebih bermakna. Ketika kita mendapatkan pekerjaan yang layak. Yang kita sukai. Yang kita cintai. Dan yang memberi kita. Kehidupan sejahtera. Maka benar kata Natin. Bersyukurlah. Karena bisa masuk kantor. Hari ini.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
 
Catatan Kaki:
Salah satu ciri orang yang mensyukuri pekerjaannya adalah; gigih membuat pencapaian kerja yang tinggi.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya. 

Selasa, 10 April, 2012 17:56

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar